Home » Sejarah Universitas

Benarkah Universitas Gadjah Mada Universitas “Ndeso”?

19 December 1989 1,123 views No Comment

KITA tangkap semangat judul ulasan ini dari laporan Kompas tentang Universitas Gadjah Mada sehubungan dengan 40 tahun usianya pada tanggal 19 Desember ini. Secara eksplisit gelar Universitas Ndeso itu ditanyakan dalam wawancara surat kabar ini dengan Rektor Gama Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri.

Universitas Ndeso dalam bahasanya yang kelakar berarti universitas yang belum maju, sebab asosiasi umum tentang desa adalah keadaan masyarakat yang belum maju.
Dalam bahasanya yang bukan kelakar, gelar universitas ndeso bagi Gadjah Mada ingin menunjukkan orientasi universitas yang kuat kepada masalah masalah pedesaan, khususnya kemajuan masyarakat desa.

Dalam arti yang sesungguhnya itu, Universitas Gadjah Mada justru bangga oleh gelar yang diberikan kepadanya.

gedung pusatBukankah senantiasa dikatakan 80 persen penduduk Indonesia yang berjumlah 175 juta tinggal di desa dan bukankah pertanian menjadi pusat pembangunan ekonomi?

Lebih dari itu, universitas itu bangga karena orientasi ke usaha perbaikan perikehidupan rakyat desa ditunjang oleh penelitian, studi dan lembaga.

Terdapat bidang bidang studi dan penelitian seperli Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan  P3PK  dan Pusat Penelitian Kependudukan, Pusat Studi Kebudayaan, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Pusat Penelitian Perencanaan Pemba¬ngunan Daerah.
Studi dan penelitian berkembang menjadi masukan untuk pem¬buatan kebijakan baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah.

Salah satu ciri universitas yang berlokasi di Yogyakarta itu ialah adanya alumni pada pemerintah pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Kehadiran mereka menyebabkan, studi pedesaan dan perencanaan daerah dari almarneter mereka banyak diminta.

Tidak seorang pun akan melupakan konsep koperasi unit desa, yang juga berasal dari sana dan konseptornya, almarhum Prof Ir Soedarsono kemudian dipercaya menjadi Menteri Pertanian.
Orientasi ke pembangunan masyarakat desa mempunyai sema¬ngat kerakyatan yang besar dengan konotasi memberi perhatian kepada mereka yang tertinggal.

UNIVERSITAS itu juga terkenal karena salah seorang maha gurunya mencetuskan gagasan tentang ekonomi Pancasila.

Tidak terlalu jatuh di tanah subur gagasan itu, bahkan sempat menjadi bahan kontroversi, karena dianggap doktriner dan tidak memberi keluwesan terhadap perkembangan dan perubahan.

Akan tetapi jika sekadar urutan pikiran yang diikuti, gagasan itu logis. Jika filsafat dan sistem kemasyarakatannya Pancasila, tidak bisa lain, lembaga lembaga dan sub sistem sistem di dalamnya juga Pancasila.

Masalahnya lebih terletak pada: Seperti apakah sistem ekonomi Pancasil itu? Jawabnya jelas, sistem ekonomi Pancasila mengacu ke pasal pasal dan penjelasannya dalam Undang undang Dasar.

Lantas timbul persoalan berikut: konsep dan pikiran pikiran yang mendasari ide-ide ekonomi itu berasal dari pemikiran permulaan abad ke 20. Padahal sekarang zaman telah berubah dan berubah pula berbagai konsep termasuk konsep ekonomi.

Inilah sebenarnya wilayah bagi para ilmuwan ekonomi dan politik untuk merujukkan dan untuk menentukan formulasi yang dapat diterima.

Sekarang misalnya dicoba formulasi jalan keluar itu dicari dalam pengertian bahwa yang pokok adalah tujuan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan 3 pelaku ekonomi, yakni negara, koperasi dan swasta adalah instrumen.
Dan yang lebih konkret lagi, pemerintah tidak membiarkan dirinya terjebak dalam polemik. Pemerintah bertindak secara pragmatis seraya menemukan formulasi dan keadaan ekonomi sekarang inilah hasilnya, dengan keunggulan dan kelebihannya, tetapi juga dengan kekurangan dan kelemahannya.

