<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for rumahpengetahuan.web.id</title>
	<atom:link href="http://rumahpengetahuan.web.id/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahpengetahuan.web.id</link>
	<description>...ilmu pengetahuan untuk rakyat...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Nov 2011 02:29:27 +0700</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu by Josey</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/buku-tamu/comment-page-1/#comment-955</link>
		<dc:creator>Josey</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 02:29:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?page_id=3#comment-955</guid>
		<description>&lt;i&gt;web ini bagus&#8230;tapi rasanya contentnya ada yang hilang. Saya sempat tidak bisa mengakses beberapa minggu&#8230;dan setelah bisa terakses kembali tiba-tiba contentnya tidak selengkap sebelumnya&#8230;ada apa?&lt;/i&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><i>web ini bagus&#8230;tapi rasanya contentnya ada yang hilang. Saya sempat tidak bisa mengakses beberapa minggu&#8230;dan setelah bisa terakses kembali tiba-tiba contentnya tidak selengkap sebelumnya&#8230;ada apa?</i></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Terapi Divine Kretek untuk Kanker by AGUSTINUS J. SUMANTO</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/terapi-divine-kretek-untuk-kanker/comment-page-1/#comment-922</link>
		<dc:creator>AGUSTINUS J. SUMANTO</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 01:46:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=1641#comment-922</guid>
		<description>PENEMUAN SPEKTAKULER INI WAJIB DIPATENKAN SUPAYA TIDAK ADA YANG MEMATENKAN SEPERTI YANG DULU - DULU, YAITU MALAYSIA YANG MEMATENKAN ANGKLUNG, OBAT HERBAL DLL.SUKSES SELALU GBU</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>PENEMUAN SPEKTAKULER INI WAJIB DIPATENKAN SUPAYA TIDAK ADA YANG MEMATENKAN SEPERTI YANG DULU &#8211; DULU, YAITU MALAYSIA YANG MEMATENKAN ANGKLUNG, OBAT HERBAL DLL.SUKSES SELALU GBU</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! by Abu Khaulah Zainal Abidin</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/berhentilah-sekolah-sebelum-terlambat/comment-page-1/#comment-921</link>
		<dc:creator>Abu Khaulah Zainal Abidin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 16:46:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=1303#comment-921</guid>
		<description>Pertama, Sekolah itu meliputi berbagai jenjang. Dari TK sampai ke Perguruan Tinggi.  “Berhentilah Sekolah...” itu berhenti dari semuanya atau dari sebagiannya? Sebab, tampaknya tulisan ini fokus pada  kasus pengangguran terpelajar, tepatnya pengangguran pelajar tingkat menengah ke atas (Perguruan Tinggi)
Kedua, persoalan pengangguran, maka  menurut saya itu lebih disebabkan oleh masalah kurikulum, bukan masalah sekolah sebagai institusi. Juga bukan karena pemerintah gagal menyediakan lapangan kerja, dan masalah ini pun menimpa negara-negara maju sekalipun..  Pengangguran itu disebabkan karena rakyat dibebaskan (baca: tidak diarahkan) memilih bidang-bidang ilmu menurut kesukaannya sendiri, bukan menurut kebutuhan kelak di akhir masa belajarnya. Ya, apa jadinya kalau semua belajar satu macam ilmu dan semua berharap untuk menjadi seorang ahli di bidang ilmu tersebut?  Seharusnya -sejak awal-  Pemerintah sudah mengatur bidang-bidang apa saja di dalam Ilmu Ilmu Dunia / Ilmu Peradaban yang masih terbuka untuk dipelajari dan mengarahkan bangsanya untuk mengisi kekosongan.  Dengan  begitu tidak terjadi kelebihan tenaga professional di satu bidang sehingga menimbulkan pengangguran, atau kekosongan di profesi / keahlian yang lain -dokter wanita ahli kandungan, misalnya- yang menyebabkan seluruh negeri –Indonesia khususnya- ikut berdosa karena meninggalkan fardlu kifayah ini.
