Home » Artikel, Featured

Al-Qur’an dalam Fokus Kosmologi Modern

11 June 2016 638 views No Comment

Masih kuat anggapan di kalangan orang modern, termasuk para ilmuwan, bahwa ilmu pengetahuan (science) harus dipisahkan secara tegas dari metafisika. Tapi menurut Dr. Rahman Djay dalam tulisannya ini, anggapan tersebut untuk kasus fisika modern sudah mulai nampak tidak berdasar. Secara jernih keterkaitan fisika dan metafisika dielaborasinya hingga menyingkapkan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an yang difahaminya secara metaforik.

Dalam Qur’an penjelasan mengenai penciptaan alam semesta atau universum tidak terhimpun pada satu kesatuan fragmen. Sebagai pengganti ungkapan yang berkesinambungan, ayat-ayat tentang penciptaan atau proses terjadinya universum dengan aspek-aspeknya tersebar di dalam al-Qur’an. Aspek itu memberikan kepada kita beberapa informasi dengan pelbagai derajat kerinciannya, termasuk penafsiran yang nampaknya harus dilakukan secara alligoristik atau metaforistik. Agar mendapatkan gambaran jelas, fragmen yang tersebar di dalam beberapa Suriah seharusnya dihimpun menjadi satu kesatuan.

Dalam esei ini dicoba dilakukan semacam pemetaan penyesuaian (conormal mapping) dari beberapa ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan masalah penciptaan universum dengan pengetahuan yang ditimbulkan oleh tingkat perkembangan kosmologi kontemporer. Kosmologi modern secara relatif adalah ilmu pengetahuan baru. Sebelum Hubble menentukan pemuaian (ekspansi) dari universum di sekitar tahun 1929, kosmologi itu dianggap masuk dalam wilayah metafisika. Kemajuan yang dicapai sejak 1929 dalam bidang kosmologi merupakan akibat dari hasil riset sistematis dalam pengamatan instrumentalia dan teori. Yang menimbulkan kekaguman ialah universalitas dari pemuaian universum. Seluruh galaksi berada dalam keadaan menjauhi kita, dengan semakin lebih jauh jaraknya, maka kecepatannya bertambah besar. Demikianlah, fenomena ini bukan fenomena lokal dan bukan pula peristiwa statistik sembarangan. Keseluruhan universum berekspansi, semua galaksi bergerak saling men jauhi yang pada jarak jauh mendekati kecepatan cahaya. Proses ekspansi dari universum menuruti suatu prinsip yang disebut “prinsip kosmologis”, yaitu universum itu nampaknya isotropik dan homogen. Isotropik dalam arti pengamat melihat karakteristik yang sama atas universum dari Jurusan manapun ia mengamatinya, homagenus dalam arti bahwa universum itu tampak sama di manapun pengamat posisinya. Dengan kata lain, semua pengamat di manapun mereka berada akan mendapatkan kerapatan (densitas) dan pada umumnya juga sifat-sifat universum yang sama. Jadi mereka akan mendapat gambaran yang sama tentang universum.

Kosmologi dewasa ini, secara menyeluruh adalah suatu ilmu pengetahuan. Dia memiliki teori dan juga bersandar pada pengamatan, seperti halnya pada ilmu-ilmu yang lain. Di samping itu ia juga mempunyai keterkaitan yang dekat dengan ilmu pengetahuan lainnya dan ia mengambil hasil-hasil ilmu pengetahuan tersebut. Pada umumnya, kosmologi dewasa ini sudah memasuki problema paling dalam dari ilmu fisika dan mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan fundamental dari fisika dan astrofisika. Kosmologi adalah unik di antara ilmu-ilmu pengetahuan, karena melingkup keseluruhan universum fisikawi, jadi merangkul problema kesatuan alam yang konkret kodratnya serta dapat diamati. Sedangkan ilmu pengetahuan lainnya membatasi diri hanya pada bagian-bagiannya saja dari aspek realitas fisikawi.

Keunikan dari kosmologi menjadi menarik perhatian walaupun secara khusus ia adalah ilmu yang rumit. Seluruh problema fundamental dan pertanyaan tak terjawab oleh ilmu-ilmu lain biasanya mengantar kita masuk ke dalam problema kosmologis. Misalnya ilmu kimia mempelajari sifat-sifat unsur kimia; tetapi kenapa unsur-unsur kimiawi ini ada di bumi? Problema terjadinya unsur-unsur kimiawi di bumi mengantar pemikiran kita pada masalah awal penciptaan universum atau terjadi dan evolusinya bintang, yang secara langsung masuk ke dalam bidang kosmologi atau cabang astrofisika yang erat kaitannya dengan kosmologi.

