<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahpengetahuan.web.id &#187; Wawancara</title>
	<atom:link href="http://rumahpengetahuan.web.id/category/wawancara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahpengetahuan.web.id</link>
	<description>...ilmu pengetahuan untuk rakyat...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 02:29:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Terence Hull: Wajah Indonesia dalam Angka</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/terence-hull-wajah-indonesia-dalam-angka/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/terence-hull-wajah-indonesia-dalam-angka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 09:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=1749</guid>
		<description><![CDATA[Kendati putus-sambung, hubungan Terrence &#8220;Terry&#8221; Hull dengan Indonesia erat terjalin hingga kini, sekitar empat dekade. Semuanya berawal pada 1968, saat dia mempelajari negara-negara kepulauan Asia Tenggara di Universitas Hawaii. Pada1972 dia datang ke Indonesia untuk pertama kalinya guna menggarap penelitian bagi tesisnya. Antara 1975 dan 1979, peneliti asal Australia tersebut membantu Profesor Masri Singarimbun, Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sosiolog dan ahli demografi berusia 65 tahun ini adalah profesor yang disegani di Australian National University. Bersama istrinya, Valerie, Terry giat mendampingi Masri menggarap sejumlah proyek penelitian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kendati putus-sambung, hubungan Terrence &#8220;Terry&#8221; Hull dengan Indonesia erat terjalin hingga kini, sekitar empat dekade. Semuanya berawal pada 1968, saat dia mempelajari negara-negara kepulauan Asia Tenggara di Universitas Hawaii. Pada1972 dia datang ke Indonesia untuk pertama kalinya guna menggarap penelitian bagi tesisnya. Antara 1975 dan 1979, peneliti asal Australia tersebut membantu Profesor Masri Singarimbun, Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.</p>
<p><span id="more-1749"></span>Sosiolog dan ahli demografi berusia 65 tahun ini adalah profesor yang disegani di Australian National University. Bersama istrinya, Valerie, Terry giat mendampingi Masri menggarap sejumlah proyek penelitian yang berhubungan dengan Keluarga Berencana, ibu menyusui, intertilitas, dan tren demografi di Indonesia. Dia juga sempat mengajar beberapa tahun di Universitas Indonesia, Jakarta, sebagai dosen tamu.</p>
<p>Kekuatan Terrence Hull sebagai peneliti kependudukan melibatkan dia secara aktif dalam sejumlah proyek nasional cacah jiwa Indonesia. Dari enam sensus yang pernah dilangsungkan, dia ikut membantu empat cacah jiwa terakhir. &#8220;Saya bangga, selama 40 tahun bisa ikut dalam analisa perubahan sosial yang revolusioner,&#8221; ujar Terry. Program imunisasi dia sebut sebagai &#8220;revolusi mortalitas&#8221;, dengan hasil luar biasa: tingkat kematian anak-anak terjun bebas melalui keberhasilan imunisasi.</p>
<p>Cacah jiwa Indonesia pada 2010, menurut Terry, memberi kejutan amat menarik. Yakni perubahan dalam pola perkawinan di Indonesia. &#8220;Untuk pertama kalinya kami menemukan tren usia menikah di Indonesia menjadi lebih muda,&#8221; ujarnya. &#8220;Ini perubahan sosial yang amat menarik,&#8221; dia menambahkan. Pemerintah Indonesia mempercayainya sebagai satu dari lima penasihat utama pada sensus 2010.</p>
<p>Selama menjadi peneliti di negeri ini, Terry tinggal sampai berbulan-bulan di berbagai wilayah pelosok Indonesia. Bahasa Indonesianya yang sempurna nyaris tanpa aksen adalah modal utamanya berkomunikasi dengan penduduk.</p>
<p>Tiga pekan lalu, Vice President ASEAN Population Association ini mampir ke Jakarta selama sepekan. Di sela jadwal kerjanya yang padat, sang Profesor menerima wartawan Tempo Hermien Y. Kleden, Ririn Agustia, serta juru foto Aditia Noviansyah untuk satu wawancara khusus.</p>
<p>Berikut ini petikannya.<br />
<strong>Apakah ada temuan besar dari sensus penduduk Indonesia terbaru?</strong><br />
Ya, pola perkawinan. Ada perubahan amat besar yang baru saya lihat pada sensus kali ini. Selama hampir 100 tahun terakhir, ada usaha, terutama dari kalangan wanita, untuk mengubah pola perkawinan. Pola perjodohan beralih menjadi memilih pasangan sendiri. Perubahan pola di atas membuat usia orang menikah terus meningkat di daerah perkotaan dan pedesaan. Tadinya 21 menjadi 22 dan 23. Baru pada sensus 2010, umur menikah menurun menjadi lebih muda.</p>
<p><strong>Belum pernahkah hal ini ditemukan dalam lima sensus terdahulu?</strong><br />
Kami baru melihat fakta ini pada sensus 2010. Saya terkejut karena saya ikut sensus dari permulaan. Nah, di sensus kan ada data agama. Di beberapa provinsi, antara lain Jawa Timur, umur pernikahan penduduk beragama Islam menurun. Ini perubahan sosial amat menarik.</p>
<p><strong>Mengapa?</strong><br />
Dalam demografi, kita selalu melihat angka. Tapi, sebagai sosiolog, saya mengobrol dengan banyak orang setelah melihat perubahan tren usia menikah pada sensus terakhir. Masyarakat umumnya selalu senang mengobrol mengenai harapan. Misalnya, &#8220;Wah, saya harap perkawinan itu begini.&#8221; (Dari situ) saya melihat ada perubahan yang muncul di masyarakat tentang perkawinan.</p>
<p><strong>Pemicu perubahan tersebut apa saja?</strong><br />
Family-centeredness menjadi isu luar biasa penting, dan diutamakan. Pada 20 tahun yang lalu, kalau saya bicara dengan wanita, mereka akan bicara mengenai harapan punya pekerjaan ini-itu. Soal punya suami, kata mereka: &#8220;Ya terserah, kalau ketemu yang cocok.&#8221; Tapi sekarang mereka dijodohkan oleh teman-teman kelompok agama peer group-nya. Di sini (di Indonesia), bujangan kan selalu disalahkan.</p>
<p><strong>Disalahkan bagaimana?</strong><br />
Tidak boleh berhubungan seks, tidak boleh ini-itu, tidak boleh ambil pelayanan KB. Padahal ini orang sudah pada umur dewasa, sudah bayar pajak, sudah ada hak pilih, tapi tidak boleh meminta kondom ke BKKBN. Kok seperti bukan warga negara. Padahal pemerintah ikut perjanjian internasional Kairo mengenai hak asasi reproduksi (pada 1994).<br />
***<br />
<strong>Bisa berikan tonggak terpenting dari pemetaan penduduk Indonesia melalui sensus yang pernah Anda ikuti?</strong><br />
Selama 40 tahun (terlibat dalam sensus di Indonesia, setiap 10 tahun sekali), saya bangga bisa ikut dalam analisa perubahan sosial yang boleh dikatakan revolusioner. Revolusi demografi yaitu menurunnya tingkat fertilitas dari tinggi ke sedang, mortalitas sudah menurun dari tahun 20-30 dan turun dengan pelan. Imunisasi adalah revolusi mortalitas luar biasa (di Indonesia).</p>
<p><strong>Ya, revolusi fertilitas membuat jumlah pengguna KB Indonesia naik hingga 60 persen dari yang tadinya hanya 10 persen&#8230;.</strong><br />
Itu berarti 50 persen wanita yang dulu tidak pakai KB sekarang menggunakannya. Indonesia di zaman Haryono Suyono (menjadi Ketua BKKBN), itu (fasilitas KB) dijamin ada. Sekarang pilihannya terbatas. Ada banyak faktor, salah satunya (yang penting) adalah otonomi daerah. Jadi, amat bergantung pada pimpinan daerah itu kasih prioritas atau tidak pada KB. Kalau tidak, wanita akan menderita.Tapi ada faktor aneh: revolusi itu sudah keluar dari rel. Sekarang pilihan (alat KB) terbatas. Proporsi wanita yang menggunakan metode kontrasepsi selain suntik semua menurun.</p>
<p><strong>Kok hanya suntik yang naik?</strong><br />
Karena faktor bidan yang sekarang tidak lagi mendapat kedudukan sebagai PTT (pegawai tidak tetap). Mereka menjadi swasta setelah kontrak habis. Mereka menjual suntikan dan mendapat untung dari situ. Pelayanan suntik sekarang paling laku karena dari menjual kondom dan pil tidak dapat untung Mereka juga tidak terlatih memakai implan. Akibatnya, wanita sekarang banyak yang memakai metode yang tidak pas dengan umur dan jumlah anak. Padahal metode harus selalu disesuaikan dengan keadaan, keinginan, dan pengalaman ibu.</p>
<p><strong>Apakah program Keluarga Berencana sebaiknya kembali ke cara sentralisasi?</strong><br />