Kesimpulannya, analogikan saja sekolah itu dengan rumah sakit, ilmu dengan obat, dan guru dengan dokter. Artinya, toh tidak semua yang sakit atau penyakit itu harus ditangani dokter atau rumah sakit. Ada yang bisa diobati sendiri, ada yang cukup ke poliklinik atau puskesmas, ada yang terpaksa harus ke rumah sakit. Terpaksa ke rumah sakit, ya, terpaksa. Karena itu adalah pilihan  terakhir kalau memang sudah tidak ada cara lain yang lebih mudah. Bahkan obat pun ada yang bisa diupayakan sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di rumah, ada yang harus dibeli di apotik, dan ada yang memerlukan jasa orang lain untuk memasukkannya. Begitu pula pasien, ada yang bisa rawat jalan dan ada yang harus rawat inap. Apa karena ada (-tidak sedikit memang-) rumah sakit yang melakukan malpraktek, pelayanannya yang brengsek, atau dokter yang kurang berkualitas tapi kelewat komersil, kemudian ramai-ramai kita mengatakan, “Berhentilah ke Rumah Sakit Sebelum Terlambat.” ? Yang benar adalah, “ Jangan ke Rumah Sakit Kalau Tak Perlu.” Begitu juga dengan sekolah.
Allahu A’lam bish-shawab</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama, Sekolah itu meliputi berbagai jenjang. Dari TK sampai ke Perguruan Tinggi.  “Berhentilah Sekolah&#8230;” itu berhenti dari semuanya atau dari sebagiannya? Sebab, tampaknya tulisan ini fokus pada  kasus pengangguran terpelajar, tepatnya pengangguran pelajar tingkat menengah ke atas (Perguruan Tinggi)<br />
Kedua, persoalan pengangguran, maka  menurut saya itu lebih disebabkan oleh masalah kurikulum, bukan masalah sekolah sebagai institusi. Juga bukan karena pemerintah gagal menyediakan lapangan kerja, dan masalah ini pun menimpa negara-negara maju sekalipun..  Pengangguran itu disebabkan karena rakyat dibebaskan (baca: tidak diarahkan) memilih bidang-bidang ilmu menurut kesukaannya sendiri, bukan menurut kebutuhan kelak di akhir masa belajarnya. Ya, apa jadinya kalau semua belajar satu macam ilmu dan semua berharap untuk menjadi seorang ahli di bidang ilmu tersebut?  Seharusnya -sejak awal-  Pemerintah sudah mengatur bidang-bidang apa saja di dalam Ilmu Ilmu Dunia / Ilmu Peradaban yang masih terbuka untuk dipelajari dan mengarahkan bangsanya untuk mengisi kekosongan.  Dengan  begitu tidak terjadi kelebihan tenaga professional di satu bidang sehingga menimbulkan pengangguran, atau kekosongan di profesi / keahlian yang lain -dokter wanita ahli kandungan, misalnya- yang menyebabkan seluruh negeri –Indonesia khususnya- ikut berdosa karena meninggalkan fardlu kifayah ini.<br />
Kesimpulannya, analogikan saja sekolah itu dengan rumah sakit, ilmu dengan obat, dan guru dengan dokter. Artinya, toh tidak semua yang sakit atau penyakit itu harus ditangani dokter atau rumah sakit. Ada yang bisa diobati sendiri, ada yang cukup ke poliklinik atau puskesmas, ada yang terpaksa harus ke rumah sakit. Terpaksa ke rumah sakit, ya, terpaksa. Karena itu adalah pilihan  terakhir kalau memang sudah tidak ada cara lain yang lebih mudah. Bahkan obat pun ada yang bisa diupayakan sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di rumah, ada yang harus dibeli di apotik, dan ada yang memerlukan jasa orang lain untuk memasukkannya. Begitu pula pasien, ada yang bisa rawat jalan dan ada yang harus rawat inap. Apa karena ada (-tidak sedikit memang-) rumah sakit yang melakukan malpraktek, pelayanannya yang brengsek, atau dokter yang kurang berkualitas tapi kelewat komersil, kemudian ramai-ramai kita mengatakan, “Berhentilah ke Rumah Sakit Sebelum Terlambat.” ? Yang benar adalah, “ Jangan ke Rumah Sakit Kalau Tak Perlu.” Begitu juga dengan sekolah.<br />
Allahu A’lam bish-shawab</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Sekolah Masa Lalu&#8230; by cucuganesha</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/sekolah-masa-lalu/comment-page-1/#comment-909</link>
		<dc:creator>cucuganesha</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 03:58:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=274#comment-909</guid>
		<description>&quot;1924, Sekolah yang bernama Technische Hogeschool (TH) itu diambil alih oleh pemerintah. Lulusannya berhak menggunakan gelar Ir. yang juga digunakan oleh lulusan-lulusan sekolah tinggi di Belanda.&quot;

ini nulis sejarah kok sepotong2? Technische Hoogeschool(TH) di Bandung (sekarang ITB) diresmikan pembukaannya pada tanggal 3 Juli 1920 yg artinya 4 tahun sebelum berdirinya Rechts Hoogeschool Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) &amp; 7 tahun sebelum berdirinya Geneeskundige Hoogeschool Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran).