Demikian pula, eksistensi lapisan kerak bumi, lautan dan terutama lagi eksistensi kehidupan pada bumi adalah langsung terkait pada kondisi tatkala lahirnya bumi dan seluruh sistem surya. Andaikata terjadi sedikit deviasi pada kondisi awal dan sifat-sifat universum maka dapat mengakibatkan universum yang dimiliki akan berbeda: tanpa bintang, tanpa planet, dan tanpa kehidupan.

Upaya penggabungan hokum-hukum fisikawi, dan mereduksinya menjadi hukum-hukum yang lebih fundamental, misalnya penyatuan gaya-gaya yang ada dalam alam adalah langsung terkait pada kosmologi. Misalnya, teori relativitas umum Einstein mengoreksi hukum gravitasi Newton, dengan pendapat bahwa gravitasi pada hukum Newton adalah suatu sifat geometris dari ruang-waktu. Revolusi yang sama terjadi pula dalam bidang kimia dan biokimia, di mana semua gaya-gaya yang terkait dengan fenomena kimiawi dan biologis telah dibuktikan kodratnya bersifat elektromagnetik. Dewasa ini, upaya fisikawan ditujukan untuk dapat mempersatukan seluruh gaya-gaya yang ada dalam alam, dari gaya nuklir, gaya elektromagnetik, sampai gaya gravitasi. Pada situasi dewasa ini pandangan epistemologis terarah pada pertanyaan fundamental, yaitu: Adakah suatu kemungkinan untuk menjelaskan kenapa hukum-hukum alam itu seperti apa yang diamati sekarang dan bukan seperti yang lain? Misalnya, dapatkah ditarik kesimpulan bahwa hukum gravitasi harus seperti yang diketahui sekarang (yakni, gaya tarik-menarik antara dua benda proporsional dengan massa masing-masing dan proposional terbalik dengan jarak pemisah kedua benda itu)? Dalam hal ini timbul perbedaan pendapat. Di satu pihak ada yang berpendapat, seperti Einstein dan Eddington, bahwa hukum-hukum dasar fisika dapat disimpulkan dari a-priori syllogism (bahwa teori pada hakekatnya tidak dirumuskan dengan terlebih dahulu didasarkan pada data-data hasil observasi, tapi diturunkan dari penalaran murni apakah itu lewat logika ataupun matematika, red). Dan di pihak lain, dan ini mayoriatas ilmuwan,menerima pengalaman sebagai satu-satunya titik pangkal untuk merumuskan hukum-hukum fisika dan demikian pula aplikasinya.

Al Qur’an dengan Fokus Kosmologi
1.Teori “Big Bang”
Teori yang sekarang menjadi pegangan penting dalam menjelaskan asal-usul (origin) universum ialah teori Big Bang (BB). Hal yang diterima adalah universum lahir dari suatu ledakan dahsyat yang berasal dari materi dalam keadaan super-kerapatan serta super-panas. Secara teoritis, universum dimulai dari singularitas matematik dengan densitas tak-hingga (infinit). Hal ini muncul dari solusi type I atau II dari persamaan Einstein. Persamaan Einstein ini adalah suatu “persamaan medan,” yang secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kelengkungan (kurvatur) ruang-waktu ditimbulkan oleh distribusi dari massa energi di dalam ruang. Jadi persamaan-persamaan medan dari Einstein merupakan penerapan khusus dari “prinsip March,” di mana menurut prinsip ini sifat-sifat kelembaban (inersial) dari materi disebabkan oleh distribusi dari sisa materi yang ada di dalam universum. Solusi type l dan II persamaan medan Einstein memulai dari suatu titik di mana faktor skala R adalah nol pada waktu t = o. Artinya ledakan awal itu ter jadi dengan kecepatan tak-terhingga. Tentu saja, tidak mungkin bagi manusia menggambarkan saat awal atau momen pertama dari “penciptaan” universum.

