Home » Astronomi, Berita

Dari Pekan Antariksa 2001, Terbanglah Tinggi, Sebelum Punya Roket Pun Dilarang

20 October 2001 99 views No Comment

Bumi merupakan buaian pikiran, tetapi orang tidak dapat selamanya tinggal dalam buaian. (Konstantin E Tsiolkovsky, 1857-1935, Bapak Peroketan Rusia)
OLEH Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bangsa-bangsa di dunia dianjurkan untuk menyelenggarakan pekan antariksa (space week) setiap bulan Oktober. Aslinya, bulan Oktober dipilih untuk acara seperti ini adalah untuk mengenang peluncuran satelit buatan manusia pertama, yakni Sputnik milik Uni Soviet pada bulan Oktober 1957.

Peristiwa yang saat itu amat menggemparkan itu kemudian diikuti dengan apa yang kemudian dikenal sebagai “lomba antariksa”, di mana kekuatan besar dunia-AS dan Uni Soviet-bersaing ketat untuk menaklukkan antariksa.Sekadar menambah latar belakang, lomba itu ditandai antara lain dengan pembuatan roket peluncur lebih besar, penempatan antariksawan ke orbit, peluncuran wahana tak berawak ke Tata Surya, dan akhirnya pendaratan manusia di Bulan.

Di Indonesia, Pekan Antariksa 2001 diselenggarakan di Aula Barat ITB 11 Oktober 2001, sekaligus merupakan bagian dari rangkaian acara “50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia”. (lihat halaman 33)

Menampilkan sejumlah pembicara astronom terkemuka Prof Dr Bambang Hidayat, Dr Taufiq Hidayat (Ketua Jurusan Astronomi ITB), Prof Dr Harijono Djojodihardjo (Departemen Teknik Penerbangan ITB dan mantan
Ketua Lapan), Ir Hasanuddin ZA MSc PhD (Departemen Geodesi ITB), dan Ir Utoro Sastrokusumo, diskusi tentang pemanfaatan ruang angkasa bagi pembangunan masyarakat ini disimak dengan tekun oleh guru-guru SMU, mahasiswa, dan pelajar di Bandung.

Para hadirin diajak “terbang tinggi”, sejenak meninggalkan Bumi dengan segala urusannya yang acap kali dirasakan absurd. Pada benak orang pada umumnya, mungkin saja antariksa tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sehingga kurang ada keperluan untuk membicarakannya dengan sungguh-sungguh. Atau, seperti diwakili oleh
pertanyaan seorang hadirin, anak muda, “Untuk apa kita mempelajari bintang, galaksi, atau bintang hantu (black hole) ?”

Sebaliknya, di antara para guru yang hadir ada yang menyampaikan, bahwa kurikulum menyangkut antariksa dan astronomi di SMU-sebagai lapang pembenihan minat bagi studi antariksa-masih kurang memuaskan.

Kini, antariksa sering disebut sebagai perbatasan terakhir umat manusia (human’s last frontier), artinya manusia ibaratnya telah menjangkau seluruh wilayah Bumi, dan selanjutnya ingin melangkah lebih jauh, dan antariksalah tujuan manusia, baik untuk menunjang hajat hidupnya di Bumi, maupun untuk mempersiapkan masa depan.
Dalam buku terbarunya, The Universe in A Nutshell (Alam Semesta secara Ringkas), ahli fisika besar Inggris Stephen Hawking, menyinggung, bahwa solusi bagi umat manusia di masa depan adalah koloni antariksa, dan karena itu manusia perlu mempersiapkan diri dari sekarang.

Sebelum Hawking menyampaikan pandangannya dalam buku barunya itu, sebetulnya juga telah banyak kalangan yang menyadari, bahwa pada akhirnya Bumi akan menjadi terlalu kecil untuk menunjang kehidupan.
Kebutuhan bahan pangan manusia yang jumlahnya terus bertambah, semakin sulit dipenuhi oleh Bumi yang lahannya semakin sempit didesak oleh permukiman manusia. Selain itu, secara umum, lingkungan Bumi juga bakal tidak nyaman lagi untuk dihuni, apakah karena semakin kotor udaranya, atau semakin panas, atau banyak yang
tenggelam karena pemanasan global menyebabkan mencairnya es di tudung kutub.

Umat manusia harus mencari lahan hidup atau lebensraum baru di antariksa, membuat koloni baru di Bulan, di planet, atau bahkan kelak di masa depan jauh di Tata Surya lain. Jadi, sebenarnya migrasi manusia ke kediaman lain hanyalah tinggal soal waktu.

