Home » Artikel, Featured

Filsafat Fisika dan Al Qur’an

5 June 2016 386 views No Comment

Selama ini pandangan yang materialistik dalam fisika seperti hukum “Kekekalan Materi” masih tetap dominan dan diajarkan di sekolah-sekolah atau universitas-universitas. Padahal pandangan semacam itu, menurut Prof. Achmad Baiquni, telah mendapat tantangan keras dari teori-teori fisika mutakhir. Sesuai dengan teori-teori fisika mutakhir tersebut ia menjelaskan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan fenomena fisika, di samping memandang mendesak untuk melakukan “lslamisasi” sains dalam rangka “membebaskan” sains dan asumsi-asumsi yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an.

Memang tidak seorang pun dapat menyangkal bahwa di dalam al-Qur’an tidak hanya diletakkan dasar-dasar peraturan hidup manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Sang Pencipta, dalam interaksinya dengan sesama manusia serta tindakannya terhadap alam di sekelilingnya, tetapi juga dinyatakan untuk apa manusia diciptakan. Dasar-dasar yang merupakan garis besar itu uraiannya dapat ditemukan dalam ayat yang lain atau dalam sunnah Rasul. Di dalam al-Qur’an disebutkan juga, secara garis besar tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya tentang penciptaan makhluk hidup, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya, dipacu akalnya untuk menyelidiki tentang penciptaan-makhluk hidup, termasuk manusia yang di dorong hasrat ingin tahunya, dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada di sekelilingnya, meskipun al-Qur’an bukan buku pelajaran kosmologi, atau sains pada umumnya.

Namun judul di atas, yang diberikan redaksi untuk saya bahas dalam majalah ini, tampak agak, aneh, bagi orang awam tentunya, karena fisika yang merupakan himpunan rasionalitas kolektif insani, yang diperoleh melalui penalaran dengan akal sehat serta penelaahan dengan pikiran yang kritis terhadap data pengukuran, yang dihimpun dari serangkaian pengamatan terhadap alam nyata di sekeliling kita. Fisika akan dihadapkan pada al-Qur’an yang merupakan himpunan wahyu Ilahi yang harus kita terima seperti apa adanya; suatu sikap percaya yang menjadi salah satu rukun bagi keimanan tiap pribadi Muslim.

Ilmu Watak
Saya sendiri pun sempat terperanjat ketika membaca kata-kata “filsafat fisika,” karena saya telah terbiasa memahami kata filsafat sebagai suatu disiplin ilmu yang intinya mengandung logika, estetika, etika, metafisika dan epistemologi, yang, menurut Webster’s Collegiate Dictonary-mencari pengertian umum tentang nilai-nilai serta realitas secara spekulatif, bukan observasional. Sedangkan seperti disebutkan di atas, fisika didukung oleh data-data pengamatan yang dianalisis secara kritis dan disimpulkan secara rasional sehingga di dalam fisika tidak ada tempat bagi spekulasi; sebab, semua pernyataan harus didukung oleh pembuktian eksperimental atau observasional, atau secara tidak langsung dapat ditunjukkan kebenarannya secara matematis.

Untung saja saya ingat bahwa, dalam bahasa Arab, fisika dinamakan juga ilmu thobi‘ah atau ilmu watak, karena pada waktu kejayaan umat Islam, ilmu tersebut, yang memang pada dasarnya berusaha untuk mengungkapkan sifat dan kelakuan alam di sekitar kita ini pada kondisi-kondisi tertentu, menyatakan bahwa kelakuan yang diperlihatkan itu menunjukkan watak alam itu sendiri. Ingatan itu membawa saya kembali ke zaman Imam Ghazali, ketika berbagai ilmu dipelajari dan dikembangkan dengan giat di lingkungan umat sesuai dengan dorongan al-Qur’an dan sunnah Rasul. Itulah watak alam dan begitulah kemauannya; begitulah berkata ahli ilmu tabiat yang pada zaman itu disebut filosof, karena memang cabang ilmu itu telah digolongkan sebagai ilmu filsafati pada saat itu. Oleh karenanya, maka saya tidak memandang kata-kata “filsafat fisika” sebagai suatu contradictio in terminis melainkan mengartikan kata Filsafat sebagai pemikiran yang melandasi lingkup kegiatan serta gagasan dalam bidang tertentu.

Dalam menghadapkan pemikiran yang melandasi segenap usaha, serta berbagai konsepsi, dalam lingkup fisika pada ajaran al Qur’an, kita akan mempergunakan beberapa ayat yang relevan dengan pengembangan fisika itu sendiri. Di samping itu kita perlu mengingat bahwa fisika seperti bidang sains lainnya, berusaha mengungkapkan kelakuan alam pada kondisi tertentu; misalnya dengan melihat respons atau reaksi dari sebagian alam di sekeliling kita, jika kita bertindak terhadapnya. Air yang keadaannya panas tampak mengeluarkan uap, udara tertutup yang dipaksa dengan memperkecil volumenya menunjukkan kenaikan tekanan, dan sebagainya. Kelakuan itu juga dapat ditilik dengan pengamatan pada alam luas, misalnya gerak planet di langit, terjadinya gerhana bulan, pembelokan cahaya bintang oleh matahari, dan lain-lainnya.

Usaha-usaha itu dapat kita maklumi, karena manusia ditunjuk Allah s.w.t. menjadi khalifah di bumi, sebagaimana tercantum diantaranya dalam ayat 65 surah al An’am:

Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan meninggikan sebagian dan kau atas sebagian yang lain beberapa tingkat, untuk mengujimu atas apa yang telah diberikanNya kepadamu.