Ilmuwan pertama yang merumuskan teori BB ialah Lemaitre (1927) dan Gamow (1948). Teori Lemaitre didasarkan atas persamaan-persamaan medan Einstein (Gµv = -KTµv; atau bentuk lebih umumnya: Gµx + 9µv=-K Tµv) dan argumentasi bahwa entropy dari universum akan menaik sesuai dengan bertambahnya waktu. jadi menurut Lemaitre harus pernah ada konidisi entropy minimum di mana materi memiliki kemungkinan maksimum, untuk mengorganisir keadaan sistemnya. Lamaitre mengusulkan adanya “atom primordial,” di mana seluruh materi yang ada dalam universum mengisi atom primordial tersebut. Disebabkan oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg —suatu prinsip paling fundamental dalam fisika dengan implikasi filsafatnya yang sangat menakjubkan— manusia terbatas pengetahuannya pada waktu universum masih berumur t = 10-43 detik yang disebut “waktu Planck”. Pada “waktu Planck,” densitas universum adalah 1093 g.cm3, temperaturnya 1032 K dan energi rata-rata adalah 1019 Gev. Data-data tersebut adalah hasil perhitungan dari Teori Relativitas Umum (TRU) Einstein. Tetapi ada pendapat bahwa TRU tidak berlaku pada waktu umur universum lebih kecil daripada tp, di mana pada waktu radius universum masih 10-4 cm. Mekanisme yang diharapkan dapat menjelaskan fenomena terjadinya universum pada waktu lebih kurang dari tp adalah Quantum Gravity yang masih dalam status sebagai bayi.

Jadi yang mendukung teori BB adalah evidensi mendasar dari : i) Solusi persamaan-pepsamaan Einstein, ii) Jumlah besarnya helium dan deuterium yang diamati dalam universum, iii) Kecocokan antara penaksiran umur universum dari pelbagai gagasan, iv) Latar belakang radiasi gelombang-mikro yang diamati dalam kosmos, dan v) Distribusi radio galaksi.

Namun demikian, masalah permulaan penciptaan universum sesungguhnya suatu kesulitan yang tak dapat diatasi. Jika densitas awal ada secara infinit, maka seluruh universum adalah suatu singularitas matematik, dan pengertian ruang dan waktu menjadi tidak ada. Begitu pula kita kehilangan konsep ruang dan waktu jika kita misalkan universum berawal dari suatu fluktuasi quantum.

Penjelasan dari teori “Big-Bang” di atas sangat membantu kita dalam memahami ayat al Qur’an surah al-Anbiyaa (21): 30.

Tidakkah orang-orang kafir melihat bahwa langit dan bumi bertaut satu (satu unit ciptaan), lalu Kami pecahkan bercerai berai? Kami jadikan setiap yang hidup dari air. Apakah mereka tidak mempercayai hal itu.

Mengacu pada suatu proses memecahkan fatq dari sesuatu yang asal mulanya terpaut (fusi) ratq. Fatq dalam arti memecahkan hubungan atau dipetakan sebagai ledakan dahsyat pada fenomena Big-Bang. Ratq dalam arti menyatukan atau memfusikan sehingga terbentuk suatu kesatuan struktur, bersesuaian dengan konsep singularitas matematik dari teori BB atau dengan konsep “atom primordial” dari Lemaitre yang pada waktu sebelum terjadi ekspansi universum menumpuk semua materi pada awal terjadinya universum.

“Air” merupakan molekul yang pertama terjadi dalam proses moleculosynthesis sewaktu gaya elektromagnetik sudah menunjukkan watak sendiri setelah umur universum mencapai 700.000 tahun yang dikenal dengan waktu “rekombinasi.” Peranannya dalam proses biologis dan biokimiawi sudah banyak dipahami dan dijelaskan dalam literatur.

2. Proses Evolusi Universum
Dewasa ini teori evolusi universum yang diterima adalah teori BB, juga disebut “teori standard”. Kurun waktu atau babak pertama pemuaian universum yang disebut era Planck (waktu 0-1O-43 detik) menunjukan bahwa perilaku universum ditentukan oleh efek quantum, dengan temperatur > 1032 K. Dalam era Planck yaitu kurun pertama terciptanya universum kelihatannya gravitasi dikuantisasi dan masih bergabung (unified) dengan gaya lainnya yang ada dalam universum. Jadi nampaknya cuma ada satu gaya alam dengan empat komponen. Salah satu fenomena utama quantum mekanika pada era Planck ialah penciptaan partikel yang berpasang-pasangan.

