<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rumahpengetahuan.web.id &#187; Pidato Ilmiah</title>
	<atom:link href="http://rumahpengetahuan.web.id/category/pidato-ilmiah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahpengetahuan.web.id</link>
	<description>...ilmu pengetahuan untuk rakyat...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 02:29:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Psyicologi Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Hari Depan</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/psyicologi-sebagai-ilmu-pengetahuan-dan-hari-depan/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/psyicologi-sebagai-ilmu-pengetahuan-dan-hari-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 14:54:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Pidato penerimaan gelar doktor honoris causa Slamet Iman Santoso
Dalam lapangan Ilmu?Ilmu Pengetahuan, Psychologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang tergolong dalam &#8216;empirical science&#8217;, yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman manusia.
Sekalipun menurut sejarah perkembangannya Psychologi pada permulaannya bersumber pada Filsafat, dan sekalipun pada masa sekarang Psychologi masih banyak sekali hubungannya dengan Filsafat, namun dewasa ini sumber utamanya adalah pengalaman manusia.
Selain dari pada itu, Psychologi berada di persimpangan beberapa Ilmu Pengetahuan modern lainnya, karena subyek utamanya adalah manusia dan reaksi?reaksi atau kegiatan?kegiatan manusia dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam dinamik kehidupan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pidato penerimaan gelar doktor honoris causa Slamet Iman Santoso</em></p>
<p>Dalam lapangan Ilmu?Ilmu Pengetahuan, Psychologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang tergolong dalam &#8216;empirical science&#8217;, yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman manusia.</p>
<p><span id="more-43"></span>Sekalipun menurut sejarah perkembangannya Psychologi pada permulaannya bersumber pada Filsafat, dan sekalipun pada masa sekarang Psychologi masih banyak sekali hubungannya dengan Filsafat, namun dewasa ini sumber utamanya adalah pengalaman manusia.</p>
<p>Selain dari pada itu, Psychologi berada di persimpangan beberapa Ilmu Pengetahuan modern lainnya, karena subyek utamanya adalah manusia dan reaksi?reaksi atau kegiatan?kegiatan manusia dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam dinamik kehidupan segala proses sosial, politis, ekonomis, keagamaan, moral?estetis, dan lain sebagainya. Oleh karena kedudukannya yang demikian itu, maka timbul bermacam?macam interpretasi terhadap posisi dan fungsi Psychologi.</p>
<p>Soal ini perlu dianalisa secara seksama untuk menghindarkan salah pengertian dan salah penggunaan. Oleh karena yang dipelajari adalah proses?proses yang ber­hubungan langsung dengan kehidupan sosial, maka banyak sek&#8217;ali konsep yang juga dikenal dalam kehidupan sehari?hari, ditemukan kembali dalam kosa?kaja Psychologi. Hal ini menimbulkan kesu­karan, sebab dengan demikian tidak hanya sarjana Psychologi yang mengetahui tentang Psychologi, melainkan pada dasarnya tiap orang terpelajar akan sekedar mengerti dasar?dasar Psycho­logi, bahkan mungkin menganggap dirinya kompeten dalam bidang ini. Hal inilah yang sebenamya mendasari ucapan?ucapan yang se­ring terdengar seperti: &#8220;Tindakan ini psychologis tidak benar &#8230; atau benar&#8221;. Demikian pula, bilamana usaha seorang sarjana psychologi berhasil, maka proses yang menuju ke hasil tersebut, umumnya mudah dapat dimengerti, sehingga dapat dicapainya tujuan tersebut seolah?olah tanpa bantuan Ilmu&#8217;Psychologi. Peran Psychologi dan sariana psychologi bukanlah peran yang herois dan spektakuler.</p>
<p>Disamping hubungan dengan proses?proses kehidupan sosial, maka di lain pihak ada hubungan erat antara Psychologi dengan Ilmu?ilmu Eksakta terutama di bidang Kimia, Biologi dan Listrik.</p>
<p>Dalam Ilmu Biologi Umum, untuk manusia khususnya Ilmu Kedokteran, dapat dibuktikan bahwa banyak sekidi proses mental atau proses emosionil disertai dengan proses?proses Kimia, Bio?Kimia dan Listrik. Hal ini sudah agak lama diketahui, dan oleh karena itu banyak sekali proses mental?emosionil kini dicoba diukur, atau lebih berbahaya lagi: di?identifikasi?kan tnelalui metode?metode Ilmu?Ilmu Eksakta tersebut, misalnya pesawat untuk menentukan kebohongan (lie?detector). Oleh karena Ilmu Kirnia, Fisika, BioKimia, bahkan ilmu tentang keturunan (Heredity) berhubungan erat dengan pengukuran (measurement) dan Ilmu Matematik, sedangkan Ilmu?Ilmu eksakta tersebut mempunyai reputasi dapat mendekati kepastian dan ketepatan dalam rwnalan (prodictive power), maka banyak usaha yang mencoba agar 11mu Psychologi dialah secara eksakt statistis.</p>
<p>Harus diakui, bahwa metode statistis itu sendiri pada permulaannya lemah, tetapi terbukti kemudian, bahwa metode tersebut lambat?laun dapat diperbaiki sedemikian rupa sehingga juga dalam segi kemampuan prediktif ini ada kemajuan yang sangat berarti. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa kemampuan prediktif yang statistis tadi hanya bertaku untuk gejala massal, sedangkan untuk tiap individu, artinya seorang dermi seorang, maka metode objektif statistis tadi hanya memberikan petunjuk. Dalam rangka individu, maka objektivitas dan subjektivitas akan bertemu kembali, dan dalam pertemuan tersebut akan sering timbul &#8220;seni&#8221; atau&#8217;art&#8217; dalam penggunaan Psychologi sebagai disiplin empiris.</p>
<p>Mulailah sifat pribadi seorang Psycholog berhadapan langsung dengan yang diperiksa, berdasarkan dinamik yang disebut dengan konsep &#8216;rapport&#8217;, &#8216;hubungan antat pribadi,&#8217;interpersonal relation ship&#8217;. Adanya faktor subjektif dan &#8216;seni&#8217; inilah yang menyebab kan seringnya. timbul pendapat, bahwa Ilmu Psychologi bukan 11mu Pengetahuan, melainkan Ilmu Kesenian, artinya suatu seni, an art.</p>
<p>Pendapat tersebut menyisihkan faktor?faktor objektif?statistis dalam metode Psychologi, dan oleh karena itu pendapat yang berat sebelah ini tidak dapat diterima. Apalagi dalam abad ke?20 ini; sebab misalnya perbedaan antara Einstein dan Eddington oleh kedua tokoh itu sendiri disadari pula berdasarkan perbedaan?perbedaan subjektif. Umumnya dapat dirumuskan, bahwa dalam Ilmu Pengetahuan selatu ada segi?segi subjektif yang dapat dihayati dan segi?segi objektif yang dapat diukur. Yang perlu disadari dan diketahui jelas adalah: dimana segi objektif berhenti dan di manakah segi objektif itu mulai berperanan, atau dimanakah batas antara fakta dan penafsiran. Dalam sejarah dan perkembangan segala Ilmu Pengetahuan, soal ini akan senantiasa timbul dan hanya dapat diatasi sepanjang dan sejajar dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan. Kita harus mampu mempergunakan self corrective process yang implisit terdapat dalam tiap ilmu pengetahuan empiris. Batu ujian terakhir adalah cocok?tidaknya dengan pengalaman, yakni verifikasi empiris.</p>
<p>Di samping soal metodologi tersebut di atas, maka materi atau isi Psychologi perlu diperiksa secara metodis terus menerus dan menuntut penyesuaian antara metodologi dan perbedaari materi yang terdapat diantara suku?suku bangsa serta perobahan dalam dinarnik kehidupan abad ke?20 ini. Di Indonesia perobahan ini sedang berjalan dengan sangat cepatnya.</p>
<p>Satu contoh yang pemah saya alami ialah dalam lapangan Psychoanalisa: Seorang sarjana mempergunakan analisa tersebut sesuai dengan dasar ajarannya, yaitu menyusun keperibadian yang menuju kearah individualisme. Terbukti pengarahan ini tidak berhasil, karena penderita yang sedang dianalisa tersebut berasal dari salah satu suku yang aliran kehidupannya mengutamakan sifat komunal. Setelah analisa kesukaran yang dihadapi oleh penderita, diarahkan ke arah komunal, maka hasilnya temyata lebih cepat dan lebih mendalam.</p>
<p>Sebaliknya, bila kita secara ilmiah atau intuitif paham tentang karakteristik kehidupan suatu suku, maka seringkali jalan perbaikan mungkin dapat dipersingkat. Suatu petunjuk ke dalam soal ini adalah pengertian tentang lambang?lambang yang ada dalam suatu lingkungan kebudayaan tertentu. Pemah saya menghadapi seorang pejabat yang sudah mencari konsultasi kemana?mana tanpa memperoleh hasil. Oleh karena pejabat tersebut sesuku dan sedaerah dengan saya, maka pokok persoalan tingkah lakunya segem dapat kita ketahui bersama.</p>
