Home » Artikel, Berita, kebencanaan

Catatan Iptek; Bom Waktu Longsor

22 June 2016 163 views No Comment

Longsor sebenarnya fenomena alam yang relatif lebih mudah dideteksi daripada gempa bumi. Bahkan, zona kerentanan bahaya longsor di Indonesia pun sudah dipetakan. Nyatanya longsor terus menelan korban, bahkan menjadi bencana alam paling mematikan di Indonesia 10 tahun terakhir.

Baru-baru ini, kombinasi longsor dan banjir melanda Jawa Tengah, utamanya di Purworejo dan Banjarnegara. Hingga Selasa (21/6), sudah 43 orang ditemukan tewas, 17 orang masih hilang, dan 10 orang menderita luka-luka. Sebagian besar korban karena longsor. Dengan angka ini, total korban longsor di Indonesia sejak Januari 2016 mencapai 100 jiwa.

Sebagaimana beragam jenis ancaman bahaya bumi lainnya, longsor tidak akan menjadi bencana jika tidak berdampak pada manusia. Longsor yang terjadi di tengah hutan tanpa penduduk atau bahkan di Planet Mars, tidak akan disebut bencana. Pada titik ini, sebenarnya tidak ada bencana yang bersifat alami.

Faktor-faktor penyebab longsor sebenarnya sudah dikenali. Kemiringan lereng adalah yang paling utama. Semakin miring suatu tempat, semakin rentan. Di atas 30 derajat berarti sangat rentan. Jenis tekstur tanah dan ketebalannya juga berpengaruh. Semakin halus tekstur tanah, kian banyak menyerap air, sehingga makin rentan. Lapisan tanah halus dan tebal di kawasan lereng terjal adalah kombinasi rawan longsor.

Selain faktor kondisi tanah, terdapat faktor pemicu longsor, yang utama adalah tingginya curah hujan, selain gempa bumi. Faktor-faktor penyebab longsor itu biasa dikelompokkan sebagai penyebab dari dalam bumi (geohazard) dan cuaca (hydrometeorological hazard).

Faktor manusia
Namun, faktor paling penting adalah manusia. Secara alami, Bumi selalu bergerak dinamis dan longsor menjadi bagian dari dinamika itu, sebagaimana letusan gunung api dan gempa bumi. Namun, jika gempa dan letusan gunung api tak bisa direkayasa sumber bahayanya, rekayasa manusia bisa mencegah atau malah menambah ancaman longsor.

Kontribusi manusia terhadap kerentanan longsor adalah dari aspek tata guna lahan. Lerengan berupa hutan dengan akar pepohonan yang mencengkeram tanah memiliki kerentanan longsor terkecil. Sebaliknya, kerentanan membesar jika tutupan hutan diubah menjadi tegalan, sawah, bahkan permukiman.

Masalahnya, dinamika sosial menunjukkan semakin banyak penduduk tinggal di zona rentan longsor. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kini terdapat 40,9 juta jiwa (17,2 persen) penduduk Indonesia tinggal di daerah rawan longsor. Angka ini akan terus bertambah seiring kerusakan lingkungan dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman sehingga longsor akan menjadi bom waktu.

Bentang alam Indonesia yang berupa pegunungan, lapisan tanah vulkanik tebal, dan curah hujan tinggi memang rentan longsor. Kerentanan meningkat terkait perubahan iklim yang mengubah pola hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Saat ini musim kemarau relatif pendek. Akibatnya, tanah belum sepenuhnya kering, hujan sudah turun. Hujan bulan Juni kali ini masih anomali, tetapi ke depan bisa jadi semakin lazim.

Upaya pengurangan longsor sebenarnya telah dilakukan, tetapi belum efektif. Sejak longsor melanda Banjarnegara, Desember 2014, pemerintah telah membangun sistem peringatan dini longsor di sejumlah daerah. Ahli longsor dari Universitas Gadjah Mada, Faisal Fathani, mengatakan, UGM bekerja sama dengan BNPB telah membangun 39 sistem peringatan dini longsor di 13 provinsi di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Namun, sistem itu dinilai belum efektif, mengingat banyak titik rentan longsor di Indonesia. Butuh berapa juta sensor longsor? Bagaimanapun, alat deteksi dini hanya satu komponen mitigasi atau pengurangan risiko bencana longsor. Lebih penting adalah perubahan perspektif pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk lebih fokus mitigasi, bukan tanggap darurat.

Pendekatan mitigasi harus terintegrasi dan salah satu kunci pentingnya adalah menerapkan tata ruang berbasis bencana. Daerah-daerah di zona merah longsor secara perlahan semestinya dikosongkan. Jika pun tidak bisa merelokasi penduduk di zona rentan ini, yang harus dilakukan adalah memperkuat struktur tanah dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Secara fisik, mitigasi bencana longsor dapat dilakukan dengan menata geometri lereng, perbaikan sistem drainase, serta perkuatan dan perlindungan lereng. Dari sosial, mitigasi dilakukan dengan meningkatkan kapasitas warga mengenali kerentanan daerahnya serta menjaga lingkungan, setidaknya tidak menambah kerentanan dengan membabat hutan di kawasan hulu.

Daerah-daerah yang kini dilanda longsor, seperti Purworejo, Banjarnegara, dan Kebumen, sebenarnya punya sejarah longsor. Masalahnya, maukah kita belajar?–AHMAD ARIF
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juni 2016, di halaman 14 dengan judul “Bom Waktu Longsor”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.