Home » Artikel

E-learning Lebih Prolingkungan

12 September 2011 767 views No Comment

DULU, manusia memiliki tiga kebutuhan primer, yaitu sandang, pangan, dan papan. Namun, seiring dengan kemajuan zaman, ada kebutuhan primer lain, yaitu pendidikan. Tidak dapat dimungkiri bahwa pendidikan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan, terlebih pada era kekinian. Untuk bisa hidup di dunia yang serbakompleks, tanpa pendidikan, seseorang hanya akan dibodohi oleh manusia lainnya (homo homini lupus). Pemerintah pun mewajibkan warga negaranya belajar 9 tahun, artinya wajib menempuh pendidikan setidaknya lulus SMP agar memperoleh penghidupan yang lebih layak.
Seiring dengan kemajuan tingkat pendidikan, kebutuhan akan buku makin meningkat. Padahal untuk membuat sebuah buku perlu kertas, sedangkan kertas dibuat dari serat kayu, jadi makin banyak kita menggunakan buku makin banyak kita harus menebang pohon. Tentu kita tidak menginginkan majunya tingkat pendidikan berbanding terbalik dengan perusakan lingkungan. Padahal kini  lingkungan makin rusak dan ancaman global warming pun sudah terjadi.

Lalu solusi apa yang bisa ditawarkan untuk keluar dari permasalahan tersebut? Solusinya adalah memanfaatkan e-learning, yaitu pola pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer atau internet. Pengguna nantinya mendapatkan semacam perpustakaan elektronik, hasil dari men-download buku (e-book) yang mereka inginkan.

E-learning menggunakan konsep website sebagai media yang di dalamnya berisi kumpulan e-book, dan siswa/ mahasiswa yang sudah terdaftar dapat dengan mudah mengunduh e-book yang mereka perlukan. Pengertian e-book sendiri adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri atas kumpulan lembar kertas yang dapat berisikan teks atau gambar maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar.

Dewasa ini buku elektronik makin diminati karena ukurannya kecil bila dibandingkan dengan buku, dan juga umumnya memiliki fitur pencarian, sehingga kata-kata dalam buku elektronik dapat dengan cepat dicari dan ditemukan. Terdapat berbagai format buku elektronik yang populer, antara lain adalah teks polos, pdf,jpeg, lit, dan html. Masing-masing format memiliki kelebihan dan kekurangan, bergantung pada alat yang digunakan untuk membaca buku elektronik tersebut.

Salah satu usaha untuk melestarikan literatur berbentuk buku yang banyak jumlahnya dan memerlukan biaya perawatan yang mahal adalah dengan melakukan transfer dari bentuk buku ke bentuk buku elektronik. Dalam hal ini akan banyak ruang dan juga upaya yang dihemat untuk merawat literatur-literatur tersebut.

Prolingkungan

Dalam kasus e-learning, e-book dimasukkan dalam website. Situs juga dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).

Dalam praktiknya ada 3 komponen utama dalam e-learning, yaitu administrator, instructor, dan student . Tiga komponen ini berfungsi sebagai pembagian hak akses sistem sehingga dapat menjamin keamanan sistem itu sendiri. Administrator bertugas untuk mengatur jalannya seluruh proses dalam e-learning, semisal membuat username baru untuk guru, mengubah tampilan dan sebagainya. Instructor (guru) bertugas meng-upload materi pelajaran ke dalam e-learning sehingga materi pelajaran bisa diakses/ diunduh oleh student. Adapun tugas student adalah mengunduh materi pelajaran yang sudah disediakan guru.

Banyak manfaat yang diperoleh dari e-learning.  Misalnya, memudahkan kepala sekolah memantau proses kegiatan belajar mengajar, mempersingkat waktu penyampaian laporan akademik siswa ke kepala sekolah, dan memudahkan siswa mendapatkan materi pembelajaran tambahan dari guru tanpa bertatap muka. Dalam konteks pelestarian lingkungan, cara ini lebih green karena tidak memerlukan kertas yang berarti tidak perlu menebang pohon di hutan. Selain itu, menghemat biaya karena tidak memerlukan kertas. (10)

Albert Budi Christian, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Ketua Lembaga Pers Mahasiswa ’’Paraga’’ Unika Soegijapranata Semarang

Sumber: Suara Merdeka, 3 September 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.