<p>Oleh karena itu Ilmu Psychologi sangat memerlukan bantuan ilmu-ilmu lainnya seperti Antropologi, pengetahuan tentang Ceritera-ceritera Rakyat, dan bahkan Takhayul. Takhayul bukannya untuk diikuti, melainkan sebagai landasan untuk pengertian. Sebaliknya, bila kita tidak memahami kebudayaan suatu golongan tertentu, maka jalan therapie menjadi panjang bahkan sulit. Berkenaan dengan materi yang berbeda?beda ini timbul lagi peristiwa?peristiwa yang telah saya sebutkan dalam pembicaraan tentang metodologi tersebut di atas:</p>
<p>Materi ini dalam retrospect kita ketahui bersarna, dan asosiasi patologis yang kemudian diperbaiki, adalah sedemikian mudahnya ?untuk dimengerti, sehingga perobahan hubungan asosiatif tadi tampaknya &#8216;wajar’, &#8216;natural&#8217;.</p>
<p>Soal perubahan dalam masyarakat sepanjang bahan ini menjadi materi untuk Psychologi merupakan suatu proses wajar pula, misalnya perobahan materi inteligensi, materi yang merangsang emosionil moral, dan lain sebagainya. Bilamana kita tidak sadar dan waspada, maka banyak sekali hal yang rupanya wajar dan dianggap lumrah, biasa, natural, sehingga tidak memerlukan perobahan apapun, kecuali barangkali sedikit bantuan dari ilmu psychologi. Benarkah halnya demikian?</p>
<p>Dalam sejarah pembentukan Fakultas Psychologi di tahun 1952 pada Dies U.I. ke?I di Bandung dengan jelas saya kemukakan soal yang sudah dianggap biasa, natural, normal, yaitu:kegagalan para murid di sekolah?sekolah dan kegagalan dalam memilih lapangan pekerjaan. Bila kita analisa soal ini, maka akan nyata bahwa kegagalan?kegagalan tersebut sebagian besar berdasarkan faktor Psychologis dan bahwa sebagian dari kegagalan tersebut sebenamya masih dapat diperbaiki, dan bakat?bakat dapat disalurkan kearah yang lebih memuaskan. Berdasarkan kenyataan itu, maka motto dari pada pidato tersebut terdiri dari tiga soal: Pertama, &#8216;the survival of the fittest&#8217;, soal yang menurut teori evolusi merupakan hal yang &#8216;natural&#8217;, jadi &#8216;drop outs&#8217; atau &#8216;misplacement&#8217; juga, merupakan hal yang &#8216;natural&#8217;. Kedua, &#8216;intelligence mastering nature&#8217;, dalam hal ini Ilmu Psychologi digunakan untuk mengoreksi soal yang natural, yang biasa tadi, metalui penyaluran yang di dasarkan pada metode Psychologi untuk sampai pada motto ketiga, yaitu &#8216;the right man in the right place&#8217;,</p>
<p>Lagi?lagi suatu kondisi yang natural, biasa. Tetapi &#8216;biasa&#8217; motto pertama berbeda dengan &#8216;biasa&#8217; menurut motto ketiga.</p>
<p>Oleh karena semuanya biasa, maka perkembangan Psychologi di Indonesia juga biasa, artinya &#8216;alon?alon angger kelakon&#8217;, sekalipun fungsi sosialnya sebetulnya urgen sekali untuk memperbaiki pendidikan yang di Indonesia ini biasanya siudah biasa mengecewakan. Andaikata tiap 2 atau 3 sekolahan, soal?soal pendidikan dan paedagoginya di dampingi oleh seorang ahli Psychologi yang mampu menentukan jenis intelbgensi, motivasi, bakat, dan mengetahui pula tentang job requirement analysis, maka golongan yang sekarang dihebohkan dengan nama &#8216;drop out&#8217; sebagian besar akan dapat disalurkan menurut motto k~tiga tersebut di atas, dan tinggallah &#8216;drop outs&#8217; berdasarkan soal?soal sosial ekonomis saja. Soal &#8216;drop outs&#8217; berdasarkan salah pilih pendidikan, salah pilih pekerjaan jauh sebelum Perang Dunia II dikenal di Negeri Jerman sebagai&#8217;die Tragodie der Verfehiten Berufe&#8217;. Pada masa itu pula soal ini telah dikenal di Indonesia, dan orang?orang berdatangan mengunjungi poliklinik Neurologi dan Psychiatri, karena pada masa itu Psychologi dianggap tidak perlu di Hindia Belanda. Sekarang soal &#8216;drop outs&#8217; sudah resmi menjadi masalah nasional, tetapi masih belum menjadi masalah Psychologi, artinya, belum &#8216;resmi menjadi masalah Psychologi&#8217;.</p>
<p>Mengherankan pula bahwa telah ada perusahaan swasta yang bergerak dalam lapangan Psychologi yang resmi dipergunakan oleh sekolah?sekolah lanjutan, sedangkan dasar ilmu pengetahuan perusahaan tersebut masih diragukan.</p>
<p>Fungsi Psychologi sudah lebih banyak dipergunakan dalam lapangan perusahaan. Sekalipun masih belum diadakan follow?up secara luas sebagaimana seharusnya dilakukan dengan metode statistik, namun secara kwalitatip pendapat berbagai?bagai perusahaan sangat puas dengan hasil psychologi, bahkan LEMIGAS sudah beberapa tahun terus?menerus dan secara teratur bekerjasama dengan Fakultas Psychologi U.I. Sekurang?kurangnya hingga sekarang belum ada sikap negatif terhadap penggunaan Psychologi. Di samping penmhaan?perusahaan, maka ABRI, terutama 3 Angkatan TNI-nya, sudah lama mempergunakan Psychologi sebagai alat resmi dalam seleksi penerimaan anggota?anggotanya. Sebetulnya, karena Ilmu Psychologi antara lain mempelajari syarat, reaksi dan kegiatan manusia dalam kehidupan, maka pada dasamya Psychologi dapat digunakan dalam tiap segi dan kegiatan kehidupan manusia. Oleh karena itu, di negara?negara yang telah mengetahui manfaat Psychologi untuk propaganda, kita kenal berbagai kejuruan seperti Psychologi untuk propaganda, untuk periklanan, untuk pengendalian massa, untuk kriminologi, untuk perusahaan, psy?Warfare, dan berbagai bidang lainnya.</p>
<p>Ditinjau dari segi ini, maka dapat timbul dua pertanyaan: Mengapa di Indonesia belum sampai penggunaan meluas dan mengapa belum ada kejuruan?</p>
<p>Pertanyaan pertama mudah dapat dijawab: Psychology belum cukup dikenal dalam fungsi sewajarnya, dan masih membutuhkan banyak usaha dan waktu untuk mengabdi dalam masyarakat seca­ra meluas. Di samping belum tiba waktunya, maka banyak sekali lapisan-lapisan yang tanpa menyadari menganggap diri cukup melaksanakan usaha yang biasanya disebut &#8216;psychologis&#8217;.</p>
<p>Pertanyaan kedua tentang kejuruan sebenarnya hanya dapat dijawab, kalau kita menyadari sejarah perkembangan Ilmu Pengetahuan, fungsi Ilmu Pengetahuan, serta zaman dan situasi di mana psychologi akan dipergunakan.</p>
<p>Di Indonesia soal kejuruan sudah dikenal, bahkan S.M.A. pun sudah dijuruskan. Padahal pada tingkat tersebut bakat, motivasi, intelligensi dari siswa belum dapat diketahui.</p>
<p>Demikian pula tahun pertama universitas sudah dijuruskan, padahal­ soal intelligensi, motivasi, bakat tidak diketahui juga, dan seterusnya. Karena banyak faktor tidak diketahui, maka kejuruan menjadi tanda tanya yang besar. Kejuruan hanya jelas menyebabkan fragmentasi secara luas, sedemikian luasnya sehingga seolah-olah tiap kejuruan terkurung dalam rangka kejuruan masing?masing, dan komunikasi antara kejuruan sangat sukar. Hal ini terbukti pula dari kenyataan, bahwa di lapangan Pemerintahanpun perlu adanya KISS, koordinasi, integrasi, synkronisasi, simplifikasi.</p>
<p>Fragmentasi antara kejuruan ini mempunyai hubungan dengan perkataan koordinasi dan synkronisasi. Soal ini telah saya sinyalir dalam pidato saya pada tanggal 15 Januari 1972 dalam lapangan Ilmu Kedokteran.</p>
<p>Kecuali soal fragmentasi ini, maka dasar ilmu psychologi itu sendiri dewasa ini sedang berkernbang, sehingga kejuruan di masa ? sekarang dasarnya akan lebih sempit dari kejuruan misalnya 5 tahun lagi yang akan mendatang.</p>
<p>Dalam masa perluasan dasar suatu Ilmu Pengetahuan, maka spesialisasi merupakan usaha yang sangat dubieus. Specialisasi hanya sempurna, bilamana dasar dari ilmu induknya mendekati stabilisasi. Pada masa sekarang sudah dirasakan di beberapa negara dan universitas keperluan mencari hubungan dasar untuk Psychologi, Anthropologi, Sosiologi, bahkan ada yang menambahkan Filsafat. Jelaslah bahwa dasar dari Psychologi sedang bergerak. Kerugian lain dalarn rangka spesialisasi adalah penyernpitan yang akhirnya menjadi jalan buntu dan routineus, &#8216;blind alleys&#8217;.</p>
<p>Spesialisasi memerlukan kewaspadaan untuk terhindar dari penyempitan tersebut, dan oleh karena itu selalu perlu dicocokan kernbah dengan dasar ilmu induk yang sedang berubah. Phenomena yang serupa terdapat dalam teori tentang evolusi modern: Hewan yang telah terspesialisasi tidak dapat berkembang ketingkat yang lebih tinggi dari pada tingkat itu juga(Julian Huxley).</p>