Setelah universum menempuh era Planck, maka ia memasuki era yang kedua, dan disebut era Hadron yang lamanya dari t = 10-43 detik sampai t = 7 X 10-5 detik. Dalam era Hadron, jika temperatur > 1.6 x 10-12 K banyak terbentuk meson dan antimeson. Nukleon (yaitu proton dan neutron) banyak terbentuk bila temperatur > 1013 K. Pada t = 10-35 detik masih ada satu gaya, tetapi pada t = 10-12 detik sudah lahir gaya electroweak, yaitu gabungan gaya elektromagnetik dan gaya lemah nuklir.

Selanjutnya, universum memasuki erai Lepton, yaitu suatu kurun waktu dari t = 7 x 10-5 detik (temperatur 1.6 x 1012 K) hingga t = 5 detik (temperatur 6 x 109 K).

Era keempat dari universum disebut era radiasi, berlangsung dari t = 5 detik sampai t = 5 x 105 tahun (temperatur menurun dari 6 x 109 K menjadi 4 x 103 K). Dalam era ini proses radiasi masih dominan daripada pembentukan materi, masih lebih banyak photon. Hubungan energi dari materi terhadap temperatur dalam era radiasi proporsional dengan T4 (seperti pada photon). Waktu umur universum t = 5 x 105 tahun tercapai keseimbangan antara materi dengan energi radiasi. Dalam era radiasi itu terjadi fenomena penting sejak dari t = 10 detik sampai t = 3 min 45 detik (temperatur T = 0,9 x 109 K), Yaitu nucleosynthesis (t = 4 min) sampai masa formasi atom-atom (t rec = 7 x 105 tahun) tidak terjadi peristiwa penting. Sesudah waktu rekombinasi, universum mengalami dua peristiwa penting.

Era kelima (era materi pertama) yang berlangsung dari t = 7 x 105 sampai t = 3 x 108 tahun ialah era pembentukan protogalaxy dan protocluster oleh mekanisme : 1) ketidakstabilan gravitasi, dan ii) turbulans yang berasal dari universum tatkala masih awal.
Era keenam, yaitu keruntuhan protogalaksi untuk membentuk galaksi-galaksi seperti yang diamati dewasa ini (t = 3 x 108 tahun sampai sekarang). Pembentukan galaksi dari protogalaksi didasarkan atas peristiwa runtuhnya protogalaksi. Dalam peristiwa ini materi dari protogalaksi (bintang-bintang atau gas) bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu pusat, tanpa ada gaya yang melawannya. “Waktu runtuh”(collapse time) sama dengan waktu jatuh bebas dari materi di dalam galaksi. Jadi ada dua skenario yang melukiskan runtuhnya protogalaksi untuk membentuk galaksi. Skenario pertama terjadi jika protogalaksi adalah gas, dan skenario kedua terjadi jika protogalaksi adalah bintang.

Penafsiran Metafisik
Teori evolusi universum itu membuka pemikiran kita untuk memahami dan membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an. Dalam pada itu Allah berfirman (Q. S. al-A’raf, 54):

Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas “arasy”. Dia tutupkan malam sebagai tirai atas siang hari, masing-masing saling mencari untuk bergilir. Dia ciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Semuanya tunduk pada hukum-hukum yang diperintahkan-Nya. Adakah bukan Dia yang menciptakan dan mengurusinya? Maha berkat Allah, Tuhan semesta alam.

Dan juga dalam surah as-Sajdah, ayat 4.

Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya, dalam enam hari; kemudian Dia bersemayam di atas “arasy.” Tidak ada seorang pun wali dan penolong kepadamu selain dan padaNya. Tidakkah kamu telah mendapatkan peringatan?.

Dalam ayat-ayat tersebut di atas, jika kata “yaum” (jamaknya: ayyam) ditafsirkan secara metaforik sebagai tingkatan-tingkatan perubahan waktu, maka pemetaan konformal dari keenam era proses terjadinya universum, (yakni: era Planck, era hadron, era lepton, era radiasi, era pembentukan protogalaksi, dan era runtuhnya proto galaksi), terhadap ungkapan sittati ayyam (“enam periode”) nampak bersesuaian. Kosmologi modern menjelaskan ada enam era dengan fenomena fisikawi yang jelas berbeda.
Ayat-ayat al-Qur’an yang melibatkan parameter “waktu” pada proses penciptaan universum, besaran waktu harus dipahami dalam kaitan “waktu kosmologis”, tidak dalam pengertian waktu standard yang dialami. Waktu dalam pengertian kosmologis dipakai untuk membedakan perbandingan kecepatan atau urutan terjadinya pelbagai fenomena fisikawi. Penciptaan universum bukan pada waktunya (in time),tetapi dengan waktu. Akhirnya, dalam kosmologi dikenal dua macam waktu: 1) “waktu dinamika” (dikenal juga sebagai waktu Einstein), dan 2) “waktu atomik” (dikenal juga sebagai waktu kinematika). Pada waktu atomik t, masa lampau atau umur universum menjadi hingga; tetapi menjadi tak-hingga dengan waktu dinamika t. Waktu atom diukur oleh fenomena atomistik, sedangkan waktu dinamika diukur oleh pergerakan planet-planet (dikenal juga dengan nama “waktu Newton”).