Dan sebagai penguasa yang mempunyai rasa tanggungjawab, manusia tak dapat berbuat lain kecuali harus mengahlikan diri dalam mengelola alam sekitarnya. Sedangkan untuk memperoleh kemampuan itu ia harus mengenal alam lingkungannya dengan sebaik-baiknya. Manusia harus sering mengamati alam di sekitarnya, serta mengingat-ingat gejala-gejala yang ia lihat pada pengamatan itu.

Tiga Unsur Kerja Fisika
Marilah kita kaji satu demi satu apa yangr mendasari kegiatan fisika, dan membandingkannya dengan ajaran Islam yang terkandung dalam kitab suci al-Qur’an. Sebagaimana kita ketahui unsur pertama dalam kegiatan fisika yang penting adalah observasi atau pengamatan terhadap bagian alam yang ingin kita ketahui sifat dan kelakuannya pada kondisi tertentu. Tidaklah dibenarkan dalam kegiatan fisika penggantian pengamatan dengan pengkhayalan tentang kelakuan alam itu, kecuali apabila khayalan tersebut didukung oleh hasil perhitungan matematik yang dijabarkan dari kelakuan-kelakuan lain yang telah diketahui.

Sehubungan dengan keharusan manusia untuk mengenal alam Sekelilingnya dengan baik, maka Allah s.w.t. memerintahkan dalam ayat 101 surah Yunus:

Katakanlah (wahai Muhammad): Periksalah dengan intizhor apa-apa yang ada di langit dan di bumi;

Perintah itu menunjukkan agar manusia mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam di sekitarnya, yang akan menjadi tempat tinggal dan sumber bahan serta makanan selama hidupnya. Di sini saya pergunakan kata memeriksa dengan intizhor untuk kata-kata unzhuru karena pengertian saya akan ayat tersebut ialah bahwa perintah untuk melihat itu tidaklah sekedar untuk melihat dengan pikiran yang kosong, melainkan dengan perhatian pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang Maha Esa, dan makna daripada gejala-gejala yang teramati. Hal ini akan tampak lebih jelas lagi jika kita ikuti teguran-teguran Allah s.w.t. dalam ayat 17-20 surah al-Ghosyiyah yang berikut:

Maka apakah mereka tidak melakukan intizhor dan memperhatikan onta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia diangkat. Dan gunung-gunung, bagaimana mereka ditegakkan. Dan bumi, bagaimana ia dibentangkan.

Dari lima ayat yang saya sebutkan terakhir ini nyata bahwa Allah s w.t. memberikan bimbingan-Nya lebih lanjut dalam al-Qur an, bagaimana caranya agar manusia dapat memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan alam semesta, yang secara garis besar melukiskan proses-prases alamiah yang terjadi di dalamnya. Dan ini pulalah yang dilakukan orang dalam fisika atau pengembangan sains pada umumnya: melakukan observasi dengan penuh perhatian untuk dapat menjawab pertanyaan ”bagaimana proses itu terjadi.” Memeriksa alam semesta dapat diartikan “membaca ayatullah” yang dapat merinci dan menguraikan serta menerangkan ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang merupakan garis besar; sebab di dalam kitab suci itu sendiri, alam semesta serta proses-proses yang terjadi di dalamnya sering kali dinyatakan sebagai ayat Allah.

Setelah pengamatan, unsur penting yang kedua dalam pengembangan fisika adalah pengukuran. Kuantifikasi dilakukan semaksimal mungkin; sebab, segala sesuatu akan menjadi kabur dalam fisika apabila hanya dinyatakan secara kualitatif saja. Seorang fisikawan yang mendengar ucapan seperti: “Angin meniup sepoi-sepoi basa” akan berkomentar bahwa ungkapan tersebut bukanlah pernyataan fisis tetapi puisi; tetapi ”Udara mengalir dengan kecepatan 8 kilometer per jam; dengan suhu 22 derajat celsius dan kelembaban 85 prosen” akan dikatakannya sebagai suatu pernyataan fisika. Memang demikianlah keadaannya; sebab, di dalam fisika semua eksperimen yang melandasi pernyataan fisika harus dapat direproduksikan agar dapat dikaji ulang oleh fisikawan lainnya.

Kalau saya harus menimbulkan kembali keadaan yang ada dalam pernyataan yang puitis itu saya akan angkat tangan, karena saya tidak tahu “sepoi-sepoi basa” yang bagaimanakah yang harus saya timbulkan. Sedangkan untuk pernyataan yang kedua, tiap mahasiwa akan dapat mereproduksikannya dalam laboratorium. la akan segera mengambil termometer untuk mengukur suhu udara yang akan diturunkan suhunya sampai 22 derajat, mengambil higrometer untuk mengukur kebasahan udara dingin yang akan ia lembabkan sampai 85 prosen dan memasang pipa pitot untuk mengukur kelajuan udara yang akan ia timbulkan. Memang fisika adalah ilmu yang kuantitatif, seperti halnya sains pada umumnya. Dan tidak salah pula perlakuan para ahli fisika dalam menangani masalah proses-proses alamiah itu. Di dalam al Qur an sendiri dinyatakan dalam ayat 49 surah al Qomar:

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran.