Kenapa kecenderungannya sekarang RHS ditarik mundur ke belakang ke Rechtsschool? demikian juga GHS ditarik mundur ke belakang ke STOVIA? mohon dipelajari kembali GHS itu apa &amp; STOVIA itu apa... 

Sebaiknya jangan digabung2 antara &quot;sekolah tinggi&quot; yg setingkat &quot;universitas&quot; seperti (THS, RHS, GHS) dg &quot;kursus2 pelatihan&quot; atau &quot;pendidikan rendah/menengah&quot; seperti Stovia &amp; NIAS.

Satu lagi... kalau mau bicara &quot;sekolah londo&quot; sebaiknya sumbernya juga dr &quot;buku londo&quot;. Di dalam Hoogeronderwijswet (UU Pendidikan Tinggi)tahun 1924 pendidikan tinggi yg tercantum &quot;hanya&quot; THS &amp; RHS &amp; tidak ada STOVIA.
Artinya STOVIA BUKAN Perguruan/Sekolah Tinggi (siswanya saja lulusan setingkat SD)

Hoogeronderwijswet baru diamandemen tahun 1927 dgn memasukkan GHS ke dalam kategori &quot;perguruan tinggi&quot;. Pada saat itulah ijazah GHS diakui setara dg &quot;Dokter&quot; di Negeri Belanda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;1924, Sekolah yang bernama Technische Hogeschool (TH) itu diambil alih oleh pemerintah. Lulusannya berhak menggunakan gelar Ir. yang juga digunakan oleh lulusan-lulusan sekolah tinggi di Belanda.&#8221;</p>
<p>ini nulis sejarah kok sepotong2? Technische Hoogeschool(TH) di Bandung (sekarang ITB) diresmikan pembukaannya pada tanggal 3 Juli 1920 yg artinya 4 tahun sebelum berdirinya Rechts Hoogeschool Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) &amp; 7 tahun sebelum berdirinya Geneeskundige Hoogeschool Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran).</p>
<p>Kenapa kecenderungannya sekarang RHS ditarik mundur ke belakang ke Rechtsschool? demikian juga GHS ditarik mundur ke belakang ke STOVIA? mohon dipelajari kembali GHS itu apa &amp; STOVIA itu apa&#8230; </p>
<p>Sebaiknya jangan digabung2 antara &#8220;sekolah tinggi&#8221; yg setingkat &#8220;universitas&#8221; seperti (THS, RHS, GHS) dg &#8220;kursus2 pelatihan&#8221; atau &#8220;pendidikan rendah/menengah&#8221; seperti Stovia &amp; NIAS.</p>
<p>Satu lagi&#8230; kalau mau bicara &#8220;sekolah londo&#8221; sebaiknya sumbernya juga dr &#8220;buku londo&#8221;. Di dalam Hoogeronderwijswet (UU Pendidikan Tinggi)tahun 1924 pendidikan tinggi yg tercantum &#8220;hanya&#8221; THS &amp; RHS &amp; tidak ada STOVIA.<br />
Artinya STOVIA BUKAN Perguruan/Sekolah Tinggi (siswanya saja lulusan setingkat SD)</p>
<p>Hoogeronderwijswet baru diamandemen tahun 1927 dgn memasukkan GHS ke dalam kategori &#8220;perguruan tinggi&#8221;. Pada saat itulah ijazah GHS diakui setara dg &#8220;Dokter&#8221; di Negeri Belanda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Lilis Sucahyo; Menangkap Asap, Berbuah Penghargaan Menambah Pendapatan by Budi Rachmadi</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/lilis-sucahyo-menangkap-asap-berbuah-penghargaan-menambah-pendapatan/comment-page-1/#comment-832</link>
		<dc:creator>Budi Rachmadi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 03:14:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=199#comment-832</guid>
		<description>Salam Antusias
Saya tertarik usaha olahan dan turunan berbahan Kelapa (Sabut, Arang, Asap) akan artikel tsb saya mohon info sbb :
1. Alamat / Contac Person CV. Wulung Prima
2. Cara / sistem / rincian proses / bahan dan alat yang dibutuhkan pembuatan arang batok, sabut, carbon, asap cair dari batok kelapa.
