<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahpengetahuan.web.id</title>
	<atom:link href="http://rumahpengetahuan.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahpengetahuan.web.id</link>
	<description>...dokumentasi tentang pengetahuan...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 07:00:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Perhelatan Matematikawan Sedunia</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/perhelatan-matematikawan-sedunia/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/perhelatan-matematikawan-sedunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 06:56:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[”Oleh pembuktiannya atas lemma fundamental dalam teori bentuk automorfik dengan memperkenalkan metode geometri-aljabar baru&#8230;.”
Demikian kutipan bagi  salah satu pemenang Medali Fields 2010:  Ngo Bao Chau (38) dari Universite Paris-Sud, Orsay, Perancis.
Ia merupakan orang kelahiran Vietnam pertama yang memenangi penghargaan yang disetarakan dengan Hadiah Nobel di bidang Matematika pada Kongres Matematikawan Internasional 2010 di Hyderabad, India, 19-27 Agustus. Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden India Pratibha Patil pada acara pembukaan, Kamis (19/8).
Lebih dari 3.000 matematikawan dari seluruh penjuru dunia— termasuk enam dari Indonesia— hadir di Balai Sidang Internasional Hyderabad dalam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>”Oleh pembuktiannya atas lemma fundamental dalam teori bentuk automorfik dengan memperkenalkan metode geometri-aljabar baru&#8230;.”</p>
<p>Demikian kutipan bagi  salah satu pemenang Medali Fields 2010:  Ngo Bao Chau (38) dari Universite Paris-Sud, Orsay, Perancis.</p>
<p><span id="more-625"></span>Ia merupakan orang kelahiran Vietnam pertama yang memenangi penghargaan yang disetarakan dengan Hadiah Nobel di bidang Matematika pada Kongres Matematikawan Internasional 2010 di Hyderabad, India, 19-27 Agustus. Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden India Pratibha Patil pada acara pembukaan, Kamis (19/8).</p>
<p>Lebih dari 3.000 matematikawan dari seluruh penjuru dunia— termasuk enam dari Indonesia— hadir di Balai Sidang Internasional Hyderabad dalam perhelatan terbesar bagi matematikawan sedunia yang diselenggarakan sekali dalam empat tahun sejak tahun 1897. Kongres tahun ini diselenggarakan oleh International Mathematical Union bekerja sama dengan Universitas Hyderabad.</p>
<p>Selain Chau, ada tiga pemenang Medali Fields tahun ini: Elon Lindenstrauss (40) dari Hebrew University, Israel; Stanislav Smirnov (40) dari Universitas Geneva, Swiss; dan Céldric Villani (37), Direktur Institut Henri Poincaré Paris, Perancis. Masing-masing berprestasi luar biasa dalam Matematika. Mereka tergolong muda dan telah berjabatan fungsional guru besar, sesuatu yang langka dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia saat ini. Salah satu syarat bagi penerima Medali Fields: usia tak lebih dari 40 tahun.</p>
<p><strong>Baru 52 matematikawan</strong></p>
<p>Medali Fields mulai dianugerahkan pada 1936 dalam Kongres Matematikawan Internasional (KMI) di Oslo. Hingga saat ini, 52 matematikawan telah memenanginya. Tiga di antaranya berasal dari Jepang, satu dari Cina, dan satu dari Afrika Selatan. Nama kusala ini diambil dari nama matematikawan Kanada, John Charles Fields, salah seorang di balik sukses penyelenggaraan KMI 1924 di Toronto dan donor untuk penghargaan ini.</p>
<p>Kusala ini berupa sebuah medali emas 14 karat berdiameter 64 mm dan uang 15.000 dollar Kanada. Sisi depan medali bergambar kepala Archimedes menghadap ke kanan. Tulisan yang mengitari sisi depan medali itu berbahasa Latin dengan arti ”Mengangkat seseorang dan menguasai dunia”, adaptasi dari ayat sajak ”Astronomicon” karya penyair Romawi, Manilius.</p>
<p>Dalam penyerahan Medali Fields kali ini, tak terjadi kontroversi seperti pada KMI 2006 di Madrid. Saat itu, salah seorang pemenang, Grigory Perelman (St Petersburg, Rusia), menolak menerima penghargaan itu karena alasan tertentu. Pada awal tahun ini, Grigory Perelman dianugerahi Hadiah Milenium dari Clay Mathematics Institute karena keberhasilannya memecahkan Konjektur Poincaré, satu dari tujuh masalah Hadiah Milenium.</p>
<p>Kontroversi kali ini justru datang dalam rencana penganugerahan doktor honoris causa dari Universitas Hyderabad kepada juara dunia catur asal India, Viswanathan Anand. Rencana itu batal dilaksanakan setelah Anand menolak menerima penganugerahan itu karena Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia mempertanyakan status warga negaranya. Anand kini bermukim di Spanyol.</p>
<p>Dalam kongres ini, Anand bermain catur secara simultan melawan 40 matematikawan. Ia berhasil memenangi 39 partai dan 1 partai berakhir remis. Satu-satunya matematikawan yang dapat menahannya remis ialah anak berusia 14 tahun, Srikar Varadaraj dari Bangalore, yang juga matematikawan termuda yang menyajikan makalah dalam KMI 2010.</p>
<p>Sukses India dalam KMI 2010 berdampak positif bagi perkembangan Matematika di negara itu yang banyak melahirkan matematikawan besar: Srinivasa Ramanujan dan SS Srinivasa Varadhan (pemenang Hadiah Abel 2007). Hal ini juga akan memotivasi anak-anak di India belajar Matematika. Indonesia perlu banyak belajar dari India apabila ingin pada 20 tahun mendatang ada orang Indonesia yang memenangi Medali Fields.</p>
<p>Dharma Lesmono <em>Dosen Jurusan Matematika Unpar, Bandung</em></p>
<p><em>Tulisan ini disalin dari Kompas, </em>Sabtu, 4 September 2010 | 04:34 WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/perhelatan-matematikawan-sedunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerbangan dan Radar Bandara</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/penerbangan-dan-radar-bandara/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/penerbangan-dan-radar-bandara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:36:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Di Pameran Kedirgantaraan  Singapura, awal Februari 2010, presiden dan CEO perusahaan  kedirgantaraan Eropa Airbus, Tom Enders, menegaskan,  Asia Pasifik  merupakan kunci bagi masa depan Airbus. Ketika perekonomian dunia sedang  surut karena krisis, Airbus masih menerima 310 pesanan pesawat  komersial dari berbagai jenis (228 A-320, 78 A-330/A-340/A-350, dan 4  pesanan baru untuk jet superjumbo A-380) (Singapore Airshow News, 2/2).
Sementara  raksasa Amerika, Boeing, menilai, 2009 merupakan tahun terburuk sejak  tahun 1971, tetapi toh tetap sukses menyerahkan 481 pesawat penumpang,  sementara pesanan yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Di Pameran Kedirgantaraan  Singapura, awal Februari 2010, presiden dan CEO perusahaan  kedirgantaraan Eropa Airbus, Tom Enders, menegaskan,  Asia Pasifik  merupakan kunci bagi masa depan Airbus. Ketika perekonomian dunia sedang  surut karena krisis, Airbus masih menerima 310 pesanan pesawat  komersial dari berbagai jenis (228 A-320, 78 A-330/A-340/A-350, dan 4  pesanan baru untuk jet superjumbo A-380) (Singapore Airshow News, 2/2).</div>
<p><span id="more-622"></span>Sementara  raksasa Amerika, Boeing, menilai, 2009 merupakan tahun terburuk sejak  tahun 1971, tetapi toh tetap sukses menyerahkan 481 pesawat penumpang,  sementara pesanan yang berhasil dibukukan mencapai 263 pesanan, termasuk  jet yang sangat populer di sini, yakni 178 jet seri 737 (Show News,  Aviation Week, 2/2).</p>
<p>Berita di atas menunjukkan, di kalangan  industri pembuat pesawat pun, dengan segala tantangan yang dihadapi,  terus menyala semangat optimisme penerbangan. Lebih-lebih ketika  otoritas penerbangan dunia sendiri mengakui, ekonomi global bisa keluar  dari krisis keuangan lebih cepat daripada yang diperkirakan semula. Di  Pameran Kedirgantaraan Berlin, Juni lalu, Direktur Jenderal dan CEO   Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) Giovanni Bisignani  menyatakan, kawasan Amerika Utara, Amerika Latin, dan Timur Tengah akan  pulih, tetapi Asia Pasifik diperkirakan tumbuh paling baik.</p>
<p>Selain  bertambah ramai, udara di kawasan ini juga akan ditandai dengan  munculnya pesawat penumpang generasi baru. Setelah diawali dengan  Singapore Airlines tahun 2007, maskapai lain seperti Emirates juga  menerbangkan jet superjumbo Airbus A-380. Pesawat generasi baru lain  yang dalam beberapa tahun mendatang meramaikan penerbangan adalah Boeing  787 Dreamliner, jet yang dari berbagai segi menghadirkan teknologi  baru.</p>
<p><strong>Merebut peluang</strong></p>
<p>Peluang  meraih kemajuan industri penerbangan di atas juga terbuka bagi  Indonesia, tetapi untuk meraihnya harus siap mengerjakan pekerjaan  rumah, yakni penyelenggaraan layanan penerbangan yang aman dan nyaman.</p>
<p>Termasuk  di dalam aspek kenyamanan, selain di dalam kabin pesawat, adalah  penanganan di darat (check-in dan pengambilan bagasi), juga ketepatan  waktu berangkat dan kedatangan.</p>
<p>Listrik mati 7 Agustus lalu—yang  menyebabkan 63 pesawat tertunda keberangkatannya dan penumpang harus  antre hingga sepanjang 300 meter—belum mendukung upaya meraih peluang  emas di atas. Demikian pula matinya radar pengontrol lalu lintas  penerbangan pada Minggu (29/8) pagi.</p>
<p>Kita tahu, informasi yang  diperoleh radar diproses oleh staf pengendali lalu lintas udara (Air  Traffic Control/ATC) yang ada di menara bandara. Dengan mengamati layar  radar, pengendali pesawat yang akan mendarat membimbing pesawat tersebut  menuju landasan. Pengontrol ini pula yang akan meminta pesawat untuk  menunggu di holding stack jika saja ada inspeksi landasan, perubahan  arah angin, atau landasan penuh di jam sibuk.</p>
<p>ATC merupakan  elemen vital dalam layanan penerbangan. Oleh sebab itu, keandalan  sistemnya menjadi pusat perhatian di berbagai penjuru dunia. Hanya saja,  di AS pun, peralatan ATC yang digunakan umumnya digolongkan tua jika  dibandingkan dengan industri lain. Tampaknya mengoperasikan sistem yang  sudah terbukti andal seperti halnya radar masih lebih dipilih daripada  sekadar mengikuti kemajuan zaman.</p>
<p>Meski demikian, layar radar  yang sudah tampak ketinggalan zaman kini mulai digantikan oleh layar  komputer yang diberi umpan oleh informasi GPS (global positioning  system) yang berbasis satelit dan komunikasi antara pengontrol dan  pesawat menjadi jauh lebih mudah. (Lihat The Flying Book, David Blatner,  2003.)</p>
<p>Seiring dengan makin berkembangnya penerbangan, ditandai  dengan makin banyaknya pesawat yang ada di udara pada satu waktu, maka  pengendalian lalu lintas udara (ATC) pun semakin mengandalkan komputer.  Adanya program komputer yang bisa dioperasikan oleh pengontrol  penerbangan membuat mereka bisa lebih mudah mengendalikan lebih banyak  pesawat di udara yang sibuk dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya.</p>
<p>Blatner  menambahkan, di masa yang akan datang, staf ATC akan bekerja dalam  lingkungan tiga dimensi yang diciptakan oleh komputer, di mana mereka  bisa ”terbang” melalui udara (airspace) dan melihat matriks pesawat yang  bergerak dari berbagai sudut.</p>
<p><strong>Peningkatan berkelanjutan</strong></p>
<p>Disertai  harapan untuk meningkatkan kedatangan turis, dan lebih umum untuk  meningkatkan ekonomi nasional, industri angkutan penerbangan akan terus  bertumbuh mengiringi. Dalam kaitan inilah perbaikan layanan secara  terus-menerus masih perlu dilakukan sehingga ketepatan waktu  keberangkatan dan kedatangan pesawat semakin bisa lebih dipastikan.  Tersedianya sistem ATC yang andal jelas menjadi salah satu pendukung  penting.</p>
<p>Menyusul matinya radar Minggu lalu, Kementerian  Perhubungan mengumumkan rencana pemasangan sistem radar baru senilai Rp  700 miliar. Rencana itu, menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara  Herry Bhakti, akan dilaksanakan tahun ini (Jakarta Post, 31/8).</p>
<p>Ketika  Indonesia tengah berjuang keras memutakhirkan infrastruktur penerbangan  sipil, negara seperti AS juga sedang menjajaki pengalihan sistem  pendaratan dari radar ke GPS. Sejak tahun 2005 Badan Penerbangan Federal  (FAA) menyetujui approach pesawat berbasis satelit yang dikenal dengan  nama  Required Navigation Performance (RNP) pada lebih dari 100 bandara.  Ini dilakukan sebagai bagian untuk memodernisasi ruang udara Amerika  pada tahun 2025 (IHT, 28-29/8).</p>
<p>Kita yakin, hanya dengan sistem  pengelolaan yang makin profesional, peluang industri penerbangan sipil  Indonesia bisa menyongsong masa depan cerah. Dengan itulah rencana  seperti mengoperasikan jet superjumbo A-380 tidak terdengar muluk. [<strong>NINOK LEKSONO</strong>]</p>
<p>Sumber: Kompas, Rabu, 1 September 2010 | 04:23 WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/penerbangan-dan-radar-bandara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malaysia Incar Dosen Ilmu Dasar</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/malaysia-incar-dosen-ilmu-dasar/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/malaysia-incar-dosen-ilmu-dasar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 04:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Malaysia mengincar para  dosen dan peneliti Indonesia yang menguasai ilmu-ilmu dasar dan rekayasa  untuk bekerja di Malaysia.  Meskipun banyak yang menerima, tetapi tak  sedikit pula dosen dan peneliti Indonesia yang menolak tawaran tersebut.