Semakin diakui kemanfaatannya
Bila daratan semakin sempit bagi pemenuhan ruang hidup dan kebutuhan manusia, lautan kini dilirik sebagai sebuah alternatif. Tetapi, selain itu, antariksa pun menawarkan kemanfaatan.

“Tidak hanya karena luasnya saja antariksa diminati untuk menjadi tumpuan masa depan, tetapi juga karena sifat khasnya. Sifat khas itu tidak lain (adalah) keadaan tanpa bobot,” kata Prof Bambang Hidayat dalam ceramahnya.

Selain itu, antariksa menyediakan kesempatan untuk melaksanakan tugas yang tak mungkin dilakukan dari tempat di bumi, atau sebaliknya, tugas itu dapat dilakukan dengan lebih efisien dan efektif jika dilaksanakan di antariksa.

Penggunaan orbit untuk berbagai tujuan telah dilakukan, yakni dengan pengiriman satelit, dalam orbit rendah maupun geostasioner, untuk kepentingan sipil maupun militer, mulai dari telekomunikasi, cuaca, sumber daya alam, dan ilmiah.

Indonesia, sebagai negara dengan rentang geografis besar- sekitar 5.000 kilometer dari Barat ke Timur, atau sebanding dengan Amerika kontinental-jelas memiliki kebutuhan alamiah dalam pemanfaatan antariksa. Selama ini pemanfaatan terutama masih di bidang telekomunikasi, dan melalui hasil-hasil penginderaan jauh, juga
telah dimulai untuk pengelolaan sumber daya alam dan pemantauan cuaca.

Dengan semakin terbatasnya sumber daya yang tersedia, dan juga dilandasi oleh hasrat untuk memanfaatkan secara lebih optimal sumber daya alam, seperti yang ada di laut, masuk akal bila kebutuhan untuk mendayagunakan hasil-hasil pemanfaatan antariksa akan lebih banyak lagi, khususnya dalam inventarisasi sumber daya alam.

Negara-negara maju selain terus meningkatkan pemanfaatan antariksa seperti yang disinggung di atas, juga terus mengembangkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi antariksa. Hal ini tampaknya akan didukung secara berarti dengan hadirnya stasiun angkasa ISS yang kini terus dirampungkan perakitannya.

Ke depan, kegiatan negara maju di angkasa tampaknya akan difokuskan pada empat pokok kegiatan menurut kemanfaatannya, yakni: bidang jasa (misalnya penyediaan informasi melalui satelit), produksi (mungkin
untuk bahan farmasi), energi (yang kelak dibutuhkan untuk misi jarak jauh dengan muatan besar), dan kegiatan manusia.

Besar kendalanya
Sementara kemanfaatannya semakin dinikmati oleh banyak kalangan, khususnya yang telah lebih dahulu mengembangkan kemampuan dan teknologinya, prinsip keadilan masih sulit ditegakkan bagi setiap bangsa.

Sebagaimana dalam pemanfaatan teknologi nuklir yang diawasi ketat oleh badan pengawasan internasional-dalam hal ini IAEA (International Atomic Energy Agency)-ibaratnya setiap negara harus mempertanggungjawabkan setiap gram uranium yang dipergunakannya, pengembangan teknologi peroketan (sebagai unsur penting dalam
eksplorasi dan eksploitasi antariksa) kini sudah amat dikekang.

AS dan sejumlah sekutu Baratnya mulai tahun 1987 telah menegakkan satu rezim pembatasan yang dikenal dengan nama MTCR (Missile Technology Control Regime). Meski yang disebut eksplisit adalah misil atau rudal, hakikatnya pelarangan sudah dimulai dari upaya pengembangan teknologi peroketan.

Pengalaman memperlihatkan, bahwa tatkala Lapan mengembangkan roket eksperimental RX-250, jurnal pengkajian strategis IISS di London telah menyebutkan Indonesia sedang mengembangkan rudal jarak sedang.
Kekangan ini tentu saja semakin keras ketika AS melihat sejumlah negara yang ia golongkan sebagai negara bengal (rogue states) mencoba menguasai rancang-bangun untuk membuat sendiri rudal balistiknya sendiri, yang selain bisa dipasangi hulu ledak nuklir juga biologi dan kimia. Momentum untuk mengekang ini tentunya juga
jadi makin besar menyusul insiden serangan di AS tanggal 11 September lalu.

Akan tetapi, karena kegiatan eksplorasi antariksa mustahil dilakukan tanpa penguasaan kemampuan di bidang peroketan, maka Lapan sebagai lembaga yang bertanggung jawab mengembangkan kemampuan Indonesia di
bidang keantariksaan tetap harus mencari jalan untuk mengatasi kendala ini.