<p>Dalam situasi di Indonesia, sebagai negara yang sedang berkembang dan di mana tenaga?tenaga terdidik masih sangat kurang, maka sebenarnya tiap sarjana harus sanggup menghadapi lapangan kehidupan seluas mungkin. Dengan dasar pendidikan yang luas, maka kernampuan untuk menanggapi dan menyesuaikan diri dengan kehidupan tersebut lebih baik dari pada terburu menjadi spesialis. Penduduk Indonesiapun masih belum cukup maju untuk mengerti tentang spesialisme. Sekalipun banyak alasan untuk tidak terburu?buru melaksanakan spesialisme, tetapi spesialisme memang jasanya besar sekali untuk memperdalam segi?segi tertentu, dan dalam tahap kedua mungkin dapat memperluas pula dasar Ilmu Pengetahuan. Kita mengetahui adanya oscillasi antara dasar Ilmu Pengetahuan, spesialisasi dan memperdalam ilmu.</p>
<p>Di samping analisa dari Ilmu Pengetahuan Psychologi sebagai limu Pengetahuan, maka dalam lapangan penerapan pengetahuan ini di Indonesia belum ada ketentuan. Seperti pada permulaan karangan ini dinyatakan, maka obyek Psychologi adalah manusia dan manusia ini dilindungi oleh Undang?Undang. Oleh karena itu maka penerapan Psychologi juga perlu diberi kedudukan sejajar dengan obyeknya, perlu adanya ketentuan perundang?undangan serupa dengan telah adanya perundang?undangan Kedokteran dan Pharmasi. Beberapa segi dari peraturan ini adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama harus ada ketentuan?ketentuan tentang syarat?syarat yang perlu dilengkapi sebelum ada seorang sarjana dapat diberikan izin menerapkan pengetahuannya; hal ini terutama berkenaan dengan izin untuk orang asing, atau mereka yang dididik di luar negeri. Hal ini perlu oleh karena Ilmu Psychologi hubungannya sangat erat dan luas dengan lingkungan kebudayaan. Selain soal lingkungan kebudayaan ini, maka nasihat seorang psycholog mungkin merobah jalan atau nasib orang yang diperiksa. Sedikit banyak nasib ditentukan oleh nasihat tadi. Oleh karena itu maka sebenarnya tanggungjawab seorang sarjana psychologi sama beratnya dengan tanggung jawab seorang dokter atau seorang hakim. Kalau seorang dokter bertanggung jawab tentang hidup atau matinya seorang penderita, maka seorang psycholog dan hakim bertanggung jawab mengenai nasib manusia sepanjang hidupnya. Ada suatu pepatah : &#8220;Korban seorang dokter biasanya dikuburkan, sedang korban seorang sarjana Ilmu Sosial didemonstrasikan sepanjang hidupnya&#8221;. Ketiga?tiganya bertanggung jawab mengenai manusia, obyek sentral dan obyek yang dilindungi Undang-Undang, dan bahkan merupakan landasan bagi dirumuskannya: &#8220;The Universal Declaration of Human Rights&#8221;.</p>
<p>Soal kedua adalah yang berkenaan dengan &#8220;rahasia Ilmu Pengetahuan&#8221;, baik hal ini hanya terbatas pada sarjana yang memeriksa dan orang yang diperiksa, maupun hal rahasia ini berkenaan dengan kewajiban sarjana Psychologi yang menjadi pegawai salah satu perusahaan. Sekalipun usaha sarjana Psychologi hanya biasa saja kelihatannva, yaitu &#8220;the most natural process&#8221; dan sama sekali tidak spektakuler seperti hasil usaha sarjana Ilmu Kedokteran, namun manusia tetap membutuhkan rahasia untuk melindungi kelemahan?kelemahannya. Sarjana Psychologi wajib tutup mulut mengenai soal?soal pribadi orang yang meminta bantuannya, baik terhadap keluarga yang bersangkutan, maupun terhadap majikannya.</p>
<p>Cara melaksanakan penerapan ilmunya dapat diuraikan dan diterangkan, tetapi soal yang perlu dirahasiakan harus tetap dirahasiakan. Pembocoran rahasia ini mungkin merugikan kedudukan client dalam lingkungan keluarganya, atau dalam rangka kedudukannya dalam perusahaan atau jawatannya. Sebaliknya, usaha sarjana Psychologi tidak pula boleh melindungi client dan menyebabkan kerugian pacia fingkungannya. Seorang ahli Psychologi seringkali berhadapan dengan situasi yang menyempit ini, dan oleh karena itu perlu adanya peraturan?peraturan yang lengkap disatu pihak, dan dipihak lain kepribadian yang sanggup menghadapi serta mengatasi &#8220;kedudukan terjepit&#8221; seperti ini.</p>
<p>Kedudukan terjepit inipun akan dijumpai bila di kemudian hari Ilmu Psychologi dipergunakan dalam rangka pengadilan, baik dalam bidang pidana maupun dalam bidang perdata atau dalam rangka kriminologi. Sampai di manakah Undang?Undang akan dapat membebaskan sarjana Psychologi dari kewajiban menyimpan rahasia client untuk dapat mengamankan masyarakat? Pertanyaan ini membutuhkan pemikiran yang mendalam sebelum dapat disusun peraturan yang aman.</p>
<p>Soal ketiga adalah Psychologi dalam propaganda, periklanan dan usaha?usaha lainnya yang serupa. Dalam zaman modern ini, maka Psychologi banyak dipergunakan dalam lapangan?lapangan tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah: &#8220;Sampai dimanakah seorang Psycholog bertanggung jawab dalam propaganda periklanan dan usaha?uasaha yang serupa itu? &#8220;Benarkah, bahwa apa yang dipropagandakan itu bermanfaat untuk manusia dan masyarakat, ataukah propaganda tersebut hanya merupakan ‘sales promotion&#8217; belaka?&#8221;</p>
<p>Perlu saya tegaskan, bahwa sekalipun semua Ilmu Pengetahuan tujuannya adalah mencari kebenaran, dan saya tidak mengingkari tujuan tersebut, namun belum tentu bahwa kebenaran itu identik dengan mempertinggi martabat manusia dan masyarakat. Dengan hubungan ini maka pengamanan perlu sekali, supaya pengunaan Ilmu Psychologi tidak menyimpang dari tujuan intrinsik dari semua Ilmu Pengetahuan, yaitu kebenaran yang mempertinggi martabat manusia dan masyarakat. Pengamanan tersebut dapat berupa ketentuan, bahwa iklan atau propaganda dapat dituntut bila tidak dapat memenuhi isi propagandanya. Iklan atau propaganda yang sekarang sedang melanda negara kita, harus memberi jaminan kebenaran tentang isinya. Sebetulnya masih banyak sekah segi-segi penerapan yang perlu diperiksa, tetapi empat contoh tersebut di atas kiranya cukup untuk menggugah kewaspadaan terhadap soal yang kelihatannya wajar dan biasa. Untuk mengamankan Ilmu Psychologi perlu rancangan Code Ethik Ilmu Psychologi yang kini telah siap dan dijadikan pedoman oleh ahli?ahli Psychologi di Indonesia, disahkan oleh fihak resmi. Di samping itu perlu disusun suatu Dewan Kehormatan Psychologi yang bertugas mengawasi ditaatinya Kode Ethik tersebut untuk menjaga pelanggaran?pelanggaran atau membela para sadana Psychologi bila salah dituduh. Untuk ini semuanya perlu hubungan erat antara persatuan sarjana Psychologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Kehakiman dan Departemen Kesehatan bila perlu.</p>
<p>Setelah berbagai soal yang mendesak saya soroti sepintas lalu, maka tinggal kini hari depan Ilmu Psychologi di Indonesia. Sekalipun semua usaha sosial di Indonesia mempunyai pretensi &#8216;nation building&#8217;, namun Ilmu Psychologilah yang langsung menghubungi manusia Indonesia, baik yang muda maupun yang tua, baik yang, bekerja maupun yang menganggur, baik yang orthodox dan tidak mau berobah, maupun yang saking berobahnya sampai tergelincir. Sesuai dengan pidato saya tahun 1952, maka saya sekarang tetap mempertahankan bahwa sekurang?kurangnya ada dua lapangan di mana Psychologi pada masa yang akan datang akan sangat bermanfaat. Untuk soal ini maka perlu pengertian, yang mendalam dari pihak yang berwenang. Lapangan pertama adalah pendidikan, yang bila dibatasi pada sistim persekolahan saja sudah meliputi sekurang?kurangnya 20 juta anak?anak.</p>
<p>Anak?anak yang sering disebut &#8216;penyambung kehidupan bangsa, penguasa masa depan, pengganti kaum tua&#8217;. Sekali lagi saya majukan bahwa pada tahun 1952 tujuan utama dari pendidikan Psychologi adalah untuk membantu guru?guru di sekolah?sekolah, supaya pendidikan menjadi lebih effisien dan banyaknya kegagalan atau &#8216;drop outs&#8217; diperkecil sekecil?kecilnya. Tujuan kedua adalah untuk mempertinggi produktivitas dalam negeri dengan mencapai target &#8216;the right man in the right place&#8217;dalam hal mana Ilmu Psychologi dapat membantu dengan penelitian &#8216;job requirement analysis&#8217;. Kedua lapangan tersebut mempunyai hubungan erat sekali baik ke segi negatif, maupun ke segi positif.</p>