Otonomi daerah bukan masalah pokok dalam hal ini, tetapi pertentangan antara pusat dan daerah itu yang jadi masalah. Jadi, bukan karena daerah punya kekuatan atau pusat yang lebih berkuasa, tapi lebih pada mereka tidak sadar akan kepentingan masyarakat dalam kegiatan Keluarga Berencana.</p>
<p><strong>Seberapa besar peran demografi terhadap pengambilan kebijakan pemerintah?</strong><br />
Demografi adalah ilmu paling penting dalam sebuah pembangunan, dalam demokrasi. Demografi dan demokrasi itu sama, dari kata demos: rakyat. Kita bisa tahu siapa kita, dan kita bisa tahu proses regenerasi melalui demografi. Pengetahuan demografi yang mendalam membuat kita bisa mengembangkan pikiran mengenai apa arti masyarakat, kewarganegaraan, keanggotaan. Dengan demografi, kita bisa tahu apa nasib seluruh warga Indonesia dan tidak terbatas pada kelompok tertentu.</p>
<p><strong>Adakah kaitan hasil sensus 2010 dengan politik, terutama pada jumlah pemilih 2014?</strong><br />
Saya melihat sensus 2010 sebagai sensus terbaik dalam sejarah Indonesia. Sejak merdeka, negara ini sudah melakukan enam kali sensus, setiap 10 tahun.</p>
<p><strong>Terbaik dalam aspek apa saja?</strong><br />
Jangkauan pada penduduk; proporsi penduduk yang di-interview; anggaran untuk Papua naik sehingga (sensus bisa mencapai) daerah-daerah pelosok; jangkauan di Indonesia timur cukup bagus. Tapi tantangannya juga berat. Misalnya, 50 pertanyaan dalam kuesioner bukan jenis yang gampang untuk ukuran sensus, apalagi untuk pewawancara yang hanya dilatih tiga hari (sebelum ke lapangan). Dalam sensus terdahulu (tahun 2000), ada 9 juta penduduk tidak tercatat.</p>
<p><strong>Siapa saja mereka?</strong><br />
TKI (tenaga kerja Indonesia) susah dicatat, begitu pula yang di apartemen. Tapi sensus kali ini memakai pendekatan teknologi canggih, yaitu SMS. Ada 700 ribu interviewer yang disyaratka harus punya telepon genggam (HP). Mereka pakai HP untuk mengatur, memberitahukan, kalau ada masalah. Teknologi berperan amat penting dalam sensus 2010.</p>
<p><strong>Apa perbaikan signifikan dalam kualitas data penduduk Indonesia dari sensus 2010?</strong><br />
Umur! Sekarang Indonesia sudah mendapat ukuran umur yang memenuhi syarat PBB. Laporan mengenai umur di Indonesia sudah dianggap baik, 40 tahun lalu dianggap jelek. Sebab, waktu itu penduduk tidak tahu umur mereka karena buta huruf. Itu berarti tingkat pendidikan untuk orang tua sekarang makin lama makin tinggi.</p>
<p><strong>Tapi Indonesia akan punya masalah dengan aging population karena sekitar 10 persen orang Indonesia akan segera mencapai umur 60 tahun&#8230;.</strong><br />
Orang tua sekarang jauh lebih berpendidikan, lebih berpengalaman dibanding 40 tahun lalu. Jadi, mutu orang tua (Indonesia) naik, kenapa kita tidak memperhatikan itu? Memang orang tua gampang mendapat penyakit, harus mendapat bantuan kesehatan, dan lain-lain. Tapi mudah-mudahan, dengan bantuan asuransi kesehatan, sekarang bisa lebih efisien.</p>
<p><strong>Anda juga membuat penelitian dan menulis buku tentang prostitusi di Indonesia beberapa tahun lalu. Apa perubahan terbaru yang Anda lihat?</strong><br />
Harus saya tegaskan, buku maupun penelitian tentang prostitusi di Indonesia bukan hasil kerja saya sendiri, melainkan bersama beberapa rekan peneliti lain. Saya terkejut melihat perkembangan bisnis seks di Jakarta.</p>
<p><strong>Kenapa?</strong><br />
Wanita-wanita (pekerja seks) dari mainland China ada di apartemen-apartemen di Glodok. Industri seks, saya tidak tahu batasnya apa&#8211;tapi, seperti halnya makanan, ada kelas elite, ada kelas pinggir jalan. Dalam budaya Indonesia, eksploitasi wanita (umumnya) terjadi di pabrik, di kantor. Ada peran agama untuk menjamin keselamatan wanita. Misalnya, wanita memakai jilbab bisa untuk menjaga diri. Tapi kita harus membedakan agama sebagai kepercayaan dan kelompok sosial.</p>
<p><strong>Apa penelitian terkini yang sedang Anda kerjakan?</strong><br />
Kematian anak-anak (infant mortality) dan revitalisasi Keluarga Berencana.</p>
<p>Sumber: Koran Tempo, 15 April 2012</p>
<div id="crp_related"><h3>Mungkin Anda perlu membaca ini juga:</h3><ul><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/bonus-demografi-jawa-tengah/" rel="bookmark" class="crp_title">Bonus Demografi Jawa Tengah</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/terence-h-hull-hati-hati-membaca-angka/" rel="bookmark" class="crp_title">Terence H Hull: Hati-hati Membaca Angka</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/ledakan-penduduk/" rel="bookmark" class="crp_title">Ledakan Penduduk</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/capres-memerlukan-data-statistik/" rel="bookmark" class="crp_title">Capres Memerlukan Data Statistik</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/747-warga-jateng-pakai-kontrasepsi-modern/" rel="bookmark" class="crp_title">74,7% Warga Jateng Pakai Kontrasepsi Modern</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/memerangi-aids-dan-tb/" rel="bookmark" class="crp_title">Memerangi AIDS dan Tb</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/terence-hull-wajah-indonesia-dalam-angka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anis Baswedan: Universitas Merupakan Eskalator Ekonomi</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/anis-baswedan-universitas-merupakan-eskalator-ekonomi/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/anis-baswedan-universitas-merupakan-eskalator-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 09:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=1471</guid>
		<description><![CDATA[
Suasananya tidak seperti perguruan tinggi kebanyakan. Berada di  lantai 22 sebuah gedung megah di pusat bisnis Jalan Sudirman, Jakarta,  Kampus Universitas Paramadina sangatlah nyaman. Fasilitas ruang kuliah  untuk program magister sangat lengkap dan memadai.
Di berbagai sisi tertata rapi sofa empuk untuk diskusi para  mahasiswa. Di sudut ruangan tersedia teh dan kopi, tinggal diseduh  sendiri. Di ruang perpustakaan, buku-buku pun tertata apik, disertai  meja-kursi untuk diskusi mahasiswa.
”Perguruan tinggi memang punya visi sosial. Tetapi, harus dikelola  dengan manajemen  bisnis agar tidak memberatkan mahasiswa, serta  lebih ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Suasananya tidak seperti perguruan tinggi kebanyakan. Berada di  lantai 22 sebuah gedung megah di pusat bisnis Jalan Sudirman, Jakarta,  Kampus Universitas Paramadina sangatlah nyaman. Fasilitas ruang kuliah  untuk program magister sangat lengkap dan memadai.</p>
<p><span id="more-1471"></span>Di berbagai sisi tertata rapi sofa empuk untuk diskusi para  mahasiswa. Di sudut ruangan tersedia teh dan kopi, tinggal diseduh  sendiri. Di ruang perpustakaan, buku-buku pun tertata apik, disertai  meja-kursi untuk diskusi mahasiswa.</p>
<p>”Perguruan tinggi memang punya visi sosial. Tetapi, harus dikelola  dengan manajemen  bisnis agar tidak memberatkan mahasiswa, serta  lebih  bermanfaat bagi masyarakat,” kata Anies Baswedan (42), Rektor  Universitas Paramadina Jakarta. Berdasarkan visi ini, Universitas  Paramadina, dengan dukungan perusahaan swasta, bisa memberikan banyak  beasiswa, termasuk untuk lulusan SMA di sekitar kampus serta anak-anak  korban kekerasan.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin: 3px;" src="http://rumahpengetahuan.web.id/wp-content/themes/arthemia-free/scripts/timthumb.php?src=/wp-content%2Fuploads%2Fanies+baswedan.jpg&amp;w=150&amp;h=150&amp;zc=1&amp;q=100" alt="" width="150" height="150" />Anies yang meraih gelar doktor politik dari Northern Illinois  University Amerika Serikat juga banyak melontarkan gagasan di seputar  pendidikan. Tidak sekadar wacana. Keprihatinannya terhadap kondisi  pendidikan di daerah pedalaman, misalnya, diwujudkan dengan membentuk  Gerakan Indonesia Mengajar. Sarjana-sarjana terbaik dari berbagai  perguruan tinggi terkemuka di Tanah Air, dengan seleksi sangat ketat,  diajak untuk menjadi guru di daerah pedalaman selama setahun.</p>
