Home » Berita, kesehatan

Bersalin Tanpa Rasa Nyeri

13 June 2016 167 views No Comment

Rasa nyeri saat bersalin bisa membuat ibu hamil cemas dan takut menghadapi persalinan. Ketakutan dan kecemasan berdampak negatif pada proses persalinan. Itu membuat kontraksi otot-otot rahim tak kuat sehingga persalinan berlangsung lama dan mengakibatkan bayi kekurangan oksigen.

Di sisi lain, kecemasan dan ketakutan menjelang persalinan dapat membuat ibu hamil mengalami nyeri saat melahirkan. Lingkaran setan itu berkontribusi pada tingginya angka kematian ibu di Indonesia.

Kondisi itu memotivasi Setyowati, Guru Besar Ilmu Keperawatan Maternitas Universitas Indonesia, untuk mencari bentuk intervensi memutus lingkaran ketakutan, kecemasan, dan persalinan lama. Harapannya, anak yang dilahirkan dan ibu melahirkan bisa selamat.

Setyowati pun mempelajari teknik akupresur, teknik menekan rasa nyeri dengan menekan atau memijat titik-titik tertentu di tubuh. Akupresur menurunkan ketegangan otot dan memperlancar sirkulasi darah.

Sayangnya, teknik itu belum dipraktikkan di fasilitas kesehatan. Sebab, waktu tenaga kesehatan terbatas dan amat sedikit tenaga kesehatan yang memahami teknik itu.

m5r44yw2jrPiH0kWL7Uy9pQTerkait hal itu, Setyowati lalu bekerja sama dengan Raldi Astono Koestoer, Guru Besar Fakultas Teknik UI, untuk mengembangkan alat penerjemah prinsip akupresur melalui teknik elektromagnetik. Mereka mengembangkan alat yang dinamai pain digital acupressure (PDA). Ada modul MP3 di dalam PDA untuk membangkitkan gelombang akupresur square, frekuensi 30 hertz, amplitudo 0,8, dan volume 2.

Gelombang square yang dihasilkan PDA akan disalurkan melalui bantalan (pad) yang ditempelkan di empat titik, yakni di bahu kiri dan kanan (titik Jianjing GB-21), sekitar tulang ekor (titik BL 32), di pertemuan pangkal telunjuk dan jempol (titik LI 4 He Kuk), serta di kaki bagian bawah (titik SP 6 Sanyinjiao).

Pada tahap awal, PDA diuji coba pada enam kambing yang akan melahirkan normal. Hasilnya, kontraksi normal, teratur, dan kuat. Pemasangan PDA tak mengganggu kelahiran kambing percobaan. Proses kelahiran lebih cepat 5 menit 30 detik dari biasanya 30 menit. Detak jantung bayi kambing tak terpengaruh PDA.

Kemudian, PDA diuji coba pada 38 ibu hamil yang akan melahirkan di Puskesmas Cisalak, Depok. Hasilnya, ibu hamil yang memakai PDA merasakan tingkat dan intensitas nyeri lebih rendah saat melahirkan dibandingkan ibu yang tak menggunakan PDA. Proses persalinan ibu yang memakai PDA juga lebih cepat dibandingkan yang tak menggunakan alat itu.

“Persalinan dengan PDA disebut sebagai persalinan tanpa rasa nyeri. Ini karena menjelang dan selama persalinan, titik-titik yang mampu menurunkan rasa nyeri ditekan alat PDA,” kata Setyowati, Rabu (8/6), di Jakarta.

Setelah PDA hadir, upaya membuat persalinan lebih nyaman bagi ibu hamil tak berhenti. Heni Setyowati Esti Rahayu, dosen Universitas Muhammadiyah Magelang, melanjutkan pengembangan PDA karya Setyowati. Heni menggabungkan teknik pijatan akupresur dengan terapi musik klasik dalam alat modified pain digital acupressure (MPDA).

Pada MPDA, ada modul MP3 penghasil gelombang dan modul MP3 penghasil musik. Pada MPDA, selain ada pijatan dari gelombang square melalui bantalan di empat titik di tubuh, ibu hamil menjelang melahirkan juga mendengarkan musik klasik.

Ritme musik klasik yang menenangkan akan memandu tubuh untuk bernapas lebih lambat dan mendalam sehingga memberi efek menenangkan. Suasana kejiwaan pendengarnya pun akan lebih baik dan tenang. Napas yang terkendali dan teratur sebagai efek dari terapi musik membantu ibu melahirkan mempertahankan kontrol saat kontraksi.

Setelah diuji coba pada ibu hamil di RSUD Tidar, Kota Magelang, MPDA menunjukkan hasil positif persalinan. Ibu melahirkan yang memakai MPDA lebih nyaman dan tak takut saat melahirkan, kontraksi uterus normal kian sering muncul, dan persalinan bisa dua jam lebih cepat daripada ibu yang tidak memakai MPDA.

Baik PDA maupun MPDA, ujar Setyowati, sejalan dengan teori Orem dalam asuhan keperawatan, yakni pasien mampu merawat diri sendiri sehingga tercapai kemandirian mempertahankan kesehatan. PDA dan MPDA bisa dipakai sendiri oleh ibu hamil menjelang persalinan tanpa bantuan berarti dari orang lain.

Setyowati berharap kehadiran PDA dan MPDA berkontribusi pada penurunan angka kematian ibu di Indonesia yang tinggi. Paten PDA telah didapat dan alat itu ditawarkan ke industri melalui Kementerian Kesehatan. (ADH)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Juni 2016, di halaman 13 dengan judul “Bersalin Tanpa Rasa Nyeri”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.