Home » Berita

Calon-calon Pemimpin dari Muntilan

1 May 2001 1,656 views No Comment

KOTA Muntilan di utara Yogyakarta, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Namun, kota di lereng Gunung Merapi dan penghubung utama jalur Magelang-Yogyakarta ini dalam sejarahnya pernah menyimpan nama besar. Di kota itu pernah hadir Kweekschool dan Normaalschool yang mendidik calon guru dan diasuh oleh Pastor Fransiskus Gregorius Josephus van Lith SJ. Dalam kenyataannya, sekolah ini banyak menghasilkan tokoh di masa lalu. Siapa tidak kenal IJ Kasimo, Cornel Simanjuntak, Frans Seda, dan lain-lain.Munculnya keputusan pemerintah untuk menutup sekolah pendidikan guru (SPG) di seluruh Indonesia, seolah malah memberi roh baru bagi SPG van Lith yang kini berubah menjadi SMU Pangudi Luhur van Lith. Bahkan, proses belajar-mengajar dilaksanakan ketat dengan mengutamakan disiplin-seluruh siswa harus tinggal di asrama-membuat SMU Pangudi Luhur van Lith unggul dalam berbagai hal. Tidak mengherankan bila kota kecil Muntilan kini banyak dilirik para penyelenggara pendidikan.

“Sebelum menjadi SMU Pangudi Luhur van Lith, pernah menjadi SGA, SGB, dan SPG. Setelah pemerintah menutup SPG, van Lith pernah menjadi sekolah pertanian. Semuanya tinggal di asrama, meski rumahnya di belakang sekolah. Asrama putra kini ditempati 247 siswa diasuh oleh bruder-bruder FIC, sedangkan 173 siswi menempati asrama tersendiri diasuh suster-suster Carolus Baromeus (CB). Tidak ada siswa van Lith yang tinggal di luar asrama karena kegiatannya sehari penuh, dari pukul 04.30 hingga 22.00,” jelas Bruder Martinus Sariya Giri FIC, Kepala Asrama Putra van Lith.
***
MESKI SMU van Lith baru menginjak usia 10 tahun pada 21 Mei 2001, namun para pengelola sadar betul betapa sekolah berasrama plus bimbingan dan disiplin yang bagus akan mampu mengantar para siswa membentuk diri agar menjadi manusia berguna bagi bangsa dan negara. Sekolah ini pun bukan tempat “pelarian” bagi para orangtua yang tidak lagi mampu mendidik anak-anaknya, juga bukan tempat rehabilitasi. Disadari, sekolah ini sebagai tempat menggembleng manusia-manusia tangguh.

“Jangan kaget kalau suatu saat menemui anak-anak van Lith sedang ngamen, menjadi buruh bangunan, atau menjadi pembantu rumah tangga. Itu semua tahap-tahap yang perlu dialami para siswa, agar mereka benar-benar merasa sebagai bagian masyarakat miskin yang harus mereka bela dan perjuangkan kelak. Oleh karena itu, pada kami tidak ada “kamus” menolak atau mengeluarkan anak yang punya kemampuan dan kemauan hanya karena tidak punya biaya,” lanjut Bruder Giri.

Itu sebabnya, pada tahun pertama, selain mengikuti kegiatan sekolah, siswa-siswi SMU van Lith juga berkewajiban mengikuti dua kegiatan besar ke luar sekolah. Kegiatan pertama yang dilakukan pada tahun pertama adalah bersahabat dengan orang kecil (BOK) dan kepada siswa diharapkan memiliki sahabat “orang kecil”; entah tukang sapu, tukang becak, atau simbok-simbok yang berjualan di pasar. Selain itu, mereka juga harus mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan di mana mereka berada dan ditugaskan, serta tinggal selama lima hari di sebuah keluarga (home stay) di sekitar Gunung Merapi. Mereka tinggal di sana, hidup bersama mereka, dan melakukan kegiatan sebagaimana pekerjaan sehari-hari yang dilakukan di keluarga itu. Ada yang ikut berjualan di pasar, ada yang ikut bekerja di sawah, atau mencari kayu di hutan.

Kegiatan besar kedua pada tahun kedua adalah mencari uang, live in dan bakti sosial. Kegiatan mencari uang harus dilakukan oleh para siswa-siswi entah menjadi pengamen, buruh di pasar, atau pembantu rumah tangga. Begitu pula saat live in, mereka harus menyatu dengan keluarga yang ditinggali.

“Hasil yang mereka peroleh selama kegiatan itu bukan dinikmati anak-anak sendiri, tetapi dikumpulkan, dan digunakan untuk membantu orang-orang miskin di desa-desa. Kegiatan yang dibiayai dari hasil kerja anak-anak ini disebut bakti sosial. Tahap-tahap ini memang perlu dilalui oleh para siswa agar mereka benar-benar bisa merasakan sebagai orang kecil yang harus membanting tulang untuk mencari uang,” jelas Bruder Giri.