<p>Bilamana selama pendidikan, kepribadian murid?siswa tidak diketahui, maka usaha guru akan mempunyai sifat &#8216;trial and error&#8217;. Bila terjadi error, maka murid yang bersangkutan mungkin sekali menjadi manusia yang tidak seimbang seorang yang disorganized. Bilamana banyak terjadi &#8216;error, maka dalam masyarakat tersebut terdapat banyak &#8216;displaced personalities&#8217; tadi dengan akibat &#8216;disorganized society&#8217; dengan produktivitas yang rendah. Ilmu Psychologi dapat membantu mengenal kepribadian siswa-siswa dalam segi bakat?bakat, kemampuan, dan motivasi, dan dengan demikian sifat &#8216;trial and error&#8217; dapat lebih diarahkan ke arah yang lebih menentu. Bilamana sebagian besar dari &#8216;error&#8217; dapat dihindarkan, maka sebagian besar dari siswa menjadi ‘adjusted personalities&#8217;, dan bilamana dalam suatu masyarakat cukup banyak &#8216;adjusted personalities&#8217; maka terjadi pula stabilitas dalam masyarakat, &#8216;an organized society&#8217; yang biasanya identik dengan masyarakat yang produktif.</p>
<p>Sekalipun dalam proses yang disini digambarkan sepintas lalu dan tampaknya sangat sederhana, masih banyak sekaH per­soalan perlu diatasi, namun garis pengarahan cukup jelas untuk mengoreksi kesalahan?kesalahan. Bilamana kedua segi ini saja dapat dilaksanakan, maka Ilmu Psychologi telah menunaikan sebagian besar dari tugasnya dalam &#8216;nation building. Lain?lain segi dapat menyusul kemudian. Tentunya di samping kedua segi yang sosial pragmatis tersebut masih sangat diharapkan penelitianpenelitian dasar lainnya, terutama di Indonesia ini yang terdiri dari puluhan lingkungan kebudayaan. Demikian pula perlu diikuti dengan seksama perobahan?perobahan yang serang lewat di Indonesia ini. Justru dalam negara yang kebudayaannya terbentang antara zaman batu di Irian Barat, sampai zaman nuklir dan ruang angkasa, maka peran Ilmu Psychologi adalah sangat perlu untuk menjadi perantara dalm hal modernisasi.</p>
<p>Dengan rendah hati saya menyampaikan terima kasih saya kepada Yth. Menteri P &amp; K yang memberikan persetujuan pemberian Gelar Honoris Causa kedua kalinya pada saya.</p>
<p>Demikian pula saya sampaikan terima kasih kepada Yth. Rektor serta Senat Universitas Indonesia yang selama pembentukan pendidikan di Fakultas Psychologi dari 1953 hingga sekarang memberikan kepercayaan penuh, dan memutuskan pemberian Honoris Causa dalam Ilmu Psychologi pada saya. Tanpa kepercayaan tadi, maka usaha saya tidak mungkin berhasil, dan kepercayaan tadi akan tetap menjadi landasan usaha selanjutnya.</p>
<p>Keluarga Fakultas Psychologi; Pada hari bahagia untuk kita semuanya ini, maka rasa takut, bimbang pada permulaan langkah-langkah pertama dalam menyusun pendidikan Ilmu Psychologi di Indonesia telah diganti dengan rasa lega. Oleh karena dapat saya sebut beberapa nama yang menurut keyakinan saya dapat mengembangkan Ilmu Psychologi selanjutnya ?Echelon pertama adalah Prof. Fuad Hasan dan kawan?kawannya.</p>
<p>Tenaga?tenaga lainnya, baik Staf Pengajar maupun Staf Administrasi menurut penilaian saya cukup penyerahan diri, dan tekun bekerja untuk tugas pengembangan Lembaga pendidikannya sekalipun jelas bahwa beban yang mereka pikul kian hari tambah berat dan luas.</p>
<p>Telah di hadapan mata kita, setelah 20 tahun mengembara tanpa rumah sendiri, bahwa pertengahan 1974 akhirnya akan dapat bangunan khusus dan permanen untuk melaksanakan pekerjaan kita.</p>
<p>Kepada istri?anak?anak dan Ibu Soetedjo, terima kasih saya untuk segala kebebasan dan bantuan sehingga saya dapat melaksanakan sumbangan saya dalam perjuangan dari zaman Kolonial hingga sekarang.</p>
<p>Almarhum Bapak Ibu dan Almarhum Bapak Soetedjo, berkah do&#8217;a Restu mu, akhirnya jalan dapat saya ratakan.</p>
<div id="crp_related"><h3>Mungkin Anda perlu membaca ini juga:</h3><ul><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/skripsi-teks-menulis-dan-meneliti/" rel="bookmark" class="crp_title">Skripsi, Teks, Menulis dan Meneliti</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/pendidikan-program-doktor-s-3-di-indonesia/" rel="bookmark" class="crp_title">Pendidikan Program Doktor (S-3) di Indonesia</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/universitas-pusat-belajar-bernalar/" rel="bookmark" class="crp_title">Universitas Pusat Belajar Bernalar</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/magister-manajemen-ilmiah-atau-profesional/" rel="bookmark" class="crp_title">Magister Manajemen Ilmiah atau Profesional?</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/civitas-academica/" rel="bookmark" class="crp_title">Civitas Academica</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/di-simpang-jalan-memilih-jurusan/" rel="bookmark" class="crp_title">Di Simpang Jalan Memilih Jurusan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/psyicologi-sebagai-ilmu-pengetahuan-dan-hari-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceramah Achmad Baiquni Tentang Kosmologi</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/ceramah-achmad-baiquni-tentang-kosmologi/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/ceramah-achmad-baiquni-tentang-kosmologi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 04:04:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1995 Almarhum Profesor Achmad Baiquni memberikan ceramah tentang kosmologi di gedung UC UGM. Berikut adlah rekaman ceramah tersebut yang berhasil didokumentasikan oleh redaksi rumah pengetahuan. Selamat menikmati&#8230;
rekaman sessi 1
rekaman sessi 2
Mungkin Anda perlu membaca ini juga:Pencakar Langit Oke, Rumah Toko Tak PastiMr Melon dari YogyakartaRumah Pengetahuan Mendukung Workshop Matematika Gasing51 Universitas Ikuti Kontes Robot Se-IndonesiaJadikan Industri sebagai Penghela DiversifikasiKontes Robot Nasional : Ditantang Ciptakan Robot Aplikatif]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 1995 Almarhum Profesor Achmad Baiquni memberikan ceramah tentang kosmologi di gedung UC UGM. Berikut adlah rekaman ceramah tersebut yang berhasil didokumentasikan oleh redaksi rumah pengetahuan. Selamat menikmati&#8230;</p>
<p><a href="http://www.rumahpengetahuan.web.id/wp-content/uploads/Baiquni1.mp3">rekaman sessi 1</a></p>
<p><a href="http://www.rumahpengetahuan.web.id/wp-content/uploads/Baiquni2.mp3">rekaman sessi 2</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Mungkin Anda perlu membaca ini juga:</h3><ul><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/pencakar-langit-oke-rumah-toko-tak-pasti/" rel="bookmark" class="crp_title">Pencakar Langit Oke, Rumah Toko Tak Pasti</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/mr-melon-dari-yogyakarta/" rel="bookmark" class="crp_title">Mr Melon dari Yogyakarta</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/rumah-pengetahuan-mendukung-workshop-matematika-gasing/" rel="bookmark" class="crp_title">Rumah Pengetahuan Mendukung Workshop Matematika Gasing</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/51-universitas-ikuti-kontes-robot-se-indonesia/" rel="bookmark" class="crp_title">51 Universitas Ikuti Kontes Robot Se-Indonesia</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/jadikan-industri-sebagai-penghela-diversifikasi/" rel="bookmark" class="crp_title">Jadikan Industri sebagai Penghela Diversifikasi</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/kontes-robot-nasional-ditantang-ciptakan-robot-aplikatif/" rel="bookmark" class="crp_title">Kontes Robot Nasional : Ditantang Ciptakan Robot Aplikatif</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/ceramah-achmad-baiquni-tentang-kosmologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pidato Rektor pada Peringatan 50 Tahun UGM</title>
		<link>http://rumahpengetahuan.web.id/pidato-rektor-pada-peringatan-50-tahun-ugm/</link>
		<comments>http://rumahpengetahuan.web.id/pidato-rektor-pada-peringatan-50-tahun-ugm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 1999 14:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pidato Ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahpengetahuan.web.id/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Yang terhormat Bapak Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
Yang terhormat para Anggota MUSPIDA Tingkat I Daerah Istimewa Yogyakarta,
Yang terhormat para Anggota Dewan Penyantun Universitas Gadjah Mada,
Yang terhormat para Anggota Senat Universitas Gadjah Mada,
Yang terhormat pengurus Fakultas, Program Pascasarjana, Lembaga dan Pusat Studi di Lingkungan Universitas Gadjah Mada,
Yang terhormat para Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa,
Dan para Undangan yang saya muliakan.