Ketua  Program Studi Aeronautika dan Astronautika, Institut Teknologi Bandung  (ITB), Leonardo Gunawan saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (28/8),  mengatakan bahwa setiap ada tamu dari berbagai perguruan tinggi  di  Malaysia, mereka selalu menawarkan kepada dosen-dosen di program  studinya untuk mengajar dan meneliti di Malaysia.
Tawaran kepada dosen-dosen Aeronautika dan Astronautika ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Malaysia mengincar para  dosen dan peneliti Indonesia yang menguasai ilmu-ilmu dasar dan rekayasa  untuk bekerja di Malaysia.  Meskipun banyak yang menerima, tetapi tak  sedikit pula dosen dan peneliti Indonesia yang menolak tawaran tersebut.</div>
<p><span id="more-615"></span>Ketua  Program Studi Aeronautika dan Astronautika, Institut Teknologi Bandung  (ITB), Leonardo Gunawan saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (28/8),  mengatakan bahwa setiap ada tamu dari berbagai perguruan tinggi  di  Malaysia, mereka selalu menawarkan kepada dosen-dosen di program  studinya untuk mengajar dan meneliti di Malaysia.</p>
<p>Tawaran kepada dosen-dosen Aeronautika dan Astronautika yang dulu dikenal dengan nama Teknik Penerbangan itu ka-   rena Malaysia ingin mengembangkan industri penerbangan. Malaysia sudah  banyak menginvestasikan peralatan-peralatan yang canggih. Namun,  peralatan tersebut  belum dapat dioperasikan karena tenaga mereka  sekitar tahun 2000-an masih belajar di luar negeri sehingga mengundang  dosen dan peneliti dari berbagai negara, termasuk Indonesia.</p>
<p>Model  tawaran lainnya adalah dengan mengundang dosen atau peneliti dalam  pertemuan-pertemuan ilmiah internasional yang sering diadakan di  Malaysia. Menurut Kepala Observatorium Bosscha yang juga dosen Program  Studi Astronomi ITB, Hakim L  Malasan, saat mendatangi forum-forum  ilmiah itulah para dosen dan peneliti ditawari untuk mengajar sembari  meneliti di Malaysia.</p>
<p>Walau banyak mengundang dosen dari Inggris  yang menyesuaikan dengan sistem pendidikan mereka atau dari Amerika  Serikat, Malaysia lebih suka mencari orang serumpun untuk mengembangkan  komunitas inti penelitian mereka.</p>
<p>”Kedekatan budaya menjadi  alasan utama,” kata Hakim yang terakhir ditawari untuk bekerja di  Malaysia pada tahun 2007, saat negara itu ingin membangun Observatorium  Nasional.</p>
<p><strong>Kerja sama riset</strong></p>
<p>Metode  lain yang digunakan adalah dengan menawarkan kerja sama riset. Kepala  Pusat Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, Badan Tenaga  Nuklir Nasional (Batan), Syahril mengatakan, Malaysia sangat aktif dalam  menawarkan kerja sama riset dalam multidisiplin ilmu. Para peneliti  Batan juga banyak yang menjadi pembimbing mahasiswa atau dosen Malaysia  yang ingin memperdalam tentang seputar nuklir.</p>
<p>”Malaysia memang  menyiapkan basis kapasitas iptek dosen dan mahasiswanya cukup tinggi.  Indonesia memang lebih dulu membangun infrastruktur dan pengembangan  sumber daya manusia iptek, tetapi kini terbatas dananya,” katanya.</p>
<p>Karena  itulah, dosen-dosen ilmu-ilmu dasar dan rekayasa banyak diminati,  seperti Matematika, Fisika, Kimia, Teknik Nuklir, Aeronautika dan  Astronautika, Teknik Mesin, Teknik Material, dan sebagainya.</p>
<p>Dengan  ilmu-ilmu itu, Syahril yakin Malaysia memiliki rencana yang jelas untuk  mengembangkan industri strategis mereka. Malaysia saat ini sudah  berencana mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada  tahun 2021. Mereka banyak belajar dari ahli-ahli nuklir Indonesia  walaupun tidak pernah menyebutkan secara pasti bahwa tujuan mereka  belajar ke Batan untuk mendirikan PLTN.</p>
<p>Menurut Leonardo yang  menolak tawaran bekerja ke Malaysia, gaji dan fasilitas yang diberikan   Malaysia memang lebih baik dibandingkan dengan di Indonesia. Namun,  dalam apresiasi keilmuan, para peneliti dan dosen Indonesia harus  menginduk pada dosen Malaysia. Kondisi tersebut  membuat peneliti  Indonesia hanya bisa menjadi ”orang nomor dua” atau peneliti pendamping.</p>
<p>”Kalau  di Indonesia, peneliti bisa bebas walau harus berebut dana penelitian  yang peluangnya terbatas. Menjadi dosen dan peneliti di Indonesia  dituntut memiliki kemampuan survival tinggi,” katanya.</p>
<p>Kini,  peluang untuk bekerja dan meneliti di Indonesia juga sudah terbuka.  Lulusan  Aeronautika tidak semata-mata bekerja di PT   Dirgantara  Indonesia, tetapi banyak juga yang  bekerja di berbagai maskapai  penerbangan.</p>
<p>Walaupun dengan gaji dan fasilitas memadai, tetapi  Hakim yang pernah bekerja meneliti di Jepang menilai bahwa apa yang  diberikan Malaysia tidak  terlalu istimewa. Negara-negara lain, seperti  Jepang, juga memberikan gaji dan fasilitas yang sedikit lebih baik  dibandingkan dengan Malaysia. (MZW)</p>
<p>Sumber: Kompas, Senin, 30 Agustus 2010 | 03:36 WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/malaysia-incar-dosen-ilmu-dasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komputer Bekas dan Bahaya Lingkungan</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/komputer-bekas-dan-bahaya-lingkungan/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/komputer-bekas-dan-bahaya-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 04:26:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=613</guid>
		<description><![CDATA[Dalam diskusi di milis, ada  topik yang mengutarakan dibukanya  kembali impor komputer bekas karena dapat dimanfaatkan kalangan  pendidikan yang dinilai belum mampu membeli komputer. Berbagai tindakan  pencegahan impor komputer bekas dilakukan oleh pengurus Apkomindo sejak  awal tahun 2000-an. Impor komputer bekas dinilai bisa membawa Indonesia  menjadi tempat pembuangan limbah elektronik dan bila terus dibiarkan  bisa merusak  lingkungan Indonesia.
Apkomindo mendukung kebijakan  Kementerian Perindustrian melakukan pelarangan impor komputer bekas  dengan alasan apa pun. Terutama tindak pelarangan dengan alasan agar  Indonesia jangan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Dalam diskusi di milis, ada  topik yang mengutarakan dibukanya  kembali impor komputer bekas karena dapat dimanfaatkan kalangan  pendidikan yang dinilai belum mampu membeli komputer. Berbagai tindakan  pencegahan impor komputer bekas dilakukan oleh pengurus Apkomindo sejak  awal tahun 2000-an. Impor komputer bekas dinilai bisa membawa Indonesia  menjadi tempat pembuangan limbah elektronik dan bila terus dibiarkan  bisa merusak  lingkungan Indonesia.</div>
<p><span id="more-613"></span>Apkomindo mendukung kebijakan  Kementerian Perindustrian melakukan pelarangan impor komputer bekas  dengan alasan apa pun. Terutama tindak pelarangan dengan alasan agar  Indonesia jangan menjadi sasaran limbah elektronik, seperti yang terjadi  di China, India, dan negara-negara Afrika. Karena terbukti, pada  kandungan produk elektronik dan komputer mengandung limbah bahan  berbahaya dan beracun (B3).</p>
<p>Beberapa tahun yang lalu, impor  komputer bekas pernah diizinkan melalui proses pengondisian terlebih  dulu maupun langsung ditumpuk dalam peti kemas. Tindakan  impor komputer  bekas semula didukung tujuan mulia untuk mencerdaskan anak bangsa dan  hanya digunakan di kalangan pendidikan. Kenyataannya terbukti nyaris dua  per tiga total komputer bekas yang diizinkan masuk tidak dapat  digunakan lagi.</p>
<p>Yang lebih menyakitkan lagi, komputer bekas dalam  kondisi baik malahan ada yang masuk ke pasar, meleset dari tujuan  semula. Dijual sebagai komputer bekas atau digunakan beberapa komponen  pendukung secara diam-diam pada komputer rakitan yang dipasarkan sebagai  komputer baru.</p>
<p>Komputer bekas biasanya dihibahkan atau dijual  dengan harga murah untuk sekolah-sekolah di kota-kota kecil di Jawa  maupun berbagai kota menengah di luar Pulau Jawa. Namun, setelah masa  pakai komputer bekas berakhir, terjadi penumpukan limbah elektronik di  kota-kota tersebut. Bukan hanya itu, sekolah-sekolah bahkan tidak  menyadari telah menyimpan limbah elektronik yang tergolong B3.</p>
<p><strong>Bekas dalam negeri</strong></p>
<p>Sikap  melunak Apkomindo terhadap pelarangan impor komputer bekas adalah tetap  menyetujui penghibahan komputer bekas asal perusahaan-perusahaan dalam  negeri ke sekolah-sekolah. Bahkan, beberapa tahun terakhir ini, Asosiasi  Open Source Indonesia (AOSI) sangat berpotensi melakukan  pendistribusian hibah komputer bekas dari perusahaan-perusahaan di  Indonesia dibagikan ke sekolah-sekolah untuk pendidikan anak didiknya.</p>
<p>Sama  halnya dengan komputer bekas impor, hibah komputer bekas  perusahaan-perusahaan di Indonesia ke sekolah-sekolah juga akan  menimbulkan limbah elektronik bila masa pakainya berakhir. Hal ini yang  belum pernah terpikirkan oleh perusahaan yang melakukan proses hibah  maupun oleh Apkomindo dan AOSI.</p>
<p>Padahal, setiap produsen produk  elektronik sudah selayaknya menerapkan program EPR (extended producer  responsibility) dari hulu sampai hilir, menggunakan komponen yang ramah  lingkungan dan wajib melakukan penarikan produk elektronik yang telah  dipasarkannya untuk dikelola dengan baik dan benar.</p>
<p>Setiap kantor  perwakilan pemegang merek di Indonesia umumnya hanya dibekali tanggung  jawab bidang sales-marketing dan masalah pra-purnajual saja. Urusan  limbah elektronik biasanya menjadi program principal negara asalnya.  Alasannya, tidak ada dana EPR diberikan kepada kantor di Indonesia.</p>
<p><strong>Nota kesepahaman</strong></p>
<p>Pengimpor  komputer bekas yang menyasar sekolah-sekolah wajib memikirkan dampak  limbah elektronik. Bila ada perusahaan atau institusi bermaksud  mengimpor komputer bekas, mereka selain memperhitungkan biaya impor dan  pengapalan, wajib menganggarkan dana pengelolaan limbah elektronik.</p>
<p>Setiap  upaya impor komputer bekas wajib melibatkan berbagai kementerian, mulai  Kementerian Diknas, Perindustrian, Perdagangan, Keuangan, dan  Lingkungan Hidup. Harus ada nota kesepahaman antara institusi pengimpor,  kelima kementerian, dan perusahaan lingkungan yang telah memiliki  fasilitas pengolahan limbah elektronik.</p>
<p>Hal sama perlu dilakukan  perusahaan-perusahaan di Indonesia yang berniat menghibahkan komputer  bekas ke sekolah-sekolah, perlu menyisihkan anggaran  ongkos angkut  limbah elektronik dari sekolah-sekolah ke lokasi perusahaan lingkungan  yang telah memiliki fasilitas pengolahan limbah elektronik yang baik dan  benar.</p>
<p>Ini harus menjadi tanggung jawab pengimpor maupun  perusahaan yang melakukan hibah sambil menunggu kesadaran produsen atau  para pemegang merek produk elektronik dan komputer menerapkan program  EPR dengan konsekuen.</p>
<p>Seharusnya pemerintah menjalankan peran  melindungi masyarakat dan lingkungan dari limbah elektronik. Pemerintah  tidak boleh membiarkan satu masyarakat pun terkena dampak pengelolaan  limbah elektronik yang tidak benar. Pemerintah harus melindungi semua  warga masyarakat untuk bisa selamat dari dampak limbah elektronik yang  tergolong B3.</p>
<p>Sutiono Gunadi  <em>Pengurus Apkomindo</em><em> dan AOSI</em></p>
<p><em>Sumber: Kompas, </em>Senin, 30 Agustus 2010 | 03:19 WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/komputer-bekas-dan-bahaya-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Universitas Indonesia Bangun Perpustakaan Raksasa yang Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/universitas-indonesia-bangun-perpustakaan-raksasa-yang-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/universitas-indonesia-bangun-perpustakaan-raksasa-yang-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 03:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[Beratap Rumput Hidup, Bisa Tampung 10 Ribu Pengunjung 

Indonesia akan memiliki landmark  baru. Yakni, berupa  perpustakaan ramah lingkungan di kampus Universitas Indonesia (UI)  Depok. Pertengahan November nanti perpustakaan seluas tiga hektare itu  siap beroperasi untuk umum.