<p>Berikut petikan wawancaranya:</p>
<p><strong>Apa sebenarnya persoalan mendasar di bidang pendidikan tinggi?</strong></p>
<p>Selama empat atau lima dekade terakhir, universitas menjadi  eskalator sosial ekonomi masyarakat. Sebagai contoh, kelas menengah atas  Indonesia saat ini, di mana posisi mereka  30-40 tahun lalu? Kebanyakan  di kelas menengah bawah. Mengapa  bisa di posisi sekarang? Karena  perguruan tinggi. Universitas benar-benar menjadi eskalator sosial  ekonomi masyarakat. Middle class Indonesia saat ini adalah lower class  Indonesia pada masa lalu.</p>
<p>Masalahnya sekarang, eskalator ini tidak bisa lagi dinaiki semua  orang. Hanya orang-orang tertentu  yang bisa naik eskalator tersebut  karena biaya kuliah sekarang relatif mahal.</p>
<p><strong>Mengapa bisa demikian?</strong></p>
<p>Biaya pengelolaan universitas sangat mahal. Dahulu, misalnya, saya  kuliah (di Universitas Gadjah Mada) biayanya sekitar Rp 98.000 satu  semester. Padahal, biaya yang dikeluarkan universitas sekitar Rp 1,1  juta. Sisanya ditanggung negara lewat universitas. Sekarang tidak bisa  lagi demikian karena anggaran pemerintah sangat terbatas, sedangkan  jumlah mahasiswanya cenderung bertambah terus.  Menurut saya tantangan  terbesar saat ini adalah jika  universitas di Indonesia  bisa  mengembalikan fungsinya sebagai eskalator sosial ekonomi. Akan sangat  bagus.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan kondisi perguruan tinggi swasta?</strong></p>
<p>Pengelolaan perguruan tinggi swasta juga tidak murah karena  investasi awalnya sangat mahal. Perguruan tinggi swasta, misalnya, harus  membeli tanah. Belum lagi pembangunan fasilitas lainnya. Itu bisa  sedikit diatasi jika negara memberikan pinjaman tanah kepada perguruan  tinggi swasta dengan jangka waktu 30-50 tahun, misalnya.</p>
<p><strong>Apa bahayanya jika eskalator sosial ekonomi itu tidak berfungsi?</strong></p>
<p>Dahulu,  siapa pun bisa masuk universitas. Apakah dia kaya atau  miskin, tidak menjadi masalah. Asalkan pintar, dia bisa masuk  universitas. Sekarang, biaya kuliah di universitas sangat mahal. Jika  demikian, apa yang akan terjadi? Saya khawatir, pada masa mendatang  kelas menengah Indonesia berasal dari orang-orang kaya saat ini. Adapun  kelompok masyarakat miskin akan tetap miskin atau bertambah miskin  karena tak punya akses ke universitas. Saya terus terang,  mengkhawatirkan itu.</p>
<p><strong>Separah itukah kondisinya?</strong></p>
<p>Begini, dulu dengan teman sepermainan sekampung, kami bersekolah di  tempat yang sama. Mencari sekolah terdekat. Sekarang, orangtua dari  keluarga kaya secara naluriah  akan memilih sekolah terbaik untuk  anak-anaknya walaupun lokasinya jauh. Secara tidak sadar, kita sudah  membuat cluster untuk anak-anak kita. Di sekolah tidak ada lagi  keberagaman. Saya khawatir, suatu saat kelak, masyarakat miskin akan  dianggap kelompok berbeda oleh kelompok lain.</p>
<p><strong>Artinya, persoalan ini harus segera diatasi?</strong></p>
<p>Begini. Kalau persoalan pendidikan kita petakan secara umum,  bagi  lulusan SMA yang pintar  dan kemampuan ekonomi keluarganya baik, tidak  menjadi masalah. Mereka bebas memilih perguruan tinggi mana pun. Bagi  anak-anak pintar, tetapi kemampuan ekonomi keluarganya pas-pasan,  tersedia beasiswa walaupun jumlahnya terbatas. Bagi anak yang tidak  begitu cerdas tetapi berasal dari keluarga kaya, juga bisa melanjutkan  kuliah. Namun, bagi anak-anak yang tidak begitu cerdas, dan berasal dari  keluarga miskin, siapa yang memerhatikan mereka? Inilah persoalan lain  yang menjadi tantangan kita bersama.</p>
<p>Bagi saya pendidikan itu bukan education for all karena bisa  representatif. Akan tetapi, education for everyone, pendidikan untuk  setiap orang. Artinya, setiap orang dididik sesuai potensinya untuk  posisi yang berbeda di kemudian hari.</p>
<p><strong>Apakah semua orang harus naik eskalator tersebut untuk menaikkan kelas sosial ekonominya?</strong></p>
<p>Saat ini, setiap tahun ada sekitar 2,26 juta lulusan SMA. Namun,  daya tampung perguruan tinggi hanya sekitar 1,09 juta orang. Masih ada  sekitar 1,1 juta lulusan SMA setiap tahun yang tidak terserap ke  perguruan tinggi. Ini bisa menjadi persoalan serius di kemudian hari.</p>
<p><strong>Jadi, apa yang harus dibenahi oleh perguruan tinggi untuk meningkatkan perannya?</strong></p>
<p>Biaya mengelola universitas sangat mahal.  Menurut saya, tantangan  terbesar saat ini adalah jika  universitas di Indonesia  bisa  mengembalikan fungsinya sebagai eskalator sosial ekonomi. Akan sangat  bagus. Tetapi, biayanya sangat mahal. Sangat mahal!</p>
<p><strong>Jika demikian, apa yang harus dilakukan?</strong></p>
<p>Sudah saatnya perguruan tinggi melirik alumninya.</p>
<p>Saya  melihat peran alumni belum dioptimalkan. Alumni pun tidak tahu  apa yang dibutuhkan almamaternya.  Sebagai contoh, biaya kuliah saya  dulu Rp 98.000 satu semester. Artinya, kita cuma membayar 10 persen dari  cost pendidikan mahasiswa, sedangkan yang 90 persen ditanggung  universitas. Kita banyak mendapat manfaat dari perguruan tinggi,  menikmati berbagai fasilitas, termasuk kita disejahterakan.</p>
<p>Jika kita meminjam ke bank Rp 100 juta, misalnya, sepuluh tahun  kemudian kita mengembalikan pokok pinjaman dan bunga Rp 170 juta.</p>
<p>Kita pun sebenarnya ”meminjam modal” ke universitas. Karena itu,  para alumni yang sudah lulus 20-30 tahun lalu, misalnya, seharusnya  ”membayar balik” ke universitas atas segala ”pinjaman modal” berupa  pengetahuan, fasilitas, dan sebagainya sehingga bisa hidup lebih baik  saat ini.</p>
<p>”Membayar balik” ya&#8230;. bukan sumbangan. Karena sumbangan sepertinya  belas kasih, padahal kita pinjam modal dan mestinya dikembalikan.</p>
<p><strong>Apakah mungkin diaplikasikan?</strong></p>
<p>Saya berkeyakinan, para alumni mau memberikan untuk almamaternya  asalkan mekanismenya jelas, transparan, dan dikoordinasikan dengan baik.  Saya khawatir, jika mekanisme ini tidak berjalan,  universitas akan  mengambil jalan pragmatis. Untuk menutup biaya pengelolaan universitas,  seluruhnya dibebankan kepada mahasiswa baru. Itulah yang terjadi di  sejumlah perguruan tinggi  saat ini.</p>
<p>Bisakah terbayang, jika dulu biaya universitas yang Rp 1,1 juta per  semester seluruhnya dibebankan kepada mahasiswa, berapa banyak mahasiswa  yang bisa menikmati universitas?</p>
<p><strong>Bagaimana dengan sistem subsidi silang?</strong></p>
<p>Saya termasuk yang tidak begitu gembira dengan sistem subsidi  silang. Apa haknya sehingga yang satu harus membiayai mahasiswa yang  lain? Di Paramadina, misalnya, kami tidak menerapkan subsidi silang,  tetapi menerima mahasiswa tanpa biaya. Siapa mereka? Mereka adalah  tetangga kampung di sekitar kampus yang nilai sekolahnya baik, dan tidak  harus luar biasa. Cukup baik saja. Selain itu, kami juga menerima  mahasiswa gratis yang merupakan  korban kekerasan. Yang menyeleksi   Kontras (Komite untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan). Siapa  orangnya, terserah Kontras. Tidak ada subsidi silang.</p>
<p><strong>Bagaimana bisa terjadi tanpa subsidi silang?</strong></p>
<p>Universitas itu, unit cost-nya kelas. Bukan per mahasiswa. Jadi  kalau satu kelas kapasitasnya 30 mahasiswa dan ternyata hanya diisi 23  mahasiswa, maka ditambah lima mahasiswa lagi tidak akan berpengaruh  terhadap biaya. Mengapa? Karena ruang kelas yang digunakan sama, listrik  yang digunakan sama, dosen yang mengajar juga sama. Tidak ada  penambahan biaya apa pun!</p>
<p>Kami melakukan evaluasi saat penerimaan mahasiswa per program studi.  Dari hasil evaluasi itu ketemu program studi mana saja yang jumlah  mahasiswanya kurang dan masih ada bangku kosong. Nah, bangku kosong  itulah yang kami gratiskan. Apakah menambah biaya? Tidak! Justru  bermanfaat bagi orang lain. Ini ibarat  pesawat terbang. Mau  penumpangnya 30 orang, atau 100 orang, cost-nya sama. Daripada kosong,  kenapa tidak dimanfaatkan untuk orang lain?</p>
<p><strong>Tadi dikatakan, universitas mempunyai visi sosial, tetapi perlu dikelola dengan manajemen bisnis. Bisa dijelaskan lebih konkret?</strong></p>
