Home » Artikel, Berita

Dam Sabo Penahan Lahar

10 November 2010 2,155 views No Comment

Ancaman lahar dingin akibat erupsi Gunung Merapi yang meneror warga kota Muntilan, Jawa Tengah, hingga Kota Yogyakarta bisa jadi lebih dahsyat apabila tak ada penahan di bagian hulu sungai. IRINE SARWINDANINGRUM dan GESIT ARIYANTO

Di sejumlah sungai di kawasan lereng Merapi, ada 200 dam sabo yang berfungsi sebagai penahan luncuran material vulkanik dalam bentuk lahar dingin.

Dalam dua pekan terakhir, pascaletusan Merapi, jutaan material vulkanik memenuhi sungai-sungai di lereng Merapi. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), volume material vulkanik yang dikeluarkan Merapi per Selasa (9/11) diperkirakan mencapai 140 juta meter kubik.

Meski tidak ada data persisnya, Kali Gendol merupakan sungai yang menampung volume material vulkanik terbesar. Sebagian endapan pasir bercampur lumpur telah melintasi Kali Opak—bagian hilir Kali Gendol—di Kabupaten Bantul dan Kali Code—bagian hilir Kali Boyong.

Saat ini sebagian dam sabo telah dipenuhi material vulkanik, mulai dari pasir, lumpur, kerikil yang ditambah dengan batang-batang pohon, hingga batu-batu seukuran mobil. Tanpa dam itu, batu-batu besar akan menggelinding hingga sungai-sungai di perkotaan tanpa hambatan.

Nama sabo berasal dari bahasa Jepang. Sa berarti pasir, sedangkan bo berarti pengendalian. Dam sabo lebih kurang berarti bendungan pengendali pasir atau material vulkanik.

Secara teknis, dam sabo adalah bangunan mengambang (fondasi dangkal) yang tersusun secara seri dalam satu kesatuan sistem penanggulangan sungai. Pada satu badan sungai ada lebih dari satu dam sabo.

Proyek sabo dimulai pada 1970 di Gunung Merapi, Gunung Kelud, dan Gunung Agung. Proyek itu merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Jepang. Satu tahun sebelum proyek dikerjakan, Merapi meletus memuntahkan 22 juta meter kubik material vulkanik.

Atas pertimbangan bahwa Merapi adalah salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia, bahkan dunia, jumlah dam sabo di Merapi adalah yang terbanyak di Indonesia.

Menurut Kepala Balai Sabo Chandra Hassan, saat ini terdapat 114 dam sabo di seluruh DI Yogyakarta yang tersebar di empat sungai, 20 di Kali Gendol, 43 di Kali Boyong, 15 di Kali Kuning, 25 di Kali Krasak, dan 11 di Kali Bebeng. Fungsi utama sistem dam sabo adalah mengontrol aliran lahar untuk mengurangi daya hancurnya.

Meski semua disebut dam sabo dan bentuknya mirip satu dengan lainnya, sebenarnya masing-masing mempunyai jenis dan fungsi berbeda-beda. ”Tidak semuanya untuk menahan lahar, tetapi ada banyak fungsi yang bisa disesuaikan kebutuhan,” katanya.

Jenis sabo

Salah satu jenis dam sabo adalah dam konsolidasi yang berfungsi sebagai penahan. Dam sabo jenis ini biasanya terletak di paling hulu sungai jalur aliran lahar. Dam ini merupakan perisai pertama penahan aliran lahar panas untuk mengurangi risiko kerusakan.

Dam lain adalah jenis check dam atau dam pengendali. Fungsi dam ini adalah untuk menampung material lahar, terutama material berukuran besar, seperti batu. Karena itu, sabo jenis ini biasa disebut kantong lahar.

”Di sini, batu-batu besar dari lahar ditahan sehingga tidak ikut mengalir bersamaan. Lama-kelamaan, batu-batu besar ini akan mengalir satu per satu sehingga daya hancurnya berkurang,” ucap Chandra.

Hanya materi berukuran kecil dan ringan yang dapat lewat di dam pengendali, seperti pasir dan kerikil. Tujuan menahan material berukuran besar adalah meredam daya hancur aliran lahar dingin. Semakin besar material yang terangkut lahar, semakin besar daya hancur lahar itu di permukiman.

Selain dua jenis dam sabo tersebut, terdapat dam sabo jenis groundsill. Fungsinya adalah untuk menstabilkan dasar sungai sesuai yang direncanakan. Groundsill yang diletakkan di dasar sungai, misalnya, dimaksudkan menambah kedalaman sungai. Adapun groundsill yang diletakkan lebih tinggi dari dasar sungai dimaksudkan untuk mempertinggi dasar sungai.

Fungsi groundsill sering terganggu aktivitas penambangan pasir di sekitarnya. ”Permukaan stabil yang direncanakan bisa jadi sulit terbentuk,” ucapnya.

Sistem dam sabo ini menjadi perisai ampuh mencegah banjir lahar dingin yang berdaya hancur. Meski sejumlah dam sabo telah dipenuhi materi erupsi Merapi beberapa waktu lalu, semua dam sabo kini masih berfungsi baik.

Meski demikian, ancaman banjir lahar dingin tetap ada. Banyaknya potongan kayu yang ikut pada aliran lahar dapat memicu sumbatan pada gorong-gorong dan jembatan.

Dampaknya, lahar dingin bisa meluap dan mengakibatkan banjir. Apalagi bantaran Kali Code yang merupakan aliran lahar dingin di Kota Yogyakarta merupakan hunian padat.

”Warga harus tetap mewaspadai jembatan dan gorong-gorong dan menjaminnya tetap bersih dari sumbatan potongan kayu,” kata Chandra.

Kondisi sebelumnya

Sebelum Merapi meletus pertama kali pada 26 Oktober, kondisi sejumlah dam sabo rusak berat. Pasir, kerikil, dan batu besar menimbun dam. Idealnya, dalam kondisi normal, endapan material vulkanik di dam sabo yang kering harus dikeruk.

Pengerukan bertujuan memberi ruang lebih bagi aliran lahar dingin yang bisa meluncur sewaktu-waktu dari lereng Merapi. Pengerukan juga untuk pemeliharaan dam agar tidak selalu terdesak dan tertekan.

Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak Kementerian Pekerjaan Umum mengakui, banyak dam sabo yang rusak, baik kerusakan alami maupun akibat periode letusan panjang atau penentuan elevasi yang tidak tepat.

Penambangan pasir liar yang mendekati bangunan dam sabo juga akan membuat posisi dam sabo rentan roboh karena fondasinya dangkal.

Kondisi itu semakin memprihatinkan karena beragam alat prakiraan dan peringatan dini banjir lahar hilang dicuri. Alat pemantauan sistem telemetri penakar hujan otomatis, pendeteksi awal aliran lahar dingin, dan alat ukur tinggi permukaan aliran debris ultrasonik di Gunung Merapi raib (Kompas Yogyakarta, 4/10).

Yang pasti, jangan sampai solusi teknologi berbiaya tinggi itu teronggok begitu saja sehingga fungsinya jauh dari maksimal.

Sumber: Kompas, Rabu, 10 November 2010 | 05:51 WIB

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.