Home » Artikel, Internet, kesehatan

Catatan Iptek: Ebola Vs WannaCry

17 May 2017 55 views No Comment

Virus ebola kembali mewabah dan menelan tiga korban jiwa dalam sepekan terakhir di Republik Demokratik Kongo, Afrika. Belajar dari pandemi ebola tahun 2014 yang menewaskan lebih dari 11.300 orang dan menginfeksi 28.600 orang, kita tak bisa menganggap enteng virus ini.

Namun, masyarakat dunia ternyata lebih khawatir terhadap wabah virus digital WannaCry, suatu malicious software (malware) yang menular melalui jaringan internet, membuat komputer terkunci dan file tidak bisa diakses.

Ketimpangan dalam menyikapi dua persoalan global ini bisa dilihat dengan membandingkan frekuensi pencarian kedua topik ini menggunakan big data di Google Trends (Tren Google). Dari segi frekuensi, perbandingan dua topik ini dalam sepekan terakhir mencapai 100 untuk WannaCry dibanding 3 untuk ebola sepanjang Senin (15/5). Sungguh perbandingan yang kontras.

Ketimpangan juga bisa dilihat dari sebaran negara. Virus ebola hanya dibicarakan di 15 negara di Afrika dan dua negara di Amerika Latin. Yang paling banyak membahas ebola adalah Kongo, Angola, Zambia, Kenya, Etiopia, Tanzania, dan Uganda. Dua negara di Amerika Latin itu adalah Bolivia dan Ekuador. Menariknya, masyarakat Afrika Selatan ternyata lebih banyak membicarakan WannaCry dibanding ebola yang kembali mewabah di negeri tetangganya. Sementara separuh negara di Benua Afrika ”diam” dan sama sekali tidak mengakses Google.

Sementara di negara-negara non-Afrika, misalnya Amerika Serikat, WannaCry dibicarakan 6 dibanding 2 untuk ebola, di Kanada 9 banding 2, Australia 9 banding 2, dan Inggris 8 banding 2. Bahkan, di Rusia 7 banding 0 dan di China 44 banding 0.

Di Indonesia, WannaCry dibicarakan dengan intensitas 21 kali banding 0 untuk ebola. Angka 0 ini bukan berarti ebola tidak dibicarakan sama sekali di Indonesia, tetapi dianggap tidak signifikan dari persentasenya. Intensitas pembicaraan WannaCry di Indonesia ini tertinggi nomor dua dunia setelah China.

Data Google Trends ini menunjukkan cara berpikir masyarakat global saat ini, yang lebih dicemaskan oleh virus digital dibandingkan virus ebola. Situasi ini menegaskan bahwa masyarakat kini telah memasuki era di mana kasunyatan digital semakin meminggirkan dunia wadag (Lifton, 2009).

Analisis Google Trends ini juga bisa menggambarkan fenomena digital divide (pembelahan digital), yaitu perbedaan kemampuan masyarakat global dalam mengakses internet dan mengonstruksi opini dunia. Mereka yang mendominasi percakapan di internet adalah yang paling takut diserang virus WannaCry.

Demikian sebaliknya, sebagian besar penduduk di Afrika yang menjadi episentrum penyebaran ebola merupakan wilayah dengan akses internet paling rendah di dunia. Absennya lebih dari separuh negara-negara di Afrika dalam membincangkan topik ebola ataupun WannaCry menunjukkan lemahnya posisi mereka di dunia digital.

Beberapa kajian terbaru menunjukkan, pembelahan digital telah menuju ketimpangan sosial ekonomi: dari digital divide menjadi digital inequality (DiMaggio, 2001). Laporan Bank Dunia tahun 2016 juga menunjukkan hal ini. ”Teknologi digital memang berkembang cepat, tetapi pembelahan digital—dalam bentuk ketimpangan pertumbuhan, pekerjaan, dan pelayanan—menguntitnya”, sebut laporan ini.

Kajian ini menyimpulkan, mereka yang sudah makmur paling mendapatkan manfaat internet secara ekonomi, sebaliknya yang paling miskin dan rendah pendidikannya hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Tak hanya mendominasi manfaat ekonomi, para baron dunia digital ternyata juga sangat dominan dalam membangun opini publik dan menjadikan masyarakat luas sebagai konsumen informasi dan korban propaganda.

Jadi, posisi Indonesia di peringkat dua secara global dalam membincangkan WannaCry, sebenarnya membawa dilema. Di satu sisi, hal ini mengukuhkan kajian sebelumnya bahwa Indonesia masuk sepuluh negara pengguna terbanyak internet. Namun, 90 persen penggunaan internet itu untuk media sosial (Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia 2014).

Padahal, seperti diingatkan Farhad Manjoo (New York Times, 3/11/2016), media sosial justru mengacaukan pemahaman masyarakat tentang kebenaran dan bagaimana kebenaran mestinya diperlakukan. Sifat lain sosial media adalah cepatnya pergantian isu sehingga kita lupa mengendapkan dan tidak sempat belajar. Dalam kasus WannaCry, hanya selang sehari, menurut data Google Trends, topik telah beralih ke skandal Firza Husein yang ditelusuri lebih dari 100.000 pengguna internet.–AHMAD ARIF
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Mei 2017, di halaman 14 dengan judul “Ebola Vs WannaCry”.

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.