<p>Misalnya begini. Kami menerima bantuan dari kalangan bisnis untuk  beasiswa mahasiswa. Besarnya dulu Rp 100 juta, sekarang Rp 125 juta  untuk seorang mahasiswa selama empat tahun sampai selesai. Uang diterima  di muka, tetapi pengeluaran per semester, sedangkan  untuk biaya hidup  mahasiswa, pengeluarannya   per bulan. Uang yang belum dipakai, kami  kelola dan kembangkan. Pada akhir tahun keempat, uang yang Rp 125 juta  itu habis terpakai, tetapi dari uang itu setelah kami kelola bisa  menghasilkan tambahan sekitar Rp 30 juta-Rp 40 juta. Dana itu kami  simpan dan dijadikan dana abadi.</p>
<p>Kalau ada donor yang mau memberikan beasiswa, kami selalu tekankan,  jangan memberikan beasiswa untuk tujuh anak per tahun. Akan tetapi satu  anak untuk tujuh tahun.</p>
<p>Jika memberikan per tahun, bagaimana jika di tengah jalan perusahaan  tersebut menghadapi masalah? Jika memberikan beasiswa untuk empat  tahun, mahasiswa terjamin sampai kuliahnya selesai. Jadi, kalkulasi  bisnisnya beda. Kalangan bisnisnya pun senang dengan skema ini karena  semangatnya sosial, tetapi pengelolaannya bisnis.</p>
<p><strong>Pengelolaan secara manajemen bisnis, apakah menjamin biaya kuliah bisa menjadi murah?</strong></p>
<p>Begini, kalau kita cermati, pemilihan rektor saat ini harus seorang  akademisi. Padahal, kalau sudah terpilih, ia harus menjalankan  manajerial universitas yang sangat rumit. Ia harus mengerti konsep  pembiayaan. Di sejumlah negara, rektor merupakan simbol akademisi yang  tidak terlibat keuangan. Di Amerika Serikat,  pencarian rektor dilakukan  secara terbuka, seperti mencari CEO perusahaan</p>
<p>Kita memilih dua model, tetapi enggan mengambil konsekuensinya.  Tugas rektor menjadi sangat berat, rektor menjadi simbol akademisi  sekaligus manajer  universitas  yang harus  mengerti konsep pembiayaan.</p>
<p>Karena pemahaman tentang konsep pembiayaan terbatas, ketika kucuran  dana dari pemerintah mengecil, langsung dicari sumber dana baru yang  instan. Selain dari uang masuk mahasiswa baru, juga membuka unit usaha  lain, seperti pompa bensin, yang justru menambah beban universitas.</p>
<p><strong>Apakah salah menaikkan uang kuliah mahasiswa baru?</strong></p>
<p>Jika pandangannya seperti itu, berarti kita melihat mahasiswa  sebagai  konsumen jasa pendidikan. Padahal, fungsi universitas adalah  eskalator sosial ekonomi. Bukan penjual jasa pendidikan.</p>
<p><strong>Jadi, bagaimana perguruan tinggi mencari sumber dana?</strong></p>
<p>Sudah saatnya orang-orang dengan latar belakang finansial manajemen  masuk ke perguruan tinggi. Universitas membutuhkan biaya yang tidak  murah sehingga institusi bervisi sosial bisa dikelola dengan manajemen  bisnis.</p>
<p>Banyak, kok, alumni perguruan tinggi yang hebat. Tinggal  diberdayakan saja. Alumninya juga pasti senang membantu almamaternya.  Masih sangat banyak orang baik di negeri ini.</p>
<p>Penulis: MYRNA RATNA DAN TRY HARIJONO</p>
<p>Sumber: Kompas-Ekstra, Edisi Mei  &#8211; Juni 2011</p>
</div>
<div id="crp_related"><h3>Mungkin Anda perlu membaca ini juga:</h3><ul><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/ptn-harus-cari-sumber-dana-lain/" rel="bookmark" class="crp_title">PTN Harus Cari Sumber Dana Lain</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/untuk-apa-dan-siapa-gadjah-mada-bertahan/" rel="bookmark" class="crp_title">Untuk Apa dan Siapa Gadjah Mada Bertahan</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/keberlanjutan-komersialisasi-ptn/" rel="bookmark" class="crp_title">Keberlanjutan Komersialisasi PTN</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/masuk-ptn-makin-berat/" rel="bookmark" class="crp_title">Masuk PTN Makin Berat</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/mahalnya-kampus-kita/" rel="bookmark" class="crp_title">Mahalnya Kampus Kita</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/akses-orang-miskin-ke-perguruan-tinggi/" rel="bookmark" class="crp_title">Akses Orang Miskin ke Perguruan Tinggi</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/anis-baswedan-universitas-merupakan-eskalator-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Made Sudiana: Doktor Ahli Mikrobia yang Diminta Pindah ke Malaysia</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/made-sudiana-doktor-ahli-mikrobia-yang-diminta-pindah-ke-malaysia/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/made-sudiana-doktor-ahli-mikrobia-yang-diminta-pindah-ke-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2010 04:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[LIPI]]></category>
		<category><![CDATA[Mikrobia]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Molekuler]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Gadjah Mada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[Seorang mahasiswa dari Malaysia takjub melihat hasil pengembangan  teknologi molekuler berbasis mikrobia yang dilakukan I Made Sudiana.  Mahasiswa itu menduga tentu besarlah gaji Sudiana. Namun, jawaban  Sudiana tentang gajinya membuat si mahasiswa spontan mengatakan,”Pindah saja ke Malaysia.”
Sudiana menekuni riset ekologi mikrobia di Pusat Penelitian Biologi  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ini bermula dari rasa ingin  tahu dia terhadap sejatinya proses fermentasi minuman khas Bali, brem,  itu seperti apa. Ia menemukan jawabnya. Brem itu hasil kinerja mikrobia.  Istilah mikrobia tak ubahnya mikroba, mikroorganisme, atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang mahasiswa dari Malaysia takjub melihat hasil pengembangan  teknologi molekuler berbasis mikrobia yang dilakukan I Made Sudiana.  Mahasiswa itu menduga tentu besarlah gaji Sudiana. Namun, jawaban  Sudiana tentang gajinya membuat si mahasiswa spontan mengatakan,<em>”Pindah saja ke Malaysia.”</em></p>
<p><span id="more-919"></span><img class="alignleft" style="margin: 3px;" src="http://indonesiaproud.files.wordpress.com/2010/02/made-sudiana1.jpg" alt="" width="150" height="155" />Sudiana menekuni riset ekologi mikrobia di Pusat Penelitian Biologi  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ini bermula dari rasa ingin  tahu dia terhadap sejatinya proses fermentasi minuman khas Bali, brem,  itu seperti apa. Ia menemukan jawabnya. Brem itu hasil kinerja mikrobia.  Istilah mikrobia tak ubahnya mikroba, mikroorganisme, atau jasad renik.</p>
<p><em>”Orang UGM (Universitas Gadjah Mada) lebih suka menggunakan istilah mikrobia,”</em> ujar Sudiana saat ditemui akhir Januari lalu di laboratorium Cibinong Science Center LIPI, Cibinong, Jawa Barat.</p>
<p>Pria kelahiran Pangyangan, Jembrana, Bali, ini lulus Fakultas Biologi  UGM tahun 1987. Setelah memahami peran mikrobia pada fermentasi brem  bali, ia justru semakin ingin tahu tentang ilmu mikrobia.</p>
<p>Pada 1985-1987 Sudiana menjadi asisten dosen Mikrobiologi dan Ekologi  di Fakultas Biologi UGM. Tahun 1988 ia diterima menjadi periset  mikrobiologi LIPI. Dia lalu melanjutkan studi S-2 Environmental  Sanitation State University of Ghent di Belgia (lulus 1992), lalu S-3  Urban and Environmental Engineering University of Tokyo, Jepang (1998).</p>
<p>Tak berhenti di sini, Sudiana menempuh studi lanjut, Post Doc in  Molecular Ecology for Agriculture Sciences di Japan International  Research Center for Agricultural Center (Jircas) dan lulus tahun 2004.  Ia juga mengambil Post Doc in Biodiversity Management Institute of  Advance Studies United Nation University, Yokohama, Jepang (2005).</p>
<p>Pengelanaan intelektualitas Sudiana mengantarnya pada pemahaman mendalam tentang ekologi mikrobia. <em>”Melalui  teknologi molekuler dan bioinformatika memungkinkan pemanfaatan  metagenomik gen-gen alam pada mikrobia untuk kemaslahatan manusia,”</em> ujarnya.</p>
<p>Sayangnya, riset Sudiana tentang mikrobia itu relatif tak dianggap  bernilai oleh pemerintah. Para pejabat berkepentingan pun tak tertarik  meliriknya, apalagi keinginan untuk mengetahui lebih dalam dan  mengimplementasikan manfaat mikrobia untuk bidang seluas mungkin.  Padahal, bagi Sudiana, mikrobia bisa diibaratkan pasukan bersenjata yang  dapat digerakkan sewaktu-waktu untuk bertempur melawan pencemar  ekosistem.</p>