ZULHAM MUBARAK, Depok
SEBUAH crane setinggi sekitar 75 meter  beroperasi di atas gundukan tanah menyerupai bukit di kompleks kampus UI  Depok. Bagai tangan mekanis raksasa, alat berat itu memindahkan bahan  bangunan kepada para pekerja yang bersiap di punggung bukit yang  ditanami rumput hijau tersebut. Di atas bukit rerumputan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="judulsedang" style="font-size: 16px;"><strong>Beratap Rumput Hidup, Bisa Tampung 10 Ribu Pengunjung </strong></div>
<div style="height: 5px;"></div>
<p>Indonesia akan memiliki <em>landmark </em> baru. Yakni, berupa  perpustakaan ramah lingkungan di kampus Universitas Indonesia (UI)  Depok. Pertengahan November nanti perpustakaan seluas tiga hektare itu  siap beroperasi untuk umum.<br />
<strong><span id="more-606"></span>ZULHAM MUBARAK, Depok</strong></p>
<p><strong>SEBUAH </strong><em>crane </em>setinggi sekitar 75 meter  beroperasi di atas gundukan tanah menyerupai bukit di kompleks kampus UI  Depok. Bagai tangan mekanis raksasa, alat berat itu memindahkan bahan  bangunan kepada para pekerja yang bersiap di punggung bukit yang  ditanami rumput hijau tersebut. Di atas bukit rerumputan itu tampak  menjulang lima bangunan berbentuk seperti cerobong asap berwarna  abu-abu.</p>
<p>Dari jauh, bangunan itu tampak seperti batuan kali  yang  disusun di atas bukit. Namun, ketika didekati, ternyata bukit hijau  tempat para pekerja berdiri itu menyatu dengan bangunan mirip cerobong  yang berdiri di atasnya. Di balik gundukan rerumputan hijau yang  menjulang hingga beberapa ratus meter itu terdapat ruangan-ruangan  kosong yang disiapkan sebagai ruang utama perpustakaan UI.</p>
<p>&#8221;Punggung  bangunan itu kami timbun tanah dan ditanami rerumputan untuk  mendinginkan suhu ruangan di dalamnya. Saat ini sudah 90 persen  selesai,&#8221; ujar Prof Emirhadi Suganda, penanggung jawab teknik  pembangunan perpustakaan UI Depok, ketika mengantarkan <em>Jawa Pos </em>berkeliling lokasi tersebut kemarin (25/8).</p>
<p>Perpustakaan UI yang dikerjakan sejak Juni 2009 itu dirancang sebagai gedung ramah lingkungan (<em>eco friendly</em>)  terbesar di dunia. Luas bangunan keseluruhan 30 ribu meter persegi dan  merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun pada  1986-1987. Bangunan itu berdiri atas sokongan dana pemerintah dan  kalangan industri dengan anggaran sekitar Rp 110 miliar.</p>
<p>Prof Emirhadi mengatakan, gedung perpustakaan tersebut dirancang dengan konsep <em>sustainable building </em>bahwa<em> </em>kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan, yakni energi matahari (<em>solar energy</em>).  Selain itu, di dalam gedung pengunjung dan pegawai tidak boleh membawa  tas plastik untuk wadah. Area bangunan ramah lingkungan itu bebas asap  rokok, hemat listrik, air, dan kertas.</p>
<p>Walaupun 60 persen bangunan tersebut ditimbun lapisan tanah dan rumput, ketika  <em>Jawa Pos </em>berkeliling  di dalam gedung, kondisi ruangan tidak gelap. Sebab, di antara punggung  rerumputan itu terdapat jaringan-jaringan selokan yang di sampingnya  terdapat kaca tebal bening selebar 50 sentimeter. Selokan itu untuk  mengalirkan air hujan ke tanah resapan, sedangkan fungsi kaca sebagai  sistem pencahayaan.</p>
<p>&#8221;Punggung rumput ini mereduksi fungsi alat  pendingin udara sampai 15 persen,&#8221; ujar guru besar yang juga menjabat  sekretaris Tim Penataan Lingkungan Kampus (TPLK) UI tersebut.</p>
<p>Desain  awal perpustakaan itu diperoleh dari sayembara yang dimenangkan PT Daya  Cipta Mandiri (DCM) dan mengambil tema Morpheus. Modelnya menghadirkan  bangunan masa depan dengan mengambil sisi danau sebagai orientasi  perancangan. Penggunaan bukit buatan sebagai potensi pemanfaatan atap  untuk fungsi penghijauan. Sedangkan pencahayaan alam dilakukan dengan  melalui beberapa <em>skylight</em>.</p>
<p>Interior bangunannya didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain melalui sistem <em>void</em>. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara alam menjadi maksimal. Penggunaan energi matahari dilakukan melalui <em>solar cell </em>yang dipasang di atap bangunan.</p>
<p>Prof Emirhadi menjelaskan, untuk memenuhi standar ramah lingkungan,  bangunan juga dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah. Karena itu,  air buangan toilet dapat digunakan untuk menyiram di punggung bangunan.  Tentunya, setelah diproses melalui pengolahan limbah atau sewage<em> treatment plant </em>(STP).</p>
<p><em>Finishing </em>eksterior  bangunan tersebut mengunakan batu alam andesit, sedangkan interiornya  memakai batu palimanan Palemo. Kedua bahan bangunan itu bersifat bebas  pemeliharaan (<em>maintenance free</em>) dan tidak perlu dicat. &#8221;Batuannya kami ambil dari Sukabumi,&#8221; ujar Emirhadi.</p>
<p>Rencananya,  ruang perpustakaan pusat UI terdiri atas delapan lantai. Lantai dasar  berisi pusat kegiatan dan bisnis mahasiswa yang terdiri atas toko buku,  toko cendera mata, ruang internet, serta ruang musik  dan TV. Ada juga  restoran dan kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, ruang pameran, dan  bank.</p>
<p>Lantai 2 hingga 6 akan dilengkapi fasilitas seperti ruang  tamu, ruang pelayanan umum dan koleksi, ruang baca, ruang teknologi  informasi, serta unit pelayanan teknis. Sedangkan di lantai 7 terdapat  ruang sidang dan ruang diskusi. Gedung perpustakaan juga dilengkapi  plaza dan ruang pertemuan yang menjorok ke danau.</p>
<p>Deputi  Sekretariat Pimpinan UI Devie Rahmawati menambahkan, perpustakaan pusat  UI mampu menampung sekitar 10 ribu pengunjung dalam waktu bersamaan.  Selain itu, perpusataan tersebut akan memajang 3-5 juta judul buku. Saat  ini perpustakaan pusat UI memiliki koleksi 1,5-2 juta buku dan sisanya  akan dipenuhi dari perpustakaan yang tersebar di fakultas-fakultas.  &#8221;Mayoritas adalah buku S-1 dan buku-buku umum,&#8221; kata dia.</p>
<p>Selain  itu, perpustakaan tersebut dilengkapi sistem teknologi informasi  mutakhir sehingga memungkinkan pengunjung leluasa menikmati sumber  informasi elektronik seperti <em>e-book</em>, <em>e-journal</em>, dan lain-lain.</p>
<p>Perpustakaan  yang segera beroperasi itu memang menonjol jika dibandingkan dengan  bangunan lain di kompleks kampus UI Depok yang berdiri areal 312 hektare  tersebut. Perpaduan gaya arsitektur unik serta lokasi perpustakaan di  tepi Danau Kenanga UI membuat bangunan berwarna dasar abu-abu itu  terlihat mencolok.</p>
<p>Untuk melengkapi desain ramah lingkungan,  sejumlah pohon besar berusia 30 tahunan berdiameter lebih dari 100  sentimeter sengaja tidak ditebang saat pembangunan gedung itu. Keindahan  menjadi lengkap karena gedung itu mengeksplorasi secara maksimal  keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh.</p>
<p>&#8221;Keunikan  yang lain, nanti terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang  akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding,&#8221; ujar Devie berpromosi.</p>
<p>Secara  spesifik, perpustakaan itu memang dibangun untuk mengangkat nama  Indonesia di dunia internasional. Alasan yang paling utama karena UI  menjadi satu-satunya universitas di dunia yang mencantumkan nama bangsa.  Karena itu, diharapkan pada masa depan bangunan itu akan menjadi salah  satu ciri fisik Indonesia di dunia internasional.</p>
<p>&#8221;Harapannya,  bangunan ikon ini dapat mengembalikan kiblat pembangunan bangsa kepada  pendidikan dan keilmuan. Sebab, ilmu adalah muara segala persoalan  bangsa Indonesia saat ini,&#8221; tutur Devie. <strong>(*/c4/ari)</strong></p>
<p>Sumber: Jawa Pos, Kamis, 26 Agustus 2010</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">
<div class="judulsedang" style="font-size: 16px;">Universitas Indonesia Bangun Perpustakaan Raksasa yang Ramah Lingkungan</div>
<div style="height: 5px;"></div>
<p><strong>Beratap Rumput Hidup, Bisa Tampung 10 Ribu Pengunjung </strong></p>