Besaran-besaran yang dapat diukur itu dinamakan besaran fisika atau besaran fisis. Baik suhu maupun kelembaban udara yang diperbincangkan di atas itu memiliki ukuran tertentu, berapa tingginya dalam satuan ukur; begitu pula gerak udara tersebut yang diciptakan Tuhan Yang Maha Perkasa, mempunyai ukuran kecepatan, berapa besar kelajuannya dan kemana arahnya. Kalau besaran-besaran fisis yang tampil dalam suatu proses alamiah berhubungan satu sama lain, maka hubungan antara mereka itu dapat dirumuskan dalam bentuk matematis. Dalam bentuk ini, perhitungan-perhitungan yang diperlukan dalam penerapannya dapat dilakukan dengan mudah.

Unsur penting yang ketiga, dalam pengembangan fisika, adalah analisis terhadap data yang terkumpul dari berbagai pengukuran atas besaran-besaran fisis yang terlibat, yang dilakukan melalui proses pemikiran yang kritis, yang kemudian dilanjutkan dengan evaluasi hasil-hasilnya dengan penalaran yang sehat untuk mencapai kesimpulan yang rasional; yang terakhir ini merupakan unsur penting yang keempat. Pentingnya peranan pikiran yang kritis dan penalaran yang rasional ini bagi pengungkapan kelakuan alam semesta ditekankan dalam ayat 11 dan 12 surah an-Nahl:

Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tanaman-tanaman zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayatullah bagi mereka yang mampu berpikir. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu; dan bintang-bintang itu ditundukkan (bagimu) dengan perintahNya; sebenarnya pada yang demikian itu terdapat ayatullah bagi kaum yang menalar.

Alam semesta dan proses-proses di dalamnya yang pada kedua ayat tersebut di atas dikatakan sebagai ayatullah itu ”dibaca” oleh para pakar fisika dan kelakuan alam yang mereka temukan sebagai kesimpulan itu mereka namakan “hukum alam.” Bagi ilmuwan muslim, hukum alam itu tidak lain adalah peraturan Allah s.w.t. (sunatullah), yang diberlakukan pada alam semesta, sesaat setelah ia diciptakan, untuk diikutinya. Bahwa seluruh jagad raya berjanji untuk menaatinya dapat kita baca dalam ayat 11 surah Fushshilat:

Dalam pada itu Dia mengarah kepada langit yang penuh ”embunan,” lalu Dia berkata kepada langit dan kepada bumi: silahkan kalian mengikuti (perintahKu) dengan suka hati atau dengan terpaksa; jawab mereka: kami ikut dengan taat.

Jika kita menguasai fisika, atau sains pada umumnya kita akan mengetahui bagaimana alam akan bertingkah laku padi kondisi tertentu; kita akan dapat meramalkan bagaimana alam akan memberikan respons, akan bereaksi terhadap tindakan yang kita lakukan terhadapnya. Dengan ilmu pengetahuan kealaman yang ia miliki, manusia dapat menimbulkan kondisi yang ia pilih sedemikian rupa sehingga alam memberikan respons yang menguntungkannya; ia dapat terbang, ia dapat membuat berbagai bahan sintetik, ia dapat menghubungi temannya yang berada di belahan bumi yang lain, begitu seterusnya. Sains yang ia kuasai dijadikannya sumber teknologi bagi kesejahteraannya dalam memanfaatkan lingkungannya yang dikelolanya dengan baik hingga pantas disebut ”khalifah di bumi.

Keberhasilan suatu teknologi bergantung pada kemampuan manusia untuk memilih kondisi-kondisi yang mendorong alam untuk bertindak seperti yang diinginkannya; dan sudah barang tentu tingkah laku alam ini dikendalikan oleh sunnatullah yang mengatur bagaimana alam harus berkelakuan pada kondisi tersebut, karena ia tidak dapat berbuat lain. Marilah kita perhatikan misalnya apa yang terdapat dalam ayat 13 surah al-Jatsiyah:

Dan dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripadaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.

Ayat ini menyatakan bahwa seluruh isi langit dan bumi akan ditundukkan al-Kholiq bagi umat manusia dengan sains yang diterapkan, dengan teknologi, yang akan diberikan kepada mereka yang mau melibatkan akalnya dan menggunakan pikirannya.

Sebagai contoh daripada ketaatan alam itu dapat dikemukakan apa yang terkandung di dalam ayat 74 surah al Baqoroh yang menyatakan sebagai berikut:

Padahal di antara batu-batuan itu sungguh ada sungai-sungai yang mengalir daripadanya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah sehingga mata air keluar daripadanya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut (dan hormat) kepada Allah.

Mereka tak dapat berbuat lain kecuali mengikuti sunnatullah. Dan dalam kasus terakhir, perituran itu adalah hukum gravitasi. Mereka tak dapat berbuat lain kecuali mengikuti sunnatullah. Dan dalam kasus terakhir, peraturan itu adalah hukum gravitasi yang menyebabkan semua benda di bumi memiliki berat, yang memaksa air mengalir ke laut, dan bulan mengelilingi bumi, dan sebagainya. Di dalam contoh ini memang saya sengaja menonjolkan hukum gravitasi. Sebab ia adalah hukum alam, yang melukiskan sunnatullah, yang mengatur gaya tarik antara dua benda, yang difahami orang pertama kali dan dapat dirumuskan dalam bentuk matematis mendahului kelistrikan dan kemagnetan, namun ia gaya terakhir di antara keempat gaya yang diketahui berperan dalam alam nyata, yang hingga sekarang belum berhasil dimanunggalkan dengan gaya elektromagnet, gaya nuklir lemah dan gaya nuklir kuat.

