Home » Sejarah Universitas

36 Tahun Universitas Pattimura; Membangun Sumber Daya Kepulauan

24 April 1999 1,578 views No Comment

MALUKU dikenal dengan sebutan Bumi Seribu Pulau. Kondisi alam nya sekitar 90 persen berupa lautan dan sisanya berupa taburan pulau yang umumnya adalah pulau-pulau kecil. Perairan di Maluku sebagian besar berupa laut dalam. Sejauh mata memandang terlihat bentangan lautan luas. Perairan Maluku merupakan tempat pertemuan dari dua gerakan massa air laut yang berasal dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Pertemuan ini menjadikan wilayah itu khususnya Laut Banda sebagai fishing ground terbesar dan terkenal di kawasan Asia Pasifik.

Kekayaan flora dan fauna menjadikan ciri khas wilayah ini sehingga dikenal sebagai tempat asal berbagai plasma nutfah, baik di darat maupun di laut. Banyak terdapat kekayaan hayati yang tergolong endemis.

Belum lagi kekayaan etnik dan budaya yang beraneka ragam tersebar di berbagai pulau. Ditambah obyek wisata yang berupa wisata alam dan peninggalan bersejarah, menjadikan bumi Maluku sebagai tempat yang menawan.

Bagi sebagian orang, kondisi Maluku yang sebagin besar lautan lebih banyak dinilai sebagai hambatan. Tidak demikian bagi kalangan akademisi dan intelektual yang menilai kekhasan wilayah seperti itu sebagai tantangan dan peluang. Dengan kondisi yang tergambar seperti itu, Maluku bisa disebut sebagai laboratorium alam untuk pengembangan ilmu dan teknologi.

jadi3Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon yang merupakan salah satu pilar pendidikan di wilayah itu, sejak awal berdirinya memahami kondisi itu. Para pendiri perguruan tinggi tersebut menyadari tempat berpijaknya Unpatti adalah sebuah wilayah kepulauan. Mereka berusaha mengarahkan orientasi program pendidikan pada pemecahan masalah khas dari suatu wilayah kepulauan.

Meski sebagai universitas yang tentu saja memiliki jalur kaidah-kaidah ilmu yang universal, Unpatti sama sekali tidak lepas dari akarnya untuk membuktikan tanggung jawabnya terhadap masyarakat yang tersebar di berbagai pulau.

“Oleh karena itu pendidikan di sini mengarah pada ilmu-ilmu kelautan karena secara struktur lingkungan daerah ini berupa kepulauan. Pendidikan di sini tidak bisa disamaratakan dengan di Jawa,” kata Pembantu Rektor I Unpatti Dr Ir JE Louhenapessy.

Dengan perkataan lain fakultas-fakultas yang ada, di samping harus melaksanakan muatan nasional sesuai dengan kurikulum, harus memberi perhatian pada muatan lokal agar lebih mampu memberikan jawaban bagi masalah-masalah setempat.

Untuk itulah sejak awal Unpatti mengembangkan Pola Ilmiah Pokok Kelautan. Sekitar tahun 1970-an, orientasi ini muncul dengan sekadar menonjolkan ilmu kelautan seperti perikanan. Orientasi ini mempunyai kelemahan karena seolah-olah laut terpisah dari darat, sehingga arahnya pada pengembangan sumber daya perairan saja.

Pada tahun 1977, orientasi ini makin diperjelas dengan dimunculkannya “Bina Mulia Kelautan” (BIK) setelah mendapat masukan dari sivitas akademika terutama dari fakultas-fakultas yang disiplin ilmunya tidak berkait langsung dengan ilmu kelautan. Perubahan ini memberi peluang yang cukup besar bagi pengembangan dan pemecahan masalah kelautan dan pulau-pulau secara proporsional.

“Orientasi ini menegaskan kalau pulau dan laut tidak terpisah tetapi dalam kesatuan,” kata Louhenapessy. Laut menjadikan penghubung antarpulau, sehingga keduanya merupakan potensi sumber daya alam yang saling mendukung. Dengan demikian, perlakuan keliru terhadap darat akan berpengaruh terhadap laut.