<p><em>”Keanekaragaman hayati mikrobia itu seperti pada ekologi hewan  dan tumbuhan. Keanekaragaman tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk  berbagai keperluan.”</em></p>
<p>Teknologi molekuler dan bioinformatika, menurut dia, dapat digunakan  untuk mengetahui manfaat mikrobia, yang jenisnya mencapai ribuan  spesies. Sebagai contoh, belum lama ini Sudiana bersama timnya  mengimplementasikan mikrobia untuk bioremediasi atau pemulihan lahan  bekas dan terdampak tambang Freeport di Papua.</p>
<p>Dia menganalisis kandungan pencemar, dan menemukan konsorsia atau  himpunan spesies mikrobanya. Maka, ditemukanlah spesies mikroba Bacillus  sp dan Pseudomonas sp yang kemudian dibiakkan untuk melarutkan fosfat  berlebih yang terkandung dalam tanah tercemar tambang Freeport.</p>
<p><em>”Mikrobia yang ibarat hewan atau tumbuhan ini juga butuh makanan, yang dapat diupayakan dari bahan pupuk organik,” </em>ujarnya.</p>
<p>Institusi tempat dia bekerja, LIPI, tengah mengemas teknologi  tersebut. LIPI memadukan mikrobia dan pupuk organik menjadi produk  teknologi beyonic. Beyonic tak sekadar pupuk organik, tetapi telah  disisipkan mikrobia tertentu untuk menangani, antara lain, lahan  tercemar akibat aktivitas tambang, limbah industri, ataupun limbah  domestik.</p>
<p><em>”Mikrobia yang dipakai itu syaratnya terdapat di lokasi setempat.  Di tempat itu pasti ada banyak mikrobia. Jadi, lebih dulu perlu  identifikasi mikrobia menguntungkan, baru sampelnya diambil untuk  dikembangbiakkan,” </em>katanya.</p>
<p>Sudiana juga sudah mengumpulkan dan menyimpan sejumlah sampel  mikrobia dari ratusan tempat tersebar mulai dari Papua sampai Aceh.  Mikrobia itu dia ambil dari setiap lokasi penting, seperti wilayah  perawan di hutan alam, ekosistem pantai, lahan permukiman, lahan bekas  dan terdampak tambang, serta lahan tercemar.</p>
<p><em>”Sampel mikrobia wilayah tambang batu bara Kalimantan juga sudah  saya ambil. Kalau mau, itu bisa dimanfaatkan untuk bioremediasi bekas  tambang batu bara,”</em> katanya.</p>
<p>Bioremediasi Teluk Jakarta yang menerima bahan-bahan pencemar melalui 13 sungai pun ditempuhnya. <em>”Sampel mikrobia yang memiliki bioprospeksi pemulihan Teluk Jakarta pun sudah saya ambil,” </em>ucap Sudiana.</p>
<p>Di laboratoriumnya yang dilengkapi mesin pembeku sampai minus 80  derajat celsius itu tersimpan koleksi sampel sejumlah mikrobia. ”Bank  mikrobia” Sudiana siap dikembangbiakkan menjadi sepasukan konsorsia  jasad renik untuk misi menyelamatkan ekosistem di sejumlah wilayah di  Indonesia.</p>
<p>Untuk menuju pencapaian tersebut, Sudiana sudah menghabiskan waktu  sekitar 22 tahun untuk riset. Memang menakjubkan, sayangnya hasil yang  dia capai itu tak dimanfaatkan optimal.</p>
<p>Oleh: Nawa Tunggal</p>
<p>Sumber: Kompas setelah dikutip dari <a href="http://indonesiaproud.wordpress.com/2010/02/18/made-sudiana-doktor-ahli-mikrobia-yang-diminta-pindah-ke-malaysia/">indonesiaproud</a></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<h1>Pembiakan  Mikroba Tanah Merapi</h1>
<p><strong>Nawa Tunggal</strong></p>
<p>Bagaimana  memanfaatkan lahan pertanian yang tertutup abu vulkanik pascaletusan  Gunung Merapi 2010 lalu? Pertanyaan ini menjadi tantangan bagi I Made  Sudiana, ahli mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Apalagi,  dari kajian sosial rekan sejawatnya, direkomendasikan agar tidak gegabah  melakukan relokasi penduduk.</p>
<p>Jika itu  rekomendasinya, masyarakat sekitar Merapi harus didukung teknologi agar  bisa bertahan hidup bersama ancaman bencana Merapi,” kata Sudiana, Senin  (7/2) di Cibinong Science Center Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (LIPI), Cibinong, Jawa Barat.</p>
<p>Langkah yang ia ambil salah satunya  dengan mengembangkan teknologi isolasi (pemisahan) dan pengembangbiakan  mikroba tanah Merapi pascaerupsi. ”Ini supaya mempercepat pemulihan  pertanian pada lahan yang masih tertutup abu dan pasir material  vulkanik,” kata Sudiana.</p>
<p>Karena itu, Sudiana mengambil ratusan  sampel tanah di lokasi yang berjarak 5 kilometer sampai 20 kilometer  dari puncak Merapi pada 16 Desember 2010. Lokasi sampel yang mendekati  puncak Merapi ada di beberapa desa termasuk Kinahrejo yang berbatasan  dengan Taman Nasional Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan, Sleman.</p>
<p>Lokasi  sampel terjauh diambil di Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten  Magelang. Sudiana lalu membawa sampel-sampel tanah itu ke  laboratoriumnya di Cibinong.</p>
<p>Dalam beberapa hari, ia berhasil  mengisolasi lima komunitas mikroba tanah Merapi dengan mengetahui  karakter sebagai penghasil hormon tumbuh, pelarut fosfat terikat,  penambat nitrogen, dan penghancur senyawa rekalsitran yang bersifat  racun.</p>
<p>Sampel tanah yang banyak mengandung mikroba biasanya  diambil dari lokasi yang sudah ditumbuhi kembali tanaman. Beberapa jenis  tanaman perintis yang tumbuh pertama kali di Merapi pascaerupsi, antara  lain, umbi-umbian seperti talas juga pisang dan rumput gajah.</p>
<p><strong>Fermentor</strong></p>
<p>Setelah  mikroba berhasil diisolasikan, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan  Biomaterial LIPI Suprapedi bersama timnya melanjutkan pembiakannya.  Suprapedi membuat enam tabung pengembang biak mikroba atau fermentor  dengan kapasitas masing-masing tabung 20 liter.</p>
<p>”Pembiakan selama  empat hari setiap tabung kapasitas 20 liter itu menghasilkan mikroba  yang akan dicampurkan ke dalam 2.000 liter air. Larutan tersebut siap  dicampurkan ke media tanam dengan cara penyemprotan,” kata Suprapedi.</p>
<p>Media  tanam dikemas di dalam polibag supaya unsur hara dan mikrobanya tidak  mudah terlarut air hujan. Cara ini juga menghemat air.</p>
<p>Komposisi  media tanam itu meliputi 2 kilogram material vulkanik (berupa abu dan  pasir) ditambah 1,5 kilogram tanah dan 1,5 kilogram kompos. Kemudian  ditambahkan 25 gram pupuk organik butiran atau granula dan disemprotkan  10 mililiter larutan mikroba tadi.</p>
<p>Larutan mikroba itu mengandung 10(10 pangkat 10) mikroba setiap militernya.</p>
<p>Mikroba  memiliki unsur utama protein yang selalu membutuhkan unsur karbon untuk  hidup. Media tanamnya mutlak dibutuhkan kompos dari bahan-bahan  organik.</p>
<p>Selanjutnya, hidup mikroba dengan karakter masing-masing berfungsi menyuburkan tanah.</p>
<p><strong>Usaha kecil</strong></p>
<p>Suprapedi  mengatakan, fermentor dirancang untuk mudah diaplikasikan kelompok  usaha kecil. Tabung fermentor itu dari tabung penyimpan susu perah yang  terbuat dari baja antikarat.</p>
<p>Kemudian disusun rangkaian elektronik  yang berfungsi mengaduk cairan mikroba di dalam tabung fermentor.  Sistem pengadukan menggunakan cara magnetis.</p>
<p>”Dengan satu tabung  fermentor, setiap empat hari sekali bisa dihasilkan 20.000 polibag untuk  tanaman produktif seperti cabai, tomat, timun, dan sebagainya,” kata  Suprapedi.</p>
<p>Biaya pembuatan fermentor dengan tiga tabung tidak  lebih dari Rp 20 juta. Dengan tiga tabung fermentor, berarti setiap  empat hari sekali dapat dibuat tiga kali 20.000 polibag untuk tanaman  hortikultura semusim.</p>
<p>Sudiana sudah menguji pembandingan media tanam itu di rumah kaca di Cibinong. Ia pun menunjukkan hasil uji cobanya.</p>
<p>Terbukti  tanaman mentimun dengan media tanam tanah Merapi yang ditambah mikroba  bisa menghasilkan buah lebih cepat dibanding media tanam tanah Merapi  tanpa ditambah mikroba.</p>
<p>Wakil Kepala LIPI Endang Sukara yang  pertama kali mendorong para periset LIPI agar berkontribusi nyata  terhadap fenomena yang sedang terjadi di Merapi. Teknologi pembiakan  mikroba Merapi sebetulnya pengembangan teknologi LIPI sebelumnya dalam  pembuatan pupuk organik diperkaya mikroba.</p>
