Home » Berita

Gempa dan Tsunami, Kenapa Bisa Terjadi?

27 March 2011 922 views No Comment

Teman-teman tentu masih ingat bencana hebat yang terjadi di Jepang belum lama ini. Jepang dilanda gempa dahsyat dengan kekuatan 8,9 skala Richter (SR), yang disusul dengan tsunami setinggi 10 meter.

Banyak korban jiwa dan kerusakan berbagai sarana disebabkan oleh gempa tersebut. Ini menunjukkan betapa dahsyat kekuatan gempa dan tsunami tersebut.

Gempa kali ini merupakan gempa terparah yang pernah melanda Jepang.

Jepang, seperti juga Indonesia, terletak di lingkaran Api Pasifik. Lingkaran Api Pasifik adalah wilayah yang sering dilanda bencana gunung berapi dan gempa bumi.

Gempa bumi terjadi karena ada pelepasan energi dari tekanan pergerakan lempeng bumi. Ketika terjadi pergerakan lempeng, timbul getaran yang disebut gelombang seismik.

Bagaimana lempeng bumi ini dapat bergerak? Di bawah lapisan teratas bumi, yaitu litosfer, terdapat batuan yang jauh lebih panas, disebut mantel. Litosfer ini merupakan batuan yang umumnya dingin dan pada kondisi yang padat dan kaku.

Sedangkan mantel memiliki energi panas, lapisan ini tidak kaku dan mengalirkan panas secara konveksi. Akhirnya, lempeng pun ikut bergerak satu sama lain.

Ada tiga macam gempa bumi, yang dibedakan dari peristiwa yang ditimbulkannya.

• Gempa tektonik. Gempa yang terjadi karena adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng tektonik secara mendadak.

Kekuatan dari pergeseran lempeng tektonik beragam, dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.

Gempa tektonik adalah gempa yang paling membahayakan. Apabila kekuatan getaran yang dihasilkan sangat kuat, dapat menimbulkan banyak kerusakan atau bencana alam.

• Gempa vulkanik, yaitu gempa bumi yang terjadi akibat adanya aktivitas magma. Gempa ini biasanya terjadi sebelum gunung api meletus.

Bila tingkat keaktifan gunung api yang akan meletus tersebut tinggi, maka semakin banyak ledakan yang ditimbulkan. Bersamaan dengan ledakan itulah gempa bumi vulkanik ini terasa.

Namun, gempa ini hanya dapat dirasakan di wilayah sekitar gunung yang akan meletus. Jadi, mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari gunung tidak dapat merasakan gempa vulkanik ini.

• Gempa runtuhan. Gempa yang terjadi akibat runtuhnya atap goa yang terdapat di dalam litosfer. Contohnya, goa kapur atau terowongan tambang.

Sama seperti gempa vulkanik, gempa runtuhan hanya terasa di sekitar tempat runtuhan terjadi.

Apakah semua gempa bumi pasti disusul dengan tsunami? Belum tentu.

Tsunami dapat terjadi apabila gempa berada di tengah laut dan dangkal (0-30 km), juga gempa bumi yang berpola sesar naik atau sesar turun.

Misalnya, gempa di Aceh pada 26 Desember 2004 yang berkekuatan 8,5 SR terjadi di Samudra Hindia dengan kedalaman 20 kilometer (km), dengan tinggi gelombang 10 meter.

Sedangkan gempa di Jepang pada 11 Maret 2011 lalu berkekuatan 8,9 SR, terjadi pada kedalaman 10 km.

SR adalah satuan kekuatan gempa bumi. Semakin kecil SR-nya, semakin kecil pula kekuatan gempa tersebut.

Gempa bumi akan terasa kuat guncangannya apabila sumber gempa dekat dengan permukaan.

Tsunami, berasal dari bahasa Jepang dari kata tsu yang berarti ’pelabuhan’, dan nami yang berarti ’gelombang’.

Arti sebenarnya tsunami adalah ombak besar di pelabuhan. Tsunami terjadi karena adanya perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara tiba-tiba.

Perubahan permukaan laut ini bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau bisa jadi karena adanya hantaman meteor di laut.

Tsunami dapat merambat ke segala arah. Selain itu, tenaga yang terkandung dalam tsunami sangat kuat dan cepat. Bahkan di laut dalam, tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1.000 km per jam, sama dengan kecepatan pesawat terbang! Terbayang, kan, kuat dan hebatnya?

Banyak sekali dampak negatif yang diakibatkan tsunami. Tsunami bisa merusak apa saja yang dilaluinya. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, bahkan bangunan kokoh pun dapat luluh lantak apabila dihantamnya.

Kita dapat melindungi diri ketika gempa terjadi, dengan melakukan tips berikut:

1. Jangan panik. Berlindunglah pada tempat yang aman.

2. Apabila kamu sedang di rumah, lindungilah kepalamu menggunakan bantal agar terlindung dari runtuhan bangunan.

3. Apabila berada di sekolah, berlarilah ke lantai satu jika gedung sekolahmu bertingkat.

4. Jangan berdiri di bawah rak buku atau pun benda-benda berkaca. Karena, apabila benda tersebut jatuh, kamu akan terkena runtuhannya.

5. Berdirilah di tempat yang lapang. Jauhilah pohon, tiang listrik, papan reklame, atau pun bangunan bertingkat.

Sumber: Kompas, 28 Maret 2011

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


× 2 = four