Home » Profil Ilmuwan

Hugeng, Keindahan Kupu-kupu Indonesia

25 May 2010 1,692 views One Comment
Ayam Hugeng Hunianto masih penasaran ingin menemukan kupu-kupu jenis Papilio lampsacus Boisduval, 1836, yang konon hanya hidup di Cibodas, Kabupaten Bogor. Terakhir kali, ia melihat Papilio lampsacus Boisduval di Cibodas tahun 1986. Namun, empat tahun kemudian hingga kini, ia tidak lagi mendengar adanya kupu-kupu berwarna kuning hitam ini.

Tahun 1998-an, ia bahkan pernah menghabiskan waktu hingga selama empat bulan dan uang Rp 12 juta di tempat yang sama. Tetapi, tak satu pun kupu-kupu jenis itu yang dia lihat. Kekhawatiran muncul: kupu-kupu itu punah.

”Kekhawatiran saya ternyata jadi kenyataan. Tahun 2007, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyatakan P. lampsacus sudah punah. Hal itu menjadi pelajaran bagi semua pihak di Cibodas. Keserakahan manusia lewat pembangunan vila dan rumah menjadi penyebab utama kepunahannya,” kata Hugeng.

Kepunahan P. lampsacus membuat dia semakin khawatir dengan keberadaan kupu-kupu endemis Indonesia lainnya. Padahal, sekitar 200 spesies kupu-kupu yang memiliki warna cerah—beberapa di antaranya berukuran besar—hidup endemis di Indonesia. Di antaranya jenis Troides aesacus Ney, 1903, alias kupu-kupu sayap burung yang hanya hidup di Pulau Obi, Maluku Utara, dan Troides prattorum Joicey & Talbot, 1922, yang hanya hidup di sekitar bekas kompleks tahanan politik di Pulau Buru.

”Untuk menjaga keasliannya, saya coba mengumpulkan kupu-kupu endemis yang sudah mati. Sekadar berjaga-jaga bila suatu waktu hilang akibat ulah manusia, maka tidak ada orang lain di dunia ini nanti yang akan melihatnya lagi,” kata Hugeng.

Otodidak

Perkenalan Hugeng dengan kupu-kupu bermula ketika ia membaca buku berjudul De Vlinders van Java karya Roepke (1935). Dalam buku itu terdapat gambar beraneka macam kupu-kupu dari Jawa yang warna dan bentuknya beragam.

Selesai dengan buku itu, ia lantas mengikuti Roepke mengumpulkan kupu-kupu dan ingin mempelajarinya. Sekitar tahun 1970, ia masih ingat kupu-kupu pertamanya adalah jenis Papilio memnon Linnaeus, 1758, atau kupu-kupu hitam jeruk karena banyak ditemukan di sekitar pohon jeruk.

Perlahan, rasa ingin tahunya bertambah besar setelah membaca beragam buku terbitan luar negeri seperti The Butterflies of the World dan The Butterflies of Malay Peninsula. Dari situ ia mendapatkan semakin banyak pelajaran dan pengetahuan mengenai habitat kupu-kupu, makanan, siklus hidup, hingga kebiasaannya.

”Dulu tidak ada yang mengajari dan harus belajar sendiri. Bahkan, sampai sekarang pun saya kesulitan mencari teman di Indonesia yang sehobi dan memiliki perhatian tinggi pada kehidupan kupu-kupu, kata Hugeng.

Terpengaruh buku yang menyebutkan ada banyak kupu-kupu di daerah Indonesia, ia pun mulai berkeliling Indonesia mencari beragam jenis kupu-kupu dengan biaya pribadi. Sumatera, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua dijelajahinya dengan biaya pribadi.

”Kadang kala tidak selalu mencari kupu-kupu, tapi sekadar ingin tahu daun apa yang jadi makanannya atau di pohon apa kupu-kupu itu menempatkan kepompongnya,” katanya.

Sembari menuntaskan rasa ingin tahunya, Hugeng tidak lupa menularkan ilmunya kepada masyarakat sekitar. Ia menganggap masyarakat adalah garda terdepan dalam pelestarian kupu-kupu itu. Bahkan, ia juga tak segan mengajak masyarakat memelihara kupu-kupu guna memperbanyak populasi sekaligus menambah penghasilan penduduk.