<p>Setelah berhasil, LIPI  memberi label produksi pupuk organik itu ”Beyonic”, kependekan dari kata  ”beyond organic”, yaitu pupuk yang tidak sekadar berbahan organik,  tetapi pupuk organik mengandung pekerja-pekerja jasad renik, seperti  kali ini dengan pekerja mikroba Merapi.</p>
<p>Sumber: Kompas, 11 Februari 2011</p>
<div id="crp_related"><h3>Mungkin Anda perlu membaca ini juga:</h3><ul><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/pembajakan-ilmuwan-masih-berlangsung/" rel="bookmark" class="crp_title">&#8220;Pembajakan&#8221; Ilmuwan Masih Berlangsung</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/1549/" rel="bookmark" class="crp_title">LIPI Temukan Ratusan Bakteri Baru</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/keanekaragaman-hayati-salah-kelola/" rel="bookmark" class="crp_title">Keanekaragaman Hayati Salah Kelola</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/budi-banyu-ahli-sumur-tandem-tidak-tamat-sd-belajar-dari-geolog-prancis/" rel="bookmark" class="crp_title">Budi Banyu, Ahli Sumur Tandem; Tidak Tamat SD, Belajar dari Geolog Prancis</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/triono-basuki-pertanian-sehat-berwawasan-lingkungan/" rel="bookmark" class="crp_title">Triono Basuki; Pertanian Sehat Berwawasan Lingkungan</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/lipi-membuat-replika-hutan/" rel="bookmark" class="crp_title">LIPI Membuat Replika Hutan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/made-sudiana-doktor-ahli-mikrobia-yang-diminta-pindah-ke-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara Andi Hakim Nasution: &#8220;Dengan Matematika, Orang Tak Jadi Papan Selancar Politik&#8221;</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/wawancara-andi-hakim-nasution-dengan-matematika-orang-tak-jadi-papan-selancar-politik/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/wawancara-andi-hakim-nasution-dengan-matematika-orang-tak-jadi-papan-selancar-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2000 04:13:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah rumah tua yang tenang, di kawasan Ciwaringin, Bogor, Andi Hakim Nasution seperti selalu kembali ke masa lalu. Di rumah itu, ayahnya, Anwar Nasoetion Gelar Mangaraja Pidoli—seorang dokter hewan pada zaman Belanda—membesarkan Andi Hakim. Di antara ruang-ruang rumah yang penuh kenangan, Andi seperti tak henti menyimak kembali ajaran-ajaran ayahnya yang adalah juga seorang peneliti. Salah satu wasiat Anwar kepada Andi adalah: tekunilah ilmu pertanian agar cepat mendapat kerja. Anak sulung dari lima bersaudara itu menjalankan wasiat sang ayah dengan patuh. Hasilnya? Ia bukan cuma cepat bekerja selepas kuliah. Lebih ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah rumah tua yang tenang, di kawasan Ciwaringin, Bogor, Andi Hakim Nasution seperti selalu kembali ke masa lalu. Di rumah itu, ayahnya, Anwar Nasoetion Gelar Mangaraja Pidoli—seorang dokter hewan pada zaman Belanda—membesarkan Andi Hakim. Di antara ruang-ruang rumah yang penuh kenangan, Andi seperti tak henti menyimak kembali ajaran-ajaran ayahnya yang adalah juga seorang peneliti. Salah satu wasiat Anwar kepada Andi adalah: tekunilah ilmu pertanian agar cepat mendapat kerja. Anak sulung dari lima bersaudara itu menjalankan wasiat sang ayah dengan patuh. Hasilnya? Ia bukan cuma cepat bekerja selepas kuliah. Lebih dari itu, &#8220;ilmu pertanian&#8221; ternyata mengantarkan Andi ke tingkat kemasyhuran yang layak diperoleh seorang cendekiawan.</p>
<p><span id="more-768"></span><img class="alignleft" style="margin: 3px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/b/b4/AndiHakimNasution.png" alt="" width="228" height="155" />Pria yang lahir pada 30 Maret 1932 ini melewatkan masa kanak-kanaknya di Bogor. Di sana pula ia meraih gelar insinyur pertanian dari IPB pada 1958 dengan predikat cum laude. Sedangkan gelar doktor diraihnya dari North Carolina State University, AS, pada 1964. Setahun kemudian, Andi kembali ke Tanah Air dan resmi menjadi dosen IPB justru ketika kampusnya sedang bergolak gara-gara perang ideologi—menjelang peristiwa berdarah G30S. Pada 1965, Andi diangkat menjadi dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB hingga 1969.</p>
<p>Ayah tiga anak ini sempat menjadi direktur pendidikan sarjana (1971) dan direktur sekolah pascasarjana di kampus tersebut sebelum menjadi rektor IPB selama dua periode (1978-1987). Sebagai dosen, keberhasilannya tak diragukan lagi. Namun, yang mengangkat nama Andi Hakim begitu tinggi adalah karirnya sebagai guru besar statistika dan genetika kuantitatif—dua ilmu yang selalu ada dalam pikirannya dan karya-karya ilmiahnya.</p>
<p>Ia adalah satu dari amat sedikit ahli statistika dan matematika yang hebat di negeri ini. Ia mendesain dan merintis pengajaran statistika dan matematika dengan cara yang seharusnya: membuat orang berpikir logis, bukan sekadar memahami perihal hitung-menghitung. Tulisan ilmiahnya tersebar di berbagai buku dan artikel, antara lain Daun-Daun Berserakan, Reaching The Best, Landasan Matematik, Aljabar Matrik, dan Teori Statistika. Metode Statistika ditulisnya dalam edisi Indonesia dan Inggris. Menulis memang bukan hal baru baginya. Pada usia 18 tahun, ia menulis buku fiksi berjudul Anak-Anak Bintang Pari.</p>
<p>Dalam usia 67, kegiatan Andi masih padat. Ia kini menjabat rektor Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung dan masih mengajar di IPB. Ia juga tetap menulis artikel dan buku, termasuk sebuah buku dakwah. Salah satu keunggulan Andi Hakim adalah ingatannya yang numerik dan kognitif. Ia lektor luar biasa pertama IPB untuk matematika. Tak mengherankan, guru besar ini masih menjadi Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja sejak 23 tahun lalu, serta membimbing anggota Tim Olimpiade Matematika Indonesia.</p>
<p>Namanya juga mengingatkan orang pada berbagai inovasi dalam dunia pendidikan, seperti pembagian pendidikan tinggi dalam tiga strata dan seleksi masuk ke universitas tanpa melalui ujian masuk.</p>
<p>Dua pekan lalu, di rumah tua yang penuh jejak masa lalu itu, Andi Hakim, yang tampak sehat dan awet muda, menerima wartawan TEMPO I Gusti Gede M.S. Adi untuk sebuah wawancara khusus.</p>
<p>Petikannya:</p>
<p><em>Anda merintis penerimaan mahasiswa tanpa tes di IPB sejak 1976. Bagaimana awal lahirnya ide tersebut?</em></p>
<p>Ide itu sudah ada sebelumnya. Tapi calon mahasiswa yang dikirim memakai rekomendasi dari mana-mana, seperti gubernur. Ini berbahaya karena bisa menumbuhkan kolusi. Ketika itu saya diangkat menjadi ketua program penerimaan mahasiswa baru IPB 1975. Rektor IPB ketika itu memerintahkan agar IPB menerima seribu mahasiswa untuk tahun ajaran baru.</p>
<p>Kenapa jumlahnya sedemikian melonjak? Kan, IPB biasanya hanya menerima 200 mahasiswa.</p>
<p>Itu permintaan DPR. Menurut mereka, menerima 200 orang tidak seimbang dengan subsidi pemerintah. Tapi saya bilang kepada rektor, calon itu tidak bisa diambil begitu saja karena kita akan menjadi tempat sampah. Tapi rektornya ngotot: pokoknya harus seribu. Akhirnya, saya ajukan kenaikan bertahap, 500 orang tahun pertama dan terus naik sampai 1.000 orang. Saya minta otoritas untuk mengerjakan semua itu menurut cara saya.</p>
<p><em>Bagaimana menentukan SMA yang layak mengirim siswa terbaik?</em></p>
<p>Begini. Setiap ujian, mahasiswa saya minta mencantumkan asal dan alamat sekolah di bagian bawah kertas ujian. Kalau sampai ke tingkat empat mahasiswa itu nilainya bagus terus, saya tinggal mengundang sekolah itu untuk mencalonkan siswanya ke IPB—dengan harapan para siswa itu mengikuti jejak kakak-kakaknya. Metode ini berkembang sampai sekarang.</p>
<p><em>Jika dibandingkan dengan calon yang masuk lewat Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), bagaimana prestasi mereka?</em></p>
<p>Kalau di IPB, rata-rata lebih bagus. Dari data, kita bisa melihat bahwa siswa yang masuk tanpa tes biasanya dari ibu kota kecamatan. Sedangkan para siswi berasal dari kota-kota besar. Rupanya, di kota kecamatan, menyekolahkan anak perempuan belum jadi prioritas utama.</p>
