Home » Berita, konservasi

Gandang Dewata Pusat Biodiversitas Sulawesi

30 May 2016 211 views No Comment

Tingkat Keragaman dan Endemisitas Jenis Organisme Tinggi
Setelah eksplorasi di Gunung Gandang Dewata, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyimpulkan, gunung itu sebagai pusat keanekaragaman jenis flora dan fauna Sulawesi. Tingkat keragaman dan endemisitas atau kekhasan jenis organisme di gunung tersebut dinilai tinggi.

Sebanyak 24 peneliti LIPI mengeksplorasi Gunung Gandang Dewata dalam Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) 2016 pada 15-29 April lalu. “Gunung Gandang Dewata berkontribusi paling besar pada keanekaragaman hayati Sulawesi,” ucap koordinator lapangan Sulawesi Barat Eksplorasi Bioresources LIPI, Anang Setiawan Achmadi, Rabu (25/5), di Bogor, Jawa Barat, dalam jumpa pers Hasil Eksplorasi Bioresources 2016.

Gandang Dewata dengan tinggi lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut berada di bawah administrasi tiga kabupaten, yakni Mamasa, Mamuju, dan Kalumpang. Anang, yang juga peneliti tikus, mengatakan, ekspedisi riset itu adalah eksplorasi besar pertama terhadap Gunung Gandang Dewata yang melibatkan peneliti biologi dari berbagai disiplin ilmu. Ekspedisi sebelumnya pada 1938 oleh peneliti asal Belanda, Charles Monod de Froideville, tidak menyasar Gandang Dewata secara khusus, tetapi hutan-hutan di sekitar Mamasa.

Sebelum ikut EWIN 2016, Anang membuktikan tingginya keanekaragaman hayati melalui jenis tikus. Ia dan anggota tim mendapat jenis baru melalui eksplorasi pada 2011, yaitu tikus air (Waiomys mamasae) dan tikus akar (Gracilimus radix). Dia juga menemukan tikus ompong (Paucidentomys vermidax) yang dinyatakan sebagai jenis baru setelah ia dan tim mengeksplorasi Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan.

Tiga jenis tikus itu adalah genus baru yang dalam sistem penamaan jenis organisme satu tingkat di atas spesies. Jadi, tingkat keragaman bisa lebih tinggi karena spesies baru dari genus-genus itu berpeluang ditemukan jika ada eksplorasi lagi.

Jenis baru
Pada eksplorasi tahun ini, Anang dan tim mendapat dua jenis tikus kandidat jenis baru meski sudah dikenal masyarakat lokal. Satu jenis tikus punya nama lokal lewa-lewa yang dari morfologinya lebih dekat ke jenis Melasmothrix naso. Bedanya, kepala dan telinga lebih besar dan panjang serta ekor lebih panjang dibandingkan M. naso. Jenis lainnya, kambola, paling dekat dengan Maxomys dollmani, tetapi ukuran kambola lebih kecil. Anang juga mendapat spesimen tikus akar lagi pada ekspedisi 2016. Semua jenis itu endemis Sulawesi.

Tingginya keanekaragaman hayati Gandang Dewata juga dibuktikan dari temuan organisme lain. Peneliti herpetofauna, Amir Hamidy, memaparkan, peneliti mendapat tujuh jenis katak endemis Sulawesi, dua di antaranya kandidat jenis baru, yakni dari genus Limnonectes sp. dan Oreophryne sp. Dari tiga jenis kadal yang diperoleh, satu jenis dari genus Sphenomorphus sp. mungkin jenis baru.

Anang menambahkan, lebih dari 90 persen jenis flora yang dikumpulkan endemis Sulawesi, beberapa di antaranya kandidat jenis baru. Dari suku Zingiberaceae (jahe-jahean), misalnya, 14 jenis dikoleksi dengan 4 jenis di antaranya, semuanya masuk marga Etlingera, berpeluang sebagai jenis baru.

f4d2a5fa87b342b8993882c2871315d2Katak Limnonectes sp., Gunung Gandang Dewata, Sulawesi Barat.–ARSIP PUSAT PENELITIAN BIOLOGI LIPI

Endemisitas tinggi di Gandang Dewata menandakan Pulau Sulawesi unik. “Dia tak terpengaruh sebaran jenis Paparan Sunda atau Paparan Sahul, sejak lama jadi pulau terisolasi,” ujarnya.

Menurut teori, Sulawesi terbentuk dari gabungan sejumlah lengan pulau, hasil pertemuan lempeng setidaknya dari lima arah, di antaranya Filipina, Kalimantan, dekat Kepulauan Maluku, Jawa-Bali, dan Australia. Pulau dengan bentuk seperti saat ini diperkirakan terbentuk sejak zaman Miosin, sekitar 20 juta tahun lalu.

Selain ke Gandang Dewata, ekspedisi LIPI tahun ini menyasar dua tempat lain, yakni Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, dan Tambrauw, Papua Barat. Sejumlah kandidat jenis baru juga diperoleh, di antaranya kadal ekor biru (Emoia sp.) di Sumba dan tumbuhan dari genus Semecarpus sp.di Tambrauw.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menambahkan, melalui eksplorasi ke banyak tempat, peneliti mengumpulkan organisme-organisme yang berpeluang memberi manfaat bagi manusia. Karena itu, LIPI berencana memperbaiki Museum Etnobotani untuk dijadikan lebih lengkap dengan nama Museum Nasional Sejarah Alam dan Kehidupan Manusia. Tujuannya sebagai tempat sosialisasi hasil-hasil eksplorasi LIPI yang berpotensi dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. (JOG)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Mei 2016, di halaman 14 dengan judul “Gandang Dewata Pusat Biodiversitas Sulawesi”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.