<p>Indonesia akan memiliki <em>landmark </em> baru. Yakni, berupa  perpustakaan ramah lingkungan di kampus Universitas Indonesia (UI)  Depok. Pertengahan November nanti perpustakaan seluas tiga hektare itu  siap beroperasi untuk umum.</p>
<p><strong>ZULHAM MUBARAK, Depok</strong></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>SEBUAH </strong><em>crane </em>setinggi sekitar 75 meter  beroperasi di atas gundukan tanah menyerupai bukit di kompleks kampus UI  Depok. Bagai tangan mekanis raksasa, alat berat itu memindahkan bahan  bangunan kepada para pekerja yang bersiap di punggung bukit yang  ditanami rumput hijau tersebut. Di atas bukit rerumputan itu tampak  menjulang lima bangunan berbentuk seperti cerobong asap berwarna  abu-abu.</p>
<p>Dari jauh, bangunan itu tampak seperti batuan kali  yang  disusun di atas bukit. Namun, ketika didekati, ternyata bukit hijau  tempat para pekerja berdiri itu menyatu dengan bangunan mirip cerobong  yang berdiri di atasnya. Di balik gundukan rerumputan hijau yang  menjulang hingga beberapa ratus meter itu terdapat ruangan-ruangan  kosong yang disiapkan sebagai ruang utama perpustakaan UI.</p>
<p>&#8221;Punggung  bangunan itu kami timbun tanah dan ditanami rerumputan untuk  mendinginkan suhu ruangan di dalamnya. Saat ini sudah 90 persen  selesai,&#8221; ujar Prof Emirhadi Suganda, penanggung jawab teknik  pembangunan perpustakaan UI Depok, ketika mengantarkan <em>Jawa Pos </em>berkeliling lokasi tersebut kemarin (25/8).</p>
<p>Perpustakaan UI yang dikerjakan sejak Juni 2009 itu dirancang sebagai gedung ramah lingkungan (<em>eco friendly</em>)  terbesar di dunia. Luas bangunan keseluruhan 30 ribu meter persegi dan  merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun pada  1986-1987. Bangunan itu berdiri atas sokongan dana pemerintah dan  kalangan industri dengan anggaran sekitar Rp 110 miliar.</p>
<p>Prof Emirhadi mengatakan, gedung perpustakaan tersebut dirancang dengan konsep <em>sustainable building </em>bahwa<em> </em>kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan, yakni energi matahari (<em>solar energy</em>).  Selain itu, di dalam gedung pengunjung dan pegawai tidak boleh membawa  tas plastik untuk wadah. Area bangunan ramah lingkungan itu bebas asap  rokok, hemat listrik, air, dan kertas.</p>
<p>Walaupun 60 persen bangunan tersebut ditimbun lapisan tanah dan rumput, ketika  <em>Jawa Pos </em>berkeliling  di dalam gedung, kondisi ruangan tidak gelap. Sebab, di antara punggung  rerumputan itu terdapat jaringan-jaringan selokan yang di sampingnya  terdapat kaca tebal bening selebar 50 sentimeter. Selokan itu untuk  mengalirkan air hujan ke tanah resapan, sedangkan fungsi kaca sebagai  sistem pencahayaan.</p>
<p>&#8221;Punggung rumput ini mereduksi fungsi alat  pendingin udara sampai 15 persen,&#8221; ujar guru besar yang juga menjabat  sekretaris Tim Penataan Lingkungan Kampus (TPLK) UI tersebut.</p>
<p>Desain  awal perpustakaan itu diperoleh dari sayembara yang dimenangkan PT Daya  Cipta Mandiri (DCM) dan mengambil tema Morpheus. Modelnya menghadirkan  bangunan masa depan dengan mengambil sisi danau sebagai orientasi  perancangan. Penggunaan bukit buatan sebagai potensi pemanfaatan atap  untuk fungsi penghijauan. Sedangkan pencahayaan alam dilakukan dengan  melalui beberapa <em>skylight</em>.</p>
<p>Interior bangunannya didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain melalui sistem <em>void</em>. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara alam menjadi maksimal. Penggunaan energi matahari dilakukan melalui <em>solar cell </em>yang dipasang di atap bangunan.</p>
<p>Prof Emirhadi menjelaskan, untuk memenuhi standar ramah lingkungan,  bangunan juga dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah. Karena itu,  air buangan toilet dapat digunakan untuk menyiram di punggung bangunan.  Tentunya, setelah diproses melalui pengolahan limbah atau sewage<em> treatment plant </em>(STP).</p>
<p><em>Finishing </em>eksterior  bangunan tersebut mengunakan batu alam andesit, sedangkan interiornya  memakai batu palimanan Palemo. Kedua bahan bangunan itu bersifat bebas  pemeliharaan (<em>maintenance free</em>) dan tidak perlu dicat. &#8221;Batuannya kami ambil dari Sukabumi,&#8221; ujar Emirhadi.</p>
<p>Rencananya,  ruang perpustakaan pusat UI terdiri atas delapan lantai. Lantai dasar  berisi pusat kegiatan dan bisnis mahasiswa yang terdiri atas toko buku,  toko cendera mata, ruang internet, serta ruang musik  dan TV. Ada juga  restoran dan kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, ruang pameran, dan  bank.</p>
<p>Lantai 2 hingga 6 akan dilengkapi fasilitas seperti ruang  tamu, ruang pelayanan umum dan koleksi, ruang baca, ruang teknologi  informasi, serta unit pelayanan teknis. Sedangkan di lantai 7 terdapat  ruang sidang dan ruang diskusi. Gedung perpustakaan juga dilengkapi  plaza dan ruang pertemuan yang menjorok ke danau.</p>
<p>Deputi  Sekretariat Pimpinan UI Devie Rahmawati menambahkan, perpustakaan pusat  UI mampu menampung sekitar 10 ribu pengunjung dalam waktu bersamaan.  Selain itu, perpusataan tersebut akan memajang 3-5 juta judul buku. Saat  ini perpustakaan pusat UI memiliki koleksi 1,5-2 juta buku dan sisanya  akan dipenuhi dari perpustakaan yang tersebar di fakultas-fakultas.  &#8221;Mayoritas adalah buku S-1 dan buku-buku umum,&#8221; kata dia.</p>
<p>Selain  itu, perpustakaan tersebut dilengkapi sistem teknologi informasi  mutakhir sehingga memungkinkan pengunjung leluasa menikmati sumber  informasi elektronik seperti <em>e-book</em>, <em>e-journal</em>, dan lain-lain.</p>
<p>Perpustakaan  yang segera beroperasi itu memang menonjol jika dibandingkan dengan  bangunan lain di kompleks kampus UI Depok yang berdiri areal 312 hektare  tersebut. Perpaduan gaya arsitektur unik serta lokasi perpustakaan di  tepi Danau Kenanga UI membuat bangunan berwarna dasar abu-abu itu  terlihat mencolok.</p>
<p>Untuk melengkapi desain ramah lingkungan,  sejumlah pohon besar berusia 30 tahunan berdiameter lebih dari 100  sentimeter sengaja tidak ditebang saat pembangunan gedung itu. Keindahan  menjadi lengkap karena gedung itu mengeksplorasi secara maksimal  keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh.</p>
<p>&#8221;Keunikan  yang lain, nanti terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang  akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding,&#8221; ujar Devie berpromosi.</p>
<p>Secara  spesifik, perpustakaan itu memang dibangun untuk mengangkat nama  Indonesia di dunia internasional. Alasan yang paling utama karena UI  menjadi satu-satunya universitas di dunia yang mencantumkan nama bangsa.  Karena itu, diharapkan pada masa depan bangunan itu akan menjadi salah  satu ciri fisik Indonesia di dunia internasional.</p>
<p>&#8221;Harapannya,  bangunan ikon ini dapat mengembalikan kiblat pembangunan bangsa kepada  pendidikan dan keilmuan. Sebab, ilmu adalah muara segala persoalan  bangsa Indonesia saat ini,&#8221; tutur Devie. <strong>(*/c4/ari)</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/universitas-indonesia-bangun-perpustakaan-raksasa-yang-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Bulan ke Jagat Permiliar Meter</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/dari-bulan-ke-jagat-permiliar-meter/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/dari-bulan-ke-jagat-permiliar-meter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 02:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan  memasuki hari ke-15 dan Bulan pun telah purnama. Saat menyongsong  Ramadhan, kita berbincang tentang jarak yang jauh. Tak usah ke planet  atau bintang yang jauh. Meninjau tiga benda langit yang terkait Ramadhan  pun (Bulan, Bumi, Matahari) kita telah berhadapan dengan jarak ratusan  ribu bahkan jutaan kilometer. Jarak Bumi-Bulan sekitar 385.000  kilometer, Bumi-Matahari 150 juta kilometer.
Sebagai kontras, kali  ini akan diwacanakan topik lain yang lingkup aktivitasnya jauh  berlawanan lingkup astronomis, yakni jagat yang lebih renik dibandingkan  mikroelektronika yang berdimensi perjuta meter.