Melihat “beratnya” kegiatan di SMU van Lith, jelas amat sulit diikuti oleh para remaja yang sudah terbiasa hidup nikmat. Keadaan ini pula yang membuat para pembimbing SMU van Lith harus benar-benar jeli dalam menerima para siswa. Hingga kini, siswa-siswi SMU van Lith memang datang dari berbagai tempat. Sebanyak 60 persen dari Jawa (kebanyakan Yogyakarta dan Jawa Tengah) dan 40 persen dari luar Jawa (dari Medan sampai Irian Jaya). Oleh karena itu, kepada para siswa pun diterapkan peraturan yang membuat mereka tidak jauh dari orang miskin. Kepada para siswa pun tidak diperkenankan membawa telepon genggam, televisi, sepeda motor, maupun CD player. Bahkan, uang saku yang dibawa sendiri pun tidak boleh lebih dari Rp 25.000. “Menyimpan uang lebih dari Rp 25.000 bisa berbahaya. Bila ada yang punya lebih, kami minta untuk dititipkan kepada pembimbing. Selain itu, kepada siswa pun diharuskan membuat rincian pengeluaran keuangan yang setiap bulan diperiksa, ditandatangani, dan dilaporkan ke orangtua masing-masing. Oleh karena itu, kesempatan untuk jalan-jalan ke luar asrama hanya ada pada hari Sabtu sore. Malamnya, sudah ada kegiatan lagi,” lanjut Bruder Giri.
***
SEBAGAI sekolah campur, bagaimana kalau anak-anak berpacaran? “Pacaran boleh, asal dilakukan di kampus, di tempat yang bisa dilihat. Memang, anak laki-laki juga diberi kelonggaran boleh menengok teman-teman putrinya di asrama, hanya saja waktunya juga terbatas. Pacaran boleh saja, asal dilakukan secara sehat,” lanjut Bruder Giri.

Para pengasuh SMU van Lith menyadari, sekolah ini bukan dimaksudkan sebagai “pelarian” para orangtua yang tidak lagi mampu mendidik anak-anaknya. Van Lith bukanlah lembaga rehabilitasi. “Di sini, anak-anak ditempa, digembleng untuk menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Itu sebabnya, kami memiliki semboyan Memardi Kartika Bangsa yang berarti dengan ketulusan hati ingin membentuk dan mengembangkan diri menjadi tunas-tunas bangsa yang tangguh,” kata Bruder Giri

Bagi para siswi yang berjumlah 173 orang, mereka menempati sembilan unit rumah. Tiap unit, bila diisi penuh mampu menampung 20 anak. Mereka kebanyakan datang dari Palembang, Yogyakarta, Jember, Jatiroto, Kalimantan, dan sebagainya. Para remaja putri ini, selama di asrama, “diasuh” oleh Suster Ricardia CB, Suster Erna CB, dan Suster Widya CB.

“Namanya juga masih anak-anak. Hari-hari pertama di sini pasti kaget dengan irama hidupnya. Bangun pagi-pagi, berdoa, sekolah, dan aneka kegiatan sampai malam. Meski makan sudah disediakan, tetapi mereka juga harus belajar hidup mandiri. Mencuci dan setrika sendiri. Bahkan pada bulan pertama, mereka sama sekali tidak boleh ditengok, menerima surat, atau menerima telepon dari keluarganya. Tetapi, kalau ada berita penting dari keluarganya, ya, pasti diberitahukan. Ya, begitulah. Suster Erna ini yang mendampingi mereka, lama-lama dianggap seperti kakaknya sendiri,” tambah Suster Ricardia CB. Untuk membantu para siswa baru, mereka akan “dibimbing” oleh dua orang kakak dari kelas II dan III. Para senior inilah yang akan menyertai “adiknya” mengikuti irama hidup di asrama. Diakui, pada hari-hari pertama, ada banyak siswa yang merasa tidak kerasan dan ingin pulang. Tetapi, lama kelamaan ada pula yang mulai ketahuan bandel, mencoba-coba membolos.

“Selain aturan yang ketat, di sini juga berlaku sistem gugur. Artinya, kalau tidak naik kelas, ya, harus keluar,” lanjut Suster Ricardia. Meski demikian, para pengasuh sendiri mengakui, sering mendapat pelajaran baru dari kegiatan yang dilakukan oleh para siswa. Dengan semangat saling mengisi, para siswa maupun pembimbing merasa saling diperkaya.

“Terus terang, saya juga banyak belajar dari mereka, bagaimana mereka bergaul dengan orang-orang miskin, bagaimana mereka menyikapi hidup, dan sebagainya. Saya yakin, seluruh tahapan yang dilakukan ini akan ikut membentuk kepribadian para siswa,” lanjut Suster Erna. Dari lereng Gunung Merapi ini pula, kita bisa berharap, suatu saat akan lahir calon-calon pemimpin yang tangguh, yang diharapkan selalu berpihak pada orang-orang kecil, orang-orang miskin, dan orang-orang yang terpinggirkan. Dan, di era desentralisasi pendidikan dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah seperti sekarang, akankah sekolah-sekolah khusus yang dikelola dengan cara yang sangat spesifik seperti SMU Pangudi Luhur van Lith dari Muntilan ini akan menjadi bagian dari “keunggulan” pendidikan di masa depan? Kita berharap begitu. (ton)

Sumber: Kompas, Selasa, 1 Mei 2001

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.