Kosmologi dan Metafisika
Bila seseorang menghabiskan tenaganya dalam rantaian pertanyaan “mengapa…” mengenai universum, dia akan berakhir; pada pertanyaan-pertanyaan yang secara essensial tidak terjawab. Deretan pertanyaan: Apa yang ada sebelum terjadinya explosion (ledakan) awal? Mengapa universum tak homogen pada skala kecil padahal homogen pada skala besar? Mengapa ruang itu mempunyai tiga dimensi dan waktu cuma satu dimensi? Mengapa konstanta alam itu begitu universal? Dan mengapa universum secara keseluruhan begitu simmetris dan sederhana, suatu persyaratan penting yang mendukung kemajuan dalam kosmologi ?

Mungkin pada suatu saat nanti, beberapa dari pertanyaan tersebut akan ada jawabannya. Secara essensial, pertanyaan-pertanyaan itu bisa diteruskan hingga menjadi jauh lebih sulit. Namun Einstein mengatakan: The most incomprehensible thing about the universe is comprehensible (“hal yang paling tak dapat difahami mengenai universum, dapat difahami”). Sesungguhnya, tidak ada yang bisa menjamin kita lebih dini bahwa universum akan dapat dipahami oleh pikiran manusia. Tidak ada yang mengatakan kepada kita bahwa universum itu sepantasnyalah memiliki kesatuan yang menakjubkan seperti kita amati, atau universum itu sebagai sesuatu yang dapat dijelaskan oleh hukum-hukum fisikawi yang berlaku di mana saja, atau hukum hukum fisikawi itu harus sedemikian rupa sehingga dapat dijelaskan oleh rumus-rumus matematik, dan seterusnya.

Banyak pertanyaan yang diajukan oleh para kosmolog pada akhirnya berkodrat metafisika. Hal ini memalukan beberapa di antara para kosmolog. Karena banyak juga orang yang berpendapat apa saja yang metafisis adalah “taboo.” Dari pihak ini, pernyataan Jacques Monod (pemenang hadiah Nobel Kedokteran 1965) adalah karakteristik: “Setiap pencampuran pengetahuan (knowledge) dengan nilai-nilai(values) adalah ilegal, dilarang. “Ironi dari permasalahan itu adalah, bahwa pernyataan Monod didasarkan pada keyakinan bahwa pengetahuan itu adalah suatu nilai yang agung. Tetapi siapa yang memberi hak kepada kita untuk mengadakan tuntutan seperti itu? Bukankah suatu kecerobohan dan prinsip tak berdasar meletakkan otak manusia sebagai nilai agung (Supreme value) yang tidak diragukan, sebagai suatu otorita yang mutlak dan tak bisa dipertanyakan?

Selanjutnya ada hal lagi yang lebih mendasar. Apakah mungkin membedakan secara mutlak antara fisika dan metafisika, antara pengetahuan dengan nilai-nilai luhur? Dalam hal ini Max Planck mengatakan: there is no physics without some metaphysics (“tidak ada fisika tanpa metafisika”). Sesungguhnyalah, pertanyaan-pertanyaan paling mendasar dari ilmu fisika, misalnya apa penyebab dari seluruh universum, atau mengapa hukum-hukum fisikawi itu seperti apa yang diamati, dapat dikategorikan sebagai pertanyaan metafisika. lni tidak berarti, bahwa pertanyaan serupa itu kurang penting dibandingkan dengan pertanyaan “fisikalis,” seperti misalnya mengapa matahari menyinari bumi, atau mengapa reaksi nuklir itu bisa terjadi.