Salah satunya adalah kelompok masyarakat di Gunung Halimun yang mengembangbiakkan Papilio karna sejak tahun 1993. Satu pasang Papilio karna kini dijual Rp 25.000. Ada juga masyarakat di Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang mengembangbiakkan Troides vandepoli yang harganya Rp 200.000 per pasang. Selain itu, ada juga masyarakat di Pulau Seram yang mengembangbiakkan Ornitoptera priamus. Hal yang sama juga dia lakukan pada masyarakat di Pulau Obi, Maluku Utara, untuk Troides aesacus Ney, 1903, dan Troides prattorum Joicey & Talbot, 1922, di sekitar Pulau Buru.

Selain menambah populasi, langkah ini juga berguna meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan. Sebelumnya, masyarakat setempat tidak mengetahui cara tepat mencari kupu-kupu.

”Warga Gunung Wayang pernah mengambil kepompong kupu-kupu jenis Polyura dehanii Westwood, 1850. Mereka menebang pohon untuk mengambil kepompong. Saya bilang kebiasaan itu harus diubah karena penebangan akan menghilangkan habitat kupu-kupu. Kini mereka memanjat bila ingin mendapat kepompong,” katanya.

Peduli lingkungan

Kini, setelah 39 tahun bergaul dengan kupu-kupu, Hugeng tidak ingin pengetahuannya menjadi miliknya sendiri. Rencananya, dia akan membuat buku tentang kupu-kupu. Saat ini, ia sudah memiliki koleksi dan dokumentasi 1.000 spesies kupu-kupu. Tidak lupa, ia juga mencantumkan berbagai macam informasi tentang kupu-kupu itu. Di antaranya ukuran, siklus hidup, habitat, makanan, pemangsa, hingga kebiasaannya.

”Data seperti ini masih jarang diketahui orang awam. Saya berharap buku itu segera terealisasi dan dibagikan gratis kepada masyarakat. Rencananya akan dibantu Institut Teknologi Bandung atau LIPI. Saya sudah sering membantu mereka mengenai data kupu-kupu Indonesia,” kata Hugeng.

Ia juga kini menjadi konsultan di Taman Kupu-kupu Cihanjuang, Bandung Barat, Jawa Barat. Taman Kupu-kupu yang terletak di Jalan Raya Cihanjuang, Cibaligo, ini adalah gabungan wahana pendidikan dan hiburan baru bagi masyarakat. Di lahan seluas 1,7 hektar ditangkarkan sekitar 1.700 kepompong yang terdiri dari 20 jenis kupu-kupu khas Indonesia beserta tanaman yang menjadi makanannya.

”Sebagai sarana pendidikan, di Taman Kupu-kupu pengunjung bisa melihat fase hidup kupu-kupu. Dimulai dari perkawinan, telur, ulat, kepompong, hingga berubah menjadi kupu-kupu baru, ” ujar Hugeng.

Hugeng mengatakan, untuk Taman Kupu-kupu ini, ia memilih ragam kupu-kupu yang mudah dan sudah pernah dilihat masyarakat. Di antaranya kupu-kupu yang tinggal di kebun seperti Papilio memnon dan Papilio polytes. Namun, ia juga menyertakan kupu-kupu yang biasa tinggal di hutan, seperti Papilio ambrax dari Papua atau Papilio helenus dari Sumatera.

”Kami juga mengajak masyarakat sekitar untuk menambah penghasilan, seperti membuat pigura bagi kupu-kupu yang telah diawetkan. Kupu-kupu tidak hanya menjadi penjaga ekosistem, tapi juga mampu menghidupi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

———–

AYAM HUGENG HUNIANTO

• Lahir: Semarang, 22 Desember 1953

• Istri: Tini Suhartini (55)

• Anak:
– Ari Hunianto (30)
– Luciana Hunianto (25)

• Pendidikan:
– SMA Theresiana Semarang (1968-1970)
– SMA Gresida Bogor (1970-1971)

[Cornelius Helmy]

Sumber: Kompas, Selasa, 25 Mei 2010 | 03:54 WIB

Share

One Comment »

  • neneng jacktour said:

    wah keren banget ya,, beratus macam spesies kupu-kupu yang ada,, wisatawan dari ********.com juga bisa bermain sambil manbah ilmu.. 😀

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.