Home » Berita, konservasi

Habitat Kehilangan Rp 200 Triliun

30 May 2016 169 views No Comment

Di Indonesia Rp 9 Triliun Setiap Tahun
Program Lingkungan PBB mengeluarkan data global nilai perdagangan satwa liar ilegal. Di luar kerugian tak ternilai kekayaan hayati, nilainya lebih dari Rp 200 triliun per tahun. Nilai itu sejajar dengan perdagangan obat bius, senjata, dan perdagangan manusia.

Di Indonesia, nilai ekonomi perdagangan ilegal satwa liar sekitar Rp 9 triliun per tahun. ”Itu perhitungan terbaru. Kami berupaya berbuat sesuatu untuk menekan kasus,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar pada peluncuran kampanye #WildForLife dalam Sidang Lingkungan PBB Ke-2 (UNEA-2) di kantor pusat Program Lingkungan PBB (UNEP), di Nairobi, Kenya, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Gesit Ariyanto, Rabu (25/5) waktu setempat.

Menteri KLHK berbicara di panggung bersama perwakilan dari Kenya, Myanmar, Vietnam, Uni Eropa, dan negara-negara Afrika.

Nilai Rp 9 triliun di antaranya dari perdagangan kulit dan bagian tubuh harimau, cula badak, gading gajah sumatera, orangutan, burung langka, kura-kura, trenggiling, ikan, dan jenis reptil langka. Satwa-satwa liar itu diekspor ke Tiongkok, Taiwan, dan negara-negara di Timur Tengah.

Di Benua Afrika, dalam dua tahun (2010-2012), setidaknya 100.000 gajah afrika dibunuh untuk diambil gadingnya. Populasi gajah di Tanzania merosot 60 persen, di Mozambik turun 50 persen sejak 2009. Total populasi gajah afrika merosot drastis hingga 70 persen pada 2002-2011.

Permintaan berkurang
Di luar kabar buruk yang melibatkan sistem yang korup dan kerakusan organisasi internasional itu, sejumlah aksi memunculkan harapan. Pada September 2015, dua pasar terbesar untuk gading gajah, Amerika Serikat dan Tiongkok, sepakat menutup pasar mereka untuk gading gajah.

e560995c91ec4f89b89c42d454297e93KOMPAS/GESIT ARIYANTO–Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua dari kiri) memberi paparan soal perdagangan satwa liar ilegal bersama sejumlah utusan delegasi negara lain peserta Sidang Lingkungan PBB Ke-2 di Nairobi, Kenya, Rabu (25/5).

Di Nepal, hukuman berat dan sistem peradilan yang efisien menghilangkan aktivitas perburuan badak dalam tiga tahun terakhir. Jumlah populasi badak naik 21 persen, dari 534 ekor tahun 2011 menjadi 645 ekor tahun ini.

Akhir April 2016, Pemerintah Kenya membakar 105 ton gading gajah (setara dengan 8.000 ekor) senilai lebih dari Rp 1,5 triliun dan satu ton cula badak (setara 1.000 ekor) senilai ratusan miliar rupiah. “Banyak pro dan kontra tentang itu, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa kami serius,” kata Direktur Badan Hidupan Liar Kenya Kitili Mbathi.

Di Indonesia, seperti dikatakan Siti Nurbaya, keseriusan pemerintah, di antaranya ditunjukkan dengan pembentukan Dirjen Penegakan Hukum KLHK dan memperketat pintu keluar di bandara dan pelabuhan. “Kami juga sedang membahas penguatan karantina satwa liar, mungkin akan di bawah lembaga kepresidenan,” katanya.

Di tengah berbagai upaya nasional, regional, dan global itu, ada satu hal yang dinilai strategis mengurangi kasus perdagangan ilegal satwa liar. “Yang terpenting adalah memastikan permintaan (demand) berkurang di pasaran,” kata CEO Global Environment Facility Naoko Ishii.

Pemburu membunuh 1.338 badak pada 2015. Di Afrika Selatan, perburuan jadi 90 kali lipat pada 2007-2015, dari 13 badak (2007) menjadi 1.175 badak (2015). Lebih dari 1.000 penjaga taman nasional di Afrika tewas.

Simpanse punah
Dari keluarga kera-kera besar, simpanse punah di Gambia, Burkina Faso, Benin, dan Togo. Sebanyak 3.000 individu kera besar ditangkap dari habitatnya setiap tahun. Lebih dari 70 persen adalah orangutan yang hanya ada di Indonesia dan Malaysia.

Fakta itu mengancam perekonomian negara-negara Afrika, yang mengandalkan pendapatan negara dari hasil alam dan wisata alam. Di Kenya, misalnya, lebih dari 30 persen devisa dari wisata menyaksikan hidupan liar di alam liar.

”Masih banyak data buruk dan angka lain terkait kejahatan ini. Yang perlu kita lakukan adalah bersama-sama membuat aksi nyata di lapangan. Tidak cukup strategi dan rencana aksi,” kata Deputi Direktur UNEP Ibrahim Thiaw—sebelumnya sebagai perwakilan Badan Konservasi Dunia (IUCN) untuk Afrika Barat.

Kabar baik yang muncul yaitu penutupan dua pasar terbesar untuk gading gajah di Amerika Serikat dan Tiongkok.
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Mei 2016, di halaman 13 dengan judul “Habitat Kehilangan Rp 200 Triliun”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.