Metafisika mempelajari struktur dan dasar dari ilmu fisika, sama halnya “metamatematika” menguji struktur dan dasar dari matematika. Dengan demikian, jika seseorang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti yang telah disinggung, dia tidaklah memasukkan teologi ke dalam ilmu fisika. Dalam fakta memang ada yang disebut “metafisika negatif,” yang menolak adanya konsepsi Allah SWT tetapi lebih banyak ilmuwan yang membicarakan masalah metafisika tidak terjebak oleh metafisika negatif, karena mereka tidak mempercayai bahwa metafisika negatif adalah bagian dari metafisika. Pendapat bahwa teori BB lebih “teologis” dan “teori penciptaan kontinu” lebih “ilmiah” sudah ditinggalkan. Keduanya mengandung aspek metafisika. Tetapi teori BB lebih banyak meyakinkan para astronom dan fisikawan. Hanya saja implikasi metafisis dari teori ini dipandang secara berbeda. Pelbagai pandangan yang timbul: dari Weinberg (pemenang hadiah Nobel 1979) yang menerima teori BB tetapi menganggap universum tak menentu, sampai Penzias (pemenang hadiah Nobel 1978) yang melihat perkembangan ilmu fisika dan kosmologi pada dewasa ini merupakan suatu verifikasi proses penciptaan universum oleh Allah SWT seperti yang tertera dalam kitab-kitab Suci.

Pada umumnya, ilmuwan yang mempelajari universum terbagi ke dalam dua golongan sikap terhadap universum. Golongan ilmuwan yang melihat keajaiban yang ada di universum tanpa mengambil sikap pandangan, atau dijadikannya sebagai alat untuk menitikberatkan pentingnya mereka. Setiap penemuan baru menambah kepercayaan mereka atas kehebatan pikiran manusia. Sikap seperti ini akan cenderung mendorong manusia “mempertuhankan” dirinya, yaitu suatu sikap keangkuhan dan kemungkaran.

Di lain pihak, ada pula golongan ilmuwan yang seakan-akan berdiri menatap ke universum sambil terpesona mengamati segala keajaibannya. Setiap penemuan ilmiah dari mereka hanya menimbulkan kesan kepada mereka tentang keterbatasan kemampuannya. Mereka menyadari bahwa rahasia Alam Semesta dan universum tidak terjangkau dalam perbandingan dengan ketidak sempurnaan manusia demikian pula dengan keterbatasan kemampuannya. Hal ini tidak menyebabkan mereka putus asa dan bingung, malah mengantarkan mereka ke dalam suatu kepastian keyakinan, bahwa rahasia universum itu jauh di atas pengetahuan serta pemahaman manusia dewasa ini; tidak mencelakakan kepada manusia malah mengandung suatu affinitas yang dalam, dengan kualitas tertinggi dari manusia. Adalah dengan affinitas ini yang menjawab pertanyaan dasar dari Einstein “mengapa universum secara terpadu bisa dipahami oleh manusia;” karena universum dan manusia berasal dari sumber yang sama, cikal bakal yang sama, dan Pencipta Tunggal yang sama. Maka peringatan Allah SWT dalam surah ar-Rahman kepada manusia yang diulangi-Nya 31 kali daripada 78 ayat dari surah tersebut mengakhiri esei ini: “Maka nikmat yang mana dari Tuhan Yang kalian menyangkalnya?”
————
20160610_064207-1Dr A. Rahman Djay adalah Direktur Pengkajian dan Penerapan Ilmu Dasar, Deputi Bidang Pengkajian Ilmu Dasar dan Terapan. Dia memulai pendidikan perguruan tingginya di Universitas Indonesia cabang Bandung (yang kemudian menjadi ITB). Pasca Sarjana di Mc Master University, Hamilton, Ontario Canada (M.Sc. dalam Fisika 1962); Uppsala Universitet, Uppsala, Sweden (Fil. Doc. 1966). Pengalaman mengajar dilakukannya di Universitas Hasanuddin, Makassar; University of Nairobi, Kenya; Stockholm dan Uppsala Universitet di Swedia. Penelitian-penelitian Fisika Nuklir dan Rekayasa Nuklir pernah dilakukannya di Brook-haven National Laboratory, Upton, Long Island USA; di Cavendish Laboratory, Cambridge; di Institut fur angewandte Physik, Universitet Bonn, dan di laboratorium-laboratorium Swedia. Lebih sepuluh tahun dia bekerja pada AB Atom energi Sweden (lembaga tenaga atomnya Swedia) pada proyek PLTN pertama di Swedia.

Diambil dari: Jurnal Ulumul Qur’an no.4 Vol I tahun 1990

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.