Home » Profil Ilmuwan, Sosok

Dr Debora, Revolusi Budi Daya Plankton

22 November 2016 51 views No Comment

Dia satu-satunya perempuan yang bulan Maret 1997 diwisuda sebagai doktor di auditorium Universitas Nagasaki, Jepang. Saat itu rektor turun dari panggung kehormatan mendatangi dan membimbingnya menaiki panggung wisuda. Perlakuan khusus ini bukan karena ia satu-satunya wanita di tengah para wisudawan dari berbagai negeri, tapi karena sumbangan besamya terhadap ilmu pengetahuan.

Dr Ir Mensiana Debora Balompapueng MSc (35), wanita Indonesia itu, adalah pakar budi daya perikanan laut. Hasil karyanya telah mencengangkan dunia perikanan di J epang.

Temuannya membuat kagum para kolega, dan menggiurkan para usahawan perikanan, karena dapat menghasilkan uang banyak. Ia menemukan cara mengawetkan dan memproduksi massal plankton, yang selama ini sulit dirawat dan didistribusi.

Disertasinya berjudul Studies on Technological Development of Mass Production and Preservation of Marine Rotifer Brachionus Resting Eggs sekaligus membuka babak baru dunia perikanan, terutama bidang marine culture.

Serangkaian temuan dalam disertasinya menyangkut pemeliharaan massal, penyimpanan, dan pengawetan, yang belum pernah dilakukan ahli lain. Puncak dari temuan itu adalah menyederhanakan seratus kali lipat sebuah pekerjaan budi daya plankton rotifer.

Budidaya perikanan laut di Jepang sudah menjadi industri yang strategis. Ikan (laut), lebih khusus lagi tuna, adalah makanan utama orang Jepang dan erat dengan budaya serta kepercayaan orang Jepang.

Di Jepang usaha budi daya tuna semakin marak. Tidaklah heran kalau ketersediaan plankton sebagai makanan utama ikan yang dibudi daya menjadi amat penting. Kendala utama penyediaan plankton adalah terbatasnya distribusi plankton serta risiko kematian plankton yang amat tinggi. Debora menemukan teknologi mengatasi kendala itu sekaligus melipatgandakan peluang ketersediaan plankton.

20161121_060841wKENDATI temuan Debora terbatas untuk menopang industri budi daya perikanan laut tetapi diyakini kelak bisa menjadi solusi dasar yang sangat efisien untuk ikut mengatasi dan memecahkan ancaman krisis plankton di berbagai perairan laut yang memang ”miskin” plankton. Rendahnya tingkat ketersediaan plankton akan sangat mengancam ekosistem laut, mengancam ketersediaan biota laut. Tanpa plankton laut segar akan menjadi ”laut mati”.

Perairan Jepang tak cukup lagi menyediakan plankton. Debora sendiri pernah membuktikan hal itu, ketika bersama tim peneliti dari berbagai negara ia pernah turun ke laut Jepang dibantu robot kamera. Mereka masuk ke salah satu sisi perairan laut di Jepang Selatan. Berulang kali robot mengirim informasi di layar monitor kondisi laut itu kosong, tidak ada secuil pun kehidupan yang tampak di bawah laut. Tidak ada biota laut, karena tidak ada plankton.

Kini Jepang sudah harus menyediakan tenaga dan dana ekstra membudidayakan plankton dalam tangki-tangki container. Plankton dalam kontainer itu diangkut dari satu kawasan ke kawasan lain. Dengan temuan Debora, semua itu bisa ditanggulangi hanya dengan satu metoda pengawetan benih plankton rotifer, dan bisa massal.

Melalui teknologi pengawetan benih, plankton rotifer dapat dikemas dalam kaleng dengan suhu tertentu. Setiap kaleng seukuran kaleng cornet beef dapat menampung sekitar100 juta telur plankton rotifer. Ini merupakan 100 kali lipat dibanding kemampuan pengadaan plankton secara konvensional dengan wadah tangki-tangki, dan risiko kematian yang tinggi.

Ini sebuah revolusi dalam budi daya plankton rotifer, karena terjadi penghematan besar-besaran dalam penyediaan tempat penampungan dari ukuran kontainer (peti kemas) ke sebuah kaleng kecil. Pada saat sebuah kawasan budi daya perikanan membutuhkan plankton maka tinggal membuka satu dua kaleng untuk makanan ikan.