Kemarin, hari Minggu, tanggal 19 Desember 1999, Universitas Gadjah Mada tepat berusia 50 tahun. Atas prestasi-prestasinya yang telah dicapai sampai saat ini marilah kita panjatkan puji syukur ke ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.<br />
Yang terhormat Bapak Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,<br />
Yang terhormat para Anggota MUSPIDA Tingkat I Daerah Istimewa Yogyakarta,<br />
Yang terhormat para Anggota Dewan Penyantun Universitas Gadjah Mada,<br />
Yang terhormat para Anggota Senat Universitas Gadjah Mada,<br />
Yang terhormat pengurus Fakultas, Program Pascasarjana, Lembaga dan Pusat Studi di Lingkungan Universitas Gadjah Mada,<br />
Yang terhormat para Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa,<br />
Dan para Undangan yang saya muliakan.</p>
<p><span id="more-370"></span>Kemarin, hari Minggu, tanggal 19 Desember 1999, Universitas Gadjah Mada tepat berusia 50 tahun. Atas prestasi-prestasinya yang telah dicapai sampai saat ini marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Taala. Semoga pada waktu menclatang Universitas Gadjah Mada akan tetap berhasil dalam mengemban misinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan sumberdaya manusia yang diperlukan. untuk membangun masyarakat madani dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa yang demokratis dalam kemajemukan, menuju cita-cita bangsa Indonesia, yaitu masyarakat adil dan makmur.</p>
<p>Demikian pula, hanya atas perkenan-Nya, kita dapat berkumpul bersama disini menghadiri Rapat Senat Terbuka dengan acara tunggal Dies Natalis ke-50 Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Para anggota Senat dan hadirin yang saya hormati, Dalam Rapat Senat Terbuka ini, Rektor sebagal Ketua Senat, menyampalkan laporan tentang hasil-hasil yang telah dicapai selama satu tahun pelaksanaan tugas berdasarkan kepercayaan dan kewenangan yang diberikan oleh Senat. Tahun ini merupakan tahun kedua dari masa jabatan Rektor untuk 4 tahun yang diangkat dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 366/M Tahun 1997 dan dilantik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 23 Maret 1998.</p>
<p>Para hudirin yang saya hormati, Sebagaimana telah kita ketahui, tahun ini merupakan tahun istimewa bagi Universitas Gadjah Mada, karena pada tahun ini, Universitas Gadjah Mada telah menjalani 50 tahun tugasnya dalam mendidik bangsa. Oleh karena itu, laporan ini-meskipun tetap berfokus pada laporan pelaksanaan tugas setahun terakhir-tapi disusun mencakup tiga bagian, yaitu: kilas balik ke masa lalu, laporan pelaksanaan kegiatan tahun-tahun terakhir, dan pandangan ke masa depan.<br />
Pertama, kilas balik ke masa lalu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, telah membuka kesempatan dan sekaligus tanggung jawab baru bagi bangsa yang sebelumnya hidup, di alam penjajahan. Salah satu. kesempatan dan tanggung jawab itu adalah membangun pendidikan tinggi.</p>
<p>Pemindahan ibu kota. negara dari Jakarta ke Yogyakarta, pada masa perang kemerdekaan, berpengaruh besar bagi Yogyakarta, kota yang telah lama menjadi salah satu pusat pendidikan dan perjuangan nasional Indonesia. Yogyakarta dan sekitarnya berubah menjadi pusat perjuangan Republik Indonesia. Di samping kegiatan pemerintahan dan tentara, kegiatan pendidikan tinggi juga segera terkosentrasi di sekitar Yogyakarta, termasuk di Klaten dan Surakarta.</p>
<p>Pada saat itu, Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dibentuk berdasarkan pemikiran tentang perlunya mendirikan sebuah universitas nasional milik bangsa Indonesia. Pendirian balai perguruan tinggi tersebut pada tanggal 17 Februari 1946 dan peresmiannya pada tanggal 3 Maret 1946 tidak terlepas dari dukungan pribadi Sultan Hamengku Buwono IX.</p>
<p>Kegiatan perkuliahan di seluruh perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya terhenti, ketika Belanda menduduki Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948. Sibagian besar mahasiswa dan dosen ikut berjuang mendukung Republik Indonesia, dengan cara mereka masing-masing. Setelah persetujuan Roem-Roijen ditandatangani pada 7 Mei 1949, muncul keinginan untuk segera menyelenggarakan kembali pendidikan tinggi nasional.</p>
<p>Pada awalnya, keinginan itu berhimpitan dengan rencana pembukaan perguruan tinggi federal, sesuai dengan bentuk negara yang diusulkan Belanda di dalam setiap perundingan. Akan tetapi para Republiken tetap menginginkan Republik Indonesia memiliki perguruan tinggi sendiri di Yogyakarta, sebagai salah satu wilayah utama pendukung Republik Indonesia di samping Sumatera Barat dan Aceh. Bagi Republik Indonesia, memiliki perguruan tinggi sendiri adalah suatu nilai yang penting. Keberadaan perguruan tinggi merupakan salah satu bukti masih adanya kedaulatan negara Indonesia, dan bangsa Indonesia memiliki kemampuan serta peradaban yang sama dengan bangsa lain.</p>
<p>Usaha untuk menyelenggarakan perguruan tinggi itu harus menghadapi kendala yang besar, karena sebagian besar perguruan tinggi milik pemerintah Republik Indonesia berada di luar wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Namun, para mahasiswa dan pengajar pendukung Republik Indonesia memutuskan tidak memindahkan perguruan tinggi mereka ke Yogyakarta. Biarpun di tengah-tengah suasana yang tidak menentu karena masih terjadi pertempuran di sana-sini, secara bertahap berbagai fasilitas yang ada dipindahkan ke Yogyakarta.</p>
<p>Persiapan untuk menyelenggarakan peguruan tinggi, dilakukan dalam waktu yang sangat pendek. Pagelaran, Sitihinggil dan beberapa bangunan milik kraton dipersiapkan untuk kegiatan perguruan tinggi serta tempat tinggal mahasiswa dan dosen. Sejak awal Agustus 1949, para mahasiswa lama dan baru mulai berdatangan dari medan tempur atau tempat-tempat pengungsian mereka di pedalaman. Akhirnya pada tanggal 1 November 1949. mulai dibuka perkuliahan di kompleks Kadipaten-Ngasem untuk Perguruan Tinggi Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Farmasi yang, dipimpin oleh Prof. Sardjito dengan 105 mahasiswa, Sekolah Tinggi Pertanian yang dipimpin oleh Prof Harjono dengan 82 mahasiswa dan Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan yang dipimpin Prof. Soeparwi diikuti 6 orang mahasiswa. Berikutnya di kompleks Jetis, dibuka perkuliahan Sekolah Tinggi Teknik dipimpin oleh Prof Wreksodiningrat yang memiliki 205 orang mahasiswa. Pada tanggal 3 Desember 1949, Sekolah Tinggi Hukum di Surakarta yang dipimpin oleh Prof. Notonagoro dengan 85 orang mahasiswa dipindahkan ke Yogyakarta.</p>
<p>Biarpun sejak awal penyelenggaraan kembali perguruan tinggi di Yogyakarta direncanakan sebagai gabungan antara perguruan tinggi milik Pemerintah yang telah ada sebelumnya dengan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, pengelolaan perguruan tinggi yang ada masih tetap, berada di bawah naungan masing-masing kementerian ketika perkuliahan telah dimulai. Penggabungan baru terjadi pada tanggal 7 Desember 1949, ketika semua lembaga pendidikan tinggi itu diserahkan kepada Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Sementara itu, dua fakultas milik Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada diserahkan kepada Pemerintah. Penggabungan ini kemudian disahkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tanggal 16 Desember 1949 tentang Peraturan Sementara Penggabungan Perguruan Tinggi Menjadi Universitas, yang merupakan jalan pembuka untuk menyelenggarakan sebuah universitas nasional yang bernama Universitas Gadjah Mada.<br />
Lembaran baru dunia pendidikan tinggi Republik Indonesia terjadi pada tanggal 19 Desember 1949. Sejak saat itu, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mulai menyelenggarakan perguruan tinggi negeri yang dikenal sebagai Universiteit Negeri Gadjah Mada yang berkedudukan di Yogyakarta. Kata universiteit, pada tahun 1954 berubah menjadi &#8220;universitas&#8221;. Sejak saat itu juga, kata &#8220;negeri&#8221; yang melekat pada Universitas Gadjah Mada dihilangkan.</p>
<p>Para hadirin yang saya hormati, Menyelenggarakan kegiatan perguruan tinggi sehari-hari, sama beratnya dengan keinginan untuk tetap bertahan menjadi universitas nasional negara Republik Indonesia. Sebagai perguruan tinggi baru yang masih berhadapan dengan berbagai kesulitan, penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dan administratif di Universitas Gadjah Mada mendapat dukungan yang sangat besar dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dukungan itu bukan hanya berlangsung pada tahun yang pertama, namun dapat dikatakan bahwa kegiatan utama Universitas Gadjah Mada sebenarnya berlangsung di sekitar tembok Keraton Kasultanan Yogyakarta, paling tidak selama sepuluh tahun yang pertama.</p>
<p>Awal aktivitas Universitas Gadjah Mada sebagai perguruan tinggi diliputi oleh kesahajaan. Kegiatan belajar mengajar dan administratif dilakukan di lokasi yang tersebar di kota Yogyakarta. Meskipun demikian, persoalan infrastruktur sejak awal telah diusahakan umuk diatasi, melalui rencana pembangunan sebuah kampus terpadu. Setelah berhasil mengumpulkan uang sebesar lima juta rupiah pada tahun 1951, Universitas Gadjah Mada berhasil membeli 85 hektar tanah di daerah Bulaksumur dari rencana 100 bektar. Pembangunan kampus Bulaksumur dimulai, setelah peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 19 Desember 1951. Gedung kantor pusat tata usaha yang menjadi ciri utama Universitas Gadjah Mada diresmikan oleh Presiden Soekarno pada peringatan dies natalis Universitas Gadjah Mada. Sebelum itu, beberapa kegiatan fakultas telah mulai melakukan kegiatan di sekitar Bulaksumur dan Sekip.</p>