Perubahan besar di dunia seperti secara dramatis berlangsung di Eropa Timur, sesungguhnya memberi peluang kepada para ilmuwan Indonesia untuk menemukan formulasi dari konsep ekonomi Pancasila yang berbobot tetapi terbuka, luwes dan dapat memecahkan masalah.

Misalnya sekarang ini dilontarkan pemikiran bahwa ekonomi pasar bukanlah bagian integral dari suatu sistem kapitalisme, tetapi sekadar suatu instrumen ekonomi.

Di Singapura misalnya oleh Menten Penerangan Dr Yeo Ning Hong diperkenalkan istilah ekonomi Barat, ekonomi Asia yang berhasil dan ditunjuknya Jepang sebagai contoh.

Kita kemukakan hal hal itu sekadar sebagai bahan bahwa masih terbentang luas lahan yang memerlukan penggarapan ilmiah oleh universitas.

KITA mudah terjebak dalam permasalahan yang bukan intinya. Jika orang mempersoalkan otonomi universitas, serta merta akan dihardik dengan konstatasi bahwa Indonesia memang tidak menganut paham otonomi universitas.

Akan tetapi tatkala misalnya, Menko Polkam Sudomo menekankan adanya tanggung jawab pada rektor untuk mengelola universitasnya secara tertib, apakah permintaan itu tidak mengandalkan adanya otonomi untuk dapat mengelola universitas.

Dalam pengertian itulah, kita pakai istilah otonomi: yakni suatu kesempatan dan kewenangan yang menyebabkan rektor dapat mengelola perguruan tingginya dan perguruan tinggi itu juga bisa berfungsi secara semestinya.

Sekurang kurangnya dapatlah dikatakan, rektor bukan seorang pegawai biasa, juga bukan sekadar seorang administrator. Rektor adalah pemimpin universitasnya, bapak pengasuh universitasnya.

Bobot akademis, bobot moral suatu universitas tergantung pada rektornya. Visi universitas, sikap, dasar dan orientasi universitas, negeri atau swasta, ikut dipengaruhi oleh sosok rektor.
Sekadar seorang administrator yang baik, sehingga universitas menghasilkan banyak tukang tukang atau seorang cendekiawan, sehingga universitasnya menghasilkan ahli ahli yang sekaligus humanis.

Bagaimana ia akan mengasuh para mahasiswanya, itulah pekerjaan rektor yang penting dan tidak sederhana.

Jika harus menghasilkan ilmuwan dan lapisan orang terpelajar seperti periode para Pendiri Republik dan periode Generasi ’45, tidaklah mungkin jika perguruan tinggi hanya tempat berolah ilmu belaka di menara gading.

Keunggulan 2 generasi itu justru keterlibatannya dan kepeduliannya terhadap rakyat banyak, terhadap masyarakat. Mereka peduli dan terlibat bukan setelah jadi orang, melainkan sejak muda dalam masa pendidikan.

Sudahlah tepat Tri Darma Perguruan Tinggi, untuk ilmu, untuk penelitian, untuk pengabdian masyarakat.

Yang masih harus ditemukan jalan yang pas  tidak mungkin pas benar  adalah bentuk bentuk kepedulian dan keterlibatan masyara¬kat, bentuk bentuk pengabdian kepada masyarakat itu seperti apa.

Apa yang biasanya mengaburkan permasalahan? Tarik menariknya kepentingan, kemungkinan perpolitikan dan duduk perkara yang tidak senantiasa segera jelas dan dapat ditangkap.

AKAN tetapi sekiranya di mana mana masyarakat dan kekuasaan selalu memerlukan isyarat suara hati, maka universitas pasti termasuk lembaga yang berbobot suara hati dan memiliki kewajiban moril untuk memperdengarkannya, setiap kali diperlukan.

Empat puluh tahun berarti Panca Windu. Itulah suatu usia dan angka angka yang, bermakna!

Tajuk Rencana HU Kompas, 19 Desember 1989

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.