Satu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan  memasuki hari ke-15 dan Bulan pun telah purnama. Saat menyongsong  Ramadhan, kita berbincang tentang jarak yang jauh. Tak usah ke planet  atau bintang yang jauh. Meninjau tiga benda langit yang terkait Ramadhan  pun (Bulan, Bumi, Matahari) kita telah berhadapan dengan jarak ratusan  ribu bahkan jutaan kilometer. Jarak Bumi-Bulan sekitar 385.000  kilometer, Bumi-Matahari 150 juta kilometer.</p>
<p><span id="more-601"></span>Sebagai kontras, kali  ini akan diwacanakan topik lain yang lingkup aktivitasnya jauh  berlawanan lingkup astronomis, yakni jagat yang lebih renik dibandingkan  mikroelektronika yang berdimensi perjuta meter.</p>
<p>Satu kebetulan  bahwa di bulan Ramadhan di Jakarta juga berlangsung pameran R&amp;D  Ritech Expo 2010 yang menampilkan aktivitas dan hasil riset berbagai  lembaga penelitian kementerian maupun nonkementerian. Tema yang diangkat  adalah ”Inovasi Teknologi Menuju Peningkatan Daya Saing Industri  Berbasis Nanoteknologi”.</p>
<p>Tentang inovasi dan daya saing beberapa  waktu terakhir ini telah banyak kita dengar. Teknologi nano atau  nanoteknologi? Kalaupun sudah cukup banyak perbincangan mengenai hal  ini, representasi tentang teknologi nano masih tetap belum komunikatif.  Maklum, yang diperbincangkan adalah soal-soal terkait dengan ukuran yang  amat kecil, dalam level molekuler, yakni sepermiliar meter. Itu  sebabnya ia disebut dengan teknologi nano.</p>
<p>Di pameran, pengunjung  mudah melihat model roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dan  model peluru hasil rekayasa Badan Litbang Kementerian Pertahanan.</p>
<p>Padahal,  saat mulai dikenal di lembaga penelitian nasional sejak tahun 2000-an,  sudah belasan karya inovasi berbasis teknologi nano yang dihasilkan.  Dari Pusat Teknologi Bahan Industri Batan, misalnya, muncul riset  nanopartikel magnet untuk pengolahan limbah cair. Komposit magnet-karbon  aktif dilihat sebagai solusi efektif dalam mengatasi permasalahan  industri dalam pengolahan limbah cair tanpa menambahkan limbah kimia  lain ke lingkungan. Selain itu, komposit magnet-karbon aktif, seperti  dijelaskan Batan, juga bermanfaat untuk mendapatkan logam berharga dari  larutan kompleksnya.</p>
<p>Sayangnya, karya-karya itu kurang mendapat  sambutan di dalam negeri. Meski situasi belum kondusif, sudah muncul  pula berita menggembirakan. Alat penghancur partikel nano yang didesain,  dirancang bangun, dan direkayasa oleh peneliti dari Pusat Penelitian  Fisika Terapan LIPI, Nurul Taufiqu Rochman, tahun 2006 telah dibeli  Universitas Kebangsaan Malaysia untuk dikembangkan ke skala industri  tahun lalu (Kompas, 23/8).</p>
<p><strong>Dari tahun 1980-an</strong></p>
<p>Pada  tahun 1980-an Eric Drexler mulai memopulerkan istilah nanoteknologi.  Yang ia maksud teknologi nano adalah membuat mesin berukuran molekul,  yakni beberapa nanometer lebarnya, dari motor, lengan robot, bahkan  komputer utuh. Ukuran benda-benda ini jauh lebih kecil dibandingkan  sebuah sel.</p>
<p>Drexler pernah dituduh mengembangkan fiksi ilmiah,  tetapi dalam perkembangan berikut, nanoteknologi secara bertahap  diterima sebagai sebuah konsep. (Uraian lebih lengkap tentang riwayat  nanoteknologi, antara lain, bisa dibaca di situs CRN)</p>
<p>Di  Indonesia, salah seorang intelektual yang awas terhadap potensi  nanoteknologi adalah mendiang Prof Iskandar Alisjahbana, Guru Besar  Teknologi Elektro ITB yang juga dikenal sebagai penggagas pemanfaatan  satelit Palapa. Ia telah menulis tentang nanoteknologi dalam buku  kumpulan tulisan yang diterbitkan Kompas  pada pertengahan dekade 1980-an. Tahap berikut, pakar teknologi ITB,  Filino Harahap, ikut terjun dalam penelitian nanoteknologi. Tahun 2008  ia menerjemahkan karya Prof Gang Chen Nanoscale  Energy Transport and Conversion dan salah seorang mahasiswanya bersama  Gang Chen bermaksud membuktikan bahwa Hukum Stefan-Boltzman tentang  radiasi benda hitam tidak berlaku pada level nano.</p>
<p>Dalam tulisan  Prof Iskandar saat itu sudah diuraikan, nanoteknologi akan merevolusi  manufakturing, terciptanya pabrik ramah lingkungan yang mampu bekerja  terus-menerus menghasilkan berbagai bahan kebutuhan manusia, mulai dari  energi, obat-obatan, hingga mesin-mesin.</p>
<p>Sebagai satu tren teknologi yang diramalkan akan mewarnai masa depan, buku Extreme  Future (James Canton, 2006) mengulas cukup banyak isu nanoteknologi,  yang juga dilukiskan sebagai ilmu desain, ilmu merekayasa molekul.  Membuat tabung nanokarbon, yang akan muncul adalah tabung yang 100 kali  lebih kuat daripada baja, tetapi amat tipis dan lentur. Tabung dengan  ukuran permiliar meter ini juga disebut punya daya hantar listrik (atau  konduktivitas) tinggi.</p>
<p>Setidaknya, hingga pertengahan dekade ini  sudah miliaran dollar AS yang ditanamkan untuk pengembangan  nanoteknologi. Dalam 10 tahun ke depan, menurut Extreme Future, dari teknologi nano ini diharapkan muncul beberapa produk yang cukup menonjol, dari bahan nano (nanomaterial) yang pintar dan bisa menyusun dirinya sendiri, agen nano untuk pembersih lingkungan, dan robot nano.</p>
<p><strong>Menunggangi zaman</strong></p>
<p>Penyelenggaraan  pameran teknologi nano, juga seminar internasional tentang teknologi  ini, November tahun silam, merupakan upaya menyosialisasikan teknologi  ini ke tengah masyarakat Indonesia. Dengan itu pula tecermin tekad  bangsa Indonesia untuk menunggangi kemajuan zaman.</p>
<p>Memang, seperti  dilaporkan saat Konferensi Masyarakat Nano Indonesia, November tahun  lalu, dewasa ini pemanfaatan teknologi nano masih memperlihatkan  ketergantungan pada impor yang tinggi. Dari industri yang disurvei,  banyak di antaranya yang menggunakan teknologi impor dan bahan impor.</p>
<p>Menteri  Riset dan Teknologi Suharna Surapranata saat itu mengakui, itu wajar  karena Indonesia baru di tahap awal dalam teknologi nano. Itu sebabnya,  Indonesia perlu menggalakkan kerja sama internasional untuk mempercepat  kemajuan penerapan teknologi nano. Kalau tidak, boleh jadi dampak besar  seperti yang dikemukakan Senator Ron Wyden di CRN bahwa nanoteknologi  akan mengubah Amerika seperti halnya, atau bahkan lebih besar lagi,  dibandingkan revolusi komputer, akan melewati Indonesia.</p>
<p>Nanoteknologi,  sebagaimana teknologi masa depan lain, seperti superkonduktivitas suhu  tinggi atau fusi dingin, layak mendapat perhatian lebih besar tidak saja  dari pemerintah, tetapi juga dari kalangan bisnis selain tentu saja  dari kalangan peneliti.</p>
<p>Sains nano, yang beroperasi pada dimensi  yang kontras dengan astronomi, menawarkan tantangan, sekaligus  keindahan, yang sama mengundang kekaguman. [<strong>NINOK LEKSONO</strong>]</p>
<p>Sumber: Kompas, Rabu, 25 Agustus 2010 | 02:57 WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/dari-bulan-ke-jagat-permiliar-meter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Firmanzah; Setelah Jadi Dekan Termuda, Kini Guru Besar Termuda di UI</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/firmanzah-setelah-jadi-dekan-termuda-kini-guru-besar-termuda-di-ui/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/firmanzah-setelah-jadi-dekan-termuda-kini-guru-besar-termuda-di-ui/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 03:11:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Ilmuwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Pernah Menginap Tiga Hari di Perpustakaan Kampus 
Menjadi doktor termuda, lalu dekan termuda di Universitas  Indonesia. Itulah prestasi akademik yang dicapai Firmanzah. Rabu lalu  (18/8) dia dikukuhkan sebagai guru besar termuda di UI pada usia 34  tahun. Bagaimana semua itu bisa dia raih?
NUNGKI KARTIKASARI, Jakarta 
&#8212;
KETIKA ditemui di rumah salah seorang rekannya  di kawasan Jalan Plaju, Jakarta Pusat, Fiz -panggilan akrab Firmanzah-  sedang membaca buku. Bagi pria kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976 itu, tak  ada waktu luang yang dilewatkan tanpa membaca buku.
Ketika sedang menunggu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>Pernah Menginap Tiga Hari di Perpustakaan Kampus </strong></div>
<p>Menjadi doktor termuda, lalu dekan termuda di Universitas  Indonesia. Itulah prestasi akademik yang dicapai Firmanzah. Rabu lalu  (18/8) dia dikukuhkan sebagai guru besar termuda di UI pada usia 34  tahun. Bagaimana semua itu bisa dia raih?</p>
<p><strong><span id="more-592"></span>NUNGKI KARTIKASARI, Jakarta </strong></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>KETIKA</strong> ditemui di rumah salah seorang rekannya  di kawasan Jalan Plaju, Jakarta Pusat, Fiz -panggilan akrab Firmanzah-  sedang membaca buku. Bagi pria kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976 itu, tak  ada waktu luang yang dilewatkan tanpa membaca buku.</p>
<p>Ketika sedang menunggu <em>Jawa Pos</em> untuk wawancara Jumat malam lalu (20/8), dia menggunakannya untuk membaca buku. Begitu <em>Jawa Pos </em>datang, buku yang dia baca ditutup.</p>
<p>Malam  itu, Fiz mengatakan baru saja merampungkan satu agenda rapat. &#8220;Ini saya  mau lanjut untuk mengikuti rapat lainnya,&#8221; ucap suami Ratna Indrawari,  27, itu.</p>
<p>Sehari-hari Fiz memang sangat sibuk. Selain menjabat  sebagai dekan di Fakultas Ekonomi UI, dia aktif berorganisasi dan  menjadi pembicara di berbagai seminar. Selain itu, dia termasuk penulis  yang produktif. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di berbagai surat kabar  nasional serta jurnal-jurnal ilmiah, baik di lingkup nasional maupun  internasional.</p>
<p>Banyaknya aktivitas yang dilakoni bukan hal baru  bagi Fiz. Kebiasaan itu dia jalani sejak masa sekolah hingga kuliah.  Agar semua kegiatannya bisa dijalani dengan baik, Fiz menjadikan  disiplin, komitmen, dan kerja keras sebagai pegangan hidup. &#8220;Kuncinya  cuma itu. Tapi, harus benar-benar dilakukan. Jangan dijadikan motivasi  saja,&#8221; ucapnya berapi-api.</p>
<p>Dengan pegangan hidup itu, Fiz  berhasil meraih apa yang sebelumnya dianggap sulit. Misalnya, meraih  jabatan guru besar. Dia mampu menunjukkan bahwa guru besar tidak selalu  dimiliki oleh akademisi berusia setengah abad. &#8220;Tapi, itu tidak mudah <em>loh</em>,&#8221; paparnya.</p>
<p>Sosok Fiz yang menonjol sudah terlihat ketika dia lulus sarjana dari Fakultas Ekonomi UI. Saat itu, dia meraih predikat <em>cum laude</em> dengan masa studi 3,5 tahun.</p>
<p>Selama  kuliah di FE UI, Fiz mengaku sering bolos. Sebab, dia menjadi aktivis  yang sering ikut kegiatan organisasi. &#8220;Kadang, terpaksa <em>mbolos</em> karena harus memimpin rapat organisasi. Tapi, kebanyakan bolos itu saya  pakai untuk ikut demo,&#8221; cerita mantan ketua Badan Perwakilan Mahasiswa  (BPM) FE UI tersebut.</p>
<p>Setelah lulus dan mengantongi status sarjana pada 1998, Fiz bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta sebagai <em>marketing analyst</em> selama 1 tahun 2 bulan.</p>
<p>Bagi  alumnus SMPN 12 Surabaya tersebut, bekerja saja tidak cukup. Dia  kemudian melanjutkan studi S-2 di pascasarjana FE UI pada 1999. Ketika  di pascasarjana itulah, Fiz menempuh program gelar ganda. Yakni,  magister manajemen (MM) dan <em>Certificat d&#8217;Aptitude a l&#8217;Administration des Entreprises</em> (CAAE) di FE UI yang bekerja sama dengan pemerintah Perancis.</p>
<p>Selama mengikuti kuliah S-2 dengan program gelar ganda tersebut,  Fiz harus membagi waktu. Jadwal dua kuliah itu juga harus disesuaikan  karena program tersebut saling bersinggungan. Berkat disiplin dan kerja  keras, Fiz berhasil menyelesaikan program S-2 dengan gelar ganda itu  dalam waktu 1 tahun 8 bulan. &#8220;Begitu lulus, keinginan saya untuk  melanjutkan ke jenjang S-3 semakin kuat,&#8221; ujar anak kedelapan di antara  sembilan bersaudara itu.</p>
<p>Ternyata, Fiz tidak butuh waktu lama  untuk dapat melanjutkan studi S-3. Dia akhirnya mendapatkan tawaran  beasiswa untuk kuliah S-3 di Prancis. &#8220;Rasa senang dan rasa lainnya  bercampur-campur. Semua bisa begitu lancar,&#8221; terang <em>vice president </em>Indonesia Marketing Association (IMA) itu.</p>
<p>Pada  2001, berangkatlah Fiz ke Prancis untuk melanjutkan pendidikan program  doktor. Sesampainya di sana, gelar ganda S-2 (MM dan CAAE) yang diraih  Fiz di Indonesia tidak bisa menjadi syarat untuk melanjutkan program S-3  jurusan manajemen strategi di University of Pau et Pays de l&#8217;Adour,  Prancis. &#8221;Menurut mereka, mata kuliah yang saya ambil di Indonesia  tidak sama dengan jurusan yang saya pilih di Prancis,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Beruntung,  donatur yang memberinya beasiswa mengizinkan Fiz untuk mengambil kuliah  pascasarjana lagi setingkat S-2 di Lille University of Science and  Technology, Prancis. Dengan demikian, di Prancis, alumnus SMAN 2  Surabaya itu kembali menjalani dua kuliah dalam waktu bersamaan. Yang  satu setingkat S-2 dan satunya lagi untuk program doktoral. &#8221;Saya  bersyukur tetap diizinkan untuk menempuh S-3, meski harus menyesuaikan  kembali mata kuliah dengan belajar S-2 lagi,&#8221; ucap pria yang sejak  menikah tiga tahun lalu belum dikaruniai anak tersebut.</p>