SEBELUM merampungkan temuannya, Debora mendapat kesempatan tampil di beberapa forum ilmiah seperti simposium dan seminar perikanan di Mie, Kyoto, dan Nagasaki. Jaringan televisi Jepang pun memburunya hanya untuk menjelaskan temuannya bahwa makhluk plankton yang amat kecil dan sensitif itu dapat dibudidayakan dan diawetkan kemudian diproduksi secara massal dalam kaleng-kaleng.

Bahkan setelah itu, beberapa rekannya dari sejumlah negara langsung merancang sebuah usaha bisnis memproduksi plankton rotifer secara massal untuk Jepang dan sekitarnya.

”Jika usaha komersial itu jadi, saya akan diajak dan ini yang pertama di dunia. Tapi bagi saya yang terbaik kalau itu diproduksi di Indonesia,” katanya.

Debora berhasil merampungkan studi master dan doktor selama enam tahun di Nagasaki University. Praktis dia hanya membutuhkan waktu lima tahun menyelesaikan studi S2 dan S3 dengan fasilitas beasiswa pemerintah Jepang (Monbusho), sebab satu tahun pertama digunakannya untuk mempelajari bahasa Jepang. Ia lulus S1 perikanan tahun 1985 pada Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado.

Di negeri Matahari Terbit itu sambil studi dia bekerja selama dua tahun bersama Prof Atsushi Hagiwara yang sempat membujuknya untuk tetap tinggal dan mengajar di Jepang dengan imbalan yang menggiurkan, Tetapi ibu dari seorang putri bemama Linda bersama suaminya Ir Lanny Inkiriwang ini, memilih pulang.

DEBORA lahir 22 Desember 1961 di tengah keluarga pendidik. Ayahnya asal Sangihe Talaud dan ibunya dari Minahasa, adalah guru. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi ilmuwan.

”Saya memang suka bertualang. Syukur petualangan saya justru ada dalam jalur memburu ilmu,” kata Debora.

Baginya salah satu kenikmatan adalah meraih hal-hal baru di tengah misteri alam raya.

”Saya pernah harus berdiri terus tanpa tidur selama dua hari tiga malam di laboratorium. Karena memang pekerjaan di laboratorium ketika itu tidak bisa dihentikan sebelum tuntas,” katanya mengenang.

Serangkaian prestasinya itu kini membuat ia diburu-buru beberapa pengusaha Jepang, media massa Jepang, serta pakar plankton Jepang, untuk bekerja sama. Dia lebih memilih tinggal dan berkarya di negeri sendiri.

”Jika tuan-tuan membutuhkan saya datanglah ke Indonesia. Mungkin Indonesia yang akan memproduksi benih plankton untuk negeri Anda,” kata Debora.

Indonesia produsen plankton secara massal?
”Itu sangat mungkin. Selain teknologinya sudah tersedia negeri kita juga punya plankton yang melimpah dan dan berkualitas,” katanya. Itulah kerinduan saya, mengekspor plankton ke Jepang dan negara lain”.

WANITA pintar yang biasa dipanggil Dheske itu tidak berhenti meneliti. Sekarang dengan laboratorium yang seadanya di Universitas Sam Ratulangi dia coba mengembangkan apa yang dihasilkan di Jepang di samping membimbing sejumlah mahasiswa.

”Mungkin saya akan kembangkan telur plankton rotifer dalam kemasan yang lebih praktis,” ujar wanita energik yang gemar makan ikan ini. Katanya,”temuan saya masih bisa disederhanakan lagi.”

Fasilitas laboratorium yang sederhana itu tidak menyurutkan semangatnya. Kini dia sudah mengoleksi dan memelihara aneka plankton rotifer di dalam wadah yang serba darurat.

”Kami terpaksa menggunakan botol-botol aqua bekas dan peralatan darurat lainnya. Daripada tidak berbuat sama sekali,” katanya mengomentari kondisi laboratorium universitas di Manado itu. (Freddy Roeroe)

Sumber: KOMPAS, SABTU, 26 JULI 1997

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.