Abu Raihan al-Biruni, ilmuwan muslim yang hidup dalam abad ke-X dan rajin mengukur berat jenis berbagai benda, adalah orang yang pertama kali menyatakan universalitas hukum alam dengan mengatakan bahwa gravitasi yang ada di bumi sama dengan yang ada di langit. Ialah orang yang mengatakan bahwa model alam Ptolemaeos, yang geosentris, secara fisis tidak masuk akal dan bahkan ia mempersoalkan kemungkinan adanya orbit yang eliptik pada planet dalam komunikasinya dengan lbnu Sina. Ketika enam abad kemudian Johan Kepler berhasil menemukan hubungan antara waktu edar planet-planet dengan sumbu utama elips masing-masing, maka muncullah dalam abad ke-XVII karya Isaac Newton Principia yang berisi teori gravitasinya. Sejak itu orang mengetahui apa kendala yang mengekang planet-planet tata surya untuk bergerak mengitari matahari.

Dari ayat-ayat tersebut di atas nyatalah bahwa untuk dapat memanfaatkan alam, manusia harus mengetahui peraturan-peraturan Allah s.w.t. yaitu sunnatullah, yang mengendalikan kelakuan alam semesta; jadi ia harus menguasai sains, Ia tidak akan dapat memaksa alam melakukan sesuatu kecuali yang sesuai dengan sunnatullah yang mengendalikannya. Teknologi hanya dapat berhasil apabila prosesnya sesuai dengan hukum-hukum alam; artinya jika ia dirancang dengan memperhatikan sains yang terkait. Jelaslah sekarang bahwa teknologi merupakan penerapan sains. Bidang teknologi yang mana pun yang kita teropong, kita selalu akan menjumpai sains pendukung; apakah kimia, fisika atau biologi, atau kombinasi bidang-bidang ini.

Sains dan teknologi merupakan dua sejoli yang tak dapat dipisahkan; sains yang merupakan sumber teknologi dapat memberikan kemungkinan bagi munculnya teknologi baru, dan sebaliknya, teknologi yang merupakan penerapan sains dapat menghasilkan peralatan yang lebih canggih yang memberikan peluang pada sains untuk berkembang lebih pesat. Mereka saling mengumpani dan mereka saling menyuburkan pertumbuhan masing-masing. Hal ini dapat dihayati di negara-negara yang maju. Suatu bangsa yang mencoba untuk menguasai teknologi tanpa dukungan sains dapat diibaratkan seperti burung yang berkhayal untuk terbang dengan satu sayap. Hal ini dapat dilihat di banyak negara berkembang.

Sejak umat Islam mulai melepaskan kegiatannya di bidang sains pada abad ke-Xlll, setelah memonopoli sains dan teknologi selama lima abad, dan berangsur-angsur memberikan pelita ilmu itu kepada bangsa Barat, ia menjadi lemah dan bertambah rapuh sehingga tak mampu menahan Eropa yang dalam abad ke-XVII mulai memaksakan penjajahan atas dirinya. Usaha keras Kesultanan Turki untuk mengembangkan teknologi, tanpa dukungan sains yang sepadan, agar dapat menandingi persenjataan Barat menemui kegagalan, karena apa yang dimilikinya adalah teknologl yang tak bersumber. la merupakan suatu teknologi yang cepat menjadi usang, sebab teknologi itu mandeg, karena tidak diumpani dengan idea-idea baru; berbeda dengan teknologi bangsa Barat yang didukung oleh sains yang hidup, yang selalu berkembang dan memperbarui diri.

Kita dapat menyimpulkan dari uraian diatas, bahwa untuk dapat memahami ayat-ayat al-Qur’an, yang menyangkut alam yang kita huni ini serta proses-preses alamiah di dalamnya, dan dinyatakan dalam garis besar itu, kita harus meneliti alam, al-Kaun itu sendiri dengan melakukan serangkaian tindakan seperti mengukur apa yang diobservasi, menganalisis data pengukuran secara kritis, dan menarik kesimpulan yang rasional. Hasil-hasil penyimpulan ini dan garis besar langkah-langkah yang mendahuluinya biasanya diumumkan sebagai karya tulis, untuk disidik, dikaji, disanggah atau didukung oleh fisikawan lainnya di seluruh dunia. Konsensus yang tercapai mengenai masalah yang diperbincangkan itulah yang merupakan materi ilmu yang dikandung fisika.

Dari himpunan rasionalitas insani kolektif ini kemudian dijabarkan penggunaannya, sebagai teknologi, bagi pemanfaatan alam dan pengelolaannya secara baik, hingga lingkungan hidup yang lestari ini dapat menjadi sumber penghidupan dan tempat berlindung bagi manusia yang mengelolanya. Al-Qur’an mengajarkan lebih dari itu; seorang muslim tak dapat tidak harus menjadi manusia yang utuh. Ia tidak boleh menyebelah, karena di dalam ayat 77 surah al-Qoshosh ditegaskan:

Dan raihlah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari kebahagiaan akhirat, dan janganlah melupakan bagianmu (atau mengabaikan nasibmu) di dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan jangan kamu membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang membuat kerusakan.

la diarahkan untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa mengabaikan nasibnya di dunia. Hal ini berarti bahwa manusia menguasai kedua ilmunya; ilmu keakhiratan dan ilmu keduniaan.

