Home » Berita, konservasi, Lingkungan

Belajar Mengelola Mangrove dan Lahan Pesisir

2 May 2016 252 views No Comment

Tidak selamanya pendidikan harus dijalani di bangku sekolah. Pendidikan juga bisa dilakoni melalui pengajaran di luar sekolah, termasuk pendidikan di alam raya.

Di pesisir pantai utara Brebes, tepatnya di Pedukuhan Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berdiri sebuah sekolah lapang dan pusat penelitian mengenai mangrove. Di sini dipelajari pula tentang pemanfaatan lahan pesisir untuk peningkatan perekonomian masyarakat.

Sekolah lapang dengan nama Martani Hadi Research Center (MHRC) diluncurkan pada Senin (18/4). Lokasinya sekitar 20 kilometer utara ibu kota Kabupaten Brebes.

Sekolah lapang tersebut didirikan kelompok masyarakat yang selama ini aktif dalam penanaman mangrove dan pelestarian kawasan pesisir di wilayah Pandansari. Salah satu motor penggeraknya adalah Mashadi (45). Ia bekerja sama dengan Martani Huseini, seorang pengusaha yang juga akademisi dari Universitas Indonesia.

Semua orang mulai dari anak-anak sekolah hingga kelompok-kelompok masyarakat bisa belajar soal penanaman mangrove untuk pelestarian lahan pesisir. Dipelajari pula pemanfaatan lahan pesisir untuk budidaya kepiting dan hasil perikanan lain, seperti kerang dara, kerapu, rumput laut, benih bandeng, pengolahan hasil perikanan, dan manajemen keuangan.

Tidak ada bangunan selayaknya gedung sekolah di kawasan itu. Untuk berdiskusi, hanya ada sebuah aula terbuka yang dibangun menggunakan bahan kayu. Namun, masyarakat yang ingin belajar bisa langsung terjun dan melakukan pengamatan di lapangan. Media pembelajaran tersebar di setiap sudut pedukuhan itu.

babdfc3c8ab1462196fab5e17fa9bfa7KOMPAS/SIWI NURBIAJANTI–Petugas pengelola sekolah lapang Martani Hadi Research Center (MHRC) di Pedukuhan Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sedang memperlihatkan proses budidaya kepiting soka kepada para tamu di wilayah itu, Rabu (20/4).

Pengelolaan sekolah lapang melibatkan 13 orang, terdiri dari 5 tenaga teknis bidang perikanan, pengolahan hasil perikanan, dan lingkungan; 5 anggota karang taruna setempat; serta 3 ibu rumah tangga.

Juga terlibat ratusan warga lain yang tergabung dalam sedikitnya 10 kelompok usaha yang juga setiap saat bisa dilibatkan dalam sekolah lapang. Lokasi budidaya hasil perikanan milik mereka bisa menjadi laboratorium bagi masyarakat yang ingin menimba ilmu di sekolah lapang tersebut.

”Banyak hal terkait pemanfaatan kawasan pesisir yang bisa dipelajari di sini, tetapi intinya satu, yakni tetap harus memperhatikan kelestarian lingkungan,” ujar Mashadi, Rabu (20/4).

Dalam setiap proses pembelajaran, hal yang ditekankan adalah menekan limbah yang mencemari lingkungan pesisir. Pengelola sekolah lapang tersebut menyiapkan paket-paket pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang membutuhkan. Sekolah lapang dengan sistem paket itu memang dikenai biaya, tetapi diupayakan murah dan terjangkau.

Selain itu, sekolah lapang juga tengah menyiapkan pendidikan Kejar Paket A, B, dan C untuk masyarakat Pandansari dan sekitarnya yang diselenggarakan secara gratis. Pendidikan kejar paket tersebut bekerja sama dengan Yayasan Taman Siswa. ”Kejar paket ini untuk membantu anak-anak yang dulu terpaksa berhenti sekolah akibat tambak orangtua mereka rusak terkena abrasi sehingga bangkrut,” kata Mashadi.

Belajar menabung
Sekolah lapang MHRC itu juga memiliki program bank kepiting untuk anak sekolah. Melalui program bank kepiting, anak-anak usia sekolah di pesisir Pandansari diajari menabung dari hasil kegiatan mencari kepiting yang biasa mereka lakukan sembari bermain.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, anak-anak biasa memasang umpan kepiting di pinggir sungai atau di sekitar tambak dan lahan mangrove. Siang hari setelah pulang sekolah, mereka memunguti kepiting dari umpan yang mereka pasang.