<p><em>Apakah ada pejabat yang pernah menitipkan anaknya di IPB melalui program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan, program masuk tanpa tes) kepada Anda?</em></p>
<p>Ada. Tapi saya lihat dulu. Kalau nilainya bagus, ya, boleh masuk. Terus terang, pernah ada peristiwa di Akademi Pertanian Ciawi yang melahirkan ide program masuk tanpa tes ke IPB. Sekali waktu, saya mendapat surat dari bupati Kabupaten Curup, Bengkulu. Dalam surat itu, ia mengajukan calon yang katanya satu-satunya calon terbaik kabupaten. Ternyata, nilai anak itu jelek sekali. Sehari sesudah penutupan, seorang siswa berbaju lusuh menemui saya. Ia ingin melamar ke Akademi Pertanian. Pendaftaran sudah tutup. Tapi saya sempatkan melihat rapornya. Bagus. Dan anak ini berasal dari Kabupaten Curup, Bengkulu.</p>
<p><em>Ha-ha-ha…, jadi bupati itu ternyata &#8220;keliru&#8221; merekomendasi. Lalu apa yang Anda lakukan pada siswa berbaju lusuh itu?</em></p>
<p>Saya bilang ke dia supaya melamar dengan mencantumkan tanggal sebelum penutupan. Saya suruh dia agar mengotori sedikit amplopnya dan saya beri catatan surat itu diterima dalam keadaan rusak. Untung, ia mau berbohong dan akhirnya diterima.</p>
<p><em>Jadi, Anda berdua sama-sama berbohong?</em></p>
<p>Ya, saya juga berbohong. Dan Anda tahu siapa anak itu? Profesor Mahfuddin Syakhranie. Sekarang ia guru besar kelautan di Universitas Diponegoro, Semarang.</p>
<p><em>Apakah Anda kerap mengalami kejadian seperti ini?</em></p>
<p>Ada saja. Peristiwa lain terjadi saat ujian saringan masuk IPB pada 1974. Seseorang datang kepada saya dan bilang, &#8220;Pak, saya ini orang jauh dan tidak bermaksud jadi mahasiswa. Bapak saya pensiunan kepala SD, ibu saya pensiunan guru SD. Jadi, mereka tidak akan kuat membiayai saya. Saya cuma ingin tahu apakah otak saya termasuk kelas yang bisa masuk IPB. Saya membiayai sendiri pendaftaran dari tabungan hasil menulis di majalah berbahasa daerah.&#8221;</p>
<p><em>Apa jawab Anda?</em></p>
<p>Saya pikir, kalau karangannya sudah pernah dimuat di majalah, berarti anak ini punya pikiran yang runtun dan logikanya bagus. Saya buka-buka dokumen yang dia bawa. Ternyata dia seorang pelajar teladan dari Jawa Barat. Saya lantas meminta rektor membebaskan SPP-nya. Lalu saya tulis surat ke bupatinya agar membiayai perjalanan siswa tersebut ke Bogor serta memberikan biaya selama 3 bulan pertama. Selanjutnya, IPB yang akan mencarikan beasiswa buat dia.</p>
<p><em>Bagaimana hasilnya?</em></p>
<p>Dia lulus cum laude dalam waktu empat tahun. Setelah itu, ia mengambil gelar master di Amerika. Tadinya, saya pikir dia tidak ingat saya lagi. Ternyata, begitu selesai program doktor, ia datang ke saya sembari membawakan disertasinya. Sekarang anak ini menjadi eselon satu di salah satu departemen dan menjadi pejabat tinggi termuda yang pernah diangkat departemen.</p>
<p><em>Mengapa Anda berani &#8220;potong kompas&#8221; untuk menolong anak-anak cerdas seperti ini?</em></p>
<p>Ini cara saya membayar utang kepada profesor dan dosen-dosen saya. Profesor Boudoin, misalnya, adalah salah satu guru saya. Dulu, ia tukang kebun yang bekerja di Hugo de Vreis, peraih Hadiah Nobel biologi dari Utrecht, Belanda. Sewaktu De Vreis mengajar, si Boudoin mengintip setiap hari dan ikut mencatat di luar jendela. Catatan tukang kebun yang cuma lulus SD itu ternyata lebih rapi ketimbang catatan para mahasiswa. Akhirnya, De Vreis mendidiknya secara pribadi hingga mencapai guru besar.</p>
<p>Mamiek Soeharto, putri mantan presiden Soeharto, barangkali model &#8220;kasus&#8221; yang lain. Dia masuk Jurusan Statistika IPB—saat Anda masih menjabat rektor—padahal ada pendapat, kemampuannya sangat tidak layak masuk statistika. Apa komentar Anda?</p>
<p>Ha-ha-ha&#8230;, yang saya tahu, Mamiek biasanya tidak akan menyelesaikan soal-soal ujian berhitungnya. Tapi logika berpikirnya tetap bagus. Ia menulis skripsi yang membandingkan anatomi tungkai kaki orang Irian, Pengalengan, dan Siantar, memakai metode statistika.</p>
<p>Anda menerima tawaran menjadi rektor IPB pada 1978. Apakah ini juga cara &#8220;membalas jasa&#8221; kepada para guru besar?</p>
<p>Begini ceritanya. Suatu ketika, menjelang pemilihan rektor, saya dipanggil Daoed Joesoef (Menteri P dan K 1978-1983). Ia meminta saya menjadi kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di P dan K, bukan rektor IPB.</p>
<p><em>Dan Anda menolak?</em></p>
<p>Saya bilang, banyak yang bisa jadi kepala Bagian Litbang tapi tidak banyak yang bisa jadi guru besar statistika. Saat itu, saya satu-satunya guru besar statistika. Kalau tidak jadi rektor pun, tidak apa-apa.</p>
<p>Anda, toh, tetap dicalonkan dan berhasil menjadi rektor IPB, bahkan dalam dua periode.</p>
<p>Ya. Saya tidak melihat prosesnya karena sedang mengantar anak saya ke dokter gigi ketika pemilihan itu berlangsung. Sjarifudin Baharsjah (Menteri Pertanian 1993-1998) yang pertama menyalami saya karena terpilih sebagai rektor IPB.</p>
<p><em>Bukankah Anda menang dengan suara telak?</em></p>
<p>Kemenangan saya sangat besar, 250 : 40 suara. Lama-lama saya tahu apa alasannya. Ketika itu keadaan sedang kacau. Mereka mengangkat saya sebagai rektor saat dunia kampus Indonesia bergolak karena program NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) 1978-79 yang mensterilkan kampus dari politik. Jadi, ini seperti tahun 1966, saat saya diangkat sebagai dekan Faperta, selepas ribut-ribut G30S-PKI.</p>
<p><em>Sebagai rektor IPB, apa sikap Anda terhadap penerapan NKK/BKK?</em></p>
<p>Saya katakan pada mahasiswa-mahasiswa itu, silakan ngomong apa saja tapi yang bisa diterima logika. Kalau enggak ada logikanya, buat apa? Saya harus keras sama mereka dan jangan sampai &#8220;membakar rumah sendiri&#8221;.</p>
<p><em>Maksud Anda?</em></p>
<p>Kalau IPB ditutup, mereka mau apa? Banyak yang protes. Dalam acara pelantikan sarjana, mereka mengusung keranda bertuliskan &#8220;Demokrasi Sudah Mati di Kampus Ini.&#8221; Saya katakan kepada mereka, demokrasi sudah mati di Indonesia, bukan di kampus ini. Kampus tidak lagi bisa menjadi suaka di tengah-tengah keadaan seperti itu.</p>
<p><em>Anda juga melarang mahasiswa memakai cat kuning di kampus IPB. Apa karena jengkel dengan Golkar?</em></p>
<p>Waktu itu, Lawalata IPB (kelompok mahasiswa pencinta alam) memang saya larang pakai warna kuning karena asosiasinya, kan, Golkar. Pokoknya, pada zaman saya, semua partai politik tidak boleh masuk ke kampus.</p>
<p><em>Jadi, Anda berusaha agar kegiatan akademis tetap berlangsung. Tapi, apakah tidak ada yang protes?</em></p>
<p>Tentu ada. Suatu ketika, ada yang datang kepada saya dan menanyakan, setelah sekian lama menjadi birokrat, apakah saya masih seorang ilmuwan. Saya jawab, soal ilmuwan atau tidak itu orang lain yang menilai. Tapi menjaga agar kegiatan akademis tetap berlangsung secara optimal adalah tugas saya sebagai rektor.</p>
<p>Tampaknya, itu memang periode yang kacau. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p>Memang. Suatu siang seorang menteri—lulusan IPB—menelepon ke kantor saya. Mula-mula ia memuji melulu sehingga saya langsung waspada. Eh, benar. Buntutnya, dia menyuruh saya agar menekan Aunu Rauf, seorang dosen di Faperta, agar tidak bicara soal hama kutu loncat lagi. Waktu itu Aunu diwawancarai Kompas soal kutu loncat.</p>
<p><em>Anda mengabulkan permintaannya?</em></p>
<p>Tentu tidak. Saya katakan kepadanya, dosen itu hanya menjalankan kewajibannya sebagai ilmuwan. Dan kalau ia terus memaksakan kehendak, mau dikemanakan integritas akademik almamaternya? Akhirnya, ia minta maaf.<br />
<em><br />
Mengapa menteri itu sedemikian memaksa?</em></p>
<p>Masalahnya, wereng cokelat itu kan dibawa ke Indonesia oleh mantan Presiden Soeharto tanpa vektornya dan tanpa karantina. Ketika terjadi wabah, kita tidak tahu apa obatnya.</p>
<p><em>Omong-omong soal menteri, benarkah Anda dicalonkan menggantikan almarhum Nugroho Notosusanto (Menteri P dan K 1983- 1985), tapi ditolak karena punya friksi dengan penguasa saat itu?</em></p>
<p>Tidak. Tapi, kalau Anda punya musuh besar dan ingin ia tersiksa di dunia, doakanlah dia menjadi menteri pendidikan.</p>
