Home » Artikel

Berjudi dengan Bumi Sebagai Taruhan

11 April 2011 471 views No Comment
Konsekuensi dari gempa bumi yang terjadi di Jepang–khususnya krisis yang berlanjut sampai saat ini pada pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima–mengingatkan kembali para pengamat akan krisis keuangan di Amerika yang memicu Resesi Besar beberapa tahun yang lalu. Kedua peristiwa ini memberi pelajaran yang gamblang mengenai risiko serta betapa buruknya pasar dan masyarakat mengelola risiko tersebut.

Sudah tentu, dalam satu hal, tragedi gempa bumi di Jepang yang menyebabkan lebih dari 25 ribu orang tewas atau hilang itu tidak dapat dibandingkan dengan krisis keuangan bila dikaitkan dengan penderitaan fisik yang begitu memilukan akibat gempa bumi tersebut. Tapi, jika dibandingkan dengan meltdown nuklir di Fukushima, ada tema yang sama dari dua peristiwa ini.

Para pakar industri nuklir dan industri keuangan meyakinkan kita bahwa teknologi baru praktis sudah meniadakan risiko terjadinya bencana. Apa yang terjadi membuktikan bahwa mereka keliru: risiko itu tak hanya ada, tapi konsekuensi yang dibawakannya juga begitu luar biasa besarnya, sehingga ia dengan mudah menghapus semua apa yang dikatakan sebagai manfaat dari sistem-sistem yang diagung-agungkan para pakar itu.

Sebelum terjadinya Resesi Besar itu, pakar-pakar ekonomi Amerika – dari kepala Federal Reserve sampai raksasa-raksasa keuangan – semua sesumbar bahwa kita sudah tahu bagaimana mengelola risiko. Instrumen-instrumen keuangan yang “inovatif” seperti derivatif dan credit-default swap memungkinkan terjadinya distribution of risk, sebaran risiko ke segala bagian ekonomi. Kita sekarang tahu bahwa para pakar itu bukan saja menipu masyarakat, tapi juga menipu diri mereka sendiri.

Pakar-pakar keuangan ini, ternyata, tidak memahami seluk-beluk risiko, apa lagi bahaya yang dibawakan fat-tail distribution – suatu istilah statistik untuk peristiwa yang jarang terjadi (rare events), dengan konsekuensi yang besar, kadang-kadang disebut black swan. Peristiwa-peristiwa yang katanya terjadi hanya sekali dalam seratus tahun – atau bahkan sekali sepanjang usia alam semesta – nampaknya terjadi setiap sepuluh tahun sekali. Lebih buruk lagi, bukan saja frekuensi terjadinya rare events ini sangat diremehkan; begitu juga kerusakan luar biasa yang ditimbulkannya – seperti meltdown yang terus merongrong industri nuklir.

Penelitian di bidang ekonomi dan psikologi membantu kita memahami mengapa kita tidak berhasil dengan baik dalam mengelola risiko. Kita tidak punya basis empiris untuk menilai rare events, maka itu sulit tiba pada perkiraan yang tepat. Dalam hal seperti ini, yang bisa membawa pengaruh bukan cuma wishful thinking atau, khayalan, tapi lebih daripada itu: kita mungkin tidak punya banyak insentif untuk memeras otak memikirkannya. Sebaliknya, ketika yang menanggung ongkos kesalahan-kesalahan itu orang lain, maka insentifnya berbentuk self-delusion, menipu diri sendiri. Suatu sistem yang merugikan masyarakat pada umumnya dan menguntungkan hanya segelintir orang pasti berujung pada salah-kelola risiko.

Sementara seluruh sektor keuangan itu sarat dengan masalah-masalah keagenan dan eksternalitas, lembaga-lembaga pemberi peringkat punya insentif memberikan peringkat yang baik kepada surat berharga berisiko-tinggi yang dikeluarkan bank-bank investasi yang membayar lembaga-lembaga tersebut. Penyedia awal kredit tidak menanggung konsekuensi atas tindakan mereka yang tidak bertanggungjawab itu, dan bahkan mereka yang melakukan predatory lending, pemberian kredit yang memangsa korban, atau yang menciptakan dan memasarkan surat berharga yang dirancang bakal merugi tersebut berbuat demikian dengan cara yang melindungi mereka dari tuntutan perdata maupun pidana.