Anak-anak bisa memanfaatkan kepiting hasil buruan mereka untuk menabung. Kepiting itu akan ditampung oleh pengelola sekolah lapang, lalu dibudidayakan dan dipasarkan dengan harga memadai.

Anak-anak mendapatkan hasil penjualan kepiting tidak dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk tabungan. Uang hasil penjualan dimasukkan ke rekening masing-masing.

Untuk langkah ini, MHRC bekerja sama dengan salah satu bank milik pemerintah. Saat ini, sudah sekitar 80 siswa di Pandansari yang membuka rekening untuk tabungan kepiting melalui simpanan pelajar (simpel).

Contohnya, Agung (16), siswa kelas II SMP di Pandansari. Rabu lalu dia bisa mendapatkan lebih dari 1 kilogram kepiting anakan untuk dijual ke pengelola sekolah lapang. Dia mendapatkan hasil penjualan Rp 20.000 yang akan dijadikan tabungan.

”Bisa untuk menambah uang jajan atau untuk menambah biaya sekolah,” katanya. Menurut Agung, harga kepiting yang dijual ke sekolah lapang lebih mahal ketimbang dijual ke tengkulak. Dari kepiting dewasa (siap konsumsi), anak-anak bisa mendapatkan harga sekitar Rp 60.000 per kilogram.

Potensi besar
Pendirian sekolah lapang di Pedukuhan Pandansari bukan tanpa alasan. Wilayah Pandansari tidak sekadar menjadi daerah pesisir biasa, tetapi juga memiliki potensi yang besar.

Meski hanya terdiri atas satu wilayah pedukuhan, Pandansari punya potensi luas tambak kepiting alam yang mencapai 850 hektar, tambak kepiting soka 2 hektar, lahan kerang dara 16 hektar, hamparan hutan mangrove 210 hektar, dan bentang pantai sepanjang 10 kilometer.

Setelah sempat jatuh dari keterpurukan, sekitar tahun 2008, masyarakat setempat bangkit. Dengan bantuan dari berbagai instansi dan lembaga swadaya masyarakat, mereka menanami kawasan pantai yang rusak dengan mangrove. Masyarakat juga memanfaatkan tambak-tambak udang yang rusak untuk budidaya hasil perikanan lain, seperti kepiting, kerang darah, dan rumput laut, hingga saat ini.

Pengalaman masyarakat dalam mengelola lingkungan menjadi guru yang terbaik bagi sekolah lapang tersebut. Kini, selain mendirikan sekolah lapang dan pusat penelitian, masyarakat Pedukuhan Pandansari juga terus mengembangkan diri untuk menjadi desa wisata mangrove.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Brebes Amin Budi Raharjo mengatakan, pemerintah sangat mendukung upaya yang dilakukan masyarakat Pandansari.

Menambah Panjang Jalan
Saat ini, panjang jalur wisata yang dikembangkan Pemerintah KabupatenBrebes di kawasan hutan masih sekitar 40 meter. Direncanakan, pada 2016 ini, Pemkab Brebes akan menambah panjang jalan menjadi 740 meter, melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) senilai Rp 2 miliar.

Jauh sebelum sekolah itu berdiri, Pandansari merupakan kawasan pesisir biasa, yang jauh dari keindahan indah. Pasca masa keemasan udang windu yang pada 1985-1995, kerusakan pantai masif terjadi di Pandansari, akibat abrasi yang melanda wilayah itu. Hingga saat ini, kerusakan lahan akibat abrasi mencapai 1.100 hektar.

Setelah sempat jatuh dari keterpurukan, sekitar tahun 2008, masyarakat setempat bangkit. Dengan bantuan dari berbagai instansi dan lembaga swadaya masyarakat, mereka menanami kawasan pantai yang rusak dengan mangrove. Masyarakat juga memanfaatkan tambak-tambak udang yang rusak, untuk budidaya hasil perikanan lainnya, seperti kepiting, kerang darah, dan rumput laut, hingga saat ini.

Tahun ini, Pemkab Brebes juga mengembangkan Pedukuhan Pandansari sebagai desa wisata mangrove dengan mengalokasikan anggaran pembuatan jalur wisata di kawasan hutan mangrove di Pandansari. (WIE)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Mei 2016, di halaman 12 dengan judul “Belajar Mengelola Mangrove dan Lahan Pesisir”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.