Home » Sosok

Aranggi Soemardjan; Pengantar Masa Depan

2 May 2016 224 views No Comment

Pada peralihan gelombang masyarakat industri menuju masyarakat informasi yang dipenuhi turbulensi, Aranggi berdiri. Ia turut mengantarkan kaum bocah-penduduk asli dunia digital-menuliskan masa depan peradaban.

Sejak Januari 2013, Aranggi Soemardjan mendirikan Clevio Coder Camp, lembaga pendidikan dan pelatihan bahasa pemrograman komputer bagi anak-anak. Bersama istrinya, Fransiska Oetami, program-program Clevio didesain untuk mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya, alih-alih manusia yang takluk pada mesin dan teknologi.

Keharusan mengerjakan setiap proyek dalam tim yang terdiri atas sejumlah anggota adalah salah satu upaya yang dikembangkan di Clevio. Kaum bocah, yang belajar metode membuat game dengan bermain game, diharuskan berbagi peran dan saling bekerja sama. Masing-masing sebagai programer, manajer, dan desainer. Mereka memerankannya bergantian dan di sesi akhir presentasi kepada banyak orang.

Sejumlah peserta didiknya sudah melanglang buana turut dalam sejumlah kejuaraan. Beberapa karya anak-anak tadi-sebagian berupa aplikasi yang bisa dibenamkan dalam gawai-sudah mulai mewarnai industri digital.

Bersama sejumlah pegiat komunitas pendidikan dan harian Kompas, sejak Desember 2015, Aranggi turut membidani gerakan #PeradabanBaru. Gerakan ini melakukan edukasi pada publik terkait realitas masyarakat informasi-era ketika nyaris semua orang terhubung dengan gawai berinternet dan menciptakan inteligensia kolektif dalam jejaring kecerdasan global. Bersama gerakan tersebut, Aranggi beserta istri dan kedua anak mereka bekerja sama dengan sejumlah komunitas yang fokus pada pendidikan bagi anak-anak kaum marjinal.

Mereka mendatangi sejumlah permukiman di sudut-sudut Jakarta untuk memberikan pengenalan ihwal bahasa pemrograman komputer (coding). Kegiatan itu dilakukan dalam bingkai Hour of Code, sebuah gerakan internasional pengenalan bahasa pemrograman komputer bagi siapa saja. Belakangan, sejak Februari lalu, Aranggi bersama Clevio dilibatkan dalam program Coding Mum, yakni program pendidikan dan pelatihan bahasa program komputer bagi ibu rumah tangga yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif dan bekerja sama dengan sejumlah pihak.

Tingkat permintaan terhadap beragam program dalam Clevio Coder Camp berlipat dua setiap tahun, dengan kebutuhan pada tenaga pendamping pengajaran (disebut coach) yang makin meningkat. Para coach yang terdiri atas remaja ini sebagian besar direkrut dari SMKN 1 Cibinong dan SMK Wikrama Bogor dengan spesialisasi rekayasa perangkat lunak.

Selain kemampuan menguasai bahasa pemrograman komputer, kemampuan interaksi dan komunikasi interpersonal juga penting dimiliki. Ini sesuai dengan logo Clevio dengan warna biru, yang menurut Aranggi identik dengan teknologi dan pemikiran mendalam seperti super komputer Deep Blue dan konsep manajemen bisnis Blue Ocean Strategy, serta warna hijau, yang identik dengan lingkungan dan kesegaran serta hubungan.

Merayakan hasrat
Sekarang atau tidak sama sekali. Kegundahan itu dialami Aranggi di sekitar pengujung 2012, tatkala usianya 39 tahun dan mapan dengan pekerjaannya sebagai eksekutif pemasaran dan penjualan sebuah perusahaan elevator di Singapura. Pekerjaannya itu memberinya gaji sekitar Rp 200 juta per bulan.

Saat itu, ia teringat hasrat utamanya dalam hidup yang belum kunjung dirayakannya. Sebuah keinginan terpendam yang muncul setelah dalam sebuah sesi perkuliahan ia mendengarkan kisah John D Rockefeller Jr, pemodal dan dermawan masyhur dari Amerika Serikat.

Lulus tahun 1997, Aranggi bermaksud mengejar ambisi untuk mendirikan perusahaan agar bisa independen secara finansial dan memperoleh modal untuk memberdayakan orang-orang. Akan tetapi, di masa itu, krisis ekonomi baru mulai melanda.