Ini semua membawa kita kepada pertanyaan berikutnya: adakah peristiwa black swan lainnya lagi yang menanti dan bakal terjadi? Sayangnya, beberapa risiko yang benar-benar besar yang kita hadapi saat ini kemungkinan besar bukan rare events. Berita baiknya adalah bahwa risiko-risiko semacam ini bisa dikontrol tanpa ongkos yang besar atau tanpa ongkos sama sekali. Berita buruknya adalah bahwa untuk berbuat demikian kita dihadapkan pada perlawanan politik yang kuat – karena ada orang yang diuntungkan dari status quo ini.

Kita sudah menyaksikan dua dari risiko-risiko besar yang melanda dunia pada tahun-tahun terakhir ini, tapi tidak berbuat banyak untuk mengontrolnya. Menurut beberapa catatan, bagaimana kita mengelola krisis yang terakhir ini mungkin telah meningkatkan risiko meltdown keuangan di masa depan.

Bank-bank yang katanya tidak mungkin ambruk karena besarnya bank-bank itu, dan pasar di mana bank-bank itu beroperasi, sekarang menyadari bahwa mereka bakal di-bailout lagi jika mereka mengalami kesulitan. Akibat dari moral hazard ini bank-bank tersebut bisa meminjam secara mudah dengan persyaratan yang lunak, sehingga memberikan kepada mereka keunggulan bukan berdasarkan keunggulan kinerja, tapi berdasarkan dukungan politik. Sementara beberapa di antara ekses yang mengambil risiko ini sudah berhasil dikekang, predatory lending serta transaksi derivatif di luar bursa yang tidak jelas dan tidak diregulasi ini terus berlangsung. Insentif yang mendorong ekses pengambilan risiko ini praktis tidak berubah.

Maka itu, juga, sementara Jerman telah menutup reaktor-reaktor nuklirnya yang tua, di AS dan negara-negara lainnya bahkan PLTN yang rancang-bangunnya sama cacatnya seperti di Fukushima terus beroperasi. Eksistensi industri nuklir itu sendiri bergantung pada subsidi publik yang tersembunyi – ongkos-ongkos yang harus ditanggung masyarakat bila terjadi bencana nuklir, serta ongkos-ongkos pembuangan limbah nuklir yang masih belum terkelola dengan baik itu. Begitulah kapitalisme yang tidak terkekang!

Bagi planet bumi, ada satu risiko lagi, yang, seperti dua risiko sebelumnya hampir merupakan kepastian: pemanasan global dan perubahan iklim. Andaikata ada planet-planet ke mana kita dapat mengungsi dengan ongkos yang rendah jika terjadi peristiwa yang hampir pasti seperti diramalkan para ilmuwan itu, maka kita bisa berargumentasi bahwa inilah risiko yang layak kita ambil. Tapi tidak ada planet semacam itu, maka itu ia bukan risiko yang layak kita ambil.

Ongkos yang dibayar untuk mengurangi emisi karbon itu tidak ada artinya dibandingkan dengan risiko yang dihadapi dunia olehnya. Dan ini berlaku walaupun kita tidak mengambil opsi nuklir (yang ongkosnya selalu diremehkan). Yang jelas, perusahaan batubara dan perusahaan minyak bakal menderita, dan negara-negara penghasil polusi yang besar – seperti AS – jelas bakal membayar lebih mahal daripada negara-negara dengan gaya hidup yang tidak boros.

Pada akhirnya, mereka yang berjudi di Las Vegas lebih banyak menderita kerugian daripada meraup keuntungan. Sebagai suatu masyarakat, kita berjudi – dengan bank-bank kita yang besar, dengan PLTN-PLTN kita, dengan bumi kita. Seperti di Las Vegas, segelintir yang meraup keuntungan itu – bankir -bankir yang menempatkan ekonomi kita dalam bahaya dan pemilik perusahaan-perusahaan listrik yang menempatkan planet kita dalam bahaya — mungkin melenggang dengan segudang keuntungan. Tapi rata-rata dan hampir pasti, kita sebagai masyarakat, seperti semua pejudi, akan menderita kerugian.

Itu, sayangnya, adalah pelajaran dari bencana yang menimpa Jepang yang terus kita abaikan. HAK CIPTA: PROJECT SYNDICATE, 2011

Joseph E. Stiglitz,
GURU BESAR PADA COLUMBIA UNIVERSITY, PERAIH HADIAH NOBEL EKONOMI, PENGARANG BUKU FREEFALL: FREE MARKETS AND THE SINKING OF THE GLOBAL ECONOMY

Sumber: Koran Tempo, 11 April 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.