Sejak saat itu, studi tentang kelautan tidak terpisah dengan ilmu-ilmu lain. Fakultas lain menyesuaikan arah dengan ilmu kelautan. Pertanian, teknik, ekonomi dan ilmu lainnya diarahkan untuk mendukung pengembangan masalah kelautan.

“Pengembangan studi pertanian di sini tidak bisa disamakan dengan di pulau-pulau besar, tetapi harus diberi muatan pertanian kepulauan,” kata Louhenapessy. Ia mencontohkan, pertanian di Pulau Jawa yang banyak mengarah pada persawahan tidak bisa diterapkan di Maluku. Pertanian diarahkan pada pengembangan lahan kering dan sempit dengan tanaman yang sesuai.

Meski mempunyai orientasi ilmu kelautan, Unpatti tidak terjebak pada kebutuhan lokal saja. Mereka juga mengembangkan visi dan misi ke depan. Melalui arah yang disebut Wawasan 2018, sivitas akademika Unpatti diharapkan mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun tradisi ilmiah yang produktif dalam menghasilkan temuan baru, dan melakukan deseminasi temuan penelitian yang dapat diterapkan pada masyarakat.

“Persaingan di masa yang akan datang bukan hanya antarkita, tetapi dengan sumber daya manusia internasional,” kata Louhenapessy. Ia menandaskan hal ini karena perguruan tinggi itu tidak bisa kerdil, lepas dari perkembangan global.
***

PADA tanggal 23 April 1999, Unpatti telah mengabdi pada masyarakat selama tiga puluh enam tahun. Berdasarkan catatan yang ada, tonggak sejarah telah ditancapkan oleh para tokoh masyarakat Maluku untuk memberdayakan warga setempat melalui bidang pendidikan. Awalnya sebuah lembaga Pendidikan Tinggi Maluku (PTM) dibentuk 20 Juli 1955 oleh beberapa tokoh antara lain PM Pupella, Cor Loppies, Hamid bin Hamid, dan D Tahitu.

Waktu pertama kali dibuka, PTM hanya mempunyai fakultas hukum. Tiga tahun kemudian baru memiliki fakultas sosial dan politik. Kemudian muncul berikutnya fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, pertanian dan peternakan.

Dalam perjalanannya, PTM menjadi Universitas Pattimura pada 3 Oktober 1959. Universitas yang semula berstatus swasta itu akhirnya menjadi negeri pada 23 April 1963 melalui SK Presiden RI No 66/1963. Setelah pergantian itu, kemudian muncul beberapa fakultas seperti ekonomi dan teknik.

Dengan delapan fakultas yang ada, saat itu Unpatti belum memiliki rektor, masih menggunakan presidium. Hingga 2 April 1970, pemerintah menunjuk Ir L Nanlohy yang waktu itu menjabat Dekan Fakultas Teknik sebagai rektor yang pertama. Sejak saat itu hingga sekarang Unpatti telah memiliki lima rektor.

Dari perjalanan selama ini, universitas ini telah memiliki 14 guru besar, 25 tenaga pengajar berkualifikasi S3, 240 berkualifikasi S2 dan 575 berkualifikasi S1. Sebanyak 300 tenaga pengajar lainnya tengah studi S2 dan S3 baik di dalam negeri maupun luar negeri.
***

UNTUK berjalan sesuai dengan cita-citanya, Unpatti tidak mudah menggapainya. Lembaga itu juga menghadapi berbagai kendala untuk mampu memberikan jawaban atas permasalahan yang ada di wilayah kepulauan itu.

“Mahasiswa yang masuk umumnya memiliki kecerdasan menengah ke bawah, yang baik-baik banyak lari ke Jawa,” kata Louhenapessy. Mereka juga bisa dipastikan banyak berkarier di Pulau Jawa setelah lulus.