Konsepsi Fisika dan Ajaran al-Qur’an
Sekian tentang lingkup kegiatan dalam fisika, serta pemikiran yang melandasinya, yang telah kita hadapkan pada ajaran-ajaran al-Qur’an. Marilah sekarang kita mengungkapkan gagasan-gagasan apa yang terdapat dalam fisika tentang alam semesta yang dapat dikaji dengan ayat-ayat kitab suci pegangan umat Islam. Banyak ayat sebenarnya yang menyebutkan tentang gejala alamiah yang dapat kita pergunakan untuk melakukan hal itu, tetapi untuk mudahnya saya akan mengambil yang ada sangkut pautnya dengan ayat-ayat yang telah saya kemukakan di atas; yaitu ayat-ayat yang menyebutkan tentang penciptaan alam semesta.

Bagaimanakah konsepsi fisika tentang penciptaan jagad raya dan pemikiran apa yang melandasinya? Konsepsi itu berubah-ubah sepanjang sejarah; bergantung pada tingkat kecanggihan alat-alat sarana observasinya; dan bergantung pada tingkat kemajuan fisika itu sendiri. Dalam dasawarsa-dasawarsa pertama abad ini para ahli fisika mempunyai konsepsi bahwa, sesuai dengan hasil observasi mereka; jagad raya ini tak terbatas dan besarnya tak berhingga; sebab kalau ia berbatas, bintang dan galaksi yang ada di tepi akan merasakan gaya tarik gravitasi dari suatu sisi saja, yaitu ke arah pusat alam semesta, sehingga lama kelamaan benda-benda langit itu akan mengumpul di sekitar pusat tersebut. Karena kecenderungan semacam itu tidak pernah tampak pada pengamatan, maka orang berkesimpulan bahwa alam ini tak berbatas.

Tidak hanya itu konsepsinya; alam menurut para pakar fisika tidak hanya tak-berhingga besarnya dan tak berbatas, tetapi juga tidak berubah keadaannya sejak waktu tak-berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak-berhingga lamanya yang akan datang. Sebab menurut pengalaman para fisikawan di laboratoium, materi itu kekal adanya. Apa pun reaksi yang dialaminya, kimiawi atau fisis, massanya tak pernah hilang atau paling akan berubah menjadi energi yang setara. Dengan konsepsi bahwa alam ini kadim dan kekal, fisika tidak mengakui adanya penciptaan alam. Sudah barang tentu gagasan semacam itu tidak sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana terkandung dalam al-Qur’an.

Pandangan para ilmuwan itu berasal dari Newton yang melontarkan konsepsi tersebut sekitar akhir abad ke-XVII; namun kekekalan massa ditegaskan oleh Lavoisier sekitar akhir abad ke-XVIII, dan diperluas oleh Einstein dalam abad ini menjadi kekekalan massa dan energi atau secara singkat kekekalan materi. Dalam dasawarsa kedua abad ke-XX ini saja Einstein masih percaya bahwa konsepsi klasik itu benar. Dari prinsip-prinsip dasar ia membuat suatu perumusan matematis yang ia harapkan akan dapat melukiskan alam yang sesuai dengan pengertian para ilmuwan pada waktu itu; namun Friedman mengungkapkan bahwa model ini tidak melukiskan alam yang statis, yang menjadi konsensus para astronom-kosmolog, melainkan jagad raya yang dinamis. Model ini kemudian dikenal sebagai model Friedman.

Hal ini tidak berkenan di hati Eisntein dan dengan kecewa ia melakukan perubahan pada perumusannya dengan menambahkan bilangan konstan padanya sehingga hasilnya memenuhi selera sang genius; ia ternyata melukiskan alam yang statis. Einstein merasa puas dengan perumusannya, meskipun alam semesta yang dilukiskannya bukan alam yang ada menurut ajaran Islam, yakni yang diciptakan pada suatu waktu dan akan ditiadakan pada saat yang lain, melainkan alam semesta yang tidak pernah diciptakan, yang kadim dan langgeng, sesuai dengan konsensus yang didasarkan pada kesimpulan yang rasional sebagai hasil analisa yang kritis terhadap berbagai data yang diperoleh dari pengukuran dalam pengamatan. Pada tahap itu, fisika mempunyai konsepsi yang bertentangan dengan agama kita.

Al-Qur’an yang ayat-ayatnya diturunkan sekitar 14 abad yang lalu mengandung uraian secara garis besar tentang Penciptaan alam semesta itu, namun umat yang awam tidak mengetahui maknanya secara jelas; sebab perincian dari penciptaan itu terdapat dalam al-Kaun sebagai ayatullah yang harus ”dibaca,” dan umat tidak mampu membacanya karena fisika, dan sains pada umumnya, telah dilepaskannya 6 abad yang lalu. Tidak lagi umat secara umum dapat dimasukkan dalam golongan yang kita temukan dalam ayat 190 serta 191 surah al Imron:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang berakal. Yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari adzab neraka.

Dalam tahun 1929 terjadi peristiwa penting yang menjadi permulaan daripada penggeseran pandangan fisika tentang penciptaan alam, yang mengubah secara radikal konsepsi para fisikawan mengenai munculnya jagad raya. Sebab dalam tahun itu Hubble, yang mempergunakan teropong bintang terbesar di dunia, melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut analisis pada spektrum cahaya yang dipancarkannya menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi; yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan kita. Kejadian ini merupakan pukulan berat bagi Einstein, karena observasi Hubble itu menunjukkan bahwa alam kita ini tidak statis, melainkan merupakan alam yang dinamis seperti modelnya yang pertama.