Ia lalu sejenak melupakan hasratnya dan putar haluan mengejar karier di perusahaan produsen elevator. Karier Aranggi moncer. Bersama sejumlah rekannya, ia bahkan menghasilkan hak paten. “Tapi, kalau besok saya mati, terus bagaimana? Karya apa yang saya tinggalkan buat orang-orang dan keberlanjutannya untuk keluarga serta orang lain?” ujar Aranggi ihwal kegundahannya.

Suatu ketika, salah seorang putranya, Neoprana, perlu memperdalam ilmu pemograman khusus bagi anak-anak. Saat itu, program seperti itu belum disediakan lembaga mana pun di Indonesia. Aranggi pun terpicu untuk mendirikan Clevio.

Jika ditilik jauh ke belakang, jiwa social entrepreneur bersemayam dalam dirinya sejak lama, termasuk terlibat dalam perusahaan pemasaran berjejaring dan berjenjang ketika kuliah di Jakarta. “Saya bukan tertarik jualan produk sabunnya, tetapi bagaimana membantu orang untuk bisa memiliki pendapatan,” kata Aranggi saat kami bertemu 23 April lalu.

Pengaruh keluarga
Tatkala kami bertemu pada Sabtu petang itu di kediaman Aranggi yang berada di sebuah perumahan dalam kawasan Gunung Putri, Jawa Barat, Neoprana sudah tiga hari dirawat di rumah sakit. Ia ditunggui ibunya, Fransiska.

Keluarga itu mesti berbagi tugas, pagi hingga jelang petang Aranggi bersama Selo mengawal kegiatan yang diselenggarakan Clevio Coder Camp pada sebuah sekolah.

Selo pun menikmati kegiatan tersebut. “Handphone saya sekarang sudah tidak ada lagi game¬-nya, yang ada aplikasi untuk membuat game,” kata Aranggi sembari melirik Selo yang tengah asyik menunjukkan game buatannya.

Tak lama, mertuanya, Rudianto Oetomo dan Tjindanawati, tiba dari Bandung. Mereka membawa sejumlah masakan dan kemudian terlibat dalam upaya membujuk Selo untuk turut makan.

Menyusul kemudian ketika malam menjelang adalah orangtuanya, pasangan arsitek Hindro T Soemardjan dan Djarwastuti Hindro. “Mereka banyak mengajak kami berpikir dan berpendapat, mengambil keputusan, risiko, dan konsekuensinya sendiri. Tidak pernah ada doktrin yang mengikat. Kami dilatih menilai dan memutuskan sendiri sejak kecil dengan akal sehat dan niat baik,” tutur Aranggi.

Tidak pernah ada tuntutan prestasi akademis, melainkan dorongan menjadi versi terbaik diri sendiri. Ini termasuk dukungan penuh meninggalkan bangku SMA di Jakarta selama satu tahun guna bertualang dalam program pertukaran pelajar AFS di Jerman.

Semangat Aranggi juga terlecut oleh kisah kakeknya, Prof Dr Selo Soemardjan yang juga Bapak Sosiologi Indonesia, saat diceritakan ulang oleh bapaknya. “Kisah Bapak tentang Eyang Selo Soemardjan yang berhasil menyelesaikan S-1, S-2, dan S-3 dalam 4 tahun di Amerika Serikat memotivasi saya untuk menyaingi beliau, walaupun akhirnya saya terpaksa mengaku kalah (perlu 3,5 tahun mencapai S-1 di manufacturing engineering dan business management, cum laude),” katanya.

Semangat untuk mengantarkan orang lain pada tujuan-tujuan hidup mereka inilah yang kini merasuk dalam diri Aranggi.

fe3fdcfdbc644a03859d8b4419b08b23KOMPAS/INGKI RINALDI

ARANGGI SOEMARDJAN

Lahir:
Jakarta, 2 Oktober 1973
Keluarga:
Istri: Fransiska Oetami
Anak-anak: Neoprana Jawinara Soemardjan, Selopatih Gurupraja Soemardjan
Pendidikan:
Universitas Trisakti (1993-1994)
The University of Memphis (1994-1997)
The University of Northampton (MSc program, 2003-2005)
Hak Paten:
Interlock wiring communication system for elevators (Maret, 2004. United States 7334665)
Modular sheave assemblies (Maret, 2003. United States 20040026676)
Refractive sheet lighting assembly for an elevator (Januari, 2003. United States 6830355)

INGKI RINALDI
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 April 2016, di halaman 16 dengan judul “Pengantar Masa Depan”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.