Kendala lainnya adalah kemampuan ekonomi mahasiswa. Hampir 80 persen mahasiswa Unpatti berasal dari desa. Kondisi mereka bisa ditebak karena dari sekitar 1.500 desa yang ada di Maluku, sekitar 850 desa di antaranya tergolong Inpres Desa Tertinggal (IDT).

“Banyak yang harus menunda pembayaran SPP,” kata Louhenapessy. Universitas akhirnya memberlakukan kebijakan pengangsuran pembayaran SPP, satu hingga empat kali. Tak jarang mahasiwa yang mendekati akhir studi banyak yang mengambil cuti. Menurut Louhenapessy, mereka harus bekerja agar mendapatkan uang untuk membiayai pembuatan skripsi.

“Untuk itu kita dalam waktu dekat akan mengeluarkan kebijakan agar mahasiswa bisa memilih jalur skripsi atau non-skripsi,” katanya. Jalur skripsi bisa dipilih mahasiswa yang kecerdasan dan keuangannya mampu sedangkan mahasiswa jalur non-skripsi bisa memilih program kewirausahaan yang menyiapkan mereka untuk siap terjun di dunia kerja. Dalam tahun ajaran mendatang kebijakan ini diharapkan bisa diberlakukan.

Kendala lainnya adalah kemampuan tenaga pengajar untuk bersaing dengan tenaga pengajar dari perguruan tinggi lainnya dalam penelitian. Unpatti baru bisa meraih empat hingga lima judul dalam setahun. “Ini masih kurang banyak,” kata Louhenapessy.

Masalah lainnya, akibat kerusuhan yang lalu membuat mahasiswa sempat ikut kocar-kacir. Dari sekitar 9.800 mahasiswa, hingga akhir Maret baru 5.100 mahasiswa yang melaporkan diri, sebagai ganti pendaftaran ulang. Kerusuhan juga telah mengakibatkan sebuah field station perikanan yang merupakan kebanggaan Unpatti di Desa Hila harus hancur dan peralatannya dijarah massa. (A Maryoto)

Unpatti, Kelautan dengan “Hotu Messe”

Universitas Pattimura (Unpatti) di Poka, Ambon, Selasa (23/4) berulang tahun ke 33. De¬ngan motto “Hotu Messe” (terus menanjak), Un¬patti terus mengembangkan diri. Upaya membi¬na kerjasama dengan perguruan tinggi lain -dari Australia, Papua Nugini, dan Tasmania  sudah dilakukan sejak Unpatti menetapkan Pola Ilmiah Pokok (PIP) tahun 1976. Pola itu disusun dalam rangka “Bina Mulia ke Lautan”.
“Dengan    PIP itu, semua kurikulum, Unpatti mengarah pada kawasan kelautan, bukan saja fakultas eksakta tapi juga non eksakta. Mahasiswa hiukum diarahkan memahami hukum kelautan, juga sospol dikaitkan dengan situasi politik dan pola hidup masyarakat mari¬tim,” ujar Pembantu Rektor (Purek) II Unpati, Ir A.F. Salamony, MSc.

Lewat Fakultas Teknik, khususnya jurusan Perkapalan dan Permesinan Kapal, mahasiswa disiapkan untuk pengelolaan kekayaan laut. Namum, upaya ini menghadapi kendala, dana dan tenaga ahli. Untuk itu, mahasiswa yang akan menyelesaikan kuliah, wajib magang di perusahaan kapal selama tiga bulan, antara lain di PT PAL Surabaya, PT IKI-Ujungpan¬dang, PT Intan Sentuni Jakarta, dan lain lain.

KELEBIHAN alumni Unpatti, kata Modi Kusnadi (26)   alumnus Fakultas Perikanan 1995, ce¬wek asal Jakarta   adalah kemampuan praktek lapangan, untuk beberapa mata kuliah, maha¬siswa terjun langsung ke lapangan yang disebut laboratorium alam, mulai dari menyelam, men¬jaring ikan,  sampai pemasaran hasil tangkapan.
“Namun pengalaman ini hampir tak pernah diperhatikan lembaga yang membuka lowong¬an pekerjaan. Soal terjun langsung di kapal pe¬nangkapan ikan, sudah merupakan hal biasa bagi kami. Kalau teori, ya hanya sebatas yang tercetak di buku,” ujar Modi yang menampik tawaran kerja di perusahaan. Keahlian menye¬lam yang diperoleh saat kuliah, mendorongnya membuka Diving Center bersama beberapa te¬man, menjual jasa untuk, membantu jika ada penelitian dasar laut. Gadis ini sadar, keka¬yaan Maluku ada di bawah laut.