Dengan kecewa ia menerima kekeliruannya itu dan kembali pada modelnya yang terdahulu, karena observasi mendorong para ilmuwan untuk berkesimpulan bahwa alam yang kita huni ini mengembang; volume ruang jagad raya ini bertambah setiap saat. Orang berbicara tentang universum yang berekspansi, dan mereka bingung tidak mengerti apa artinya; sebab di mana-mana terdapat ruang alam. Kalau jagad raya ini melakukan ekspansi ke mana lagi harus dicari ruang yang akan menampung pengembangannya? Tidak hanya sejauh ini saja kejutan itu dirasakan. Dari perhitungan mengenai perbandingan jarak dan kelajuan gerak masing-masing galaksi yang teramati, para fisikawan-astronom menarik kesimpulan bahwa semua galaksi di jagad raya ini semula bersatu padu dengan galaksi kita, Bimasakti, kira-kira 15 milyar tahun yang lalu.

fillGamow, Alpher dan Herman mengatakan bahwa pada saat itu terjadi ledakan yang maha dahsyat yang melemparkan materi seluruh jagad raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi. Karena tidak mungkin materi seluruh alam itu berkumpul di suatu tempat dalam ruang alam tanpa meremas diri dengan gaya gravitasinya yang sangat kuat hingga volumenya mengecil menjadi titik, maka disimpulkan kemudian bahwa “dentuman besar” (Bigbang) itu terjadi ketika seluruh materi kosmos keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi dari volume yang sangat kecil. Alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrem. Nyata di sini bahwa akhirnya fisika mengakui bahwa semula alam tiada tetapi kemudian, sekitar 15 milyar tahun yang lalu, tercipta dari ketiadaan; sebab fakta hasil observasi yang menelorkan kesimpulan itu tidak dapat disangkal.

Kalau kita ingin membandingkan konsepsi fisika tentang penciptaan alam itu dengan ajaran al-Qur’an kita dapat memeriksa apa yang dinyatakan dalam ayat 30 surah al-Anbiya’:

Dan Tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam ) dan bumi (materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya.

Keterpaduan ruang dan materi seperti dinyatakan di dalam ayat itu hanya dapat kita fahami jika keduanya berada di satu titik; titik singularitas yang merupakan volume dan berisi seluruh materi. Sedangkan pemisahan mereka terjadi dalam suatu dentuman besar yang melontarkan materi ke seluruh penjuru ruang alam yang berkembang dengan sangat cepat. Sehingga tercipta universum yang berekspansi. Selanjutnya, mengenai ekspansi alam semesta ini, yang menghamburkan materi paling tidak, sebanyak 100 milyar galaksi yang berisi masing-masing rata-rata 100 milyar; bintang itu, al-Qur’an mengatakan dalam ayat 47 surah az-Dzariyat:

Dan langit (ruang alam) itu Kami bangun dengan kekuatan dan Kamilah sesangguhnya yang meluaskannya.

Kekuatan yang terlibat dalam pembangunan alam ini, dan yang mampu melemparkan kira-kira 10.000 milyar-milyar bintang yang masing-masing massanya sekitar massa matahari ke seluruh pelosok alam itu, tentu saja tidak dapat kita bayangkan. Dari pembandingan semacam ini dapat kita ketahui bahwa pada akhirnya, fisika yang dikembangkan untuk mencari kebenaran, sampai juga pada fakta yang ditunjuk oleh al-Qur’an. Kenyataan ini menggusarkan para fisikawan pada umumnya karena penciptaan kosmos dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa; suatu keadaan yang mereka ingin hindari, karena fisika hanya membicarakan apa-apa yang dapat diamati dan dapat diukur.

Oleh karenanya maka beberapa pakar fisika mencoba mengelakkan penciptaan alam ini dengan melontarkan teori-teori tandingan seperti teori alam yang berisolasi, yaitu alam yang berkembang-kempis, yang meledak dan berekspansi untuk kemudian kembali lagi mengecil berulang-ulang tanpa awal dan tanpa akhir; namun kosmos yang berkelakuan seperti itu tidak dapat dibenarkan secara termodinamis. Usaha lain ialah dengan mengemukakan teori alam yang ajeg, yang mengatakan bahwa galaksi-galaksi boleh terbang ke seberang sana tetapi ruang yang ditinggalkannya akan terisi lagi oleh materi baru; teori ini menjadi tidak laku setelah pada tahun 1964 Wilson dan Penzias dalam observasinya ke segenap penjuru alam menemukan sisa-sisa kilatan dentuman besar yang terjadi sekitar 15 milyar tahun yang lalu itu.

Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia (al-Qur’an) itulah yang benar.

Itulah ayat 53 surah Fushshilat. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Dan Allah s.w.t. telah memenuhi janjinya itu dengan memperlihatkan ekspansi kosmos, dan memperlihatkan sisa-sisa kilatan dentuman besar; dan Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih akan memperlihatkan berkali-kali lagi ayat-ayat-Nya, untuk menolong hamba-hamba-Nya dari kesesatan. Semoga kita termasuk mereka yang disayangi-Nya. Meskipun telah jelas fakta-fakta yang diungkapkan oleh Sang Pencipta, dan para pakar fisika dapat rnenangkap dan mengetahuinya, namun terdapat perbedaan besar antara filsafat fisika dengan ajaran agama. Kalau dalam filsafat fisika, ilmu itu mendorong pakar-pakarnya untuk menghindar dari tindakan melibatkan Tuhah Yang Maha Esa dan mengatakan bahwa alam tercipta dengan sendirinya, maka dalam ajaran agama justru Sang Pencipta menjadi pemegang peran utama dan dikatakan bahwa Allah s.w.t.-lah yang menciptakan universum ini.