<p>Sejak awal tahun 1970-an, pembangunan infrastruktur di kampus terpadu semakin luas. Berbagai gedung baru didirikan dalam rangka memusatkan kegiatan Universitas Gadjah Mada di Bulaksumur dan sekitarnya. Pada upacara peringatan dies natalis Universitas Gadjah Mada tanggal 19 Desember 1972, diresmikan kampus Universitas Gadjah Mada yang berpusat di Bulaksumur. Usaha itu berhasil, dan sejak saat itu Bulaksumur telah menjadi identitas dari keberadaan Universitas Gadjah Mada mendidik bangsa.<br />
Sementara itu, pada periode yang sama telah dilakukan perubahan sistem pengelolaan Universitas Gadjah Mada. Pada masa lalu, setiap fakultas mempunyai sistem administrasi dan sistem pendidikan yang berbeda-beda. Masing-masing fakultas mengeluarkan kalender akademik sendiri, sistem kenaikan tingkat dan ujian sendiri, metode instruksi sendiri, sistem keuangan sendiri, sistem penerimaan mahasiswa baru sendiri dan melakukan hubungan dengan pihak luar secara langsung. Setiap fakultas atau bahkan jurusan menentukan sendiri uang yang harus dibayar oleh setiap mahasiswa baru dan cara pembayarannya. Sejak akhir tahun 1960-an pada masa kerektoran Drs. Soeroso, M.A. mulai dilakukan sentralisasi, penyeragaman dan standardisasi sistem administrasi, pendidikan, instruksi dan lain-lain. Berdasarkan peraturan baru itu, kalender akademik, sistem kenaikan tingkat, metode pengajaran, penerimaan mahasiswa baru, dan gelar telah distandardisasi dan diseragamkan.<br />
Berbekal 483 mahasiswa dari lima fakultas di luar Fakultas Sastra dan Pedagogik ketika perkuliahan pertama dilakukan pada tahun 1949, Universitas Gadjah Mada mulai mengembangkan diri setahap demi setahap. Perkembangan penting pertama terjadi pada tahun 1955, ketika beberapa bagian atau jurusan ditingkatkan menjadi fakultas. Pada saat itu terbentuk Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Pasti dan Alam, Fakultas Biologi dan Fakultas Farmasi. Pada tahun 1959, Universitas Gadjah Mada telah berkembang sebagai perguruan tinggi yang memiliki 13 fakultas dengan hampir sepuluh ribu orang mahasiswa.</p>
<p>Perkembangan ini terus berlangsung, pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada diselenggarakan di 18 fakultas pada tahun 1969. Di samping empat fakultas yang telah disebutkan di atas, sepanjang sepuluh tahun terakhir itu telah dibentuk Fakultas Kedokteran Gigi (1960), Fakultas Kehutanan (1963), Fakultas Teknologi Pertanian (1963), Fakultas Geografi (1963), Fakultas Psikologi (1965), Fakultas Filsafat (1967) dan Fakultas Petemakan (1969). Sementara itu, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Pendidikan Jasmani dan Fakultas Keguruan dan 11mu Pendidikan Universitas Gadjah Mada yang merupakan perkembangan dari Fakultas Sastra, Pedagogik dan Filsafat, kemudian pada tahun 1964 diserahkan kepada IKIP Yogyakarta yang baru dibuka.<br />
Selain di Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada juga menyelenggarakan cabang Fakultas Hukum, Sosial dan Politik di Surabaya pada tanggal 19 Juh 1952. Kegiatan ini berlangsung sampai tahun 1954, ketika fakultas itu diserahkan sebagai salah satu fakultas di Universitas Airlangga yang baru dibentuk. Universitas Gadjah Mada juga membuka Universitas Gadjah Mada Cabang Magelang pada tahun 1964, yang memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Hukum., Fakultas Ekonomi dan Fakultas Teknik.</p>
<p>Perkembangan Universitas Gadjah Mada mencapai puncak pada tahun 1982, lima tahun setelah statuta baru disahkan. Jumlah fakultas di Universitas Gadjah Mada telah berkembang menjadi 21. Hal itu berkaitan dengan dibentuknya Fakultas Pascasarjana, Fakultas Non-gelar Teknologi dan Fakultas Non-gelar Ekonomi. Fakultas Pascasarjana merupakan perkembangan dar Lembaga Pendidikan Doktor yang telah didirikan pada tahun 1977. Sementara itu, dua fakultas non-gelar itu bersama-sama beberapa program sejenis yang merupakan kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah menjadi dasar bagi perkembangan pendidikan diploma di Universitas Gadjah Mada selanjutnya. Keberadaan 21 fakultas itu tidak berlangsung lama, pembentukan Program Pascasarjana dan pengembalian dua fakultas non-gelar ke fakultas induknya di Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi, menyebabkan Universitas Gadjah Mada kemball memiliki 18 fakultas.<br />
Perubahan dilakukan sejak tahun 1960-an, dengan mengganti sistem bebas dengan sistem terpimpin. Namun dalam pelaksanaannya, beberapa hal yang terjadi pada sistem lama tetap saja berlangsung. Sementara itu, pada saat yang sama orientasi pendidikan di Universitas Gadjah Mada mulai bergeser dari sistem Belanda, terutama ke sistem yang berkembang di Amerika Serikat. Hal ini berhubungan dengan semakin banyaknya para dosen vang lulus dari peguruan tinggi di Amerika Serikat dan negara lainnya, dan kerja sama Universitas Gadjah Mada dengan perguruan-perguruan tinggi tersebut. Seiring dengan kebijakan penyeragaman yang dilakukan pemerintah Orde Baru dan adanya kebutuhan terhadap, sistem baru yang diharapkan mampu membawa terobosan terhadap sistem lama yang memerlukan masa studi yang lebih panjang, sejak tahun 1974 diberlakukan Sistem Kredit Semester. Namun dalam, pelaksanaannya, baru pada tahun 1979 semua fakultas di Universitas Gadjah Mada dapat menyelenggarakan sistem kredit tersebut secara keseluruhan. Setahun kemudian keseragaman lain harus diikuti oleh Universitas Gadjah Mada sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan Pemerintah, yang membagi strata pendidikan tinggi menjadi SO, S1, S2 dan S3. Sebuah ironi terjadi, Sl yang secara riil memiliki beban studi dan masa studi sama dengan jenjang sarjana penuh pada masa lalu hanya diakui sebagal bachelor secara internasional. Masa studi pascasarjana di jenjang S2 dan S3 pun tidak lebih pendek dari masa sebelumnya, yang rata-rata lebih dari tiga tahun bagi S2 dan di atas enam tahun untuk S3.</p>
<p>Di tengah-tengah perkembangan Universitas Gadjah Mada yang semakin besar dan mapan sampai pertengahan tahun 1980-an, bukan berarti semuanya berjalan secara paralel. Menjadi yang terbesar tidak hanya merupakan kekuatan, melainkan juga menyimpan banyak kelemahan. Program Pascasarjana memang berkembang dengan pesat, beberapa program studi baru yang menjanjikan telah dibuka, berbagai penelitian yang berkualitas semakin banyak dihasilkan dan pendapat sivitas akademikanya semakin diperhitungkan secara nasional, namun di saat yang sama beberapa persoalan internal yang akut sedang terjadi. Eksistensi beberapa program studi tetap dianggap baik hanya karena melekat pada nama. Universitas Gadjah Mada, daripada kualitas riil keilmuannya. Sementara itu, kebebasan mimbar akademik semakin jauh. Keseragaman sistem dan pola pikir semakin dipaksakan oleh iklim politik yang berkembang pada saat itu, sehingga rutinitas birokratis, upacara dan baju seragam, menjadi sangat penting. Stagnasi ilmiah, ketidakjujuran dan erosi intelektual sebenarnya telah terjadi, namun tidak dirasakan atau tidak ingin diakui. Beban historis dan distorsi wacana menjadi semakin besar, sehingga tidak mungkin bagi Universitas Gadjah Mada menaikkan SPP, memberhentikan mahasiswa yang telah melampaui masa studi maksimal, mengalihtugaskan tenaga pengajar yang kurang mampu meningkatkan kemampuan intelektualnya atau memotivasi sejumlah guru besar agar tetap mengikuti perkembangan bidang ilmunya secara seksama. Jika dilakukan, semua beranggapan bahwa hal itu tidak sesuai dengan prinsip kerakyatan, kemanusiaan dan keluargaan yang telah menjadi identitas Universitas Gadjah Mada sejak lahir. Keadaan demikian ini dipengaruhi juga oleh kenyataan bahwa semua staf pengajar universitas adalah pegawai negeri yang tidak berbeda dengan pegawai negeri lainnya yang dalam banyak hal kurang sesuai dengan fungsi seorang tenaga pengajar. Sementara jumlah karyawan yang cukup besar dan taraf kesejahteraan yang rendah seringkali menyebabkan inefisiensi yang tinggi. Dua hal tersebut telah mengurangi tingkat produktivitas universitas dan menjadi tantangan besar yang coba diatasi pada sepuluh tahun terakhir menjelang usia setengah abad Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Para anggota Senat dan hadirin yang saya hormati, kini saya sampaikan Bagian yang Kedua, yaltu: Laporan Pelaksanaan Kegiatan tahun-tahun terakhir Laporan Pelaksanaan Kegiatan ini mengacu pada program-program yang dikelompokkan ke dalam fungsi-utama universitas, yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, Kerjasama, dan Manajemen Pendidikan Tinggi yang mencakup manajemen sumberdaya manusia, manajemen keuangan, manajemen sarana prasarana, dan manajemen informasi.</p>
<p>Hadirin yang saya hormati, Dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, butir pertama, yaitu: Pendidikan: Universitas Gadjah Mada telah mempunyal bidang keilmuan yang cukup lengkap, diikuti dengan variasi program studi dan strata pendidikan, memberikan kekuatan dalam mengembangkan pendekatan penyelesaian yang timbul di masyarakat melalui pendekatan interdisipliner. Jumlah program studi S-1 selama 5 tahun terakhir ini hampir tidak berubah, tapi program studi di tingkat D-3 dan S-2 meningkat pesat. Diharapkan program studi di tingkat pascasarjana di masa depan makin meningkat karena pendidikan pascasarjana di Universitas Gadjah Mada sangat diperlukan sebagai kelanjutan studi bagi lulusan-lulusan S-1 dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia.</p>
