Home » Sosok

Abie Wiwoho Hantoro; Dosen “Urusan Jamban”

19 October 2016 96 views No Comment

Daripada duduk di menara gading universitas, dosen dan ahli limbah cair Abie Wiwoho Hantoro lebih suka ke lapangan. Ia sering “blusukan” untuk mengajarkan bagaimana mengelola air tinja dengan baik. Bayarannya cukup 2M alias “makasih Mas”.

Abie Wiwoho (68) adalah seorang peneliti, dosen, konsultan, dan praktisi di bidang pengolahan limbah cair. Di usianya yang tidak muda lagi, ia masih aktif mengajar di Politeknik Kesehatan Jakarta.

Mantan penjahit pakaian dan petugas pengawas air minum serta jamban keluarga itu menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari tinja, septic tank atau tangki septik, dan air limbah. Ia tertarik mempelajari bidang yang terkesan “tidak keren” tapi sangat penting itu karena prihatin melihat air buangan limbah rumah tangga mencemari lingkungan.

Ia juga menemukan tangki septik di rumah warga ataupun instansi pemerintah sebagian besar tidak layak. Itu semua akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Berbekal buku berjudul Excreta Disposal for Rural Areas and Small Communities, ia mempelajari aneka teknik membuat desain tangki septik atau instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dengan biofilter. Dari situ, ia bisa merancang tangki septik yang baik, praktis, dan murah sehingga bisa diterapkan oleh siapa pun.

Untuk mengembangkan tangki septik di lingkungan padat penduduk perkotaan, ayah tiga anak ini memperkenalkan tanki septik komunal menggunakan formula “Wiro Sableng” 212. Asal tahu saja, Wiro Sableng 212 adalah tokoh imajiner dalam seri novel silat. Abie menggunakan formula 212 untuk mematok ukuran tangki septik, yakni panjang 2 meter, lebar 1 meter, dan kedalaman 2 meter.

Dengan ukuran seperti ini, tangki septik rancangan Abie bisa dibangun di bawah ruang tamu, kamar, ataupun di bagian rumah lain. Penghuni rumah tidak perlu khawatir karena IPAL ini tidak menimbulkan bau. Pasalnya, air tinja dan limbah cair lainnya telah diolah menjadi lebih bersih dan jernih. Air limbah itu sudah diuji di laboratorium dan bisa memenuhi standar baku mutu air untuk dibuang ke sungai, dimanfaatkan sebagai penggelontor peturasan (flushing), atau untuk menyiram tanaman.

Abie memanfaatkan bahan-bahan bekas untuk membangun IPAL komunalnya, antara lain cangkang kerang, batok kelapa, dan botol bekas air minuman. Bahan-bahan itu digunakan untuk mengembangkan bakteri yang bisa mengurai air kotor menjadi jernih.

“Selama ini, masyarakat banyak menggunakan material pabrikan yang mahal. Saya menawarkan pembuatan IPAL yang lebih murah karena bisa memanfaatkan sampah, yaitu botol plastik dan batok kelapa,” ujar Abie Wiwoho sembari menunjukkan alat kerjanya di workshop Politeknik Kesehatan Jakarta, Jumat (14/10).

Abie bisa menekan biaya pembuatan IPAL komunal dari umumnya Rp 50 juta-Rp 60 juta per meter kubik menjadi Rp 10 juta-Rp 15 juta. Ia menyebutnya sebagai sistem IPAL komunal dengan anggaran mepet alias kepepet.

IPAL komunal dengan sistem biofilter rancangan Abie ini telah digunakan di banyak rumah sakit, puskesmas, ataupun permukiman kumuh, seperti Penjaringan dan Semper Barat, Jakarta Utara. Ia terus membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar mengembangkan tangki septik biofilter. “Tinggal panggil saya. Enggak usah mikir bayarannya, mau diberi teh botol atau 2M (makasih Mas) saya mau mengajari,” seloroh Abie sembari tertawa.

Mantri WC
Sebelum tinggal di Jakarta, Abie adalah perantau di Manado, Sulawesi Utara. Ia bekerja sebagai petugas pengawas air minum dan jamban keluarga. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai mantri WC (water closet).

