Home » Berita, Geologi, kebencanaan

Gempa Kecil Bisa Memicu Tsunami

20 February 2017 25 views No Comment

Gempa berkekuatan M 4,5 yang melanda pantai barat Greenland, pulau terbesar di dunia yang terletak di dekat Kutub Utara, pada 18 Juni 2017 pukul 23.00 waktu setempat ternyata diikuti tsunami yang menyapu 11 rumah dan 4 orang hilang. Tsunami terjadi karena gempa yang berkekuatan relatif kecil ini menyebabkan longsor bawah laut. Fenomena ini menunjukkan bahwa tsunami tidak harus dipicu gempa besar.

Data Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebutkan, gempa berkekuatan M 4,5 tersebut berpusat di bawah laut, sekitar 289 kilometer kota Longyearyen, Greenlnad, dengan kedalaman 10 kilometer.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, di Jakarta, Senin (19/6), mengatakan, fenomena tsunami yang dipicu oleh gempa dan longsor bawah laut di Greenland ini menjadi pelajaran penting dalam mitigasi bencana. “Fenomena ini sangat penting bagi Indonesia yang juga pernah mengalami dan memiliki potensi berulang. Tsunami tidak harus dipicu gempa besar,” katanya.

Ahli tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan, gempa dengan kekuatan M 4,5 di Greenland itu energinya setara dengan sepersepuluh kali bom nuklir Hiroshima, jadi tidak cukup untuk mendeformasi batuan bumi. “Akan tetapi, gempa ini bisa memicu longsoran yang kemudian menyebabkan tsunami,” katanya.

Widjo menduga, longsor yang memicu tsunami di Greenland ini adalah material es bawah laut. “Kekerasan es hanya sepersepuluh hingga seperduapuluh batuan lunak, jadi cenderung getas oleh guncangan gempa relatif kecil,” ujarnya.

Fenomena di Indonesia
Menurut Widjo, tsunami dipicu oleh gempa bumi yang diikuti longsoran bawah laut telah berulang kali terjadi di perairan Indonesia. Misalnya, gempa berkekuatan M 7,5 yang melanda Flores tahun 1992, diikuti longsor bawah laut sehingga membangkitkan tsunami hingga lebih dari 25 meter dan melanda 300 meter ke daratan. Korban tewas saat itu mencapai 2.500 orang.

“Gempa berkekuatan M 7 tidak akan memicu tsunami sebesar itu jika tidak diikuti longsoran bawah laut,” katanya.

Gempa berkekuatan M 6,8 dan tsunami di Pangandaran pada 2006, menurut Widjo, diduga kuat juga diikuti dengan terjadinya longsoran bawah laut. “Hal ini menyebabkan ada bagian di Nusakambangan yang dilanda tsunami sampai 20 meter. Tsunami karena longsoran bawah laut biasanya sangat tinggi, tetapi bersifat sangat lokal,” katanya.

Daryono menambahkan, wilayah subduksi di selatan Jawa sangat rentan terjadi tsunami longsoran. Tsunami jenis ini juga pernah melanda Pulau Lembata pada 18 Juli 1979 yang menewaskan 154 warga.

Wilayah lain yang sangat rentan tsunami akibat longsoran adalah Kepulauan Maluku. Dalam katalog tsunami Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional (NOAA) Amerika Serikat dan WinITB yang disusun para ahli Rusia, tsunami hingga 80 meter pernah melanda zona megathrust Laut Banda pada 17 Februari 1674.

Dalam katalog disebutkan, ketinggian tsunami hingga 80 meter itu terjadi di Hila dan Lima, Pulau Ambon. Ketinggian tsunami yang fantastis ini, menurut Widjo, hanya dimungkinkan terjadi karena gempa memicu longsor bawah laut. Fenomena ini biasa terjadi di kawasan yang kemiringan dasar lautnya curam. (AIK)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Juni 2017, di halaman 13 dengan judul “Gempa Kecil Bisa Memicu Tsunami”.

———————-

Waspadai Sesar Lain di Sulawesi Tengah

Sulawesi bagian tengah menyimpan potensi gempa darat kuat dari jalur patahan di daerah itu. Salah satu segmen patahan paling dikhawatirkan memicu kerusakan besar ialah yang membelah Kota Palu. Selain kepadatan penduduknya, buruknya konstruksi bangunan jadi faktor terentan.

“Mengingat di Indonesia banyak sekali sesar aktif belum terpetakan, penting mendukung pemetaan jalur gempa aktif. Kita perlu menyosialisasikan peta sesar aktif kepada warga,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, di Jakarta, Rabu (21/6). Itu jadi rekomendasi seminar gempa bumi Poso, 29 Mei 2017.

Seminar itu juga merekomendasikan aturan perencanaan bagi pelaksana pembangunan dan rekayasa konstruksi aman gempa di Indonesia. Itu disertai penerapan dan penegakan hukumnya.

Sri Hidayati dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memaparkan, hasil survei di lokasi gempa Poso soal penyebab kerusakan bangunan meliputi dekat sumber gempa, bangunan tak tahan gempa, ada di endapan aluvial, dan di jalur retakan permukaan. Sebagian bangunan rusak adalah bangunan publik.

Menurut geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Mudrik Daryono, tatanan tektonik di Sulawesi Tengah kompleks dengan 20 sesar aktif. Dua sesar terbesar ialah Palukoro, terdiri atas empat segmen, dan sesar Matano dengan enam segmen.

Mudrik menemukan perambatan kegempaan di Sulteng. Gempa 29 Mei lalu bersumber di jalur sesar Sausu dan Palolo, tetapi gempa susulan terjadi di sesar Tokakaru. “Gempa besar berikut perlu diwaspadai,” ujarnya.

Ahli gempa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Agustan, mengatakan, menurut interpretasi citra satelit, gempa Poso di area belum teridentifikasi. Ahli geodesi kegempaan Institut Teknologi Bandung, Dina Sarsito, khawatir gempa di Poso merembet ke sesar lain. (AIK)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Waspadai Sesar Lain di Sulawesi Tengah”.

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.