<p>Perkembangan jumlah mahasiswa terdaftar seluruh strata pada tahun ajaran 1998/1999, dilihat dari perkembangannya selama 10 tahun terakhir memperlihatkan kecenderungan naik terus. Bila perkembangan ini terus berlanjut, maka dalam sepuluh tahun mendatang, jumlah mahasiswa terdaftar diperkirakan akan mencapai sekitar 45 ribu. Melihat jumlah tersebut, mungkin perlu kita mulai memikirkan, apakah suatu ketika Universitas Gadjah Mada perlu mempunyai suatu batas atas jumlah mahasiswa terdaftarnya. Dan mungkin batas itu adalah 47 ribu atau 50 ribu atau angka yang lain.<br />
Kenaikan jumlah mahasiswa terjadi terutama pada tingkat D3 dan juga S-2, sedangkan jumlah mahasiswa S-1 hanya naik sedikit. Hal ini sejalan dengan banyak dibukanya program studi baru di tingkat D-3 dan S-2. Dilihat dari perbandingan jumlah mahasiswa antar strata, pada saat ini, jumlah mahasiswa pascasarjana kurang lebih sebesar 1 per 5 dibanding jumlah mahasiswa S-1. Diharapkan dalam 10 tahun ke depan, jumlah mahasiswa pascasarjana akan naik paling tidak 1 per 3 dibandingkan jumlah mahasiswa S-1.</p>
<p>Demikian pula, Universitas Gadjah Mada sampai dengan tahun ajaran 1998/1999 tiap, tahunnya telah menerima mahasiswa baru yang jumlahnya terus menaik. Jumlah mahasiswa baru tcrsebut merupakan 6 sampal 10% dari jumlah peminat ke Universitas Gadjah Mada. Hal im menunjukkan mahasiswa yang masuk ke Universitas Gadjah Mada merupakan putra-putri terbaik bangsa. Keadaan ini di masa depan akan terus kita pertahankan dan bila mungkin kita tingkatkan.</p>
<p>Dengan semakin meningkatnya jumlah mahasiswa bukan berarti mengabaikan kualitas proses belajar-mengaja. Telah terakreditasinya semua program studi, khususnya S1 oleh BAN, IP yang tinggi, meningkatnya jumlah lulusan cum laude, semakin menurunnya lama studi, pendeknya lama tunggu untuk mendapatkan pekerjaan, merupakan beberapa indikator yang menunjukkan kualitas pendidikan di UGM.<br />
Meningkatnya jumlah mahasiswa asing dan kerjasama pendidikan dengan institusi pendidikan di luar negeri yang berkelas dunia merupakan bukti dan sisi lain tentang reputasi dan kualitas pendidikan di UGM.</p>
<p>Hadirin yang saya hormati, Dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, butir kedua, yaitu: Penelitian:<br />
Jumlah judul kegiatan penelitian mengalami naik-turun. Meskipun demikian, jumlah research grant yang diterima melalui kompetisi yang ketat baik dalam skala nasional maupun international terus meningkat. Hal ini Juga merupakan indikator kualitas kepakaran yang dipunyai UGM.</p>
<p>Diikuti dengan jumlah penelitian dari sumber dana yang lain secara signifikan telah meningkatkan jumlah publikasi ilmiall per staf, walaupun masih perlu dilakukan peningkatkan secara konsisten dan kontinyu, khususnya publikasi ilmiah di jumal internasional.<br />
Para Anggota Senat dan hadirin yang saya hormuti, Dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, butir ketiga, yaitu: Pengabdian pada Masyarakat: Meningkatnya jumlah pusat-pusat penelitian yang bersifat interdisipliner keilmuan menunjukkan kepedulian UGM dalam ikut mengatasi persoalan yang ada di masyarakat. Dengan kelengkapan bidang ilmu yang ada di UGM memberi peluang jasa kepakaran untuk memecahkan persoalan yang didekati secara multi disiplin ilmu. Pelayanan kepakaran dengan cara pendekatan yang demikian ini telah membuktikan efektivitasnya dalam memecahkan persoalan di masyarakat, yang pada gilirannya kepercayaan masyarakat terhadap UGM terus semakin meningkat.</p>
<p>Komitmen universitas terhadap persoalan kemasyarakatan merupakan salah satu jiwa yang melekat pada UGM. Komitmen ini antara lain diterapkan dalam kurikulum dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang melatih mahasiswa untuk dapat terjun mengabdi di tengah-tengah masyarakat. Tetapi jumlah mahasiswa yang semakin besar menyulitkan para pengelola KKN untuk menempatkan mahasiswa di desa-desa seperti direncanakan. Disamping itu biaya hidup tambahan yang harus disediakan para mahasiswa yang mengikuti program ini meningkat, menghambat pelaksanaan program sesuai dengan dasar idealismenya. Karena itu sejak tahun lalu diperkenalkan KKN alternatif yang memberikan kesempatan pada mahasiswa mengikuti program tersebut setiap saat dengan mengaitkan pada program-program instansi/lembaga lain. Contoh kongkrit dari program KKN alternatif ini dalam skala yang agak besar adalah KKN Pemantau Pemilu 1999.</p>
<p>Dalam bidang Kemahasiswaan: Selama lima tahun terakhir, jumlah kegiatan kemahasiswaan dapat dikatakan tetap, hanya pada tahun 1997 naik dengan tajam yang kemudian turun lagi pada angka yang hampir tetap.</p>
<p>Meskipun demikian, prestasi yang diperoleh dalam kegiatan kemahasiswaan di tingkat wilayah nasional dan internasional cenderung naik terus selama lima tahun terakhir ini.<br />
Pemberian dan pencarian beasiswa untuk membantu mahasiswa juga menjadi perhatian utama mengingat kemampuan ekonomi mahasiswa secara rata-rata menurun akibat krisis ekonomi nasional yang berkepanjangan. Perbandingan jumlah penerima beasiswa dibandingkan jumlah keseluruhan mahasiswa cenderung naik selama 10 tahun terakhir ini. Kondisi ini dipertahankan dan di masa depan diharapkan akan lebih banyak beasiswa tersedia bagi mahasiswa, terutama melalui beasiswa yang disediakan oleh UGM sendiri dengan menambah dana abadi yang digunakan untuk beasiswa dan memanfaatkan kebijakan cross-subsidy dari mahasiswa untuk mahasiswa.</p>
<p>Hadirin yang saya hormati, Dalam bidang Kerjasama: Selama 10 tahun terakhir ini, Universitas Gadjah Mada telah melakukan banyak kegiatan kerjasama. Jumlah kegiatan kerjasama luar negeri naik turun, sedangkan jumlah kegiatan kerjasama di lingkup nasional terus meningkat. Di masa depan, bila krisis ekonomi bisa diatasi, diharapkan kerjasama internasional dapat lebih meningkat.</p>
<p>Wilayah perkotaan Yogyakarta terkenal sebagai kota pendidikan. Di wilayah ini, Universitas Gadjah Mada berada bersama-sama puluhan perguruan tinggi yang lain. Untuk itu, UGM telah lama menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi yang lain. Kemitraan antara UGM dengan perguruan tinggi swasta, misalnya, dilaksanakan dengan meminjamkan tenaga pengajarnya. Sebagai akibat program pemerintah bahwa PTS secara bertahap harus memenuhi tenaga pengajarnya sendiri, maka jumlah staf pengajar UGM yang membantu PTS cenderung menurun.</p>
<p>Para Anggota Senat dan hadirin yang saya hormati, Dalam hal Peningkatan Manajemen, secara umum dapat dilaporkan bahwa: Dengan semakin banyak dan beragamnya mahasiswa serta permintaan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kepakaran maupun profesi telah mendorong universitas untuk memperluas unit organisasi yang ada. Seiring dengan itu &#8211;mengacu pada paradigma manejemen pendidikan tinggi yang mencakup otonomi, akreditasi, evaluasi, akuntabilitas menuju kualitas yang berkelanjutan atau dikenal dengan tetrahidron&#8211; peningkatan profesionalisme management pendidikan terus ditingkatkan. Memperlebar unit di rektorat (yaitu dengan mengangkat PR IV, PR V, Asisten PR I), pembentukan Unit Pelaksana Teknis, pengembangan manajemen menuju Total Quality Management (TQM), pengembangan instrumen evaluasi pendidikan menuju Quality Assurance yang berkelanjutan, pengiriman staf edukatif dan non-edukatif pada berbagai pelatihan untuk meningkatkan profesionalisme manajemen, merupakan beberapa contoh yang telah dilakukan.<br />
Dalam bidang: Manajemen Sumberdaya Manusia Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia telah dan terus ditingkatkan dengan pesat sejak semua fakultas bisa bersatu menjadi satu kampus. Seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa dan kepercayaan masyarakat terhadap universitas, pembenahan ke arah kualitas sumberdaya manusia terus dilakukan. Jumlah staf pengajar yang berpendidikan sampai dengan S-1, selama 10 tahun terakhir ini, menurun dengan tajam. Di lain pihak, jumlah staf pengajar yang bergelar S-2 atau S-3 terus bertambah. Hal ini menunjukkan komitmen UGM dalam meningkatkan, kualitas sumberdaya manusianya dalam memberikan layanan terbaik bagi mahasiswa.</p>
<p>Dalam melaksanakan manajemen, pendidikan tinggi, diperlukan pula dukungan staf non-edukatif. Pada masa lalu, jumlah staf non edukatif lebih banyak, tapi selama 10 tahun terakhir ini, cenderung terjadi keseimbangan antara jumlah staf edukatif dengan staf non-edukatif.</p>
<p>Dalam bidang Manajemen Keuangan: Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa dukungan finanslal dari Pemerintah untuk penyelenggaraan pendidikan tinggi sangatlah terbatas. Walaupun demikian. berbagai cara untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan maupun meningkatkan pendapatan melalui berbagai bentuk revenue generating activities telah dan terus dikembangkan. Dari sisi lain, dikenalkannya sistem internal auditing akhlr-akhir ini merupakan salah satu cara untuk mengembangkan transparansi dan akuntabilitas dalam hal keuangan agar dana yang terbatas dapat dipergunakan sesuai dengan peruntukannya secara efisien dan efektif.<br />
Selama 5 tahun terakhir ini, anggaran rutin yang diterima UGM meningkat sedikit demi sedikit, sedangkan anggaran pembangunan naik-turun. Selain itu, penerimaan dana yang berasal dari masyarakat meningkat.</p>