<p>Tantangan  yang dihadapi Fiz dari semester ke semester semakin berat. Fiz  mengatakan, biaya hidup dan beasiswa yang diberikan cenderung pas-pasan.  &#8221;Tapi, saya harus punya target. Tidak boleh putus asa,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Fiz  menjelaskan, upaya untuk mengejar ketinggalan dan memahami lebih jauh  dua jenjang pendidikan yang dia tempuh sekaligus itu membuatnya stres.  &#8221;Saya bingung. Bagaimana saya harus belajar. Dari mana saya mulai,&#8221;  terang mantan kepala kantor humas dan protokol UI itu.</p>
<p>Untuk  mengatasi berbagai problem yang dihadapi selama kuliah di negeri orang  itu, Fiz memutuskan untuk mencari jawabannya dengan banyak membaca.  Maka, tempat yang dia pilih untuk sering didatangi adalah perpustakaan  kampus. &#8221;Saya menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua saya. Saya  belajar, makan, minum, dan tidur di sana,&#8221; imbuhnya. &#8221;Saya sering  tidur di sofa perpustakaan setiap Jumat malam&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Karena  sering tidur dan tinggal di perpustakaan kampus, Fiz dikenal baik oleh  si penjaga perpustakaan. Saking baiknya, Fiz sampai dipinjami kunci  perpustakaan jika tak kunjung pulang. &#8221;Dia sudah tahu, kalau saya sudah  sibuk membaca dan mengetik, itu berarti saya akan lama di sana  (perpustakaan, Red),&#8221; tuturnya.</p>
<p>Di perpustakaan, Fiz sering membawa kasur gulung. &#8221;Kasur itu saya bawa kalau saya bosan tidur di sofa,&#8221; kisahnya.</p>
<p>Menurut  Fiz, ruangan perpustakaan di kampusnya berukuran sekitar 10 x 10 meter.  Yang membuat Fiz merasa betah adalah perpustakaan di sana dilengkapi  kamar mandi dan kafe di dalamnya.</p>
<p>Di perpustakaan itu, pria yang hobi membaca tersebut  pernah menginap hingga tiga hari. Hanya untuk membaca, mengetik, dan  mengerjakan tugas kuliah. &#8221;Saya hanya keluar untuk mandi, makan, dan  ibadah,&#8221; terangnya.</p>
<p>Tidak heran, dengan segala perjuangan  kerasnya itu, Fiz mampu menyelesaikan program S-2 dan S-3 sekaligus  dalam waktu 3,5 tahun. Setahun sebelum kembali ke tanah air, Fiz  mengajar S-3 di University of Pau et Pays de l&#8217;Adour, Prancis.</p>
<p>Pria yang gemar menonton film tersebut  mengatakan, kebiasaan membaca itu terbawa hingga sekarang. Selain  membaca, Fiz gemar menulis artikel dan buku. Setelah tidak lagi  disibukkan dengan kuliah, Fiz mulai menekuni hobinya. Yakni, menulis  buku dan artikel. Sudah puluhan artikel yang termuat di media masa.</p>
<p>Selain itu, sudah enam buku yang diterbitkan. Di antaranya, <em>The Spirit of Change</em> yang terbit pada 2006; <em>Globalisasi: Sebuah Proses Dialektika Sistemik </em>pada<em> </em>2007; <em>Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas</em> pada 2007, dan<em> Mengelola Partai Politik: Persaingan dan Positioning Ideologi Politik </em>pada 2008. &#8220;Saya sekarang sudah menyiapkan terbitan buku yang ketujuh,&#8221; ujarnya. <strong>(c6/kum)</strong></p>
<p>Sumber: Jawa Pos, 23 Agustus 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/firmanzah-setelah-jadi-dekan-termuda-kini-guru-besar-termuda-di-ui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ITS Ikuti Kontes Robot di Mesir</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/its-ikuti-kontes-robot-di-mesir/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/its-ikuti-kontes-robot-di-mesir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 04:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Politeknik Elektronika  Negeri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, kembali  mengirimkan robot ke ajang kontes robot international di Mesir, 20  September mendatang.

Endra Pitowarno, dosen pembimbing, mengatakan robot yang akan  diikutkan dalam kontes kali ini diberi nama Mio rEi. Robot karya  mahasiswa politeknik ini berhak mewakili Indonesia karena mereka menjadi  juara satu dalam Kontes Robot Indonesia 2010, setelah mengalahkan robot  TRUI dan Universitas Indonesia dengan skor telak 120-0.
&#8220;Saat itu kami mampu mencapai Pharaoh atau nilai sempurna,&#8221; kata  Endra. Sejak pekan lalu, robot ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Politeknik Elektronika  Negeri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, kembali  mengirimkan robot ke ajang kontes robot international di Mesir, 20  September mendatang.</p>
<div>
<p>Endra Pitowarno, dosen pembimbing, mengatakan robot yang akan  diikutkan dalam kontes kali ini diberi nama Mio rEi. Robot karya  mahasiswa politeknik ini berhak mewakili Indonesia karena mereka menjadi  juara satu dalam Kontes Robot Indonesia 2010, setelah mengalahkan robot  TRUI dan Universitas Indonesia dengan skor telak 120-0.</p>
<p><span id="more-587"></span>&#8220;Saat itu kami mampu mencapai Pharaoh atau nilai sempurna,&#8221; kata  Endra. Sejak pekan lalu, robot ini dikirim ke Mesir melalui jasa  pengiriman kargo. Sementara itu, tiga anggota tim dan satu dosen  pembimbing akan menyusul pada 16 September mendatang.</p>
<p>Putus Dadar Gumilang, anggota tim, optimistis karyanya mampu  bersaing dengan robot dari negara lain. Robot yang dikirim terdiri atas  dua robot, yaitu robot otomatis dan manual.</p>
<p>Khusus robot otomatis, kecepatannya masih kalah oleh robot tim  Cina. &#8220;Kabarnya, robot otomatis tim Cina mampu mencapai target 25 detik,  padahal robot kami baru 31 detik,&#8221; kata Putus.</p>
<p>Meski begitu, Putus optimistis timnya mampu meningkatkan  kemampuan robot otomatis sebelum perlombaan. Sementara itu, untuk robot  manual, timnya tetap optimistis bisa mengalahkan robot manual dari tim  lainnya.</p>
<p>Sayangnya, dengan alasan kerahasiaan, Putus tidak bersedia  berbagi teknik yang akan digunakan dalam menghadapi lomba mendatang.  &#8220;Pokoknya, untuk robot manual, kami akan latih terus kemampuan kami  dalam mengendalikannya.&#8221; <strong>ROHMAN TAUFIQ</strong></p>
<p><strong>Sumber: Koran Tempo, 20 Agustus 2010<br />
</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/its-ikuti-kontes-robot-di-mesir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedaluwarsa, 2.788 Prodi Perguruan Tinggi</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/kedaluwarsa-2-788-prodi-perguruan-tinggi/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/kedaluwarsa-2-788-prodi-perguruan-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 04:22:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[Ribuan program studi (prodi) di perguruan tinggi  negeri (PTN) dan swasta (PTS) belum melakukan reakreditasi. Badan  Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) mencatat, di antara 7.567  prodi yang terdaftar, 2.788  prodi kedaluwarsa dan harus diperbarui  lagi.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Nuh mengatakan,  tidak semua prodi di PT disiplin melakukan reakreditasi. Sementara itu,  lama proses akreditasi setiap prodi berbeda-beda. Mulai tiga tahun  hingga lima tahun.
&#8221;Bergantung kepada kemampuan prodi untuk  memperbaiki dan mengubah statusnya. Dari B ke A atau dari C ke B,&#8221; ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ribuan program studi (prodi) di perguruan tinggi  negeri (PTN) dan swasta (PTS) belum melakukan reakreditasi. Badan  Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) mencatat, di antara 7.567  prodi yang terdaftar, 2.788  prodi kedaluwarsa dan harus diperbarui  lagi.</p>
<p><span id="more-581"></span>Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Nuh mengatakan,  tidak semua prodi di PT disiplin melakukan reakreditasi. Sementara itu,  lama proses akreditasi setiap prodi berbeda-beda. Mulai tiga tahun  hingga lima tahun.</p>
<p>&#8221;Bergantung kepada kemampuan prodi untuk  memperbaiki dan mengubah statusnya. Dari B ke A atau dari C ke B,&#8221;  jelas Nuh di Jakarta kemarin (18/8).</p>
<p>Menurut Nuh, enam bulan  sebelum masa akreditasi prodi berakhir seharusnya pihak fakultas dan  penanggung jawab prodi mengajukan reakreditasi. &#8221;Tapi, kenyataannya  banyak yang masih menunda,&#8221; ujar Nuh.</p>
<p>Mantan rektor ITS  Surabaya itu menegaskan, sekitar 36 persen prodi yang tidak melakukan  reakreditasi memang menjadi prioritas kedua. Kemendiknas memprioritaskan  prodi yang belum pernah mengantongi akreditasi.</p>
<p>Wakil Mendiknas  Fasli Jalal menambahkan, jumlah prodi yang belum mengantongi akreditasi  sekitar lima ribu. Tahun ini Kementerian Pendidikan Nasional  (Kemendiknas) menargetkan memasukkan empat ribu prodi baru untuk  diakreditasi. &#8221;Tahun depan kami upayakan sisanya bisa terakomodasi agar  semua bisa tuntas,&#8221; terang Fasli.</p>
<p>Percepatan dan perpanjangan  akreditasi tersebut diupayakan bisa selesai 2011. Sebab, pada 2012,  seluruh prodi yang tidak terakreditasi tidak boleh mengeluarkan ijazah.  &#8221;Jika tetap mengeluarkan, ijazahnya tidak sah,&#8221; paparnya.</p>
<p>Dari penelusuran <em>Jawa pos</em> di situs ban-pt.depdiknas.go.id mencatat sebaran prodi di seluruh  perguruan tinggi di Indonesia. Tidak terkecuali PTN ternama. Misalnya,  di Universitas Sumatera Utara (USU) terdapat 53 prodi yang kedaluwarsa.  Di Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki 46 prodi yang juga belum  direakreditasi.</p>
<p>Di Universitas Indonesia (UI) tercatat 22 prodi  yang belum diperbarui akreditasinya dan ada sepuluh prodi di Universitas  Airlangga (Unair). Sementara di Universitas Gadjah Mada (UGM) terdapat  41 prodi yang kedaluwarsa. <strong>(nuq/c4/ari)</strong></p>
<p>Sumber: Jawa Pos, 19 Agustus 2010</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>5.000 Program Studi Belum Terakreditasi</strong></p>
<div><em>Pemerintah berharap ada kepastian kualitas program studi dari setiap perguruan tinggi. </em></p>
<div>
<p><strong> </strong>Wakil Menteri Pendidikan  Nasional Fasli Jalal mengatakan masih ada ribuan program studi di  perguruan tinggi yang belum terakreditasi. “Ada 5.000 yang belum  diakreditasi,” kata Fasli seusai upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI  di kantornya kemarin.</p>
<p>Padahal, kata dia, sejak 2005 pemerintah sudah meminta seluruh  perguruan tinggi swasta dan negeri mendaftarkan program studinya ke  Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi untuk diakreditasi.</p>
<p>Kewajiban akreditasi tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19  Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. “Sejak ditetapkan  peraturan tersebut, selama tujuh tahun perguruan tinggi harus sudah  terakreditasi semua,” kata mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi  ini.</p>
<p>Fasli mengatakan, pada 2012 program studi yang belum  terakreditasi maupun yang belum reakreditasi tidak berhak mengeluarkan  ijazah.</p>
<p>Menurut dia, Kementerian Pendidikan tidak bisa memaksa setiap  perguruan tinggi mengakreditasi program studinya. Akibatnya, kata dia,  masih ada program studi yang belum terakreditasi dan sejumlah program  studi yang sudah kedaluwarsa. Alasan keterlambatan akreditasi antara  lain perguruan tinggi merasa perlu menunggu dulu, bahkan ada yang merasa  tidak perlu.</p>
<p>Dengan masa akreditasi 5 tahun, pemerintah berharap ada kepastian  kualitas program studi dari setiap perguruan tinggi. “Supaya bisa  memastikan kualitasnya sama, lebih baik, atau kurang baik dibanding  sebelumnya. Makanya, perlu diakreditasi,” ujar Fasli.</p>
<p>Pemerintah berjanji menuntaskan semua program studi yang belum  terakreditasi maupun yang belum reakreditasi. “Diharapkan, sebelum 2012  nanti, sebelum penerimaan mahasiswa baru, sudah jelas akreditasinya  semua program studi di universitas,” kata dia.</p>
<p>Pada 2010, kata Fasli, pemerintah nyaris menuntaskan akreditasi  4.000 program studi. “Perhitungannya, kira-kira Rp 22 juta untuk  akreditasi setiap program studi. Kalau yang baru sudah diakreditasi,  yang lama (reakreditasi) silakan masuk,” tuturnya.</p>
<p>Faisal mengakui, keberadaan Badan Akreditasi Nasional-Perguruan  Tinggi sebagai satu-satunya badan pengakreditasi tidaklah mutlak. “Di  undang-undang memungkinkan ada badan akreditasi lain. Tapi, dalam  konteks pemerintah, hanya melihat Badan Akreditasi Nasional-Perguruan  Tinggi,” ujarnya. <strong>DIANING SARI</strong></p>
</div>
</div>
<p>Sumber: Koran Tempo, 19 Agustus 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/kedaluwarsa-2-788-prodi-perguruan-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisuk Siahaan, Sejarah Proyek Asahan</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/bisuk-siahaan-sejarah-proyek-asahan/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/bisuk-siahaan-sejarah-proyek-asahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 06:53:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=578</guid>
		<description><![CDATA[Menengok  sejarah industri Indonesia, sejak merdeka sampai kini, didapati tidak  sedikit kisah kegagalan. Beberapa megaproyek ada yang salah sejak  survei. Ada juga proyek yang gagal karena ditipu oleh mereka yang  mengaku ahli dari luar negeri. Ada yang gagal karena masalah sosial. Ada  juga proyek yang sebenarnya salah survei, tetapi dipaksakan tetap  beroperasi.