Sains, Teknologi dan Nilai
Sebagai penutup saya ingin membicarakan suatu hal yang sering dilontarkan orang sebagai masalah kontroversial yaitu mengenai netral atau tidaknya sains dan teknologi, meskipun yang telah saya bahas dalam tulisan ini adalah filsafat fisika; sebab fisika adalah bagian dari sains. Berbagai pandangan telah beredar dalam masyarakat, yang satu sama lain tidak sesuai, karena barangkali kata-kata yang sama diartikan berbeda-beda. Untuk menghindarkan kesimpang-siuran ini sebaiknya kita memberikan definisi yang tegas pada kata-kata yang kita pergunakan.

Ambillah misalnya kata “sains.” Kalau kita mendefinisikan sains sebagai himpunan pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh sebagai konsensus para pakar, dalam penyimpulan secara rasional mengenai hasil-hasil analisis yang kritis terhadap data-data pengukuran yang diperoleh dan observasi pada gejala-gejala alam, maka kiranya cukup jelaslah apa yang kita maksudkan dengan kata sains tersebut. Selanjutnya kita dapat mendefinisikan teknologi sebagai himpunan pengetahuan manusia tentang proses-proses pemanfaatan alam yang diperoleh dari penerapan sains, dalam kerangka kegiatan yang produktif ekonomis.

Orang mengatakan bahwa sains bersifat netral, tidak jahat dan tidak pula baik, dan bahwa yang jahat atau yang baik adalah mereka yang menggunakannya. Dapat dikemukakan sebagai contoh misalnya, reaksi kimiawi antara hidrogen dan oksigen yang menghasilkan air. Ia kemudian akan bertanya ”apakah pengetahuan tentang reaksi ini baik atau jelek?” Dan ”di mana kebaikannya atau kejelekannya?” Selanjutnya ia akan menyatakan bahwa ilmu kimia itu netral. Kalau orang menggunakan reaksi itu untuk mengelas pipa saluran air minum yang bocor, itu tindakan yang baik; tetapi jika ia mempergunakannya untuk meledakkan rumah orang lain, itu jahat.

Memang demikianlah tampaknya kalau kita hanya meninjau sekelumit saja dari ilmu kimia. Tetapi ilmu kimia tidak hanya berisi kumpulan pengetahuan tentang reaksi kimiawi saja. Ia mengajarkan juga hukum kekekalan massa atau kekekalan materi dalam reaksi-reaksi kimiawi; dan ajaran semacam itu, jika tidak kita pagari secara bijaksana, mempunyai potensi untuk menjerumuskan para siswa pada suatu kepercayaan ”bahwa alam semesta ini tidak pernah diciptakan, tetapi ada selama-lamanya, sejak waktu tak-berhingga yang telah lampau sampai waktu tak-berhingga yang akan datang.” Ilmu kimia tidak netral. Ia mengandung potensi yang berbahaya.

Bahaya ini sudah barang tentu tidak akan menimpa siswa yang pendidikan agamanya kuat; tetapi bagi mereka yang imannya tidak begitu kuat, goncangan akan terjadi dalam menghadapi ketidakselarasan antara sains yang mengajarkan kekekalan materi, yang tak pernah diciptakan, dan agama yang mengajarkan bahwa segala sesuatu diciptakan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau guru agama atau orang tua siswa yang terjerumus itu mengatakan bahwa alam ini diciptakan mereka akan menertawakannya, karena di dalam laboratorium di sekolah mereka dapat meyakinkan diri bahwa hukum kekekalan massa berlaku dalam reaksi kimiawi yang mana pun. Krisis komunikasi antara anak dengan orang tua akan terjadi, dan pengingkaran terhadap agama, akan berlanjut.

Kalau kebetulan orang tua itu, atau guru agama tersebut, mengenal fisika, mereka dapat mengatakan bahwa massa tak kekal karena elektron dan pasitron, atau partikel lain dengan inti-partikelnya, dapat saling menimbulkan “dematerialisasi,” atau “anihilasi,” hingga keduanya lenyap. Namun siswa yang bersangkutan yang biasanya sangat kritis itu, akan menunjuk juga pada fakta yang telah dipelajarinya di sekolah bahwa pada dematerialisasi antara partikel dengan anti-partikel itu timbul energi yang setara dengan apa yang lenyap; ia akan menunjuk juga pada fakta bahwa energi sinar gama, yang menyusur dekat sekali dengan inti atom, dapat mengalami materialisasi menjadi pasangan partikel dan anti-partikel. Ia akan mengatakan bahwa materi kekal; dapat muncul sebagai massa dan dapat menampakkan diri sebagai energi.

Hukum kekekalan massa diperluas dalam fisika menjadi hukum kekekalan massa dan energi. Memang kekadiman dan kelanggengan alam inilah yang diajarkan dalam kosmologi, sejak dulu sampai lewat pertengahan abad ke-XX ini. Pada akhir tahun 1960-an barulah konsensus para ilmuwan mengakui bahwa alam tercipta sekitar 15 milyar tahun yang lalu; tetapi pandangan bahwa alam bersifat kekal diusahakan beberapa pakar dengan berbagai cara untuk diakui secara konsensus. Malahan ada pakar-pakar kosmologi yang mencoba memutar kembali perkembangan sains menjurus ke arah pengingkaran penciptaan alam semesta oleh Tuhan Seru Sekalian Alam dengan mengatakan bahwa terciptanya alam adalah karena kebetulan saja. Dari ketiadaan, vakum yang bergoncang-goncang secara kebetulan ia berada dalam keadaan yang energinya sangat tinggi selama waktu yang amat pendek; namun waktu yang sekejap ini pun sudah cukup untuk mengubah energi menjadi materi. Begitulah ujar mereka, yang “dijual untuk mencari konsensus.” Dapatkah kita mengatakan bahwa kosmologi ajarannya netral?