Selain itu, peserta Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPTN) belum menempatkan Unpatti sebagai favorit. Meski demikian, Unpati tak sulit menemukan mahasiswa yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia. Memang, mereka yang datang ke Maluku untuk kuliah, perlu keberanian besar. Maklum, informasi me¬ngenai Unpati amat minim. Yang umumnya di¬ketahui sebatas Maluku, Ambon, Banda, cengkeh, pala, sagu, suhu panas dan lain lain.

Kini mahasiswa di Unpatti amat beragam, dari Sumatera, Jawa, Irian, dan Sulawesi ter¬wakili. “Dulu, asal milih. Setelah lulus, baru berpikir, terus atau mundur. Tapi, karena per¬saingan makin ketat dan swasta mahal, ya pi¬lih di sini,” ujar Evi asal Padang.

Kini, Unpati memiliki 9.346 mahasiswa, 833 dosen, 657 tenaga administrasi dan 14.007 alumni. Alumninya kebanyakan tersebar di Irian Jaya dan Timor Timur. Meski demikian, rasio mahasiswa dosen, belum ideal. Guru ¬besar yang ada baru tujuh orang, sedangkan lu¬lusan S 3 – 14 orang, S 2   163 orang, sisanya 656 orang lulusan S 1.

SEJARAH berdirinya Unpatti bermula ketika beberapa tokoh masyarakat Maluku yang diprakarsai dr M. Haulussy ingin mendirikan sebuah perguruan tinggi, sebagai perwujudan aspirasi masyarakat. Untuk itu dibentuk Yayasan Perguruan Tinggi Maluku Irian Barat, 20 Juli 1955 yang saat itu diketuai Cor Lopies, Hamid bin Hamid, D r Manuputty, dan F.M. Pupella. Yayasan itu, 3 Oktober 1956 mendirikan Fakultas Hukum, disusul Fakultas Sosial Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan dan dua Fakultas Eksakta, Pertanian/Kehutanan dan Peternakan. Lembaga ini menjadi universitas lewat SK Presiden No 66 tahun 1963, 23 April 1963, dan bernama Universitas Pattimura.

Kini Unpatti terdiri dari tujuh fakultas dan satu Politeknik, telah dipimpin oleh lima rek¬tor. Rektor pertama (1971)ditetapkan Ir. L. Nanlohy, lalu berturut turut Muh. R.L. Lesta¬luhu, Dr Ir Ch Lawalata, Dr Ir J.L. Nanere,Msc. Yang terakhir, Dr Mus Huliselan memimpin universitas sejak 1994 hingga kini.

LAHAN yang digunakan Unpatti kini sebe¬narnya untuk pendiran Institut Teknologi Ambon (ITA) tahun 1961. Bekerja sama dengan Rusia, waktu itu, ITA akan dibangunkan sebuah kampus. Beberapa lulusan SMA sebagai calon tenaga pengajar, disekolahkan ke Rusia. Renca¬na pendirian ITA terhenti karena gejolak G30S/PKI. Namun pengembangan Tekmk Perkapalan dan Oceanografi mulai dilakukan setelah para calon dosen pulang menimba ilmu di Rusia, 1970.

“Para dosen yang kini belajar di luar negeri pun berusaha membawa nama almamater dan berusaha membuat prestasi sebaik mungkin, sehingga dapat dijadikan contact person dalam menjalin kerja sama. Hasilnya, kadang mereka membawa delegasi ke Unpatti untuk melihat proses, belajar mengajar di sini,” ujar Salamony.(bb)

diambil dari Kompas, Sabtu, 24 April 1999

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.