Proyek Asahan yang membangun pabrik  peleburan aluminium, PLTA Siguragura dan PLTA Tangga di Sumatera Utara,  dengan nilai investasi sekitar 4,5 miliar dollar AS merupakan megaproyek  yang sukses. Proyek ini berdasarkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menengok  sejarah industri Indonesia, sejak merdeka sampai kini, didapati tidak  sedikit kisah kegagalan. Beberapa megaproyek ada yang salah sejak  survei. Ada juga proyek yang gagal karena ditipu oleh mereka yang  mengaku ahli dari luar negeri. Ada yang gagal karena masalah sosial. Ada  juga proyek yang sebenarnya salah survei, tetapi dipaksakan tetap  beroperasi.</p>
<p><span id="more-578"></span>Proyek Asahan yang membangun pabrik  peleburan aluminium, PLTA Siguragura dan PLTA Tangga di Sumatera Utara,  dengan nilai investasi sekitar 4,5 miliar dollar AS merupakan megaproyek  yang sukses. Proyek ini berdasarkan survei akurat dan pengoperasian  tepat waktu. Proyek ini juga mendapat pengakuan dari dua perguruan  tinggi asing.</p>
<p>”Tahun 1961, begitu menjadi pegawai Departemen  Perindustrian Dasar dan Pertambangan (Perdatam), saya mulai merintis  proyek ini. Saya ditawari Menteri Perdatam Chairul Saleh untuk memilih  satu di antara ratusan proyek yang ditawarkan pemerintah. Saya memilih  Proyek Asahan,” kata mantan juru runding dan Ketua Tim Teknis Proyek  Asahan Bisuk Siahaan saat menginjakkan kaki di Kuala Tanjung, Kabupaten  Batubara, lokasi Proyek Asahan yang kini dikelola PT Indonesia Asahan  Aluminium (Inalum). Di tempat itu Bisuk mengenang kembali upayanya  mengegolkan Proyek Asahan hampir 50 tahun lalu.</p>
<p>Alumnus Jurusan  Teknik Kimia ITB itu berkisah, ia meminati proyek yang direncanakan  pemerintah melalui Pembangunan Semesta Berencana Delapan Tahun ini di  tengah sedikitnya tenaga ahli di Indonesia. Semasa kecil ia pernah  mendengar cerita dari kakeknya tentang proyek itu saat Pemerintah Hindia  Belanda ingin membangun pembangkit listrik, tak jauh dari rumah  kakeknya di Balige, Kabupaten Tapanuli Utara (kini Kabupaten Toba  Samosir).</p>
<p>”Karena cerita itu, ketika lulus ITB, saya langsung  mendaftar sebagai PNS di Perdatam. Saat itu kami yang lulus perguruan  tinggi seperti terpanggil menjadi PNS. Saat itu, saya merasa negara  membutuhkan saya,” kenang Bisuk.</p>
<p><strong>Hampir menyerah</strong></p>
<p>Tahun  itu juga ia diminta pergi ke Medan untuk mempersiapkan survei awal.  Dengan modal satu mesin tik ia segera mempersiapkan data awal untuk  menyambut tim survei dari Uni Soviet. Waktu itu, Uni Soviet berminat  membiayai Proyek Asahan. Tetapi, proyek ini dihentikan karena pemerintah  mengalihkan dana untuk program Ganyang Malaysia.</p>
<p>Meski survei  terlaksana, akhirnya proyek ini dihentikan karena meletusnya peristiwa  G30S. Sejak saat itu, Proyek Asahan hilang dari daftar proyek  pemerintah.</p>
<p>Meski pemerintah menghapus proyek ini, Bisuk  berprakarsa untuk mempromosikan proyek ini kepada investor asing. Dengan  biaya pribadi, ia membuat kantor dan mempekerjakan karyawan. Tiga tahun  ia berpromosi, tak ada yang berminat.</p>
<p>Kemudian ada calon investor  yang berminat, salah satunya adalah Kaiser Aluminium dari Amerika  Serikat. Sebuah tim survei didatangkan dari AS. Bisuk ikut dalam survei  di Kuala Tanjung.</p>
<p>”Saya hampir menyerah karena medannya sangat  sulit. Tetapi, salah satu anggota tim survei dari AS tetap yakin akan  menemukan tempat yang bisa digunakan sebagai lokasi pabrik, juga  pelabuhan,” tutur Bisuk.</p>
<p>Kaiser Aluminium meminta agar pemerintah  menyediakan PLTA karena ada aturan pihak asing tak diperbolehkan  mengelola listrik. Usulan ini tak disanggupi pemerintah sehingga Kaiser  Aluminium mundur.</p>
<p>Bisuk lalu mencari dana ke Bank Dunia. Bank  Dunia menyarankan agar proyek itu ditender secara internasional. Bank  Dunia hanya mau memfasilitasi tender itu. Tetapi, sampai waktu penutupan  pengajuan proposal, tak ada perusahaan yang mendaftar.</p>
<p><strong>Uang pribadi</strong></p>
<p>Proyek  Asahan kembali hilang, tetapi Bisuk tidak menyerah. Ia kembali mencari  investor. Salah satunya, Wakil Presiden Direktur Sumitomo Chemical H  Sugano dari Jepang. Sumitomo pun berminat. Mereka berunding. Selain di  Jakarta, Sumitomo meminta agar perundingan juga di Tokyo, harapannya  Pemerintah Jepang bisa terlibat dalam pembiayaan.</p>
<p>”Saya pikir  perundingan paling tiga kali, wah, ternyata sampai tiga tahun. Semua  biaya dari uang pribadi dan keluarga saya. Kepalang basah, saat itu saya  menyampaikan kepada Ketua Tim Teknis Penanaman Modal Asing BKPM Prof M  Sadli bahwa keluarga siap menanggung biaya perundingan,” katanya.</p>
<p>Ketika  soal anggaran terselesaikan, pemerintah menunjuk Ketua Tim Perunding  Prof M Sadli. Setelah sejumlah penundaan akibat krisis minyak dan  kesulitan keuangan Indonesia, Proyek Asahan menjadi proyek pemerintah  dengan investasi dari Jepang dan Indonesia.</p>
<p>Sejak itu, Bisuk  diminta menjadi Ketua Tim Teknis Proyek Asahan hingga proyek diresmikan  Presiden Soeharto, dan dikelola PT Inalum, mulai 1983.</p>
<p>Penyelesaian  proyek ini mengagetkan dunia internasional karena masih jarang industri  besar di negara berkembang bisa diselesaikan tepat waktu. Apalagi, saat  itu ada kasus industri baja di India yang gagal karena salah  perencanaan.</p>
<p>Dua perguruan tinggi di AS, Center for International  Studies Ohio University dan Pittsburg State University, mengadakan  penelitian selama beberapa tahun tentang kesuksesan ini. Kedua perguruan  tinggi itu memberikan penghargaan kepada Bisuk yang dinilai sukses.</p>
<p>”Kesuksesan  proyek ini bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi karena kemampuan  diplomasi dan yang terbesar adalah pendekatan sosial,” katanya.  ”Kesalahan terbesar dalam proyek-proyek kita adalah tak adanya  pendekatan sosial. Mungkin mereka merasa proyek akan berhasil hanya  bermodal dekat dengan penguasa.”</p>
<p>Bisuk berharap sukses Proyek  Asahan bisa dipelajari. Ia mengisi hari tuanya dengan menulis buku  sejarah industri di Indonesia dan Proyek Asahan. Sejarah industri di  Indonesia dicatat agar keberhasilan dan kegagalan menjadi pelajaran bagi  generasi berikutnya.</p>
<p><strong>ANDREAS MARYOTO</strong></p>
<p>Sumber: Kompas, Senin, 16 Agustus 2010 | 04:01 WIB</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Bisuk Siahaan Membangun Proyek Raksasa Asahan</strong></p>
<p>Bisuk Siahaan dan proyek bendungan raksasa Asahan, bagaikan dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Betapa tidak, sejak awal riset, perundingan dengan pihak investor yang penuh lika liku, hambatan politis, keuangan, dan sebagainya, sampai akhirnya proyek itu dibangun dan kemudian diresmikan hingga dioperasikan, Bisuk terlibat.</p>
<p>Bisuk,putra kelahiran Balige yang merupakan alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1955 menjadi pelaku dan saksi sejarah proyek besar, yang  memberikan konstribusi cukup besar dan berdampak dampak positif bagi masyarakat Sumatra Utara dan umumnya Indonesia sebagai negara berkembang yang dipercaya investor.</p>
<p>Proyek Asahan kat Bisuk, merupakan bukti otentik mengenai potensi alam, sekaligus menunjukkan potensi kehalian anak bangsa dalam memuwujudkan mimpi menyejahterakan rakyat. “Proyek ini menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu dan bisa membangun proyek besar terpadu, tegasnya</p>
<p>Sejak lulus ITB dan masuk sebagai pegawai Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan (Deperdatam). Dalam usia yang sangat muda, 26 tahun, Bisuk dipercaya menjadi Kepala Proyek Aluminium Asahan dengan tugas membangun Proyek Terpadu (integrated project) terdiri Pabrik Pengolahan Bauksit menjadi Alumina, Pabrik Peleburan (elektrolisa) Alumina menjadi batangan aluminium dan Pabrik Penggilingan Aluminium menjadi lembaran. Seluruh proyek itu  memperoleh listrik dari Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura di Asahan.</p>
<p>Mimpi mewujudkan proyek besar itu sempat kandas. Gejolak politik akibat Pemberontakan 30 September 1965/PKI mengubah tatanan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi, Proyek Asahan pun kena dampak dan likuidasi karena pemrintah menghadapai kesulitan keuangan. Padahal, sebelumnya pihak Uni Soviet tertarik, bahkan sudah melakukan survei bersama Bisuk Siahaan.</p>
<p>Bersamaan meredanya geolak politik dan perubahan kepemimpinan negara, proyek Asahan dihidupkan lagi tahun 1968 dan Bisuk Siahaan diangkat menjadi Kepala Tim Tehnis Pembangunan Proyek Asahan.</p>
<p>Sejak itu,  Bisuk memutar otak dan tak kenal lelah dan patah semangat untuk mewujudkan proyek Asahan, meski secara matematis, politis dan ekonomis, ketika itu, rasanya sulit membangun proyek besar dalam keadaan negara yang sulit.</p>
<p>Semangat pantang menyerah inilah yang kemudian ditulis Bisuk Siahaan dalam memornya berjudul “Proyek Asahan meantang Badai Demi Hari Depan”. Walaupun sudah memasuki usia 74 Tahun , sosok Bisuk Siahaan masih mengingat seluruh kejadian-kejadian yang dialaminya selama mengerjakan proyek Asahan,  termasuk ketika Bisuk dan keluarganya akhirnya membiayai sendiri seluruh ongkos perundingan RI- Jepang selama tiga tahun, 1972-1975.Padahal perundingan itu dilakukan di Jakarta dan Jepang dengan jumlah delegasi yang lumayan banyak.</p>
<p>Tetapi, Semua biaya yang dikeluarkan Bisuk itu seakan tak ada arti mengingat jepang akhirnya setuju dan mebiayai proyek ini menjadi Proyek Persahabatan Indonesia-Jepang dan resmi ditandatangani 7 Juli 1975 dalam rangkaian kunjungan Presiden Soeharto ke Jepang.Proyek ini akhirnya bisa rampung dalam kurun waktu 1978-1983.</p>