Kendala lain yang bisa disebut tentu saja sumber daya manusia (SDM) dan biaya. Pembuatan roket, atau satelit, serta sarana penelitian antariksa lain jelas membutuhkan biaya tidak sedikit, bahkan yang sedikit pun masih bisa ditafsirkan kemewahan bagi bangsa yang tengah terpuruk seperti Indonesia.

SDM mungkin memang merupakan satu kendala. Tetapi, melihat kelompok peneliti yang ada di Lapan, juga di Jurusan Astronomi ITB, atau dulu yang sempat bergabung dengan IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia), sebenarnya kemampuan intelektual bangsa Indonesia tidak perlu pesimis. Yang lebih dibutuhkan adalah justru kepemimpinan yang punya sense of mission dan sense of direction, guna membawa ahli-ahli berbakat Indonesia kepada program yang fundamental bagi pengembangan kejayaan bangsa.

Menyemaikan minat
Mengikuti diskusi, para guru SMU yang hadir di acara diskusi Pekan Antariksa di ITB ini tampaknya seperti tergerak untuk menyebarluaskan wawasan dan spirit keantariksaan pada anak asuh dan generasi muda pada umumnya.

Pada segi lain, sebenarnya sewajarnyalah semangat keantariksaan itu hidup di kalangan warga Indonesia. Bangsa ini, yang punya tradisi dan kebanggaan sebagai bangsa maritim-karena tinggal di Benua Maritim satu-satunya di dunia, atau di archipelago paling besar di dunia-memang sudah waktunya menoleh pada antariksa, ranah perbatasan terakhir yang kini memang sudah didominasi oleh bangsa-bangsa maju, yang tampaknya amat berambisi menjadi space-faring nations (bangsa-bangsa penjelajah antariksa).

Bangsa Indonesia selain masih harus menggugah kembali jati dirinya sebagai sea-faring nation (penjelajah lautan), kenyataannya juga telah dihadapkan pada tantangan untuk menjadi bangsa penjelajah antariksa. Kalau kesadaran ini tak kunjung muncul, maka-seperti disinggung Prof Bambang Hidayat-akan terbangun satu era baru
bercorak hubungan antara kolonialis dan negara jajahan seperti di abad ke-19, di mana negara maju akan melakukan pengawasan terhadap setiap negara berkembang tanpa dapat dihalangi.

Ketakutan adanya kesenjangan yang makin besar sebagai hasil pemanfaatan teknologi antariksa antara negara maju dan negara berkembang memang sempat melahirkan pertanyaan, “Space for whom ?” kata Bambang Hidayat mengutip ucapan Voute tahun 1985.

Hanya saja, masalahnya memang tanpa adanya upaya negara berkembang untuk secara konsisten merebut peluang dalam bidang ini, keluhan akan ketidakadilan itu hanya akan berhenti pada keluhan semata.

Atas dasar itulah, berbekal pada kesadaran akan pentingnya antariksa, Indonesia perlu merumuskan kembali kebijakan dan visinya mengenai antariksa. Dalam kaitan ini, ada sejumlah hal yang dapat diusulkan.

Pertama, tentu saja apa yang telah dilakukan oleh Lapan, oleh Jurusan Astronomi ITB, perlu didorong kontinuitasnya, bahkan bila memungkinkan dikembangkan. Kedua, bidang-bidang yang memang secara
riil dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pertanian, transportasi, pengelolaan sumber daya alam, dapat diberi perhatian lebih besar.

Berikutnya, mengingat upaya menumbuhkan dan menyebar-luaskan minat dan wawasan antariksa merupakan upaya jangka panjang, maka kurikulum pendidikan pun kiranya dapat memberi perhatian lebih memadai lagi
untuk bidang ini. Dan akhirnya, dalam situasi serba terbatas, dan di pihak lain juga mengingat peluang di luar untuk ini terbuka, maka satu unsur yang juga penting adalah menggalang kerja sama internasional secara konsisten sehingga ahli Indonesia dapat memelihara akses terhadap pengetahuan dan teknologi keantariksaan.

Tanpa visi dan misi yang gamblang, maka-tatkala keadaan Bumi semakin runyam dan tak layak huni-hanya bangsa-bangsa lainlah yang dapat mengikuti apa yang telah diramalkan oleh Tsiolkovsky yang ucapannya
dikutip di awal tulisan ini. Bahkan, mungkin untuk membuat roket pun Indonesia sudah tidak bisa lagi. (nin)

Sumber: Kompas, Sabtu, 20 Oktober 2001

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.