<p>Hadirin yang saya hormati, Dalam bidang: Manajemen Sarana-Prasarana Dana dari Pemerintah Pusat dan dari universitas sendiri yang telah diinvestasikan dalam bentuk fasilitas sarana fisik yang berupa gedung untuk kegiatan akademik maupun non-akademik, peralatan laboratorium, perpustakaan maupun teknologi komunikasi meningkat tajam sejalan dengan pesatnya jumlah mahasiswa. Dengan fasilitas yang relatif memadai diikuti dengan semakin meningkatnya reputasi di skala nasional dan internasional serta suasana kondusif kota Yogyakarta untuk belajar telah menarik minat mahasiswa di lingkup nasional dan juga internasional untuk belajar di UGM. Secara bertahap, fasilitas fisik akan ditingkatkan sejalan dengan kebutuhan iptek agar dalam menjalankan tugas Tri Dharma, UGM tidak ketinggalan zaman. Tentu saja harus diperhatikan bahwa setiap peningkatan sarana dan prasarana fisik membawa konsekuensl meningkatnya biaya pemeliharaan yang harus ditanggung universitas.<br />
Dalam bidang: Manajemen Informasi Aset informasional untuk menunjang pendidikan tinggi antara lain berupa pustaka, akses internet dan sistem informasi terkomputerkan. Perkembangan jumlah buku dan jurnal di perustakaan dari tahun ke tahun hampir dapat dikatakan tetap. Koleksi pustaka buku dan majalah yang semakin mahal akan diimbangi dengan koleksi perpustakaan elektronik walaupun biaya infrastrukturnya sangat mahal. Perpustakaan adalah tulang punggung universitas, karena itu manajemen perpustakaan harus terkait erat dengan manajemen universitas.<br />
Sementara itu akses internet, meskipun selama tiga tahun terakhir menaik, di masa depan akan mendapat perhatian yang lebih besar. Semua program ini dilakukan demi meningkatkan daya saing UGM di Era Informasi.</p>
<p>Para Anggota Senat dan hadirin yang saya hormati, Dalam hal: Tanggung jawab Sosial dan Moral: UGM lahir dalam kancah perjuangan dan komitmen dalam pengembangan kemasyarakatan yang melekat abadi dalam jiwa universitas telah menjadikan sumber inspirasi dalam mengembangkan berbagai program sebagai wujud rasa tanggung jawab sosial universitas. Peningkatkan pelayanan profesi baik lewat masing-masing fakultas maupun melalui unit-unit kerja yang lain, pemberian beasiswa yang terus meningkat, program PBUD/PBAD, adalah beberapa contoh wujud tanggung jawab sosial yang telah dan terus akan dilakukan.</p>
<p>Sebagai rasa tanggung jawab moral atas situasi bangsa dan negara menghadapi krisis di segala bidang yang menjurus pada terpuruknya kehidupan bangsa, seluruh civitas akademika UGM bersama-sama dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam mempercepat proses reformasi, terutama saat-saat menjelang pergantian rejim Orba hingga terbentuknya pemerintahan baru yang lebih demokratis. Salah satu yang dilakukan adalah membuat pernyataan Universitas Gadjah Mada yang ditandatangani oleh Rektor UGM pada tanggal 19 Mei 1998.</p>
<p>Para anggota Senat dan hadirin yang saya hormati, Sampailah saatnya saya akan menyampaikan Bagian yang Ketiga, yaitu:Pandangan ke masa depan. Masa depan kita akan penuh tantangan. Kita akan memasuki Milimum ketiga dengan Era Informasinya, dalam suasana Otonomi Perguruan Tinggi dan Otonomi Daerah. Untuk menyongsong masa depan, ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian kita semua, yaitu: kemandirian universitas, wawasan internasional, dan tanggungjawab kita dalam mendidik kangsa.</p>
<p>Pandangan pertama berkaitan dengan: Kemandirian universitas, yang ini berarti UGM di masa depan perlu berperan:</p>
<p>Pertama, sebagai Universitas negeri yang mandiri dalam pengelolaan serta mandiri dalam menentukan langkah dan program pendidikan bangsa ke depan.<br />
Dan kedua, berperan sebagai universitas yang menghasilkan lulusan berwawasan kemandirian dalam menghadapi milenium baru dan dinamika paradigma pendidikan bangsa yang selalu terbaharui.</p>
<p>Bila dulu dalam masa perjuangan, UGM berdiri dalam rangka menghasilkan lulusan untuk mengisi &#8220;kekosongan birokrasi&#8221; bangsa, maka UGM di masa depan, akan menjadikan lulusannya mampu secara kompetitif mengisi dan berperan sebagai generasi mandiri dalam mencipta lapangan kerja sendiri yang inovatif, kreatif dan berguna bagi masyarakat luas. Berkaitan dengan ini, maka ssebagai salah satu langkah ke depan, maka UGM akan menterjemahkan dan memanfaatkan peluang academic freedom. Dalam hal ini, Kurikulum Nasional sudah barang tentu akan ditinjau kembali dalam konteks peran-peran UGM di masa mendatang. Paradigma pendidikan yang akan kita temui di masa depan diperkirakan akan lebih memberi peluang pengembangan pendidikan secara kontekstual, menempatkan &#8220;kurikulum atraktif dan proses pembelajaran pro-aktif&#8221; dan menjadi bagian pengembangan UGM dalam membentuk lulusan yang mandiri dan kompetitif.</p>
<p>Hadirin Yang saya hormati, Pandangan kedua berkaitan dengan: Wawasan Internasional, Bagi UGM di masa depan, wawasan internasional berarti membuka wawasan lulusan sebagai komponen anak bangsa secara lebih luas menembus batas lokal dan nasional serta menempatkan diri sebagai masyarakat global.<br />
Selain itu, UGM perlu mengembangkan &#8220;persyaratan-persyaratan&#8221;(requirement)yang khas dari &#8220;cara-cara berpikir&#8221; lulusan agar diterima menjadi bagian dari masyarakat internasional.</p>
<p>Keutamaan pengembangan wawasan internasional ini perlu dimulai dari re-interpretasi kurikulum, re-organisasi program pembelajaran pada penciptaan pengkondisian proses pembelajaran berwawasan internasional, dan re-standarisasi persyaratan-persyaratan lainnya agar lulusan menjadi mandiri dan kompetitif di segala tingkat wawasan. Selain itu, peningkatan persentase jumlah mahasiwa asing, kelas-kelas internasional, visiting professor, dan lain-lain, akan menjadi pilihan-pilihan yang perlu dipertimbangkan dalam rangka memberikan wawasan internasional bagi lulusan kita.</p>
<p>Para anggota Senat dan hadirin yang saya hormati, Pandangan ke masa depan yang ketiga berkaitan dengan:</p>
<p>Pertanggungjawaban kita sebagai universitas &#8220;pendidik bangsa&#8221;<br />
UGM secara berkelanjutan perlu tetap berpartisipasi secara aktif dalam mengkaji masalah-masalah bangsa dan kenegaraan melalul tanggung jawab Universitas Gadjah Mada sebagai moral force dalam mempertautkan akal sehat dan hati nurani dalam rangka pendidikan bangsa.</p>
<p>Selain itu, UGM perlu tetap mempertahankan komitmennya dalam menerima mahasiswa dari daerah manapun, dari seluruh pelosok Nusantara. Komitmen UGM ini akan memberi sumbangan dalam membangun bangsa.</p>
<p>UGM perlu semakin meningkatkan pendidikan lintas eksakta-non eksakta atau multi -disipliner, dalam rangka meningkatkan kepedulian nurani lulusan terhadap setiap masalah bangsa tanpa terkotak oleh kepicikan suatu bidang ilmu tertentu.</p>
<p>Para anggota Senat dan hadirin yang saya hormati, Sebagai akhir laporan saya, yang sekaligus merupakan penutup Rapat Senat Terbuka ini, saya sampaikan putusan Senat bahwa Universitas Gadjah Mada dengan ini memberikan penghargaan Alumni Terkemuka 50 tahun UGM, kepada Sultan Hamengku Buwono X atas prestasi-prestasinya selama ini. Selain itu, Anugerah Hamengku Buwono IX tahun ini diberikan kepada yang terhormat Prof Makaminan Makagiansar, M.A., Ph.D. sebagai pilihan tim Senat Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Atas nama anggota Senat, segenap warga UGM, dan saya pribadi beserta isteri, perkenankanlah saya menyampaikan ucapan selamat kepada Sultan Hamengku Buwono X dan Prof. Dr. Makaminan Makagiansar, yang pada pagi ini diwakili oleh putera beliau Rizano Lukman,S.E berhubung beliau sedang menjalani perawatan kesehatan di Amerika Serikat.</p>
<p>Akhirnya, saya mohon do&#8217;a restu dari para hadirin yang terhormat, agar dalam melaksanakan tugas memimpin Universitas Terbesar di Indonesia ini dalam Era Reformasi dan millenium baru, selalu dianugerahl limpahan rahmat dan hidayat dari Allah Subhanahu wa Taala, dan selalu dalam lindungan-Nya, sehingga dapat mencapai keinginan untuk mensukseskan pembangunan masyarakat baru.<br />
Marilah kita berdoa agar kita selalu diberi perlindungan, kekuatan, kesantunan, dan kearifan dalam melaksanakan tugas pengabdian kdpada masyarakat, bangsa dan negara.<br />
Semoga Allah yang Maha Kuasa selalu melimpahkan Taufik dan Hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. Yogyakarta, 20 Desember 1999</p>
<p>Rektor,<br />
Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA.</p>
<div id="crp_related"><h3>Mungkin Anda perlu membaca ini juga:</h3><ul><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/37-tahun-universitas-negeri-yogyakarta-tetap-berperan-sebagai-lptk/" rel="bookmark" class="crp_title">37 Tahun Universitas Negeri Yogyakarta; Tetap Berperan Sebagai LPTK</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/ugm-rintis-riset-desain-reaktor-nuklir-terkini/" rel="bookmark" class="crp_title">UGM Rintis Riset Desain Reaktor Nuklir Terkini</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/ptn-harus-cari-sumber-dana-lain/" rel="bookmark" class="crp_title">PTN Harus Cari Sumber Dana Lain</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/ugm-dalam-lintasan-sejarah/" rel="bookmark" class="crp_title">UGM dalam Lintasan Sejarah</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/sebuah-kursus-program-doktor/" rel="bookmark" class="crp_title">Sebuah Kursus Program Doktor</a></li><li><a href="http://rumahpengetahuan.web.id/ibarat-menghela-gerbong-besar/" rel="bookmark" class="crp_title">Ibarat Menghela Gerbong Besar&#8230;</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahpengetahuan.web.id/pidato-rektor-pada-peringatan-50-tahun-ugm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