<p>Kenapa begitu?</p>
<p>Sebab, siapa pun yang jadi menteri, pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kondisi pendidikan kita sudah seperti benang kusut yang kita tidak tahu lagi harus diurai dari mana. Kita ini menganggap orang Indonesia paling pintar di dunia, jadi semuanya harus masuk ke perguruan tinggi.</p>
<p><em>Mengapa? Karena kita tidak pernah mengajarkan alternatif lain di luar perguruan tinggi?</em></p>
<p>Persis. Di Vietnam saja, hanya lulusan SMU yang nilainya baik yang boleh masuk perguruan tinggi. Sebagai gantinya, mereka menyediakan sekolah kejuruan yang bagus sehingga keluar dari situ bisa bekerja. Contoh lain adalah Amerika. Masuk perguruan tinggi bukan lagi jadi cita-cita utama. Banyak juga yang ingin menjadi manajer pompa bensin atau sopir bus.</p>
<p><em>Mengapa anak-anak muda Amerika tertarik dengan &#8220;pekerjaan kasar&#8221;?</em></p>
<p>Untuk apa dia capek-capek kuliah kalau penghasilannya sama dengan orang sekolahan? Pada 1964, misalnya, gaji seorang sopir trailer adalah US$ 30 ribu per tahun tapi naiknya agak lambat. Sedangkan gaji permulaan seorang doktor US$ 10 ribu per tahun dengan dua bulan libur dan naiknya cepat, tergantung juga proyek yang mereka kerjakan. Kalau keduanya kita integralkan, gaji total selama hidup keduanya akan sama.</p>
<p><em>Tapi ini bukan tanpa akibat jelek: bukankah mahasiswa yang pintar di AS sekarang adalah orang-orang asing?</em></p>
<p>Betul. Tapi lihat juga akibat dari tidak adanya pendidikan alternatif. Di Indonesia, bus akan disopiri orang yang tidak mengerti fisika. Sudah jelas kecepatan maksimumnya 100 kilometer per jam—artinya jarak amannya 100 kilometer—tetap saja ia mengebut. Atau, ketika pesawat mendarat, orang Indonesia sudah berdiri ambil koper, walau tanda sabuk pengaman masih menyala. Kalau kita tahu kaidah fisika, kita akan paham massa kita relatif kecil dan velositasnya besar. Dan semua akan terpelanting kalau pilot mengerem kendati pesawatnya berjalan lambat.</p>
<p><em>Tentang pengajaran matematika. Pernah terjadi perdebatan di DPR agar matematika tidak boleh diajarkan di SD dan hanya berhitung. Apa pendapat Anda?</em></p>
<p>Ada dua kesalahan dalam pemikiran itu. Pertama, berhitung adalah bagian dari matematika. Kedua, mereka menganggap berhitung bagian dari pengajaran kemampuan penilaian kuantitatif. Itu tidak benar. Karena kemampuan kuantitatif adalah kemampuan menafsirkan apa yang ada di balik angka. Jadi, guru harus tahu apa yang mereka ajarkan.</p>
<p><em>Seburuk apa pengalaman Anda dalam mengajar matematika?</em></p>
<p>Saya kasih Anda satu contoh. Sekali waktu, saya memberikan materi matematika untuk para dosen fakultas pertanian di sebuah universitas negeri di Malang. Saya ajukan pertanyaan, &#8220;Satu dibagi nol hasilnya berapa?&#8221; Semuanya menjawab, &#8220;Tak terhingga.&#8221; Bayangkan, mereka dosen tapi tidak tahu satu dibagi nol jawabannya adalah tidak didefinisikan. Itu teori dasar matematika tetapi tak ada yang tahu.</p>
<p>Sebetulnya, apa perlunya memahami matematika?</p>
<p>Dengan matematika, orang bisa diajak berpikir logis. Dan, karena berpikir logis, orang tidak akan menjadi papan selancar politik, tidak akan bisa dijadikan massa mengambang oleh pihak lain.</p>
<p><em>Minat Anda pada matematika begitu besar. Tapi, tatkala belajar ke Amerika pada 1961, mengapa justru memilih statistika?</em></p>
<p>Kalau saya ambil matematika, itu artinya matematika murni. Mau ngapain saya di Bogor kalau jadi dosen matematika murni? Matematika saya pelajari untuk memberikan landasan pemikiran dan analisa kuantitatif. Jadi, bidang yang saya pilih di North Carolina University adalah statistika untuk pemuliaan tanaman. Dengan statistika, saya bisa mendidik orang menjadi ahli matematika. Itu terjadi pada angkatan di bawah saya. Sarjana statistika ternyata relatif mudah meraih gelar doktornya di luar negeri.</p>
<p>Adakah materi kuliah di IPB yang Anda ubah setelah masuk ke lembaga itu pada 1965?</p>
<p>Saya mengubah pengajaran matematika yang tadinya hanya terdiri dari kalkulus. Ilmu kalkulus itu hanya matematika yang mengabdi kepada perhitungan. Padahal, matematika seharusnya mendidik cara berpikir yang betul.</p>
<p><em>Perubahan yang Anda lakukan itu apakah tidak ditentang?</em></p>
<p>La, cuma saya sendiri yang ahli statistika waktu itu. Tapi memang ada yang bilang IPB tidak usah ada matematikanya. Saya diam saja tapi saya tetap mengajarkan matematika kepada mahasiswa saya. Di tingkat dua, mereka belajar statistika, perancangan percobaan, dan aljabar matriks. Di tingkat tiga, saat mau mengadakan penelitian, para mahasiswa itu mulai mengkritik kesalahan yang diajarkan dosen-dosennya. Lalu datanglah para dosen itu kepada saya, minta diajarkan statistika. Kursus-kursus bersertifikat itulah awal progam pascasarjana di IPB.</p>
<p><em>Bidang matematika apa lagi yang Anda ajarkan?</em></p>
<p>Pra-kalkulus. Namanya landasan matematika, yang mengajarkan matematika bukan sebagai alat hitung, tapi alat berpikir kuantitatif. Landasan matematika dapat dipakai untuk membuktikan kebenaran sebuah pernyataan.</p>
<p><em>Benarkah model- model pengajaran matematika di atas adalah ciptaan Anda sendiri?</em></p>
<p>Saya mengadopsi ilmu itu dari pencipta bahasa pemrograman komputer Basic. Saya bikin dua macam: matematika untuk berpikir atau queen of science dan matematika untuk melayani perhitungan semata-mata atau the servant of science. Dengan model itu, IPB yang pertama mengajarkan matematika itu di tingkat satu.</p>
<p><em>Sampai sekarang Anda masih mengajar di IPB. Tapi mengapa memilih mengajar tingkat satu?</em></p>
<p>Sebab, di tingkat satu, kita mengajarkan dasar-dasar. Di Massachusetts Institute of Technology, dosen biologi tingkat satu adalah pemenang hadiah Nobel biologi, Salvador Lorea. Lalu Linus Pauling, pemenang Nobel kimia, pernah mengajar kimia di tingkat satu di Berkeley. Menurut saya, harus lebih banyak lagi guru besar yang mengajar di tingkat satu.</p>
<p><em>Dulu Anda rektor IPB, kini rektor Sekolah Tinggi Telkom Bandung. Kok, suka benar jadi rektor?</em></p>
<p>Terus terang saja, saya butuh tambahan penghasilan. Salah seorang anak saya diputus beasiswanya, jadi harus dibantu. Di IPB saya merasa sudah tidak dipakai lagi, mungkin karena sudah terlalu tua.</p>
<p><em>Apa kegiatan Anda di luar urusan akademis?</em></p>
<p>Kalau Minggu, saya masih menyempatkan jalan kaki bersama Istri keliling Kota Bogor—sembari hunting foto dengan kamera Olympus kesayangan saya. Memotret segala sesuatu, terutama tanaman dengan lensa mikro. Di luar itu mengasuh cucu. Memandang dan memiliki mereka adalah kebahagiaan paling besar.</p>
<p>Majalah Tempo, 03 Januari 2000</p>
<div id="crp_related"><h3>Mungkin Anda perlu membaca ini juga:</h3><ul><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/andi-hakim-nasution-dalam-kenangan/" rel="bookmark" class="crp_title">Andi Hakim Nasution dalam Kenangan</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/ingenieus-artinya-berakal-tajam/" rel="bookmark" class="crp_title">&#8220;Ingenieus&#8221; Artinya Berakal Tajam</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/pelatihan-matematika-gasing/" rel="bookmark" class="crp_title">Advertorial: Ikuti Pelatihan Matematika Gasing!</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/bacaan-paling-berkesan-semasa-kecil/" rel="bookmark" class="crp_title">Bacaan paling berkesan semasa kecil</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/matematika-sekolah-menengah-umum-persiapan-menuju-bahasa-penalaran-ilmiah/" rel="bookmark" class="crp_title">Matematika Sekolah Menengah Umum: Persiapan Menuju Bahasa Penalaran Ilmiah</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/skripsi-apa-itu-dan-buat-apa-2/" rel="bookmark" class="crp_title">Skripsi: Apa Itu dan Buat Apa? (2)</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/wawancara-andi-hakim-nasution-dengan-matematika-orang-tak-jadi-papan-selancar-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