3. Mesin / alat produksinya di beli dimana ?
4. Bila ada contoh RAB pembuatan untuk usaha tsb mohon dikirimkan
5. Bila berminat untuk mengeluti usaha di bidang tsb siapa yang bisa dihubungi untuk referensi n study banding

atas penceraannya diucapkan terima kasih

Rgds
Budi Rachmadi
085230939491
082188377998
budirachmadi26@yahoo.co.id</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Antusias<br />
Saya tertarik usaha olahan dan turunan berbahan Kelapa (Sabut, Arang, Asap) akan artikel tsb saya mohon info sbb :<br />
1. Alamat / Contac Person CV. Wulung Prima<br />
2. Cara / sistem / rincian proses / bahan dan alat yang dibutuhkan pembuatan arang batok, sabut, carbon, asap cair dari batok kelapa.<br />
3. Mesin / alat produksinya di beli dimana ?<br />
4. Bila ada contoh RAB pembuatan untuk usaha tsb mohon dikirimkan<br />
5. Bila berminat untuk mengeluti usaha di bidang tsb siapa yang bisa dihubungi untuk referensi n study banding</p>
<p>atas penceraannya diucapkan terima kasih</p>
<p>Rgds<br />
Budi Rachmadi<br />
085230939491<br />
082188377998<br />
<a href="mailto:budirachmadi26@yahoo.co.id">budirachmadi26@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menghitung Investasi Menjadi (Calon) Dokter by Sulismiani Ulis</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/menghitung-investasi-menjadi-calon-dokter/comment-page-1/#comment-816</link>
		<dc:creator>Sulismiani Ulis</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 08:51:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=468#comment-816</guid>
		<description>tahun 2011 menjadi dokter FKUI, ya Allah mudahkan lancarkan, Ananda M Hafiizh A dapat melalui PDDS, dengan ridho-Mu ya Allah, amin...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tahun 2011 menjadi dokter FKUI, ya Allah mudahkan lancarkan, Ananda M Hafiizh A dapat melalui PDDS, dengan ridho-Mu ya Allah, amin&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu by darwantapapua</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/buku-tamu/comment-page-1/#comment-794</link>
		<dc:creator>darwantapapua</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2011 13:11:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?page_id=3#comment-794</guid>
		<description>trims,saya ikut download,saya juga konsen di pembuatan BBM dari plastik,saya punya beberapa bukti ilmiah hasil BBM dari plastik.Tiap jenis plastik punya karakter BBM yang berbeda</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>trims,saya ikut download,saya juga konsen di pembuatan BBM dari plastik,saya punya beberapa bukti ilmiah hasil BBM dari plastik.Tiap jenis plastik punya karakter BBM yang berbeda</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rembang Kok Tak Punya PTN? by gian</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/rembang-kok-tak-punya-ptn/comment-page-1/#comment-776</link>
		<dc:creator>gian</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 08:12:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=1451#comment-776</guid>
		<description>Memang, pemerataan pembangunan itu bukan hal yang mudah,,,jadi didirikannya suatu PTN tidak hanya melihat dari segi catatan sejarah suatu daerah saja,...banyak faktor yang harus diperhatikan seperti letak geografis serta unsur efektif efisiennya. Kita tidak bisa menyalahkan indonesia dengan pemerintah dan pemerintahannya.
Indonesia bukan negara kaya, yang bisa dengan mudah mendirikan sarana pendidikan tinggi. 