Saat itu, ia menemukan banyak orang terserang penyakit yang disebabkan oleh buruknya sistem sanitasi, seperti diare, infeksi, dan gangguan pencernaan. Bagaimana tidak, masih banyak orang yang membuang hajat di kebun ataupun di empang. Abie tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyarankan masyarakat agar memperbaiki sanitasi lingkungan secara swadaya.

Setelah pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai dosen di Politeknik Kesehatan Jakarta, ia memiliki waktu dan kesempatan untuk belajar lebih tentang bagaimana mengelola limbah domestik dengan baik. Ia bisa datang ke perpustakaan kapan saja. Karena belum punya rumah, ia kerap menginap di ruang workshop Politeknik Kesehatan Jakarta. Di situlah, ia bekerja keras untuk menemukan inovasi sistem biofilter komunal.

Ia meneliti sistem itu hingga 15 tahun. Karena sering gagal, ia bahkan dijuluki “raja gagal” dan kerap ditertawakan oleh rekan sesama dosen. Setelah jatuh bangun, pada 2013 ia akhirnya berhasil dan menjadi seorang finalis Lomba Teknologi Tepat Guna Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Abie terus memupuk keahliannya sebagai peneliti dan praktisi pengolahan limbah cair hingga ia dijuluki orang-orang di sekitarnya sebagai “dewa air”.

Lelucon
Bertahun-tahun bergaul dengan limbah cair dan air tinja, Abie tidak pernah merasa jijik. Ia bebas saja memperbincangkan hal-hal terkait dengan jamban dan tinja termasuk dengan keluarganya. Ia juga kerap membawa pulang cerita-cerita lucu dari lapangan yang membuat istri dan anak-anaknya tertawa terpingkal-pingkal.

Ia, misalnya, memiliki cerita lucu di mana ia bisa mendamaikan dua keluarga yang berseteru lantaran persoalan jamban. Saat ia pulang kampung, ada dua keluarganya bertengkar karena ada yang sedang menggali sumur, sementara yang lainnya sedang menggali tangki septik. Jarak antara sumur dan tangki septik hanya 2 meter. Dua orang yang berselisih itu pun bertengkar hebat, bahkan saling mengancam dengan senjata tajam.

Kepada dua orang yang sedang naik pitam itu, Abie memperkenalkan sistem tangki septik biofilter. Ia meyakinkan bahwa tangki septik bisa dibangun di dekat sumur apabila disekat dengan beton dan instalasinya benar.

Umumnya, masyarakat memang mengenal aturan tangki septik harus berjarak lebih dari 10 meter dari sumber air tanah. Akan tetapi, dengan sistem tangki septik biofilter yang ia kembangkan, Abie menjamin sumber air bersih tersebut tidak akan tercemar. Setelah mendengarkan penjelasannya, keluarga itu pun sepakat membuat tangki septik biofilter. Mereka akhirnya berdamai dan tak lagi bertengkar tentang sumur dan tangki septik setelah bertahun-tahun.

Mimpi Abie kini tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin melihat masyarakat Jakarta memiliki tangki septik komunal dengan sistem biofilter. Ia yakin, jika sistem ini diterapkan secara luas, sanitasi lingkungan dan kualitas air sungai di Jakarta akan meningkat.

64eda6f0831f4a69a6e3f89522543c06KOMPAS/DIAN DEWI PURNAMASARI

ABIE WIWOHO HANTORO

Tempat, Tanggal Lahir:
Ponorogo, 28 November 1948
Pendidikan:
D-4 Poltekkes Jakarta
S-2 Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Istri:
Ratnaningsih (50)
Anak:
Gery Ahmadi Hantoro (28), Ziko Haray Hantoro (25), Shinta Aulia Hantoro (22)
Pekerjaan:
Dosen PAPLC (Penyehatan Air dan Pengelolaan Limbah Cair) Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II
Organisasi:
HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)

DIAN DEWI PURNAMASARI
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Oktober 2016, di halaman 16 dengan judul “Dosen “Urusan Jamban””.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.