<p>Sementara PT Indonesai Asahan Alumnium (Inalum) yang dibangun dengan modal 411 miliar yen atau sekitar 4,2 miliar dollar AS dengan kurs saat ini, merupakan investasi asing terbesar ketika itu. Sesuai perjanjian, investor akan menyerahkan kepemilikan PT Inalum ke Pemintah Indonesia pada 2013, empat tahun lagi, diperkirakan Inodnesia akan mendapat devisa sekitar 750 juta dollar AS pertahun.</p>
<p>Bisuk mengharapkan, setelah kembali menjadi milik Pemerintah Indonesia, PT Inalum membawa dampak kemakmuran bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Atas jasa-jasa Bisuk mebangun Proyek Asahan ini, pemerintah pada Maret 2009 lalu mengabadikan nama Bisuk Siahaan sebagai nama jalan dengan nama “DR.Jalan Bsuk Siahaan” sepanjang 10 Km. Dalam upacara di persimpangan jalan antara Sidauruk dan jalan provinsi menjuju LTA Asahan.Bisuk, isteri dan keluarganya ikut hadir dalam peresmian nama jalan tersebut. Sebelumnya di tahun 1986, Bisuk menuliskan sejarah pembangunan proyek raksasa itu dalam buku  “Kenangan Membangun Proyek Raksasa Asahan”, (aya)</p>
<p>Sumber: Berita Sore, Desember 9, 2009<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<strong>DR Ir Bisuk Siahaan Dikukuhkan Nama Jalan di Tobasa</strong></p>
<p>Apresiasi dan penghargaan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir atas jasa-jasa serta pengabdian yang diberikan DR Ir Bisuk Siahaan ke Kabupaten Toba Samosir dengan pembangunan proyek raksasa pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura (Inalum red), maka nama DR Ir Bisuk Siahaan dikukuhkan sebagai nama jalan satu ruas mulai Jalan Simpang Sirait Uruk Porsea sampai Pos Simangkuk (perbatasan kecamatan Parmaksian) dengan Kecamatan Pintu Pohan.</p>
<p>Peresmian dan penetapan nama Jalan DR Ir Bisuk Siahaan yang juga merupakan besan (Hula-hula red) dari DR Sutan Raja DL Sitorus Ketua Dewan Pendiri Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) ini, ditandai dengan penandatanganan prasasti serta pembukaan selubung oleh Bupati Toba Samosir Drs Monang Sitorus SH MBA, DR Ir Bisuk Siahaan serta disaksikan tokoh masyarakat, Kepala Desa, para Camat se-kabupaten Tobasa dan keluarga termasuk DR Sihar Sitorus (menantu red) Caleg PPRN DPR RI Dapil Sumut II nomor urut 1, Sabtu (28/2).</p>
<p>Penetapan dan peresmian nama Jalan DR Ir Bisuk Siahaan ini sesuai ususlan dan aspirasi yang berkembang di masyarakat, para kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa serta tokoh masyarakat dari beberapa desa yang ada di Kecamatan Porsea dan Parmaksian tahun 2008 lalu. Rekomendasi Camat Porsea dan Parmaksian yang disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Toba Samosir dasar untuk menetapkan nama jalan tersebut, papar Bupati Toba Samosir Monang Sitorus.</p>
<p>Jasa besar dan pengabdiannya yang diberikan khususnya untuk Kecamatan Porsea,Parmaksian dan Pintu Pohan Meranti terutama dalam pendirian PLTA Sigura-gura sejak tahun 1970-an. Kehadiran PLTA ini,masyarakat di Sumut khususnya Toba Samosir dapat menikmati arus listrik sejak tahun delapan puluhan serta mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dengan kehadiran perusahaan yang menampung tenaga kerja yang besar khususnya masyarakat Batak, ungkap Monang Sitorus.</p>
<p>Sekedar mengenal Dr Ir Bisuk Siahaan putra Toba Samosir yang meneruskan proyek Asahan yang dikenal dengan “ Tugu Persahabatan” ini, dilahirkan di pinggir Danau Toba, 18 Nopember 1935, menyeslesaikan pendidikan Sarjana teknik kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Menapak karir di Departemen Perindustrian. Oleh Pemerintah RI pernah menugaskannya memperdalam ilmu bidang metalurgi ke Hongaria, Italia, Jerman Barat, Perancis dan Amerika Serikat.</p>
<p>Studi di beberapa pabrik peleburan aluminium di New Zealand, Jepang, Jamaika dan Kanada dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang akan dikembangkan membangun proyeks sejenis di Sumut. Tahun 1964 oleh Pemerintah RI diserahkan tugas untuk memimpin proyek aluminium di Asahan.</p>
<p>Dalam perjalanannya, banyak menghadapi berbagai tantangan, seiring terjadinya pergolakan di dalam negeri. Perubahan politik dan kelsulitan ekonomi akibat krisis minyak di Timur Tengah sempat mengancam proyek ini terhenti. Atas kepercayaan dirinya yang tinggi dan pantang mundur serta dapat meyakinkan Pemerintah Jepang untuk meneruskan proyek Asahan yang dikenal dengan “Tugu Persahabatan antara Indonesia -Jepang”. Tanggal 7 Juli 1975 ketika Perjanjian Induk proyek Asahan (Master Agreement for Asahan Hidroelectric and aluminium project) ditanda tangani, sambil berlinang air mata dan berkata di dalam hati, DR Ir Bisuk Siahaan, proyek raksasa dengan investasi sebesar US$ milyar, hari ini dinobatkan menjadi Tugu Persahabatan antara Indonesia-Jepang ,tanpa Pemerintah Indonesia mengeluarkan uang satu sen pun.</p>
<p>Di atas “pundak”nya dengan melibatkan 15000 karyawan bekerja siang dan malam, proyek Asahan yang pada saat itu merupakan pabrik terbesar di belahan Timur dunia yang jauh lebih besar dari pabrik yang ada di jepang ataupun Australia, diselesaikan dalam waktu 1735 hari.</p>
<p>Pernah juga sebagai Diplomat jadi Duta Besar RI di Wasington DC. Tahun 1983-1988 Asean Chamber of Commer sebagai ketua Asean Aluminium Club.Oleh United Nation Industrial Organization (UNIDO) mengangkat sebagai seorang aluminum expert Group. Komisaris utama Pabrik semen Baturaja, Komisasris Aneka Gas, komisaris semen Tonasa dan komisaris pupuk Sriwijaya.(T11/g)</p>
<p>Sumber: Harian SIB, Maret 1st, 2009<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Setahun setelah memperoleh ijazah Jurusan Kimia Teknik ITB, 1961, Bisuk diterima bekerja pada Departemen Perindustrian. Ketika itu ia ditanya mau ditempatkan di mana: Pabrik Baja Trikora (kini Krakatau Steel), Pabrik Pupuk Pusri, atau Proyek Asahan. Ia memilih yang terakhir.</p>
<p>Anak kedua dari lima bersaudara pensiunan jaksa tinggi itu dekat dengan kakeknya. Sang kakek, bekas demang di Asahan, suka bercerita tentang masa mudanya: kerap diajak menyertai petugas survei Belanda yang merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Asahan. &#8221;Pokoknya, makmurlah kita kalau proyek ini terlaksana,&#8221; ujar Bisuk, menirukan kata-kata sang kakek.</p>
<p>Merantau ke Jawa sejak di bangku SD, begitu merampungkan SMA, ia mulanya mendaftar di FK UI. Takut ditugasi di kamar mayat, Bisuk lalu pindah ke FE UI. Tetapi, ini pun ditinggalkannya, karena rumahnya terlalu jauh dari kampus. Masuk Fakultas Psikologi, kuliah bubar sendiri karena tidak ada pengajar. Kemudian ia mendaftar di STO, Bandung, akhirnya menetap di ITB.</p>
<p>Pendidikan dan latihan tambahan di Hungaria dan Italia, di bidang metalurgi dan aluminium, seperti mendukung angan- angannya tentang Proyek Asahan. Menjadi Kepala Perwakilan Proyek Asahan di Medan, ia sempat bingung &#8212; bekerja tanpa dokumen, surat kuasa, uang, dan pengalaman, kecuali sebuah mesin ketik. Namun, harapannya mulai timbul ketika mendampingi pihak Uni Soviet, yang waktu itu akan menangani pembangunan proyek tersebut. Pecahnya G-30-S/PKI, 1965, menggagalkan rencana.</p>
<p>Kembali ke Jakarta, Bisuk membuka kantor dengan tiga staf &#8212; yang honorariumnya dibayar dengan sumbangan kiri kanan. Jadinya, ia hanya dapat membuat paper tentang situasi aluminiun dunia, yang ia kirimkan ke beberapa instansi pemerintah. &#8221;Agar pemerintah tidak melupakan Proyek Asahan,&#8221; kata pria Batak yang pemalu dan rendah hati itu.</p>
<p>Juni 1984, ayah tiga anak itu melepaskan jabatannya selaku Wakil Ketua Otorita Pengembangan Proyek Asahan (OPPA) &#8212; setelah sekitar 20 tahun berupaya merealisasikan angan-angan masa kecilnya. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) telah berdiri untuk mengelola pabrik peleburan aluminium di Kualatanjung, dan dua PLTA, di Sigura-gura dan Tangga dirampungkan. Kembali ke Departemen Perindustrian, ia menjabat Kepala Pusat Pengolahan &amp; Analisa Data.</p>
<p>Insinyur yang mampu menulis dan memotret itu berhasil merekam pengalaman dan pandangannya tentang Proyek Asahan, lewat bukunya yang terbit pada 1984, Sejarah Pembangunan Proyek Asahan.</p>
<p><img class="alignleft" style="border: 3px solid black; margin: 3px;" src="http://www.pdat.co.id/ads/img/bisuksiahaan.jpg" alt="" width="139" height="200" />Nama :<br />
BISUK SIAHAAN</p>
<p>Lahir :<br />
Balige, Sumatera Utara, 18 November 1935</p>
<p>Agama :<br />
Protestan</p>
<p>Pendidikan :<br />
-SD, Bogor (1949)<br />
-SMP, Bogor (1952) SMA I, Jakarta (1955)<br />
-ITB Jurusan Kimia Teknik, Bandung (1960)<br />
-Pendidikan tambahan untuk Metalurgi dan Alumina Hungaria (1960)<br />
-Job training di Italia (1963)</p>
<p>Karir :<br />
-Komisaris Utama PT Semen Baturaja<br />
-Wakil Ketua Asean Non-Ferrous Industries Federation<br />
-Ketua Federasi Aluminium Indonesia<br />
-Wakil Ketua Otorita Pengembangan Proyek Asahan (sampai 1984)<br />
-Kepala Biro Data dan Analisa, Departemen Perindustrian (1984- sekarang)</p>
<p>Karya :<br />
Sejarah Pembangunan Proyek Asahan, 1984</p>
<p>Alamat Rumah :<br />
Jalan H. Nawi I/17, Cilandak, Jakarta Selatan Telp: 766632</p>
<p>Alamat Kantor :<br />
Departemen Perindustrian Jalan Gatot Subroto, Kapling 52w53, Jakarta Telp: 512194</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/bisuk-siahaan-sejarah-proyek-asahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