Jadi memang lebih efektif dan efisien apabila pembangunan pendidikan di pusatkan di kota-kota yang letaknya lebih strategis, untuk menopang kota2 di sekitarnya. untuk jateng sendiri memang kota  pusatnya berada di semarang,solo,dan purwokerto(except jogja).Dari ke 3 kota pusat tersebut saya kira imbas pendidikannya cukup luas, mengapa???karena brebes yang notabene juga tidak punya PTN juga mempunyai ORANG PINTAR,bupati brebes contohnya,merupakan bupati alumnus Universitas Jenderal Soedirman.Padahal jarak dari brebes ke purwokerto CUKUP JAUH.Jadi untuk sebuah pendidikan yang berhasil, tidak cukup hanya berbicara dan menuntut fasilitas pendidikan dari pemerintah, melainkan kreatifitas,semangat dan kemauan diri.Untuk soal ketidakmampuan materi,saya kira dengan semangat belajar dan kemauan utk berprestasi bisa memanfaatkan beasiswa(beasiswa di unsoed berupa biaya pendidikan dan asrama)jadi kembali lagi ke kreatifitas dan semangatnya.
Tidak ada yang salah dengan wacana di atas, Namun indonesia bukan negara yang kaya, jadi harus ada keselarasan antara pemerintah dengan masyarakatnya. Tidak ada unusur menganak tirikan. PR pemerintah bukan di bidang pendidikan saja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang, pemerataan pembangunan itu bukan hal yang mudah,,,jadi didirikannya suatu PTN tidak hanya melihat dari segi catatan sejarah suatu daerah saja,&#8230;banyak faktor yang harus diperhatikan seperti letak geografis serta unsur efektif efisiennya. Kita tidak bisa menyalahkan indonesia dengan pemerintah dan pemerintahannya.<br />
Indonesia bukan negara kaya, yang bisa dengan mudah mendirikan sarana pendidikan tinggi.<br />
Jadi memang lebih efektif dan efisien apabila pembangunan pendidikan di pusatkan di kota-kota yang letaknya lebih strategis, untuk menopang kota2 di sekitarnya. untuk jateng sendiri memang kota  pusatnya berada di semarang,solo,dan purwokerto(except jogja).Dari ke 3 kota pusat tersebut saya kira imbas pendidikannya cukup luas, mengapa???karena brebes yang notabene juga tidak punya PTN juga mempunyai ORANG PINTAR,bupati brebes contohnya,merupakan bupati alumnus Universitas Jenderal Soedirman.Padahal jarak dari brebes ke purwokerto CUKUP JAUH.Jadi untuk sebuah pendidikan yang berhasil, tidak cukup hanya berbicara dan menuntut fasilitas pendidikan dari pemerintah, melainkan kreatifitas,semangat dan kemauan diri.Untuk soal ketidakmampuan materi,saya kira dengan semangat belajar dan kemauan utk berprestasi bisa memanfaatkan beasiswa(beasiswa di unsoed berupa biaya pendidikan dan asrama)jadi kembali lagi ke kreatifitas dan semangatnya.<br />
Tidak ada yang salah dengan wacana di atas, Namun indonesia bukan negara yang kaya, jadi harus ada keselarasan antara pemerintah dengan masyarakatnya. Tidak ada unusur menganak tirikan. PR pemerintah bukan di bidang pendidikan saja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Putu Maitri, Peraih Nilai Unas Tertinggi Nasional untuk SMA by bunga</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/putu-maitri-peraih-nilai-unas-tertinggi-nasional-untuk-sma/comment-page-1/#comment-772</link>
		<dc:creator>bunga</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 17:20:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=1483#comment-772</guid>
		<description>Selamat bagi daerah Bali Khusus SMUN 4 Denpasar menpunyai Putra putri yang sangat Pintar dan supaya menjadi kebanggaan indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat bagi daerah Bali Khusus SMUN 4 Denpasar menpunyai Putra putri yang sangat Pintar dan supaya menjadi kebanggaan indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Revitalisasi Teknologi Industri Penerbangan by bunga</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/revitalisasi-teknologi-industri-penerbangan/comment-page-1/#comment-771</link>
		<dc:creator>bunga</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 17:17:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=1478#comment-771</guid>
		<description>Aktifin kembali PT DI supaya Indonesia bisa menbuat Pesawat sendiri tanpa menbeli ke negara lain</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aktifin kembali PT DI supaya Indonesia bisa menbuat Pesawat sendiri tanpa menbeli ke negara lain</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