Unsur ”kebetulan” inilah yang dlpergunakan juga oleh pakar-pakar biologi untuk mengingkari penciptaan makhluk-makhluk hidup oleh Tuhan Sang Pencipta. Mereka mengatakan bahwa dalam proses evolusi yang berperan adalah unsur “kebetulan.” Mulai dari terbentuknya untai DNA dari molekul-molekul, sampai pembentukan gen-gen dan kromosom, serta evolusinya menjadi berbagai jenis makhluk hidup, termasuk manusia, semua terjadi karena kebetulan saja.Tak ada yang mengarahkan, tak ada yang mengatur. Alam mengatur dirinya sendiri dengan hukum. kebolehjadian; menyebut nama Allah mereka jadikan tabu, dan mereka ingin menghindarinya di dalam setiap perbincangan ilmu, karena hal semacam itu mereka katakan hanya “mempunyai tempat dalam metafisika.” Netralkah biologi?

Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa, pada hemat saya, biologi, kimia, fisika, astronami, atau sains pada umumnya, tak dapat dikatakan netral, melainkan mengandung nilai-nilai yang menyusup melalui konsensus pakar-pakar yang mengembangkannya. Ia sarat dengan nilai kebudayaan mereka. Dan karena sains telah sejak lama terlepas dari tangan umat Islam, jatuh ke dalam tangan bangsa Eropa yang mempunyai kebudayaan lain, sains berkembang selama tiga abad dalam lingkungan tak Islami dan selama itu pula telah mewarisi nilai-nilai tak Islami. Celakanya pula, dasar pemikiran sains yang mereka susun membatasi sains itu sendiri sedemikian rupa hingga ia tidak dapat menerima masukan dari agama, agama dimasukkan dalam kelompok ilmu lain, yang dapat memberikan pernyataan yang menurut sifatnya, mereka golongkan dalam metafisika dan bukan fisika.

Karena itulah saya selalu menganjurkan agar sains “di-Islamkan.” Hal ini tidak berarti, misalnya, bahwa kita harus mengubah rumus-rumus reaksi kimia, yang kebenarannya telah terbukti melalui eksperimentasi, atau mengubah teorinya yang mempunyai pegangan kuat seperti hukum kekekalan massa dan energi, melainkan kita harus memagarinya agar para siswa tidak terjerumus ke dalam ajaran-ajaran yang bertentangan dengan agama kita. Pemagaran yang serupa harus kita lakukan juga dalam fisika atau sains pada umumnya, sehingga nilai-nilai “tak-Islami”, tidak mencemari iman anak-didik kita.

Kita harus menekankan pada para siswa bahwa sains sekarang didasarkan pada eksperimentasi dan observasi terhadap alam yang tampak ini dan tidak mempunyai sekelumit pun pengetahuan tentang alam gaib. Kita harus menegaskan bahwa ekstrapolasi sains sampai pada periode penciptaan alam semesta tidak dapat dijamin kebenarannya karena para pakar sains sendiri tidak tahu apa yang terjadi sebelum apa yang mereka namakan waktu Planck; yaitu sepersepuluh-juta-trilyun-trilyun-trilyun sekon sesudah penciptaan. Dan kita harus menjelaskan bahwa sains berkembang melalui berbagai tahapan. Pada tahapan-tahapan tertentu mungkin saja konsensus dalam sains tidak sesuai, atau bahkan bertentangan, dengan isi al-Qur’an; akan tetapi karena sains dikembangkan untuk mencari kebenaran, maka pada akhirnya ia akan bersesuaian juga dengan al-Qur’an. Sebab ayatullah di dalam al-Kaun yang diteliti oleh para saintis tidak mungkin bertentangan dengan ayatullah di dalam al-Qur’an. Jika terdapat perbedaan antara pandangan sains dengan salah satu ayat di dalam’ al-Qur’an maka; sains masih berada dalam tahapan yang sesat, atau pemahaman kita tentang ayat al-Qur’an tersebut kurang benar.
————
s_24B09504Prof. Dr. Achmad Baiquni, mantan Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dari tahun 1973-1984 dan Dubes Indonesia untuk Swedia dari tahun 1985-1988, adalah penerima Anugerah Bintang Maha Putera Utama, 1984. Kini ia adalah Ketua Bidang Sumber Daya Alam dan Energi, Dewan Riset Nasional dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN). Ia juga, menjadi Ketua Dewan Kurator, Universitas Islam Asy Syafiyah. Di forum intemasional, sejak tahun 1971 hingga sekarang masih menjadi anggota International Center for Theoritic Physics yang berpusat di Trieste, Itali. Ia juga salah seorang anggota pendiri (founding member), Islamic Academy of Science, berpusat di Amman, Yordania. Lahir di Solo, 31 Agustus, 1923, Baiquni muda, disamping belajar di sekolah umum, pernah belajar di Madrasah Mamba’ul Ulum Solo dan berteman dengan Munawir Sadzali, kini Menteri Agama RI. Dengan bekal ilmunya ia pernah mengajar di Madrasah Sunniyah di Keprabon, Solo. Ia meraih gelar Master of Science di bidang Nuclear Engineering pada tahun 1956, dan Ph.D di Universitas Chicago pada tahun 1965.

Diambil dari: Jurnal Ulumul Qur’an no.4 Vol I tahun 1990

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.